
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Q.S. Ar-Rum: 21)
Kisah akan selalu sampai pada pemilik kehidupan. Jalinan kasih senantiasa terajut pada takdir yang telah Allah tetapkan.
Di balik perihnya luka, terdapat kata bahagia tersemat. Tidak ada kata "selamanya" dalam hidup ini, sebab masa akan terus berganti dan waktu berputar sebagaimana mestinya.
Allah sebaik-baik pemberi cerita kepada setiap hamba sudah pasti menggariskan takdir pena yang terbaik.
Ujian demi ujian yang terdapat di dalamnya itu sebagai bentuk kasih sayang-Nya. Karena Allah ingin melihat siapa di antara hamba-Nya yang percaya pada kebaikan selepas perginya kesedihan.
Alina menjadi bagian dari banyaknya protagonis di dunia ini. Ia menjadi peran utama dalam kisah mendebarkan.
Pasang surut menjalani sebuah hubungan mengantarkan pada muara air mata. Perih, pedih, nan kecewa, menjadi santapannya sehari-hari waktu itu.
Ia pikir delapan tahun berumah tangga bersama pria tercinta mengantarkan pada perasaan tulus. Namun, nyatanya membuka hati tidak semudah membalikan telapak tangan.
Alina hanya menjadi bayang-bayang masa lalu yang akhirnya kembali dikhianati.
Di tengah ingatan masa lalu, ponsel di saku gamis bergetar. Buru-buru Alina mengambilnya yang saat ini tengah berada di taman belakang sedang memantau kedua buah hati bermain.
Ia melihat pesan masuk dari sang suami yang berbunyi, "Sayang, nanti ada supir yang akan menjemputmu, dandan yang cantik, yah. Lalu nanti juga Dimas akan menjemput Raihan dan Zenia untuk dititipkan pada mamah."
Ia mengernyitkan dahi dalam. "Apa yang dimaksudkan mas Zaidan?" gumamnya seraya membalas pesan tersebut.
Di tengah kebingungan itu, Alina tetap mengikuti apa yang diperintahkan sang suami. Setelah menyelesaikan salat isya, serta berdandan seadanya ia menunggu supir yang akan menjemput.
Beberapa saat kemudian deru mesin mobil berhenti tepat di pekarangan. Buru-buru Alina berjalan ke depan dan mendapati Dimas baru saja turun.
Mereka pun saling tatap sembari melemparkan senyum.
"Apa anak-anak sudah siap?" tanya Dimas kemudian, Alina mengangguk singkat dan pria itu pun melenggang masuk.
Bersamaan dengan itu mobil mewah lainnya pun berhenti. Alina diam membeku di depan rumah menyaksikan seorang pria berjas hitam rapih dengan tatanan rambut mengkilap menyambutnya.
"Assalamu'alaikum, Nona Muda. Anda di minta untuk pergi bersama saya," ungkapnya.
"Wa-wa'alaikumsalam, ke mana Anda akan membawa saya?" tanya Alina penasaran sekaligus ada setitik rasa takut.
__ADS_1
"Mamah pergi saja, aku akan menjaga putri Zenia dengan baik. Oh yah, jangan lupa bawakan kami adik baru. Dah Mamah, aku pergi dulu bareng Om Dimas ke rumah nenek." Setelah meracau yang hampir membuat jantung ibunya berhenti berdetak, Raihan mengulas senyum lebar.
"A-apa maksudmu, Sayang?" tanya Alina gugup.
Seketika Raihan tergelak, menenteng tas punggungnya pelan lalu menggandeng Dimas yang tengah berdiri tepat di samping. Pria berkacamata itu juga ikut mengembangkan senyum yang sedang memangku Zenia.
Batita satu tahun tersebut memandang hangat sang ibu. Alina tidak kuasa menahan untuk tidak melengkungkan kedua sudut bibir, menyaksikan mereka bertiga bergantian.
"Sudah-sudah lebih baik kalian pergi," ucapnya mengalihkan topik.
"Mamah pasti malu, kan? Baiklah aku dan Zenia pergi dulu, Assalamu'alaikum Mamah, selamat bersenang-senang," timpal Raihan lagi menyalami tangannya singkat.
"Wa'alaikumsalam, baik-baik di rumah nenek," balasnya melambaikan tangan kepada mereka bertiga.
Tidak lama berselang setelah keluarganya menghilang dalam pandangan, Alina pun bergegas masuk ke dalam mobil yang sedari tadi sang supir sudah menunggu.
Sedetik kemudian kendaraan mewah itu pun meluncur meninggalkan tempat tinggalnya.
...***...
Kurang lebih setengah jam kemudian, Alina tiba di sebuah restoran mewah berlantai tiga. Ia tidak henti-hentinya dibuat takjub dengan keanggunan bangunan tersebut.
"Nyonya Alina?" Ia mengangguk mengiyakan. "Anda di minta untuk datang ke lantai tiga, mari ikut saya," ucap sang pelayan, Alina hanya mengikuti ke mana wanita itu pergi.
Sepanjang lift membawanya ke atas, degup jantung Alina berdetak kencang. Di kedua sisi terdapat kaca transparan yang memperlihatkan pemandangan luar.
Ia bergumam "wow" tanpa sadar, pelayan yang berada di belakangnya mengembangkan senyum.
Beberapa saat kemudian suara pintu lift terbuka lebar, sebelum Alina melangkahkan kaki ia diminta untuk menutup kedua mata menggunakan seutas kain.
Entah permainan apa yang sedang dilakukan sang suami sekarang, ia kembali mengikutinya dan dituntun oleh wanita tadi keluar.
Tidak berselang lama, aroma maskulin nan menenangkan menyapa indera penciuman. Alina merasakan pelayan tadi melepaskan pegangan dan berganti dengan seseorang.
"Malam ini kamu cantik sekali, Sayang." Suara baritone menendang pendengaran, Alina terdiam kaku merasakan lengan kekar melingkar di pinggangnya.
"Ma-Mas Zaidan?" Panggil Alina.
__ADS_1
"Menurutmu?"
Zaidan senang bermain-main dengan sang istri seraya menuntunnya berjalan ke depan. Ia melihat semburat merah muda merambat di pipi putih pujaan hati.
"Jangan mempermainkan ku." Bibir ranum itu mengerucut pelan semakin menambah gemas sang suami.
Ia pun membubuhkan kecupan ringan di sana membuat sang empunya kembali diam. Pria itu mengembangkan senyum manis dan bergegas mendekatkan istrinya ke tempat yang sudah ia reservasi.
Di sana tidak ada siapa pun selain mereka berdua, beberapa hari lalu Zaidan sudah merencanakan untuk dinner bersama Alina di tempat itu.
Ia pun membooking semua arena lantai tiga dengan merogoh kocek yang tidak sedikit. Hasil diberikan para pelayan pun membuatnya senang dan berpikir sebanding dengan uang yang dikeluarkan.
"Kamu siap, Sayang?" bisik Zaidan lagi tepat di samping daun telinga. Alina hanya diam tidak tahu apa yang hendak di lakukan suaminya.
Tidak lama setelah itu kain yang menutupi penglihatannya pun dilepaskan. Perlahan Alina membuka kelopak matanya dan seketika terpesona akan pemandangan tepat di depan.
"Ma-masyaAllah," gumamnya menutup mulut menganga.
Ia menyaksikan view ibu kota yang terlihat jelas di jendela besar yang berada di sekitarnya. Lampu-lampu yang dihasilkan dari gedung-gedung pencakar langit begitu memesona.
Alina pun tidak bisa mengatakan apa-apa saat menyaksikan hamparan kelopak mawar bertuliskan sebuah kata yang mendebarkan. Di sekelilingnya terdapat lilin-lilin kecil menambah romantis keadaan di sana.
Cahaya remang menambah kekentalan perasaan terdalam. Aroma harum mengalir menemani sepasang insan terikat janji suci pernikahan.
Dari arah belakang terdengar suara sepatu pantofel mendekati. Alina berbalik dan mendapati prianya tengah mengenakan jas abu formal memeluk buket bunga berukuran lumayan besar.
"Happy Anniversary kita ke empat, Sayang." Zaidan bersimpuh di hadapan Alina seraya mengulurkan rangkaian bunga tersebut.
Alina tidak kuasa membendung air mata. Cairan bening itu tumpah seiring tangannya terulur membawa buket dari sang suami.
Seketika itu juga Alina langsung melemparkan diri ke pelukan Zaidan. Dengan sigap kekasih hatinya menerima dan mengangkat tubuh sang istri dalam dekapan.
"Terima kasih, Sayang. Aku sangat bahagia," ucap Alina halus.
Zaidan membubuhkan kecupan lembut di leher jenjangnya yang terhalang hijab. "Apa pun untukmu, Sayang."
Malam itu mereka menikmati dinner romantis di restoran mewah. Kata-kata hangat penuh arti cinta terus berdengung mengenyahkan keheningan malam.
__ADS_1
Baik Alina maupun Zaidan, keduanya sama-sama menikmati kebersamaan tersebut. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi mereka, selain bisa hidup bersama orang tercinta.
...Bersambung......