Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 213 (Season 3)


__ADS_3

Sakit, perih, nan pedih melebur bersamaan dengan suka cita mendera. Bagaikan tidak ada kejadian di hari-hari kemarin, keduanya menikmati setiap detik yang saat ini tengah dilewati.


Beberapa saat kemudian setelah terlena akan kesyahduan yang menggelora, Zaidan kembali memandangi sang istri dengan wajah merona.


Alina yang ditatap seperti itu pun merasa malu dan berkali-kali memalingkan wajah. Zaidan menyadari hal tersebut dan langsung menangkup pipi merahnya.


"Jangan berpaling dariku, Sayang," ucapnya lembut.


Degup jantung bertalu kencang, wajah Alina semakin memanas seiring tatapan hangat dilayangkan. Zaidan yang mengerti itu pun terus menerus menggodanya.


"Istriku sangat manis, bagaimana kalau kita langsung tidur saja?" katanya kemudian.


Mendengar kata tidur, Alina menatap lekat Zaidan. Ia tahu kata itu mengandung arti lain baginya.


"Makan dulu, aku sudah menyiapkan makanan ini untukmu, Mas," balasnya langsung.


Zaidan pun terkekeh senang sudah berhasil membuat istrinya nampak menggemaskan. Ia sudah mengembalikan apa yang dibuat Alina tadi.


"Aku bercanda, Sayang. Kalau begitu, mari kita makan?" tanyanya, Alina pun mengangguk setuju.


Zaidan menggendong Alina lagi dan mendudukkannya di atas kursi. Ia berjalan ke seberangnya membuat mereka saling berhadapan.


Di tengah keheningan malam, di bawah taburan bintang dengan cahaya bulan yang masih setia menemani, keduanya menikmati santap bersama.


Kedua insan yang terikat ikatan suci pernikahan itu pun sesekali saling pandang dan tersenyum hangat. Mereka tidak memikirkan apa pun dan terus menghayati momen mendebarkan tersebut.


"Oh iya, di mana anak-anak?" tanya Zaidan saat tidak mendapati putra dan putrinya di manapun. Ia lalu memasukan sepotong daging ke dalam mulut.


Alina yang tengah mengiris daging steak nya pun menjawab, "Aku menitipkan Zenia kepada mamah dan Raihan ingin tidur di rumah mas Azam katanya."


Zaidan mengangguk mengerti, "sini," ucapnya menarik atensi sang istri.


Alina mendongak melihat sepotong daging disodorkan tepat di depan wajah. Ia pun menoleh pada Zaidan yang tengah menatapnya penuh harap.


"A~ aku akan menyuapi mu," katanya tersenyum lebar.


Alina pun ikut melengkungkan kedua sudut bibir dan menerima suapannya. Zaidan sedikit mencondongkan tubuh ke depan saat melihat ada noda di sana dan dengan tangan kanan mengusap sudut mulut sang pasangan.


"Manis," ujarnya menjilat saus tadi.

__ADS_1


Alina terbelalak dengan jantung berdegup kencang atas tindakan sang suami.


"Sayang, apa kamu sengaja mengungsikan Zenia ke rumah mamah?" tanya Zaidan seraya meremas jari-jemari di atas meja.


Tanpa mengelak Alina mengangguk, "Em, memang."


"Kenapa?" tanya Zaidan menggodanya lagi.


"Karena aku rasa sudah lama kita tidak menikmati waktu berdua saja. Aku minta maaf selama ini terlalu sibuk mengurusi anak-anak dan juga-"


"Sayang." Zaidan bangkit dari duduk lalu berjalan mendekat.


Ia bersimpuh di sampingnya membuat Alina langsung menghadapnya. Tangan kekar itu terulur menggenggam jari-jemari sang pujaan hati.


Zaidan menariknya lembut dan mengecup punggung tangannya dalam. Kelopak mata itu tertutup menikmati aroma menenangkan yang tersebar.


Alina terharu menyaksikan begitu manis sikap sang suami terhadapnya. Ia benar-benar merasa dihargai dan dibutuhkan.


Kurang lebih sepuluh detik kemudian, Zaidan melepaskannya lalu mendongak melihat ke dalam manik jelaga Alina.


"Terima kasih, aku sangat mencintaimu," ungkapnya dengan nada suara rendah.


Seketika itu juga Zaidan kembali menutup mata menikmati sentuhan yang diberikan Alina.


Kisah tersampaikan lewat bahasa kalbu dan gerakan-gerakan impulsif sebagai tanda perasaan sesungguhnya.


Sudah banyak episode-episode mengeluarkan air mata kepedihan. Kini giliran kebahagiaan menerjang menggantikan luka.


Alina melepaskan ciuman dan menyatukan dua kening mereka lagi.


"Aku sangat mencintaimu," ungkapnya tulus.


Zaidan tersenyum semakin lebar. Ia lalu menggendong Alina ala pengantin lagi membuatnya langsung mengalungkan tangan di leher sang suami.


"Kita sudah makan, mari ke hidangan utamanya sekarang." Tanpa menunggu jawaban Alina, Zaidan langsung masuk ke dalam rumah dengan semangat membara.


...***...


Zaidan meletakkan Alina dengan hati-hati ke atas tempat tidur. Raksi lilin aromatherapy memenuhi segala penjuru kamar.

__ADS_1


Bak pengantin baru ruangan itu disulap menjadi lebih nyaman dan romantis. Di sekitar ranjang dihiasi kelambu dengan cahaya lilin sebagai peneman.


Zaidan mengukung sang pujaan yang berada di bawahnya. Alina membalas tatapan itu dengan sorot mata memuja.


Setelah mengucapkan doa, entah siapa yang memulai, keduanya pun sudah menyatu dalam kenikmatan kian menjadi ganas. Keinginan yang terus bergejolak mendorong keduanya untuk saling mendekatkan.


Satu persatu kain yang membungkus kulit terlepas dan berserakan di lantai. Di dalam detikan jam berdengung suara kesyahduan kian merebak.


Cinta semakin bergelora membentuk penyatuan yang terus menerus bergerak liar. Cahaya remang-remang pun menambah suasana harmonis.


"I love you."


Di tengah pertempuran tersebut ungkapan cinta tercetus dari gemuruh napas yang saling bersahutan. Zaidan menyaksikan wajah memerah sang istri yang begitu menarik perhatian.


Alina mengembangkan senyum dengan dada naik turun, "Aku lebih mencintaimu."


Mendengar kata-kata itu, Zaidan semakin tidak karuan. Ia merunduk mencium lembut dahi, kedua mata, pipi, dan berakhir bibir merah Alina yang begitu menggoda. Sang empunya pun tertarik dan mengikuti setiap pergerakan yang diberikan.


Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Alina saat ini selain bisa hidup bersama selamanya dengan Zaidan.


Pria yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya, sosok yang tidak pernah ia duga sebelumnya, kini menjadi suami kedua pengganti masa lalu.


Pengkhianatan akan pengkhianatan berganti ketulusan. Perihnya luka akan cinta bertepuk sebelah tangan, kini diganti dengan perasaan sesungguhnya.


Di tengah gerakan yang diberikan sang suami, Alina membuka mata menyaksikan wajah tampan itu kini menjadi miliknya.


"Terima kasih, Sayang sudah mau berkorban begitu banyak untukku. Aku yang dulu berpikir untuk tidak menikah lagi, nyatanya mendapatkan kejutan tak terduga. Kamu ... bisa meyakinkanku jika ada sebuah perbedaan dalam pernikahan. Cinta yang aku rasakan dulu begitu menyiksa kini berganti kebahagiaan."


"Kamu memberikan cinta tulus tanpa pamrih padaku. Kamu menerimaku dan Raihan dengan sangat baik serta menganggapnya seperti anak kandungmu sendiri. Terima kasih, entah dengan cara apa aku bisa membalas kebaikanmu."


"Aku hanya akan memberikan cinta yang aku punya hanya untukmu. Aku sangat mencintaimu, Mas Zaidan," monolognya dalam diam.


Alina kembali menutup mata membiarkan apa yang diinginkan suaminya. Kini giliran Zaidan menampilkan lagi manik jelaganya.


Senyum pun mengembang melihat air muka sang istri. "Aku sangat mencintaimu, Sayang. Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi atau menjauh dariku. Terima kasih sudah mau menerimaku sebagai suamimu dan ... terima kasih sudah bersedia menjadi istri dan ibu dari anak-anakku," benaknya.


Gerakan demi gerakan impulsif itu pun mengungkapkan apa yang tengah mereka rasakan. Tidak ada keraguan saat menyerahkan diri untuk pasangan masing-masing.


Pernikahan mereka yang sudah berjalan hampir tiga tahun mengundang kebahagiaan kian menerjang. Meskipun di dalamnya terdapat badai, tetapi dengan kebersamaan, mereka bisa melaluinya dan mendapatkan kebahagiaan sang semakin melingkupi.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2