Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 194 (Season 3)


__ADS_3

Kebahagiaan hanya semu memberikan suka cita layaknya sinar mentari. Bagaikan balon yang meletus hanya menyisakan kekosongan serta kehampaan.


Alina tersadar jika selama ini sudah terlena oleh kegembiraan berumah tangga. Tanpa ia sadari jika masih ada saja badai menunggunya di sana.


Air mata masih mengalir tanpa ada sepatah kata pun terucap. Seperti mayat hidup, Alina duduk termenung masih menatap kosong.


Hatinya begitu sakit dan terluka menyaksikan pria yang sangat ia cintai tengah bersama wanita lain. Zanna, sang pianis sudah bisa mengambil Zaidan ke sisinya.


Bagaikan anak panah melesat tepat sasaran, dadanya sangat sakit dan terluka. Perlahan Alina menoleh ke belakang melihat pigura pernikahan masih hancur berantakan.


Ia tertawa muram mencoba mengenyahkan kemelut dalam diri. Gelenyar pedih, perih, begitu menyiksa membuat ia mencengkram sekuat tenaga dada sebelah kiri.


Hatinya terasa dicabik-cabik, diremas sekuat tenaga tanpa ampun. Rasa sakit masa lalu pun ikut andil menambah beban, membuat air mata tidak berhenti tumpah.


"Aaarrrgghh!" Alina berteriak sekencang-kencangnya menyalurkan pengap.


Namun, hal tersebut malah mengundang perhatian penghuni lain. Raihan yang baru saja bangun tercengang dan di sebelahnya, Zenia menangis kencang terkejut mendengar suara sang ibu.


Tanpa mengindahkan adik kecilnya, Raihan bergegas keluar kamar. Ia mencari keberadaan Alina dan terkejut kala mendapatinya tengah duduk di lantai dengan kedua tangan menutup wajah.


"Ma-Mamah?" Panggil Raihan mengejutkan sang empunya nama.


Alina tersadar dan seketika menghentikan tangisan. Buru-buru ia mengusap wajahnya yang basah lalu menoleh ke belakang. Ia memaksakan senyum dengan kedua mata memerah.


Pemandangan tersebut seketika menggetirkan perasaan Raihan. Putra pertamanya itu sangat peka terhadap apa yang terjadi pada Alina.


Ia pun berlari mencapai sang ibu dan menangkup pipi memerahnya cepat. "Apa yang terjadi? Kenapa Mamah menangis seperti ini?" tanya Raihan menggebu.


Alina tersenyum lemah dan membalas tatapan sang buah hati. "Mamah baik-baik saja. Bisakah ... bisakah hari ini kamu pergi ke rumah ayah Azam? Em, atau ke rumah nenek Moana? Bisakah kamu menjadi kakak yang baik dan menjaga Zenia?" Tanpa mengatakan apa pun lagi Raihan mengangguk menyanggupi permintaan sang ibu.


Alina langsung memeluk Raihan dan mengusap punggung sempitnya pelan. Ia masih berusaha menahan tangis yang masih saja melingkupi diri.

__ADS_1


Raihan membalas pelukan ibunya tanpa bersuara. Ia tahu saat ini Alina hanya ingin sendirian tanpa mendapatkan banyak pertanyaan.


Kurang lebih satu setengah jam kemudian, setelah Alina menghubungi Calvin, adik iparnya pun datang. Ia terkejut saat mendapati kondisi sang kakak ipar nampak lemah dan lesu.


"Mbak? Apa Mbak tidak apa-apa?" tanya Calvin setelah menggendong Zenia.


Alina mengembangkan senyum penuh kepalsuan. "Aku titip mereka, yah. Di tas ada makanan untuk Raihan dan susu formula untuk Zenia. Jika bayi itu rewel segera hubungi aku," katanya tanpa mengindahkan pertanyaan Calvin tadi.


Pria yang lebih muda setahun darinya itu pun hanya mengangguk patuh. Ia tahu dan sadar sudah terjadi sesuatu. Namun, ia enggan menanyakannya takut menyakiti perasaan Alina lebih jauh.


"Baiklah, aku membawa mereka ke rumah mamah," jelasnya.


Setelah Calvin di terima di keluarga Zulfan, ia tinggal bersama Moana dan Farraz. Mereka pun menganggapnya seperti anak kandung dan memperlakukannya dengan baik, sedangkan ibu kandung Calvin harus berada di rumah sakit akibat kondisinya memburuk.


Alina mengangguk dan mengunci mulut rapat. Melihat itu, Calvin bergegas menggandeng Raihan dan berjalan keluar.


"Kalau begitu kita pergi dulu, Sayang ucapkan selamat tinggal pada Mamah," titah Calvin pada Raihan.


"Em, wa'alaikumsalam."


Tidak lama berselang sosok ketiganya menghilang dalam pandangan. Bunyi suara tertutup pun bergema menyadarkannya pada kenyataan lagi.


Alina berbalik mendapati pigura pernikahan masih berantakan. Dengan perasaan campur aduk ia membersihkannya.


Pecahan kaca itu pun seketika melukai telapak tangan hingga mengeluarkan darah. Alina mematung memandangi luka robek yang mengalirkan cairan merah kental di baliknya.


"Luka ini tidak sesakit hatiku. Apa kamu jatuh tadi untuk memberitahuku jika mereka sudah tidur bersama? Apa artinya pernikahan ini sudah tidak bisa dipertahankan lagi?" ujarnya meracau sendirian.


Rasa sakit masih melekat dalam dada mengalirkan kembali air mata tak berkesudahan. Alina menangis dan menangis di temani dengan tetesan darah yang memberikan warna lain di atas marmer.


...***...

__ADS_1


"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mamah terlihat kacau tadi?" tanya Calvin yang tengah duduk berdampingan di mobil dengan Raihan sembari memangku Zenia.


Supir yang tengah duduk di depan pun menatap sekilas ke arah kaca spion. Ia mencoba memfokuskan diri dan tidak ingin menganggu percakapan para tuannya.


"Aku juga tidak tahu, Om. Aku baru saja bangun tidur dan mendengar mamah berteriak. Saat aku melihatnya mamah sudah menangis. Om, apa ada sesuatu sudah terjadi? Kenapa mamah menangis seperti itu? Apa ini ada hubungannya dengan ayah?" tanya Raihan beruntun.


Calvin terkejut tidak percaya dan berdehem pelan guna menetralisir kegugupan. "Mungkin mamah hanya sedang lelah saja. Kamu tidak usah berpikiran macam-macam, yah. Jangan khawatir mamah pasti baik-baik saja." Raihan hanya mengangguk dan mengunci mulut rapat.


Diam-diam Calvin menghubungi kakak sepupunya, tetapi tidak dijawab. Ia terus mencoba berkali-kali, tetapi tetap saja tidak ada satu panggilan pun yang berhasil diangkat.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mas Zaidan tidak mengangkat panggilanku?" tanyanya dalam benak.


Di tengah kebingungan serta kekhawatiran yang melanda, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Buru-buru Calvin melihat dan mendapati nomor sang pianis.


Baru saja ibu jarinya menakan pesan masuk, ia merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia tidak percaya melihat foto yang dikirimkan padanya.


"Bagaimana, aku berhasil mendapatkan kakakmu, kan? jangan harap kamu bisa mengancam ku untuk tidak mendekatinya lagi. Aku tidak sudi harus terus terjebak denganmu."


Pegangan dalam ponsel mengerat, Calvin tidak menyangka jika wanita itu sudah bermain di belakangnya. Selama ini ia selalu memperhatikan sang pianis agar tidak mengganggu rumah tangga kakak sepupunya.


Sejak kejadian waktu itu, ia merasa bersalah sudah dua kali berhubungan dengannya. Calvin berharap bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya, tetapi, Zanna menolak dan menganggap semua itu hanyalah kecelakaan semata.


Namun, sekarang Calvin kecolongan dan membiarkan wanita itu bertindak terlalu jauh. Ia tidak percaya jika Zanna masih bermain di belakangnya.


"Wanita itu ... jadi, mbak Alina sudah tahu kejadian ini? Astaghfirullah, bagaimana ini? Apa benar mas Zaidan berhubungan dengan wanita ular ini? Ya Allah, bagaimana sekarang?" Ia terus berkutat dengan pikirannya sendiri.


Ia terkejut bukan main menyaksikan foto yang memperlihatkan Zanna tengah terbaring seraya tersenyum lebar. Di sebelah wanita itu ada seorang pria, yang tidak lain dan tidak bukan adalah kakak sepupunya sendiri, Zaidan.


Mereka berbaring bersama hanya dengan selembar selimut menutupi badan keduanya. Pikiran Calvin pun seketika berkelana ke mana-mana.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2