Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 192 (Season 3)


__ADS_3

Pertemuan antara kolega besar itu pun di adakan di sebuah hotel mewah di tengah-tengah kota. Kota Z menjadi perjalanan bisnis Zaidan dan Dimas pun merupakan sebuah kota yang terkenal dengan kemewahannya.


Penduduk yang tinggal di sana mayoritas berprofesi sebagai pengusaha. Tak heran jika perekonomian di sana terbilang makmur.


Di dalam salah satu aula di bangunan lantai sepuluh itu, Zaidan dan Dimas datang bersama memenuhi undangan. Pengusaha muda sampai tua hadir turut memeriahkan acara berlangsung di sana.


Zaidan dan Dimas saling pandang tidak mengerti. Baru kemarin malam sang sekertaris mendapati panggilan dari orang kepercayaan Presdir Kang mengenai tempat pertemuan mereka.


Baru saja melangkahkan kaki keluar dari lift, Zaidan berhenti menatap lurus ke depan. Di lorong yang menghubungkan antara dirinya dan aula membuat ia terdiam.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Presdir Kang ingin bertemu di acara seperti ini? Bukankah pekerjaan kita ini formal?" tanya Zaidan heran.


Dimas pun mengikuti arah pandangnya. "Kemarin aku mendapatkan kabar dari sekertaris Presdir Kang jika beliau ingin kita bertemu di sini. Apa ada sesuatu yang terjadi? Kenapa aku merasa tidak enak?"


Zaidan menoleh padanya melihat wajah datar itu semakin dingin. "Apa pun yang terjadi kamu harus tetap bersamaku." Tanpa mengelak Dimas mengangguk mengiyakan.


Dalam balutan jas formal keduanya melangkahkan kaki lagi mendekati aula. Di sekitarnya berseliweran para tamu yang datang.


Acara itu merupakan sebuah acara yang diadakan oleh Presdir Kang. Pria baya bertubuh tambun ini selalu senang mengadakan pesta.


Entah ada kegiatan ataupun tidak, sang pengusaha tersebut selalu mengadakannya pada setiap kesempatan.


Sama seperti sekarang, pengusaha parfum besar itu pun menjamu para koleganya dengan pesta meriah. Sedari tadi Presdir Kang menyambut tamunya yang terus berdatangan.


Sampai tatapannya pun mengarah pada pintu masuk. Seakan kenal ia berjalan ke arah sana menyambut Zaidan dan juga Dimas.


"Oh, suatu kehormatan utusan perusahaan Aguritine akhirnya datang ke tempat ini juga. Silakan ... silakan, saya sudah menyiapkan hidangan istimewa untuk kalian," ujarnya menjamu Zaidan serta Dimas dengan baik.


Mau tidak mau kedua pria itu pun mengikuti langkah Presdir Kang yang menuntun mereka duduk di salah satu kursi di sana.

__ADS_1


Aula besar yang menjadi tempat pertemuan itu terdapat banyak sekali meja bundar dengan kursi-kursi mengelilinginya. Setiap orang akan duduk di tempat yang disukainya, banyak juga selebritis hadir turut memeriahkan.


Zaidan menyapukan pandangan pada orang-orang yang ada di sana. Ia tidak mengerti bagaimana bisa kliennya meminta bertemu di tempat seperti itu.


"Terima kasih sudah menghubungi perusahaan kami. Mohon maaf sebelumnya, kenapa kita harus bertemu di pesta seperti ini?" tanya Zaidan membuka pembicaraan.


Presdir Kang yang sedari tadi membawa minuman pun meletakan gelas di atas meja. Suara tertawanya begitu besar sampai-sampai membuat Zaidan maupun Dimas tersenyum canggung.


"Yah, inilah kehidupan yang saya miliki. Saya ingin siapa pun yang bekerja sama dengan saya bisa menikmatinya. Karena itulah saya menjamu kalian di pesta," tuturnya enteng.


Zaidan dan Dimas hanya mengangguk pura-pura mengerti. Sebelum ke pembahasan mengenai pekerjaan, mereka pun menikmati makan malam bersama.


Di tengah-tengah hiruk pikuk yang melanda, lampu ruangan tiba-tiba saja padam di gantikan cahaya remang.


Hanya ada satu lampu menyala di atas panggung memperlihatkan seorang wanita cantik tengah duduk berhadapan dengan alat musik klasik. Tidak lama berselang tuts-tuts piano terdengar berdenting mengalirkan lagu lembut.


Bak de javu, Zaidan terpaku dalam diam. Ia menolehkan kepala ke samping kiri menyaksikan performance seseorang di sana.


Rambut hitam tergerai begitu indah, meliuk-liuk mengikuti gerakannya. Suara piano yang tengah dimainkannya menemani semua orang yang datang.


Zaidan menoleh pada Presdir Kang yang tengah mengembangkan senyum. Ia tidak tahu bagaimana dan seperti apa hubungan mereka.


"Zanna, adalah pianis berbakat. Permainan pianonya sangat luar biasa, saya sudah mengenalnya sejak lama. Saya sengaja mengundangnya ke sini hari ini untuk menghibur kita semua," tuturnya seolah membaca sorot mata sang lawan bicara.


Zaidan terkejut bukan main, firasatnya mengatakan jika ada sesuatu hal hendak terjadi. Dimas pun mencengkram pergelangan tangannya membuat sang empunya menolah.


Ia menelisik ke dalam manik cokelat terang Dimas membaca apa yang hendak di sampaikan. Pria itu seolah mengatakan, "Kita harus pergi dari sini."


Zaidan mengangguk pelan dan mencari kesempatan untuk bisa keluar dari sana. Namun, seolah membaca pergerakan mereka, Presdir Kang tidak memperbolehkan siapa pun beranjak dari duduk.

__ADS_1


Situasi semakin tidak kondusif kala salah satu dari mereka ada yang berteriak. Wanita bersanggul tidak jauh dari keberadaannya nampak ketakutan saat melihat bayangan beberapa sosok hitam.


Zaidan kembali menelusuri ruangan tersebut saat di rasa ada yang tidak beres. Baru saja ia beranjak dari duduk dari atas terdengar suara gas bocor.


Seketika itu juga udara menjadi dingin menusuk kulit. Pandangannya pun seketika memburam dengan adanya asap memenuhi ruangan.


Pasokan oksigen pun makin menipis membuat Zaidan harus menggunakan lengan menutup hidung menghilau udara di sekitar.


"Kenapa ada gas beracun di sini? Dimas aku yakin Presdir Kang sedang-" ucapannya pun seketika terhenti saat tidak mendapati siapa pun di dekatnya.


Zaidan kelimpungan mencari-cari keberadaan Dimas. Ia terus memanggil namanya berulang kali, tapi nihil sosok sang pengawal tidak ada di manapun.


Zaidan pun batuk berulang kali kala gas itu terus terhirup. Tanpa mengindahkan keberadaan Dimas lagi, ia mencoba mencari pintu keluar.


Seiring berjalannya waktu, seiring gas yang terus dihambur-hamburkan kondisi Zaidan pun melemah. Kedua kakinya sudah tidak sanggup menopang berat badannya sendiri, ia pun jatuh dengan kedua lulut dan tangan sebagai tumpuan.


Ia terus batuk berharap bisa menghirup udara segar. Namun, sayang harapan hanyalah tinggal harapan. Zaidan sudah tidak bisa bertahan membuat pandangannya semakin buram.


Di tengah kelimpungan itu ia terus mengingat keluarga kecilnya. Tanpa sadar air mata menitik membayangkan senyum manis sang istri.


"Alina." Panggilnya dalam benak.


Ia berusaha menggerakkan tubuhnya yang tinggal beberapa langkah lagi mencapai pintu. Namun, di tengah perjuangan yang ia lakukan, sepasang heels berhenti tepat di depan mata kepalanya.


Zaidan mendongak melihat dalam keremangan seseorang yang mencoba membantu. Tanpa bisa mengatakan apa pun ia jatuh pingsan, tidak sadarkan diri.


Keadaan di sana pun kacau balau, banyak orang-orang berkeliaran mencari pintu keluar. Namun, tidak ada siapa pun yang bisa lolos dari sana.


Gas yang disemburkan dari atas membuat mereka kelimpungan. Satu persatu jatuh pingsan membuat situasi semakin tidak karuan.

__ADS_1


Hanya sepasang mata yang berdiri seraya menggunakan masker oksigen menatap ke sekitar. Bibir ranumnya melengkung sempurna melihat situasi di sana.


...Bersambung......


__ADS_2