
Asha membentang membentuk sebuah harapan baru kian melebur. Awan kelabu mengalirkan udara dingin membangkitkan setiap kenangan.
Tidak apa dilingkupi air mata, tidak apa dipenuhi luka, dan tidak apa dihiasi derita, jika pada akhirnya dibungkus dengan kebahagiaan.
Allah tidak pernah salah menyuguhkan kepedihan pada setiap hamba. Karena "Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (Q.S. Al-Insyarah: 5-6)
Dua minggu setelah persitenggangan yang terjadi dalam keluarga Zulfan, Alina dan Zaidan pun memutuskan untuk berlibur.
Keduanya membawa serta Raihan, Angga, Sarah, Dimas, Zara, Azam, Jasmin, Aqeela, serta Calvin pergi bersama.
Mereka bertandang ke salah satu pantai terindah di negaranya. Keputusan itu dibuat agar Alina yang tengah mengandung tidak terlalu memikirkan permasalahan menimpa.
Mereka berharap dengan mengadakan liburan menjadi healing terbaik bagi ibu dan anak yang tengah dikandungnya. Zaidan tidak ingin mengambil resiko dan memutuskan untuk mengajak istri, anak sambungnya, dan beberapa orang terdekat liburan bersama.
Kurang lebih satu setengah jam mengudara, rombongan Zaidan tiba di tempat tujuan. Setelah itu mereka check in hotel terlebih dahulu untuk melanjutkan perjalanan.
Birunya laut, merdunya deburan ombak, serta putihnya pasir pantai menyapa kedatangan mereka. Karang-karang menjulang tinggi ditambah pepohonan hijau sepanjang mata memandang begitu memanjakan.
Alina berdiri di atas pasir menikmati pemandangan alam yang Allah suguhkan. Hati dan perasaannya seketika terasa damai.
Lengkungan bulan sabit pun terpendar di wajah cantiknya, berada di sana mengingatkan ia pada rumah yang dulu pernah menjadi tumpuan setelah pergi dari Azam.
Sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang, raksi maskulin menyebar ke indera penciuman. Alina semakin tersenyum lebar kala kehangatan menyapa.
"Apa kamu senang kita pergi bersama ke pantai seperti ini?" Suara baritone mengalun menelisik ke relung hati terdalam.
Alina menyamankan diri di dalam pelukan sang suami. Punggung sempitnya bersandar lembut di dada bidang Zaidan. Ia membalas pelukan itu dengan menggenggam erat lengan pasangan halalnya.
"Aku sangat bahagia ... terima kasih Sayang sudah mengajak kami ke sini," balas Alina halus.
Zaidan tidak kuasa membendung kebahagiaan dan membubuhkan kecupan hangat di puncak kepala sang istri.
Bagaikan pulau pribadi, di sana hanya ada Alina, Zaidan, keluarga kecilnya yang tengah bermain air tidak jauh dari keduanya.
__ADS_1
Tanpa mengindahkan mereka, Zaidan menolehkan kepala Alina hingga membuat sang empunya mendongak. Pandangan cokelat bening pasangan suami istri itu pun bertubrukan menyelami keindahan bola mata masing-masing.
Mengikuti naluri keduanya saling mendekatkan wajah hingga tidak lama penyatuan pun terjadi. Di tengah deburan ombak menghantam batu karang mereka menciptakan kenangan berharga untuk selamanya.
Hembusan angin menerbangkan pakaian keduanya seolah mengukung mereka dalam satu dimensi. Tidak ada linangan air mata yang terlihat, tidak ada kepedihan menerjang kuat, di sana hanya tercipta sebuah kebahagiaan mendera.
Kurang lebih lima menit berlalu, pasangan suami istri itu pun melepaskan pagutannya. Dahi mereka menyatu dan tersenyum begitu manis.
Alina pun berbalik bertatapan dengan suaminya. Zaidan menangkup wajah istrinya lembut sembari mengelus bibir merah padam itu.
"Jatuh cinta padamu merupakan sebuah anugerah untukku dan ... memilikimu adalah sebuah keharusan. Terima kasih, sudah hadir dalam hidupku. Aku sangat mencintaimu, Sayang." Ungkapan cinta melebur menjadi satu dengan linangan air mata kebahagiaan.
Alina terperangah, jauh di dasar lubuk hatinya paling dalam, ia merasa tentram. Kata cinta kembali dicetuskan oleh suaminya menyuguhkan kembali kebahagiaan dan mengikis kegelisahan.
"Aku juga sangat mencintaimu. Kehadiranmu layaknya ombak menyapu bersih luka masa lalu. Terima kasih sudah menerimaku dengan semua kekurangan yang aku miliki," balas Alina. Liquid bening meluncur tak tertahankan.
Kedua sudut bibir Zaidan melengkung indah menyaksikan makhluk Tuhan yang satu ini begitu mengisi hatinya.
Tanpa ada kata terucap lagi, ia membubuhkan kecupan hangat nan mendalam di dahi lebar sang istri. Alina menutup mata menikmati setiap sentuhan yang diberikan Zaidan.
Itulah perasaan yang Alina rasakan, selepas air mata yang dulu diterimanya, kini Allah menghadirkan sosok baru dalam kehidupan. Masih hangat dalam ingatan bagaimana cinta bertepuk sebelah tangan mengalirkan luka teramat dalam.
Namun, setelah membuka hati untuk yang baru kebahagiaan, kesenangan, serta kegembiraan menyadarkannya jika ia begitu berharga bagi orang yang tepat. Mereka pun saling berpelukan menyalurkan kesenangan yang begitu melingkupi dada.
Tanpa keduanya sadari, sedari tadi orang-orang terdekat menyaksikan pemandangan tersebut. Mereka ikut bahagia menyaksikan pasangan Alina dan Zaidan tengah dirundung suka cita.
"Mamah." Suara melengking memaksa mereka melepaskan pelukan satu sama lain.
Alina dan Zaidan melihat Raihan berlarian mendekat. Keduanya pun menyaksikan senyum terbingkai di wajah mereka. Menyadari hal tersebut pasangan suami istri itu memerah, malu.
Alina mengalihkan pandangan pada putra pertamanya. Ia berjongkok, merentangkan kedua tangan menyambut kedatangannya. Raihan langsung menerjang sang ibu memeluknya begitu erat.
"Raihan menyayangi, Mamah," aku bocah berusia delapan tahun tersebut.
__ADS_1
Alina mengusap puncak kepalanya beberapa kali seraya berujar, "Mamah juga sangat menyayangimu, Sayang."
Melihat kebersamaan ibu dan anak itu, Zaidan tidak menyianyiakan kesempatan. Ia pun merengkuh mereka ke pelukan hangat.
Menyaksikan kembali kebersamaan keluarga mereka, Sarah, Angga, Azam, Jasmin, Aqeela, Zara, Dimas, dan Calvin memandang satu sama lain. Mereka pun mengangguk singkat lalu berjalan mendekat.
Kebahagiaan itu membuat mereka lupa atas apa yang terjadi. Alina dan Zaidan menyadari satu hal, jika perjalanan tersebut tidak bisa melepaskan kejadian di hari kemarin. Namun, keduanya hanya ingin melupakannya dan berharap yang terbaik.
...***...
Malam menjelang, setelah makan bersama, Alina duduk di kursi kayu memandangi ayah dan anak sambung itu tengah bermain bersama.
Senyum mengembang di wajah cantiknya menyaksikan kebersamaan mereka. Beruntung hotel mereka berada di dekat pantai dan hal itu menjadi keuntungan bagi semuanya.
"Beruntung kamu bisa mendapatkan pria sebaik, Zaidan," ucap seseorang meletakan minuman jahe di hadapannya.
Harum rempah-rempah seketika menyadarkan, Alina mendongak melihat sang mantan suami mengembangkan senyum.
"Mas Azam?" panggilnya.
Azam duduk tepat di depannya seraya menjulurkan minuman tadi. "Ini minumlah, bisa menghangatkan tubuhmu."
Alina mengembangkan senyum lalu mengangguk dan menerima minuman tersebut. Ia menyesapnya singkat dan menggenggam gelas keramik itu erat.
"Bukankah ucapanku tadi benar?" tanya Azam kembali saat menyaksikan Alina memandang ke samping.
Ia menoleh sekilas lalu mengangguk singkat. "Mas benar, aku sangat beruntung."
Azam yang mendengar itu melengkungkan kedua sudut bibirnya lagi. "Aku senang pada akhirnya kamu bisa dicintai dengan tulus. Aku minta ma-"
"Sudahlah, Mas. Yang lalu biarlah berlalu, kita sudah baik-baik saja dengan keluarga masing-masing, kan? kita hanya fokus saja pada Raihan, anak itu ... membutuhkan kita dalam tumbuh kembangnya," potong Alina cepat.
"Iya kamu benar. Kita akan membesarkan Raihan bersama-sama."
__ADS_1
Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Alina, selain bersama keluarganya.
...Bersambung......