
Hujan menyambut, kabut mengudara mengalirkan harapan baru kian melambung. Cuaca kembali tidak stabil, kadang mendung, kadang pula panas. Angin yang berhembus mengalirkan udara semakin dingin. Cakrawala membentang memperlihatkan awan kelabu lagi dan lagi.
Waktu terus berputar sebagaimana mestinya, hari demi hari berlalu mengantarkan mimpi mencapai kehidupan lebih baik lagi.
Sidang kedua perceraian Alina pun digelar tanpa kehadirannya. Azam menelan kekecewaan kala wanita yang sudah disia-siakannya tidak datang.
Ketuk palu berkumandang menandakan perpisahan mereka sudah selesai dilaksanakan. Status baru Alina sebagai seorang single parent kini disandangnya.
Bersamaan dengan itu Azam mendapatkan kabar jika keadaan perusahaan diambang kehancuran. Buru-buru ia pergi meninggalkan ruang sidang.
Dimas yang melihat kepergiannya tersenyum simpul dan kebiasaannya pun datang. Ia membenarkan letak kacamatnya melihat sosok itu menghilang dalam pandangan.
"Assalamu'alaikum, sidang sudah berakhir dan sepertinya keadaan mantan suami Anda benar-benar kacau." Setelah menjelaskan pada orang di seberang telepon Dimas masuk ke dalam mobil dan bertolak dari sana.
Di tempat berbeda, Alina menatap lurus ke depan memandang gelombang ombak yang saling mengejar. Wajah datarnya mengulas senyum hangat mendapatkan kabar jika sidang perceraian sudah selesai. Setelah keluar dari rumah sakit ia memutuskan untuk kembali ke kediamannya di dekat laut.
Lega sungguh dirinya senang pada akhirnya bisa terbebas dari jerat dusta seorang Azam. Namun, di balik itu ia turut berduka atas musibah yang didapatkan mantan suaminya.
"Sekalipun, aku tidak pernah mendo'akan sesuatu hal yang buruk untuknya, tetapi ... Allah tidak tidur. Ia menunjukan kuasa-Nya dan memberikan balasan setimpal atas apa yang dilakukan. Karena apa yang kita tanam pasti suatu saat akan dituai juga. Karma nyata adanya, kebaikan akan di balas kebaikan, begitu pula dengan keburukan. Aku harap setelah kejadian ini mas Azam bisa sadar dan benar-benar menyesali perbuatannya," celoteh Alina.
Di temani dengan deburan air laut, serta pasir putih yang membentang, dan burung camar beterbangan mengisi segala kelegaan dalam dada.
Bibir semerah cerynya melengkung sempurna, kedua tangan pun terentang menyambut angin laut menyapunya. Manik jelaga itu bersembunyi di balik kelopak dengan semburat rona merah hadir di wajah cantiknya.
Status baru telah di sandang Alina, tidak ada kesedihan maupun raut kecewa di sana, yang ada hanyalah kesenangan dan kebahagiaan. Ia bisa terbang bebas dan memulai hidup baru bersama buah hatinya semata.
__ADS_1
Cinta masih jauh dari kata sebuah harapan. Ia hanya ingin menata hatinya dulu agar siapa pun yang datang kelak bisa bangga mendapatkannya.
...***...
Azam melempar begitu saja dokumen yang diserahkan karyawannya ke atas meja. Kertas-kertas itu berserakan memperlihatkan pendapatan perusahaan selama beberapa bulan ke belakang.
Ia memijat pelipisnya pelan seraya tangan kiri berkacak pinggang. Ia lalu memandangi sang karyawan yang tengah menunduk menghindari amukannya.
"Kenapa bisa pendapatan kita menurun drastis? Apa saja yang kalian lakukan selama ini, HAH?" Azam berteriak seraya berpangku tangan di atas meja.
"Kami sudah bekerja keras mempertahankan kurva di angka tujuh puluh persen, tetapi beberapa bulan ini semua klien tiba-tiba saja membatalkan kerja sama. Mereka mengatakan jika ... jika-" kata karyawan pria itu ragu-ragu.
"Jika apa? KATAKAN YANG JELAS!" Azam kembali berteriak untuk kedua kalinya. Suaranya pun bergema sampai terdengar keluar.
"Jika Tuan sudah banyak melakukan kesalahan. Selama ini Tuan tanpa sadar telah menggunakan anggaran perusahaan untuk membeli semua keperluan mantan istri kedua Anda, nyonya Yasmin Fauzziyah. Di tambah dengan kasus yang menimpanya perusahaan kita sudah tidak dapat dipercayai lagi." Suara halus seorang wanita membuat kedua pria di sana menoleh ke belakang.
"Zara, apa yang kamu katakan ini benar?" tanya Azam pasa sekertaris pribadinya.
Zara mengangguk yakin dan menatap ke dalam manik cokelat susu sang atasan. "Kami para karwayan tidak akan keberatan jika Tuan menggunakan penghasilan perusahaan untuk menafkahi keluarga. Namun, apa jadinya jika uang tersebut malah digunakan untuk membiayai wanita simpanan Tuan? Sekarang perusahaan sedang di ujung tanduk, hampir semua klien yang bekerja sama memutuskan kontrak. Juga ... banyak toko-toko yang berhenti menggunakan produk kita."
Azam tidak bisa mengatakan apa pun, bibir kemerahannya terkatup rapat. Zara terus memandanginya yang semakin menunduk. Ia lalu mengeluarkan sebuah amplop kecil kemudian berjalan mendekat.
"Ini hari terakhir saya bekerja dengan Tuan. Terima kasih banyak atas kesempatan yang sudah Anda berikan selama ini." Zara pun meletakan surat pengunduran dirinya di hadapan Azam.
Sang pengusaha itu mendongak melihat amplop itu lalu memandang ke arah Zara. "A-apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa kamu memberikan surat pengunduran diri ini?"
__ADS_1
"Sebenarnya sudah lama saya ingin mengundurkan diri dari perusahaan Tuan. Untuk semua yang sudah saya lakukan ... saya minta maaf. Saya sadar jika perbuatan yang dilakukan pasti mendapatkan ganjarannya. Saya mengerti itu setelah berteman dengan Alina. Juga ... selamat atas perpisahan kalian dan Yasmin Fauzziyah resmi di tahan oleh pihak kepolisian." Seulas senyum terpendar, kepala bersurai hitam legam itu pun menunduk pelan dan kembali memandangi sang atasan.
"Kalau begitu saya permisi."
Zara pun melangkahkan kaki keluar dari sana. suara sepatu high heels yang bergema menyadarkan seorang Azam jika semua terjadi atas kesalahannya sendiri.
Ia pun berteriak kencang seraya menghamburkan semua kertas yang tergeletak di atas meja. Di balik pintu Zara mematung mendengar isak tangis perlahan mengalun.
"Ini tidak seberapa dengan perlakuan yang sudah mas Azam berikan kepada Alina. Semoga kamu baik-baik saja, mas," ucapnya sebagai ucapan terakhir.
Berita buruk itu pun langsung tersebar begitu cepat, baik media masa, sosial media, siaran televisi, menayangkan mengenai kondisi perusahaan Zabran.
Netizen seketika menggunakan jari jemarinya untuk berkomentar. Banyak yang memberikan cacian dan makian, tetapi ada pula menyuguhkan nasehat. Mereka tidak menduga jika sosok dermawan seorang Rusdyan Azam Zabran sudah menorehkan noda.
Ia pernah berselingkuh di belakang istrinya bahkan menikahi kembaran istri pertamanya sekaligus. Banyak dukungan serta do'a yang dilayangkan pada Alina. Keadaan semakin runyam membuat Azam tidak leluasa pergi ke manapun.
Banyak wartawan yang berdiam diri di depan perusahaan maupun kediamannya. Mereka menginginkan sebuah klarifikasi mengenai berita yang mengarah padanya.
Namun, Azam tidak bisa menampakan diri di depan kamera. Kondisinya benar-benar drop, perceraian serta berita tidak mengenakan itu datang secara bersamaan.
Kini panah tengah mengarah padanya, semua mata terus menatap menuntut penjelasan. Gunjingan para tetangga semakin membuatnya terpuruk.
Kesenangan itu hanya bersifat sementara dan membutakan mata. Tidak ada yang abadi, sebab roda kehidupan akan terus berputar.
Balasan atas apa yang telah dilakukannya sekarang sudah datang. Azam hanya bisa pasrah menerima keadaan dengan hati yang amat sangat terluka.
__ADS_1
...Bersambung......