Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 160 (Season 3)


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam, pesta keberhasilan Zanna masih berlangsung begitu meriah. Banyak dari tamu undangan yang sudah tidak sadarkan diri di bawah pengaruh alkohol. Minuman tersebut melenakan dan juga mengalirkan halusinasi tak berujung.


Mereka begitu menikmati pesta dengan hentakan musik berdentum. Di bawah langit gelap semua orang tumbang ke dalam kesenangan fatamorgana.


Dimas yang masih terjaga dan tidak menyentuh minuman itu pun mengamati setiap gerak-gerik orang-orang di sana.


Sebagai pengawal dari tuan muda, Dimas mempertahankan kesadarannya. Ia tidak bisa kecolongan dan membuat tuannya kenapa-kenapa. Ia sadar jika di pesta tersebut ada niat terselubung di dalamnya.


"Apa yang dilakukan Zanna tadi? Kenapa ia berbisik kepada pria itu?" benak Dimas kala menyaksikan pria di parkiran bersama Zanna ada di sana tengah menikmati gemerlapnya pesta.


Dimas tengah berdiri berdiri di sebelah Zaidan yang sudah tidak sadarkan diri. IA memasang badan kala seorang wanita bergaun hitam dengan belahan hingga ke paha mendekat. Ia tidak bisa membiarkan siapa pun mengambil kesempatan, termasuk kekasih dari tuannya.


Zanna Zyva berjalan menghampiri Zaidan hendak menyentuhnya, tetapi secepat kilat tangan itu dicekal oleh Dimas. Sang empunya yang berada di bawah pengaruh minuman itu tergelak memandanginya.


"Kenapa kamu memegang tanganku? Lepaskan, aku mau bersama kekasihku," kata Zanna seraya menyentak tangan Dimas.


Ia pun melihat apa yang hendak dilakukan Zanna. Wanita itu duduk di sebelah Zaidan yang tengah menunduk menahan pusing.


Entah apa yang dikatakan Zanna pada Zaidan membuat pria itu tersenyum lemah. Sang pianis berbisik tepat di samping daun telinganya mengalirkan kecurigaan pada Dimas.


Setelah itu mereka berdua beranjak dari duduk, Zaidan lalu menepuk pundak sang pengawal. Ia mengatakan, "tidak usah mengantarku ... aku bisa pulang sendiri." Zaidan berjalan sempoyongan bersama Zanna menuju kerumunan orang-orang.


Di sana mereka menari bersama sembari mengacung-acungkan gelas berkaki panjang berisi wine. Dimas memicingkan pandangan kala melihat pria tadi tiba-tiba saja pergi setelah diberikan pengarahan oleh Zanna.


Merasakan sebuah firasat Dimas langsung mengikutinya. Hingga ia tiba di parkiran dan bersembunyi di balik salah satu mobil tidak jauh dari keberadaan pria mencurigakan itu.


"Apa yang dia semprotkan di mobil Zanna? Apa yang sedang mereka rencanakan?" gumam Dimas penasaran.


Tanpa menunda waktu ia berjalan mendekat dan langsung mencengkram kedua pergelangan tangan pria itu menariknya ke belakang. Dimas menekannya ke mobil membuat dada sang pria bertubrukan dengan benda keras.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" geramnya.

__ADS_1


"Si-siapa kamu? Apa yang kamu inginkan?" tanyanya balik.


"Kamu tidak usah tahu siapa aku ... yang jelas sedari tadi aku sudah mengawasi gerak-gerik kalian. Apa yang kamu dan nona Zanna rencanakan? Apa ini ada hubungannya dengan tuan Zaidan?" tanya Dimas memancingnya.


Pria yang juga terpengaruh oleh alkohol itu pun terkikik pelan. "Apa yang kamu pikirkan? Seharusnya kamu membantu mereka menikmati malam ini."


Dimas semakin curiga setelah mendengar penuturan tersebut. "Apa nona Zanna merencanakan sesuatu untuk menjebak tuan Zaidan?"


Pria itu seketika tertawa mendengarnya. "Bukankah itu tujuan nona muda sebenarnya? Sangat sulit untuk memancing tuan Zaidan ke dalam pelukan nona. Selama ini pria itu bersikap acuh tanpa memikirkan hubungan mereka.


"Bukankah malah sebaliknya? Nona Zanna yang lebih mementingkan karier dari pada perjodohan mereka? Bukankah mereka juga akan segera bertunangan? Apa jangan-jangan nona Zanna ingin menjebak tuan Zaidan agar bisa menikahinya? Jangan bercanda bukankah selama ini ia belum mau menikah?" Dimas terus bermonolog dalam benak memikirkan apa yang terjadi pada kehidupan tuannya.


"Jadi maksudmu, nona Zanna ingin menjebak tuan Zaidan untuk tidur bersama?"


Pria itu mendengus pelan dan mengangguk mengiyakan. "Nona sebenarnya sudah muak dituntut untuk sempurna oleh keluarganya. Nona juga ingin terbebas dari aturan keluarga yang tidak bisa dirinya buang begitu saja. Hanya dengan menjebak tuan Zaidan, nona bisa bebas dan memintanya untuk bertanggung jawab."


Dimas semakin menekannya membuat sang empunya mengaduh. "Jangan macam-macam aku tidak akan membiarkan siapa pun memperlakukan tuan seenaknya."


Dimas langsung menahan napas dan mengeluarkan masker dalam saku jaket. Ia membawa kendaraan itu tepat di depan pintu masuk kemudian menghubungi beberapa bawahannya untuk segera mengambil Zaidan.


Tidak lama berselang dua orang pria bertubuh tinggi kekar memasukan sang tuan muda ke dalam mobil Zanna. Setelah itu pemilik kendaraan pun datang dan bergegas masuk seolah rencananya berjalan lancar.


"Cepat bawa kami ke hotel mewah," titah Zanna yang dirinya pikir orang di depan adalah pengawalnya.


Di balik masker hitam, Dimas menyeringai dan menginjak gas meninggalkan tempat tersebut. Di sepanjang jalan ia terus menghubungi seseorang untuk memberinya sebuah pekerjaan.


Kurang lebih lima belas menit kemudian, mereka tiba di depan bangunan megah di tengah ibu kota. Dimas masuk ke parkiran bawah tanah dan bertemu orang tadi yang sudah dihubunginya.


"Jadi, malam ini aku hanya harus mengikuti apa yang wanita itu inginkan?" tuturnya melihat ke dalam mobil. Dimas yang tengah merangkul Zaidan mengangguk lalu memberikan kuncinya.


"Kamu tahu apa yang harus dilakukan, jadi malam ini aku serahkan wanita itu padamu," jelas Dimas menoleh ke sebelah singkat.

__ADS_1


Pria itu bersiul menyaksikan kaki mulus terekspos begitu saja. Ia lalu menganggukkan kepala dan menerima kunci mobil dari Dimas.


"Baiklah seperti yang sudah Mas Dimas perintahkan, Calvin akan melaksanakan tugas dengan baik," balas pria bernama Calvin.


Dimas mengangguk semangat dan menatapnya serius. "Bagus, aku percaya pada kinerjamu."


Setelah itu mereka pun berpisah, Dimas mengantarkan Zaidan pulang ke rumah, sedangkan Calvin melaksanakan tugas yang sudah diberikan padanya.


...***...


Zaidan, Sarah, dan Angga tidak percaya mendengar semua cerita Dimas barusan. Ketiganya terperangah atas kinerjanya untuk melindungi sang tuan.


Dimas pun merogoh saku celana jenas mengeluarkan ponsel. Tidak lama setelah itu ia memperlihatkan satu foto di sana.


"Calvin Alfero, pria berusia dua puluh delapan tahun. Dia-"


"Kenapa mukanya mirip Mas Zaidan?" tanya Sarah menyambar ucapannya cepat.


Dimas menatapnya lekat membuat wanita itu tertawa kikuk. "Maaf-maaf, silakan dilanjutkan."


Zaidan dan Angga hanya tertawa, lalu mereka siap mendengarkan apa yang hendak disampaikan Dimas selanjutnya.


Namun, tanpa mereka sadari sedari tadi Alina mendengarkan apa yang terjadi di sana. Ia terjaga dari tidur sesaat Dimas menceritakan kejadian malam itu.


Ia diam tanpa bergerak dan dengan setia menjadi pendengar gelap. Ia tahu jika selama ini suaminya tidak pernah berbuat macam-macam pada wanita.


"Tapi tetap saja aku masih penasaran apa yang selanjutnya terjadi," benaknya.


Pada akhirnya Alina pun bangkit lalu duduk menoleh ke samping melihat mereka berempat masih fokus pada pembicaraan.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2