
Di tempat berbeda, Alina tengah menikmati senja bersama sahabat barunya, Zara. Pagi-pagi sekali wanita itu datang ke apartemen keluarga Zaidan bersama suaminya. Dimas dan ia pun turut merecoki mereka dengan berbagai pertanyaan.
Tidak ada yang tahu jika keduanya pernah terlibat dalam sebuah permasalahan. Perasaan yang dimiliki Alina dan Zara untuk seorang pria telah mengantarkan pada ikatan persaudaraan.
Baik Alina maupun Zara, kedua wanita tersebut memiliki kisah serupa. Mereka bersyukur Allah mempertemukan dengan pria baik selepas perginya hujan badai.
"Jadi, apa kita benar-benar melahirkan di hari yang sama?" tanya Alina seraya meletakan secangkir teh hangat untuk tamunya.
Zara tengah berada di balkon pun menoleh singkat lalu menutup majalah yang sedari tadi menemaninya di sana. Ia membawa minuman itu dan diteguknya singkat, kembali menatap lawan bicaranya.
"Itu benar, aku melahirkan malam hari dan kamu dini hari," ungkapnya.
Alina mengangguk mengerti, "Sungguh, kebetulan yang sangat luar biasa."
Kepala berhijab Zara menggeleng singkat. "Tidak ada yang serba kebetulan, hal itu sudah menjadi ketentuan. Allah mengatur semuanya dengan rencana yang sangat menakjubkan. Alhamdulillah, pernikahan kedua ini menuturkan ku pada kebahagiaan."
Alina mengembangkan senyum menawan, bahagia atas perubahan terjadi pada Zara. Wanita yang sempat menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya kini mendapatkan hidayah.
"Iya kamu benar. Alhamdulillah, aku turut bahagia mendengarnya. Kalian juga dianugerahi seorang putra yang sangat tampan," balas Alina yang sedari tadi terus bermain bersama anak kedua Zara dengan Raihan dan juga Zenia. Kini kedua bayi itu sudah terlelap bersama.
Zara menganggukkan kepala beberapa kali. "Iya, aku juga turut senang melihat kamu sudah bahagia bersama mas Zaidan. Bahkan keluarganya bisa menerimamu dengan baik, yah ... meskipun pada awalnya tetua Zulfan tidak memberikan restu, tetapi pada akhirnya ada jalan terbaik. Kalian juga diberikan putri yang sangat cantik."
"Em, kamu benar. Sudah banyak kisah yang terjadi selama pernikahan kami, tetapi ... tidak seekstrem saat bersama mas Azam. Semua mempunyai ketentuan dan waktunya masing-masing, baik dan buruk telah menjadi bagian di dalamnya," tutur Alina menyaksikan sang raja siang hendak berpulang ke peraduan.
"Kejadian kemarin juga membuatku sadar, terima kasih Alina. Karena mau menerimaku dengan baik bahkan sekarang kita sudah menjadi keluarga, dan ... aku minta maaf tidak ada di sisimu saat kejadian Zanna waktu itu. Aku sudah mendengar semuanya," balas Zara menyesal.
Alina menatapnya lagi sembari tersenyum simpul. "Tidak apa-apa, semua juga sudah baik-baik saja. Melihat kalian bahagia sudah cukup."
"Owh, kamu membuatku merinding saja."
Kedua wanita itu pun tertawa di bawah langit senja yang meleburkan warna jingga, orange kemerah-merahan.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu seperti apa masa depan. Alina tidak menyangka jika wanita yang dulu sempat bersitegang dengannya kini menjadi orang terdekat. Selain memiliki rumah tangga yang serupa, ia pun nyaman bersahabat dengan Zara.
Begitu pula sebaliknya, Zara bersyukur bisa dipertemukan dengan Alina yang bisa menyadarkannya pada jalan kebenaran. Kini hubungan mereka sudah baik-baik saja layaknya saudara jauh yang baru pertama kali bertemu lagi.
Di tengah kebersamaan mereka, gelak tawa berdengung dari arah belakang. Alina dan Zara menoleh mendapati Raihan dan Naura tengah bermain bersama.
Mereka terlihat senang satu sama lain dengan berbagai permainan tersebar di lantai. Celoteh demi celotehan ringan terus berdengung.
Kedua ibu itu pun tersenyum menyaksikan kegembiraan mereka. Alina dan Zara kembali mengucap syukur diberikan suami yang menerima anak-anak mereka.
"Jadi tiga hari lagi mereka akan keluar kota?" tanya Zara selepas menyesap tehnya lagi.
Alina yang melakukan hal pun mengangguk singkat. "Kata mamah seperti itu, mas Zaidan pasti merengek untuk membatalkan kepergiannya."
Zara tertawa ringan lalu mengatakan, "Benarkah? Tidak jauh dari mas Dimas. Dia juga sering memaksa aku untuk membatalkan rencana jika kejadiannya tidak diinginkan."
"Benarkah? Aku pikir mas Dimas tidak seperti itu, ternyata mereka sama saja."
Alina pun tertawa membayangkan bagaimana Dimas beradu argumen dengan Zara. "Aku mungkin akan tertawa kencang melihat mereka seperti itu."
"Aku juga tidak bisa menahannya."
Mereka pun saling pandang dan sedetik kemudian tertawa bersama lagi.
Banyak cerita yang sudah keduanya lewati, asam, manis, pahit, kehidupan pernikahan pertama akibat perjodohan memberikan luka membekas. Trauma sampai melakukan berbagai cara untuk merusak hubungan orang lain pernah dilakukan.
Namun, semua itu mengandung kebaikan jika diakhiri dengan penyesalan. Sampai Allah memberikan sosok baru dalam kehidupan yang mengantarkan pada muara kebahagiaan.
Pandangan Alina dan Zara pun menatap ke depan di mana lukisan Allah masih setia menemani. Sesekali angin berhembus memberikan kesejukan.
...***...
__ADS_1
Jam menunjukan pukul setengah delapan malam, Zara sudah pulang sebelum azan maghrib berkumandang. Dengan membawa kedua anaknya, ia berpamitan pada Alina dan berterima kasih sudah memberikan waktu untuk bercengkrama.
Sepeninggalan Zara, Alina pun menyiapkan makan malam. Di tengah proses itu ia tidak sadar jika sang suami sudah pulang.
Zaidan berjalan lunglai seraya menenteng jas kerja masuk ke dalam. Ia melihat sang istri tengah berkutat dengan kompor tanpa menyambut kedatangannya. Bibir menawan itu mengerucut pelan lalu mendekati pujaan hatinya.
Alina terkejut saat sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang. Ia menoleh mendapati wajah sang suami yang mendaratkan dagu di bahu.
"Mas sudah pulang?" tanya Alina.
"Em, aku sudah pulang. Assalamu'alaikum," katanya lesu.
Alina melengkungkan kedua sudut bibirnya lebar. "Wa'alaikumsalam. Apa yang terjadi kenapa Mas terlihat lesu seperti ini? Ayo semangat, jangan merajuk." Ia tidak bisa menahan tawa saat tahu jika ibu mertua sudah memberikan tugas pada suaminya.
Zaidan menghela napas kasar dan semakin mengeratkan pelukan. Alina menunduk melihat lengan itu melingkar di perut.
Ia mengangkat tangan kanan mengusap puncak kepala Zaidan. Sang empunya menutup mata menikmati setiap sentuhan sang pemilik hati.
"Jangan memaksa aku untuk membatalkannya, yah. Karena bagaimanapun juga itu sudah menjadi kewajibanmu, Sayang. Apa yang mamah katakan itu tanggung jawabmu!" kata Alina menegaskan dan membuka pembicaraan mengenai keberangkatan sang suami.
Tanpa mengatakan sepatah kata Zaidan melepaskan pelukan dan berjalan menuju kamar mereka. Alina mematung tidak mengerti seraya terus melihat sosok itu pergi.
Ia tidak percaya menyaksikan suaminya seperti. Karena tidak biasanya Zaidan diam begitu saja. Dahi lebarnya mengerut dalam saat pintu kamar tertutup rapat.
"Apa mas Zaidan kecewa? Kenapa? Apa aku salah bicara?" gumam Alina terus berkecamuk dengan pikirannya sendiri.
Kurang lebih dua puluh menit kemudian, Alina pun selesai masak. Ia hendak memanggil sang suami dan anak pertamanya Raihan untuk makan bersama.
Namun, niatnya terhenti saat melihat Zaidan duduk di tepi tempat tidur dengan kepala menunduk dalam. Alina mengulas senyum simpul dan masuk ke dalam.
"Aku harus menenangkan hatinya," benak Alina.
__ADS_1
...Bersambung......