Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 178 (Season 3)


__ADS_3

Minggu ketiga puluh usia kandungan Alina, keluarga kecil itu memutuskan untuk pergi memeriksa sang jabang bayi bersama.


Tepat pada hari ahad, cuaca begitu cerah. Raja siang bertengger nyaman di atas singgasananya meleburkan cahaya menyengat. Langit biru membentang dihiasi awan berarak tenang mengikuti alur angin.


Di salah satu rumah sakit besar di ibu kota, Alina tengah berbaring di atas brankar. Di sebelahnya ada sang suami dan juga putra pertamanya, Raihan.


Mereka tersenyum senang menyaksikan perkembangan malaikat kecilnya di dalam perut. Binar kebahagiaan tercetus apik di wajah ketiganya. Doker Seruni pun ikut merasakan suka cita keluarga Zaidan.


"Em, bagus semuanya lengkap. Perkembangan janin berkembang dengan sempurna, kecelakaan waktu itu tidak mempengaruhinya, hanya beberapa minggu lagi menunggu si kecil lahir," ungkap Dokter Seruni menjelaskan keadaan buah hati mereka.


"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Dok," kata Alina lega.


"Ini Kakaknya?" tanya sang dokter menoleh pada Raihan yang tengah berada dalam pangkuan Zaidan.


Pasangan suami istri itu pun mengangguk kompak. "Ah, apa Kakaknya mau melihat adik kecil?" tawar Dokter Seruni.


Dengan semangat dan penuh antusias Raihan mengangguk cepat. Kedua orang tuanya terkekeh pelan atas reaksi yang diberikan.


"Kalau begitu, Kakak bisa mendekat," ujar dokter kandungan tersebut memberikan akses pada Raihan agar mendekati layar. Raihan pun menurut mengikuti arahan sang dokter.


Tidak lama berselang layar berbentuk segiempat itu pun memperlihatkan wajah bayi kecil yang tengah meringkuk di perut sang ibu. Gambar 4G di sana menunjukan dengan jelas bagaimana rupa sang adik mengundang senyum mengembang dari bibir kemerahan Raihan.


"Mamah, adik kecil tersenyum sama seperti Mamah," ujarnya senang.


"Iya, Sayang. Adikmu juga mirip dengan Kakaknya," balas Dokter Seruni sembari mengusap puncak kepalanya pelan.


Alina menoleh pada Zaidan yang juga tengah memandanginya. Mereka pun mengembangkan bulan sabit lega atas keadaan keluarga yang sudah jauh baik-baik saja.


Kejadian kemarin bagaikan pengingat diri agar memperlakukan Raihan lebih baik lagi. Anak itu masih membutuhkan kasih sayang serta perhatian mereka sebagai orang tua.


Terlebih terdapat perpecahan terjadi pada ayah dan ibu kandungnya, Alina tidak ingin Raihan tumbuh menjadi anak tidak percaya diri.


Ia pun bekerja sama dengan Zaidan, serta Azam dan Jasmin untuk memberikan lingkungan keluarga sebaik mungkin. Mereka mencurahkan semua kasih sayang dan perhatian pada Raihan sepenuhnya, agar peristiwa kemarin tidak terjadi lagi.


Kini Alina bisa tersenyum lega, putra pertamanya sudah lebih dewasa. Raihan mulai menerima keberadaan adik kecilnya dan bersikap layaknya seorang kakak.

__ADS_1


"Alhamdulillah, ya Allah," benaknya dalam diam.


...***...


Satu minggu berlalu, Zaidan yang mengelola perusahaan parfum sang ibu disibukan dengan pekerjaan. Sebagai seorang suami dan ayah, ia juga sangat bertanggung jawab bagi keluarganya.


Ia akan membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Hal itu dilakukan agar sang anak sambung bisa mendapatkan perhatian lebih darinya.


Ia bahagia dengan kehidupannya saat ini, meskipun masih ada satu hal mengganjal dalam pikiran, yaitu keberadaan Calvin yang masih belum diakui oleh tetua Zulfan.


Tidak lama kemudian ia mendengar suara pintu ruangan diketuk seseorang. Ia menyuruhnya masuk dan mendapati Dimas menyembul dengan wajah datarnya.


"Ada apa?" tanya Zaidan yang tidak melepaskan perhatian pada tumpukan dokumen di depannya.


Dimas, selaku pengawal, asisten, sekertaris, pengacara, dan merangkap berbagai pekerjaan lain pun sangat setia mengikuti Zaidan.


Ia tidak bisa melepaskan pengawasan pada tuan muda Zulfan. Baginya keselamatan Zaidan lebih utama, itulah yang selalu ayahnya tanamkan. Bagaimanapun keluarga Zulfan sangat berjasa bagi kehidupan mereka.


"Hasil tes DNA Calvin dan tetua Zulfan sudah keluar hari ini," jelas Dimas.


"Be-benarkah? Bagaimana hasilnya?" tanya Zaidan gugup.


"Em, tidak diragukan lagi, Tuan sudah tahu kebenarannya tanpa melihat hasil ini. Tuan muda bisa melihatnya sendiri." Dimas bersikap formal kala berada di perusahaan.


Ia lalu menyodorkan selembar kertas terlipat di depan meja sang atasan. Zaidan menegakan tubuh membawanya dan membuka surat pemberitahuan tersebut.


Tertera nama Calvin Alfaro dan juga Dawas Zulfan di sana menunjukan kecocokan 99,99%. Ia mendengus pelan lalu tertawa penuh makna.


"Bagaimana reaksi kakek melihat ini? Aku ingin melihatnya sendiri," gumam Zaidan masih memandangi surat pemberitahuan hasil tes DNA itu.


Beberapa hari yang lalu ia menyuruh Dimas untuk melakukan tes DNA antara Calvin dan juga Dawas. Diam-diam pria itu pun membawa potongan rambut sang tetua Zulfan tanpa sepengetahuannya.


Juga, ia meminta Calvin memberikan potongan rambutnya tanpa dicurigai sedikit pun. Dimas lalu membawa sample itu ke rumah sakit untuk dilakukan tes DNA.


Hari ini hasilnya pun keluar dan tidak diragukan lagi jika Calvin Alfero memang keturunan Zulfan. Zaidan semakin bersemangat untuk memberitahukan berita tersebut pada sang kakek.

__ADS_1


"Panggil Calvin ke ruanganku," ujarnya menghubungi seseorang di luar ruangan.


Ia memandang lurus ke depan seraya tersenyum penuh makna. Dimas hanya berdiam diri mengerti apa yang hendak dilakukan sang tuan muda.


Tidak lama setelah itu pintu ruangan dibuka. Calvin masuk sembari meletakan kedua tangan di saku celana. Pria berusia dua puluh delapan tahun tersebut nampak berbeda dalam balutan jas abu-abu.


Rambut yang di sisir rapih memperlihatkan dahi tegasnya. Aura maskulin nan berwibawa memancar jelas, tidak jauh dari Zaidan.


Kakak beradik sepupu itu memiliki sisi dominan yang begitu kuat. Semua karyawan wanita hampir terpesona dengan keberadaannya.


Dalam hitungan hari sosok Calvin berubah, atas campur tangan sang kakak sepupu, Zaidan. Ia bersyukur bisa dipertemukan dengannya.


"Ada apa Mas memanggilku?" tanyanya langsung.


"Sore ini kamu ikut denganku ke perusahaan Zulfan," ungkapnya.


"Apa? Kenapa kita pergi ke sana? Aku tidak mau ber-"


"Calvin! Dengarkan apa yang Mas katakan." Zaidan menyambar ucapannya cepat membuat sang adik sepupu terperangah.


Ia melihat Zaidan keluar dari meja kerja berjalan tegap ke arahnya. Sampai mereka pun berhadap-hadapan dengan jarak lumayan dekat.


Calvin mengedip-ngedipkan mata beberapa kali menyaksikan senyum penuh makna di wajah Zaidan. ia tidak tahu apa yang hendak kakak sepupunya lakukan.


"Kamu harus ikut denganku menemui tetua Zulfan!" ungkap Zaidan lagi.


"Kenapa? Aku-"


"Tidak ada penolakan, kita akan memberikan pertunjukan lagi. Aku harap kali ini kakek mau menerimamu." Senyum pun tercetus di wajah tampan Zaidan. Ia menepuk pundak Calvin kuat meyakinkannya untuk percaya diri.


Dalam diam Calvin memperhatikan Zaidan yang tengah mengangguk-anggukan kepala. Ia tidak bisa menolak dan hanya pasrah mengikuti apa yang sedang direncanakan kakak sepupunya.


Zaidan pun menoleh pada Dimas yang juga tengah memandangi mereka berdua. Calvin semakin terpojok dan tidak bisa menolak terus menerus dengan ajakan tersebut. Ia hanya berharap tidak merasakan sakit hati lagi.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2