Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 95 (Season 2)


__ADS_3

Pintu tertutup, Zaidan menghela napas pelan dan terdiam beberapa saat. Kepala bersurai hitamnya lalu mendongak melihat ke arah ranjang rumah sakit. Pasien yang tengah berbaring di sana sudah membuka mata dan memandangi langit-langit ruangan.


Ia terkejut mendapati Alina menolehkan kepala ke samping tepat memandanginya. Kedua manik jelaganya memindai ia serius nan tajam. Zaidan mengulas senyum canggung dan berusaha menyadarkan Raihan jika ibunya sudah sadar.


"Sayang." Suara serak nan lemah menyambut.


Raihan menoleh ke belakang dan membulatkan mata melihat ibunya tersenyum. Ia pun meminta Zaidan untuk menurunkannya, tetapi tidak dituruti. Pria keturunan bangsawan itu masih menggendongnya dan duduk di kursi sebelah ranjang.


"Mamah." Panggil Raihan langsung berontak dan naik ke atas berankar langsung memeluk ibunya erat.


Alina merasakan tubuh putranya gemetar, Raihan menangis dalam diam dan berusaha menyembunyikannya. Ia pun mengusap puncak kepala sang buah hati pelan dan membiarkannya.


Zaidan yang melihat itu kembali melengkungan bulan sabit sempurna. Perasaan hangat nan damai seketika menyapa sanubari.


"Seperti inikah hangatnya sebuah keluarga? Meskipun ayah dan ibuku masih hidup, aku tidak pernah merasakan apa itu keluarga. Mereka selalu sibuk dengan pekerjaan dan gemerlapnya dunia. Seandainya ... seandainya aku bertemu Alina lebih dulu, mungkin sekarang kita sudah menjadi satu keluarga," monolognya dalam diam.


Keheningan menyambut, Alina maupun Zaidan sama-sama terdiam. Detikan jam terus berdentang menemani kebersamaan.


Alina terus memandang langit-langit dan menenangkan sang putra. Sampai tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari Raihan membuat ia tersenyum.


"Terima kasih, karena sudah ada untukku selama ini. Aku minta maaf, Mas harus melihat kejadian tidak mengenakan ini," tutur Alina membuka suara.


Zaidan menggelengkan kepala sekilas dan terus menatapnya lekat. "Jangan berterima kasih padaku, itu memang sudah menjadi tugasku untuk membantumu. Karena-"


Mendengar Alina mendengus, Zaidan menghentikan ucapannya. Ia menautkan kedua alis saat melihat sebelah sudut bibirnya melengkung.


Alina bangkit dari berbaring dan menidurkan Raihan di sampingnya lalu bersandar ke kepala ranjang sambil memandang ke arah depan.

__ADS_1


"Apa kamu mendengar apa yang aku katakan tadi di luar? Suamimu ... ah bukan, calon mantan suamimu ada di sana, dia ... ingin bertemu denganmu. Aku mencegahnya, karena ... aku tidak ingin kalian bertemu setelah semua yang terjadi," ungkap Zaidan.


Alina masih mempertahankan posisinya tanpa sekalipun melihat ke samping. Ucapan Zaidan barusan berdengung dalam pendengaran membuat ia kembali mendengus.


Dalam diam ia menekan ibu jari ke jari telunjuknya kuat. Perasaan tidak menentu terus menari mengantarkan kebimbangan.


Zaidan yang mengerti akan kondisinya pun kembali melanjutkan. "Apa yang aku katakan di ruang sidang tadi, itulah kebenarannya. Aku ... mencintaimu, Alina."


Seketika sang pemilik nama menoleh memandang kurva melengkung indah di kedua bibir menawan pengusaha. Sorot mata hangat nan mendamba tengah menatapnya penuh makna.


Lidahnya kelu tanpa mengatakan sepatah kata, Alina hanya bisa menutup mulut rapat.


Ungkapan cinta dari orang lain bagaikan harapan semu yang tidak pernah ia pikirkan. Perasaan itu sudah menghilang dalam kamus hidupnya bersama surat perceraian yang ia berikan untuk sang suami.


Cinta tulus yang ia berikan hanya dibalas dusta nestapa. Untuk percaya lagi pada kata-kata itu sangat sulit diterima.


"Terima kasih, tapi aku tidak butuh kasihanimu, Mas. Jangan berkata seperti itu, karena aku tidak membutuhkannya. Jangan bercanda dengan perasaan dan jangan pernah mengungkapkan kata-kata tadi untuk menghiburku. Aku tidak ingin dikasihani," jawab Alina.


Alina mengusap puncak kepala putranya sayang seraya tersenyum simpul. "Saat ini aku masih berstatus sebagai istri orang, apa yang Mas harapkan dari seseorang diambang kehancuran? Status janda memiliki stigma bermacam-macam dalam masyarakat. Mas, merupakan orang terpandang dan memiliki kedudukan luar biasa ... rasanya tidak pantas jika Mas mencintai orang sepertiku. Aku-"


"Aku tidak peduli apa kata orang lain. Aku akan menunggu sampai status janda itu kamu dapatkan." Setelah mengatakan itu Zaidan bangkit dari duduk dan melangkahkan kaki dari ruang inap tersebut.


Alina memandangi punggung tegap itu hingga menghilang di balik pintu. Ia menghela napas lelah dan menatap keluar jendela.


Hujan tengah datang, air yang turun dari langit mengantarkan udara dingin. Kemelut dalam dada semakin bertambah parah, ia tidak menyangka jika seseorang yang baru saja dikenalnya mengungkapkan perasaan.


Trauma akan pernikahan membuat Alina menduga jika kata cinta yang Zaidan lontarkan sebagai bentuk kasihan dan iba semata.

__ADS_1


"Aku tidak percaya lagi jika cinta sejati itu ada. Aku ... tidak ingin terluka kembali. Sudah cukup selama delapan tahun aku menyimpan perasaan itu seorang diri," lirihnya.


Tidak lama berselang pintu ruangan pun kembali dibuka. Alina melihat seorang wanita berhijab putih berjalan mendekat dengan tersenyum hangat.


"Alina." Panggilan itu membuat Alina membalas senyumannya.


"Mbak Jasmin," jawabnya.


Jasmin duduk di kursi sebelah ranjang seraya terus menatap ke dalam iris cokelat bening sang lawan bicara.


"Aku minta maaf atas semua yang terjadi, terutama kembaranku Yasmin. Aku tidak menduga dia akan melakukan hal nekad yang sampai melukaimu," ujarnya, bola mata itu bergulir melihat perban melilit di dahi Alina.


"Tidak apa-apa, mungkin ini balasanku. Karena sudah mencintai suami orang. Kata dokter aku hanya mengalami gegar otak ringan, jadi Mbak tidak usah khawatir. Juga, bukan Mbak yang harus meminta maaf," kata Alina hangat.


Jasmin terpaku melihat kelembutan serta ketulusan dari sorot mata sang madu. Hari-hari yang telah mereka lewati bersama seketika mengundang air mata.


"Ya Allah, Alina. Aku benar-benar minta maaf."


Maniknya berembun hingga mengalirkan cairan bening tidak tertahankan. Alina terperangah dan diam memperhatikannya.


"Aku benar-bena malu, Alina. Dulu, aku sangat jahat sudah menyakitimu. Allah menyembuhkanku mungkin akan ada teguran lain yang menanti dan ... inilah yang aku rasakan. Aku sakit melihat mas Azam ataupun kamu menderita atas kelakuan Yasmin. Aku minta maaf karena dulu sudah memintamu untuk menikah dengan mas Azam. Jika tahu semuanya jadi seperti ini, aku tidak akan melakukan itu," sesal Jasmin.


Alina masih membungkam mulut rapat dan menyaksikan istri pertama Azam tengah sibuk mengusap air mata. Bayangan delapan tahun lalu hinggap dalam ingatan. Masa-masa itu seperti terjadi kemarin di mana ia harus menahan sakit saat melihat sang suami tercinta memadu kasih bersama istri pertamanya.


Sakut memang sakit, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena waktu itu ia berpikir jika cinta tidak bisa dipaksakan. Namun, setelah mengetahui Jasmin meninggal ia berharap ada harapan untuk Azam bisa membalas perasaannya.


Di saat pria itu terpuruk dan sempat mengalami depresi atas kepergian Jasmin, ia selalu ada di sisinya dan memotivasi Azam untuk bangkit dan bertahan. Sampai kata cinta itu tercetus membuat Alina menyadari jika kesabaran membuahkan hasil.

__ADS_1


Namun, lagi-lagi semua itu hanyalah sebuah illusi. Perasaan yang suaminya ungkapkan hanya sebatas kewajiban tanpa ketulusan.


...Bersambung......


__ADS_2