Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 98 (Season 2)


__ADS_3

Entah sudah keberapa kali sang pengusaha tampan tersebut menghela napas. Pengawal sekaligus sekertaris dan pengacara keluarga yang duduk di sebalahnya pun menautkan alis tajam.


Ia menoleh memandangi sang tuan tengah menekuk wajah dalam. Ia menduga jika sesuatu sudah terjadi.


"Jika memang ada yang salah, jangan mudah menyerah. Gapai dan berjuanglah sampai semuanya benar-benar membuatmu tidak bisa melakukannya lagi," tuturnya mengambil alih perhatian.


Zaidan kembali menghela napas pelan dan menatap Dimas sekilas. Lalu kembali memperhatikannya yang tengah menggendong Naura. Kerutan pun hadir melihat wajah damai balita terlelap di sana.


"Sejak kapan kamu juga begitu perhatian pada anak kecil?" tanyanya tanpa memperhatikan sang lawan bicara.


Dimas membetulkan letak kacamatanya pelan. Ia berdehem guna menetralisir debaran yang tiba-tiba saja meningkat setelah mendengar pertanyaan dari sang tuan.


"Bukankah kita memang harus peduli dan sayang kepada anak kecil?" tanya Dimas balik.


Zaidan tersenyum pelan, bola matanya bergulir memandangi pria yang dari remaja sudah menemaninya.


"Baru kali ini aku melihatmu kasmaran. Kamu ... jatuh cinta pada ibunya, kan?" Goda Zaidan senang.


Rona merah muda merebak di pipi putihnya, lagi dan lagi Dimas membetulkan letak kacamatanya mencoba bertahan dengan kegugupan. Namun, bukan Zaidan namanya jika tidak mengetahui apa yang tengah dirasakan pengawal sekaligus keluarganya itu.


Dimas merupakan seorang anak tunggal dari salah satu pengawal keluarga Zulfan yang sudah mengabdikan hidupnya selama dua puluh tahun lebih.


Di saat ia lahir, orang tua Zaidan pun langsung mempercayakan putra semata wayangnya kepada Dimas. Umur mereka yang hanya berbeda beberapa bulan pun telah menjadikan keduanya akrab satu sama lain.


Pertengkaran yang kerap terjadi hanya sebagai bumbu agar hubungan tuan dan pengawal tersebut semakin erat. Namun, meskipun begitu Zaidan sudah menganggap Dimas seperti keluarganya sendiri. Mereka tumbuh dan besar bersama di dalam mansion besar keluarga Zafran.


Baik Zaidan dan Dimas, keduanya sudah paham serta tahu betul kesukaan satu sama lain, termasuk dalam kehidupan asmara.


"Bahkan sampai percintaan pun kita memiliki selera yang sama. Bukankah ini lucu?" Zaidan tertawa jenaka dan memandang langit senja.


Seorang wanita yang sudah menjadi ibu seketika menarik perhatian. Zaidan dan Dimas tidak menyangkan akan mendapatkan perasaan itu kepada mereka.

__ADS_1


Lukisan Allah kembali hadir menggantikan awan kelabu yang perlahan berarak memberikan kesempatan raja siang pulang ke peraduan. Siluetnya berpadu langit biru mulai berganti gelap. Semilir angin sejuk datang menemani kebersamaan mereka.


"Yah, Tuan benar," jawab Dimas tanpa cela.


Sekilas Zaidan memandanginya dengan lengkungan bulan sabit hadir kembali. "Tapi, bagaimana bisa dia menganggap perasaanku ini hanya bercanda dan kasihan semata? Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya."


"Tuan harus bersabar memang tidak mudah kembali untuk percaya. Terlebih kalian baru saja saling mengenal, mungkin ini balasan bagi Tuan, karena sudah menolak beberapa wanita?" ujar Dimas dingin.


"Apa kamu bilang? Hei, aku-" Zaidan menghentikan ucapannya mengingat kembali hari-hari kemarin.


Beberapa waktu belakangan ini ia lagi-lagi di hadapkan pada situasi menyulitkan. Kedua orang tuanya kembali menjodohkan Zaidan bersama salah satu putri keturunan bangsawan.


Wanita berusia dua puluhan tahun tersebut berwajah oriental, bermata abu jernih, dengan bibir merah cery. Cantik nan elegan menggambarkan sosok Zanna Zyva, putri tunggal dari keluarga Zyva.


Zaidan dan Zanna pun hampir melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi, tetapi pada saat itu perjodohan keduanya kandas.


Zaidan sudah tidak bisa melanjutkannya lagi, sebab tidak ada cinta yang dirasakan. Daripada harus membohongi perasaannya ia lebih baik mundur.


Ia mengatakan dengan gamblang jika dirinya tidak bisa mencintai Zanna yang tulus dengan perasaannya. Wanita itu pun tidak terima dan langsung menamparnya kasar. Tanpa mengatakan sepatah kata, ia pergi meninggalkan bekas merah di pipi Zaidan.


Pertemuan kedua di pesta perusahaan semakin memperkuat perasaan itu. Zaidan tidak menyangka melihat sosok Alina berbeda dari yang lain. Ia wanita tangguh, tidak mudah menyerah pada keadaan, dan lagi membela kebaikan untuk buah hatinya.


Seiring berjalannya waktu, perasaan mendebarkan tersebut semakin bertambah. Cinta telah bermuara dan menetap di dasar hati paling dalam. Ia ingin melindungi dan memberikan kebahagaiaan pada Alina.


Namun, semua itu tidak mudah dilakukan. Alina hanya mengaggap perasaannya hanya sebatas kasihan. Ia juga tidak menyalahkan siapa pun, kejadian yang menimpa sudah pasti memberikan trauma.


"Aku tidak boleh menyerah untuk bisa mendapatkan hatinya. Karena bagaimanapun ini pertama kalinya aku menginginkan seseorang," aku Zaidan jujur.


Dimas mengangguk sekilas. "Aku akan mendukung apa pun keputusan Tuan."


"Kapan kamu akan berhenti memanggilku tuan-tuan dan tuan? Aku muak mendengarnya," keluh Zaidan.

__ADS_1


Dimas menyunggingkan senyum lembut. "Itu memang sudah menjadi tugas saya. Rasanya tidak sopan jika saya harus memanggil Tuan dengan nama saja." Ia pun semakin formal.


Zaidan meliriknya sekilas dan mendengus pelan. "Padahal kita sudah hidup bertahun-tahun bersama. Aku sudah menganggapmu lebih dari keluarga. Dibandingkan ayah dan ibu, kamu yang selalu ada untukku."


"Terima kasih, Tuan," balas Dimas.


"Em, baiklah. Kita harus berjuang bersama-sama untuk mendapatkan cinta ini."


Dimas hanya mengangguk sekilas sebagai jawaban.


...***...


Jam sudah menunjukan pukul setengah delapan malam. Keadaan rumah sakit hening nan sepi tanpa terdengar suara apa pun.


Sesekali angin berhembus menerbangkan dedaunan menimpa jendela ruang inapnya. Alina yang masih terjaga terkejut kala pandangannya terus mengarah ke luar.


"Astaghfirullah," lirihnya.


"Hmmm, Mamah." Suara serak nan lembut itu pun mengalihkan perhatian.


Alina menoleh ke samping kanan di mana Raihan tengah meringkuk dan tidur dengan nyaman. Wajah damai nan polos itu seketika menghipnotisnya.


Senyum manis terbit seraya mengusap pelan puncak kepala sang putra. Ia pun merunduk membubuhkan kecupan hangat di dahi lebarnya.


"Mamah sangat menyayangimu, Sayang. Mamah minta maaf ... Karena Mamah dan ayan harus berpisah serta tidak tinggal satu rumah lagi. Mamah harap, Raihan bisa tumbuh menjadi anak yang baik meskipun tanpa kehadiran ayah," celotehnya. "Mamah, janji ... Mamah akan menjadi ibu dan ayah yang terbaik untukmu. Mamah akan berperan ganda sangat baik demi membesarkanmu. Terima kasih sudah hadir dan menjadi pelengkap hidup Mamah."


Alina tidak bisa membendung air mata dan tumpah begitu saja. Ia kembali memberikan ciuman lembut di wajah tampan buah hatinya.


Tanpa ia sadari di balik pintu, Zaidan memunggungi ruangan tersebut dan mendengar apa yang Alina katakan. Dadanya terasa nyeri kala kata-kata yang menendang indera pendengaran begitu memilukan.


Ia tahu tidak mudah bagi seseorang membesarkan anak seorang diri. Namun, Alina memilih jalan itu daripada harus hidup bersama suami yang tidak pernah mencintainya.

__ADS_1


Perlahan jari jemari Zaidan mengepal kuat sambil memandang lurus ke bawah. Tanpa mengatakan apa pun ia mengurungkan niat untuk masuk dan lebih memilih pergi, sedangkan Alina masih memperhatikan Raihan yang tengah tertidur.


...Bersambung......


__ADS_2