Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 238 (Season 3)


__ADS_3

Bak disambar petir di siang bolong, fakta kali ini yang ia dapatkan begitu mencengangkan.


Alina tidak menyangka dan tidak menduga kala kenyataan pahit harus dihadapi lagi.


Di dalam surat yang ia dapatkan terdapat sebuah informasi mengenai keberadaan sang ibu.


Di selembar kertas itu, Alina mengetahui jika orang tua yang tidak pernah diketahui keberadaannya sudah benar-benar menghilang di dunia.


Surat itu berisikan:


"Alina ini mamah. Mamah sudah menyimpan mu di panti asuhan kasih sayang bunda. Maafkan mamah harus menitipkan mu di sana. Karena mamah tidak ingin kamu hidup susah bersama kami. Jangan tanyakan tentang ayah, dia ... sudah pergi meninggalkan kita sebelum kamu lahir. Ayah sering gonta-ganti pasangan membuat mamah tidak tahan lagi dan memutuskan untuk berpisah. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk kita bisa bertemu, tetapi Alina ketahuilah jika ... mamah senang kamu bisa hidup bahagia sekarang. Mamah minta maaf tidak bisa menemui mu secara langsung. Karena mamah tidak ingin mengusik kebahagiaanmu. Ketahuilah jika mamah sangat menyayangimu. Maafkan mamah yang sudah menitipkan mu di panti. Ini mungkin pertama dan terakhir mamah bisa menghubungi mu. Kamu mempunyai seorang kakak bernama Jihan, dia yang menyampaikan surat ini untukmu. Alina, jika kita tidak bersama di dunia, insyaAllah kita bisa bertemu dan bersama-sama di jannah-Nya. Mamah menyayangimu_ Bintang"


Alina terus terisak mendapatkan berita mendebarkan tersebut.


Kini ia sudah mengetahui alasan sebenarnya kenapa dirinya bisa berada di panti asuhan.


Alina pun mendapati jika di dalam amplop terdapat liontin berbentuk hati.


Ia mengeluarkannya dan membuka bandul liontin yang terdapat sebuah foto klasik di sana. Ayana semakin menangis melihat wajah sang ibu untuk pertama kalinya.


"Ma-Mamah," ucap Alina lirih mengusap wajah asing tepat di depan matanya.


Zaidan beralih ke samping sang istri dan merangkulnya hangat. Ia mengusap pundak kiri Alina menyalurkan kekuatan.


"Seperti yang disampaikan dalam surat jika yang menyampaikan pesan ini adalah Jihan, kakak kandungmu," kata Aminah membuat atensi Alina beralih padanya.


"Di-di mana beliau berada sekarang?" tanya Alina menatap sepenuhnya pada Aminah.


"Ibu tidak tahu, Jihan mengatakan jika ibumu, Bintang sudah meninggal dunia. Beliau dikebumikan di-"


Alina terpaku kala mendengar keadaan sang ibu sudah berpulang ke Rahmatullah.


...***...


Kurang lebih sepuluh kilometer dari panti, seorang wanita berusia tiga puluh tujuh tahun bergamis putih dengan hijab senadanya tengah menabur bunga di atas gundukan tanah merah.

__ADS_1


Kelopak bunga pun disebar mewarnai salah satu makam di sana.


Alina dan Zaidan yang baru tiba di sana terkejut melihat sosoknya.


Alina berjalan pelan mendekati wanita itu, perasaan campur aduk seketika menyapa.


"Te-Teh Jihan?" Panggilan Alina membuat sang empunya nama menoleh ke belakang.


Manik jelaga yang sama sepertinya menatap lekat. Jihan terbelalak lebar dengan mulut ranum terbuka perlahan, bisa bertemu kembali dengan adik kandungnya.


"A-Alina?" Panggilnya gugup.


Alina mengangguk, iris bulannya berkaca-kaca melihat wajah mirip dengannya itu.


Tanpa mengatakan sepatah kata lagi, Alina menerjang sosok sang kakak memeluknya sangat erat.


"Teteh." Panggil Alina lagi.


"MasyaAllah, Alina," balas Jihan membalas pelukannya.


Beberapa saat mereka saling mendekap satu sama lain. Zaidan dalam diam menyaksikan interaksi keduanya. Ia ikut terharu melihat pertemuan kakak beradik tepat di depannya.


Keduanya saling menggenggam tangan satu sama lain seraya memandangi gundukan tanah berisi ibu mereka.


"Ibu, ini Alina, bu. MasyaAllah, anak ini sangat cantik seperti ibu." Jihan membuka suara setelah memberikan doa untuk sang ibu.


Alina menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan. Ia menatap nisan ibunya lekat.


Air mata tidak bisa berhenti mengalir, bulir demi bulir terus berjatuhan tanpa henti. Ia berusaha menenangkan diri dengan dibantu Jihan mengusap punggungnya pelan.


"I-ibu ini Alina. Ibu, Alina rindu. Kenapa ibu harus pergi secepat ini? Alina ingin memeluk ibu dan mengucapkan jika Alina ...  Alina sayang Ibu." Kata-kata tersebut mengandung bawang yang seketika membuat Jihan maupun Zaidan ikut meneteskan air mata.


Sang suami datang ke sampingnya membantu mengelus bahu Alina.


Ia pun semakin berusaha untuk tegar, meskipun dalam dada terguncang hebat. Ia begitu terbawa emosional yang terus menggebu-gebu.

__ADS_1


Bagaikan anak panah melesat sampai sasaran, rasa sakit itu kian bertambah parah. Alina menyayangkan kenapa dirinya tidak bisa bertemu bersama sang ibu ketika masih bernapas.


Kurang lebih dua jam lamanya berada di pemakaman, Jihan membawa serta adik kandung dan iparnya ke rumah yang selama ini ia tempati bersama Bintang.


Alina kembali tidak kuasa membendung air mata menyaksikan tempat tinggal yang sangat sederhana ini.


Ia bersimpuh di depan bangunan itu seraya menyembunyikan wajah berair di telapak tangan.


Alina meraung, mengucapkan beribu kata maaf pada sang kakak.


Jihan dan Zaidan sama-sama membantunya untuk masuk ke dalam.


Zaidan seolah melihat kejadian kemarin di mana saat dirinya menemukan keberadaan Calvin dan juga tempat tinggalnya.


Bangunan itu tidak beda jauh dengan apa yang ia lihat kemarin.


"Bagaimana bisa Teteh dan ibu tinggal di sini? Kenapa kalian tidak meminta bantuanku?" tanya Alina setelah kondisinya membaik.


Jihan menggeleng perlahan lalu mengulas senyum simpul.


"Kami tidak ingin membebani mu, Alina. Ibu merasa bersalah sebab sudah menitipkan kamu di panti asuhan. Karena kondisi keluarga kita yang serba kekurangan, ibu tidak punya pilihan lain. Ibu berharap kamu bisa mendapatkan kehidupan yang layak. Selama ini aku maupun ibu mengetahui jika hidupmu sudah benar-benar terkendali. Maka dari itu kami tidak ingin membebani mu," jelas Jihan kemudian.


"Astaghfirullah, Teh. Mana mungkin seperti itu, bahkan selama ini aku berharap bisa bertemu ayah dan ibu. Aku ingin memeluk mereka, walaupun hanya sebentar," balas Alina lirih.


"Teteh, benar-benar minta maaf. Ini adalah permintaan ibu, di detik-detik terakhirnya Teteh yang meminta ibu untuk memberikan surat padamu. Agar kamu bisa mengetahui siapa ibu sebenarnya," ungkap Jihan lagi.


Alina kembali mengalirkan air mata dan memeluk kakak kandungnya lagi.


"Jangan bertanya di mana ayah. Karena sudah bertahun-tahun ayah meninggalkan kita. Selama ini kami hanya hidup berdua saja." Jihan semakin membuat Alina terisak.


Tanpa mengucapkan sepatah kata ia terus menitikkan air mata sebagai ungkapan rasa syukur sebab bisa bertemu keluarganya dan juga menyayangkan tidak bisa merasakan hangatnya rengkuhan kasih sayang sang ibu.


Dalam diam Zaidan memperhatikan sang istri. Ia turut merasakan bagaimana perasaan Alina yang pastinya sangat kacau balau.


Ia tahu seperti apa rasanya memendam rindu untuk seseorang yang tidak bisa digapai.

__ADS_1


Kini takdir Allah kembali berbicara, mereka dipersatukan di waktu yang paling mendebarkan. Allah pasti punya rencana lain yang tentunya terbaik untuk mereka.


...Bersambung......


__ADS_2