
Bintang bertaburan menemani cahaya bulan menerangi setiap insan sang penikmat malam. Hembusan angin laut pun turut mengiringi setiap hati dengan segala bentuk cerita.
Kehangatan kian menyapa melebur menjadi satu membentuk untaian kata yang tidak bisa dideskripsikan. Gelenyar rasa yang sudah hilang dalam dada terus menerus menyapanya kuat.
Zaidan Zulfan, seorang pengusaha sukses dari keluarga terpandang yang sudah berusia sangat cukup untuk menikah, tetapi sampai detik ini belum ada tambatan hati menarik perhatian.
Ia yang dibesarkan dalam lingkungan mewah nan glamor sangat menyukai pesta dan berbagai kesenangan dunia lainnya.
Wanita cantik dan anggun terus berkeliaran di sekelilingnya. Mereka berharap bisa mendapatkan hatinya, tetapi, Zaidan sama sekali tidak tertarik. Ia hanya menerima hanya sebatas formalitas, terlebih ayah dan ibunya terus memaksa untuk segera menikah.
Perjodohan kerap kali datang membuat ia mau tidak mau menerima hal tersebut dan berakhir kegagalan. Wanita-wanita yang terus berdatangan ke dalam hidupnya hanya dari kalangan atas dan juga bangsawan.
Namun, satu wanita kembali hadir menarik semua dunianya. Ia pikir sudah tidak ada kesempatan baginya untuk mengenal lebih jauh sosok Alina, tetapi takdir berkata lain. Samar-samar benang merah hadir menuntun ia untuk lebih dekat dengan seorang wanita yang belum pernah diketahuinya.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Zaidan tiba-tiba mengejutkan penghuni di dapur.
Alina yang tengah menyiapkan makan malam sesuai janjinya tadi sore menoleh dan melebarkan pandangan kala pria berkarisma tersebut tepat berdiri di sebelahnya.
Perlahan ia menjauh beberapa langkah, Zaidan mengerutkan dahi dan sedetik kemudian mengulas senyum mengerti.
"Ah, maaf aku sepertinya mengejutkanmu tadi," ujarnya lagi.
Alina mengangguk pelan dan kembali melanjutkan kegiatannya. "Tidak apa-apa, makanannya sebentar lagi siap, Tuan bisa menunggunya di meja makan."
Alina menggendikan dagu ke sebelah kanan di mana ada meja dan kursi yang tidak jauh dari mereka. Di sana sudah ada Zara, Dimas, Raihan, dan Naura.
Zaidan menoleh singkat dan memandangi Alina lagi. Kedua celah bibirnya terangkat membantuk sebuah kurva mengandung beribu makna.
"Aku akan membantumu," ujarnya keras kepala. "Oh yah, kamu berbicara formal lagi padaku. Sudah aku katakan, biasa saja. Anggap aku seperti temanmu."
Alina yang tengah mengiris sayuran terdiam beberapa saat. Zaidan yang melihat itu lagi-lagi menuatkan kedua alis tajamnya. Apa aku salah bicara, pikirnya gamang.
__ADS_1
Wanita berhijab itu pun mengangkat kepala menatap lurus ke depan sekilas kemudian melanjutkan kegiatannya lagi.
"Terima kasih, karena mau membantuku. Aku sungguh sangat beruntung bisa bertemu orang-orang hebat seperti kalian. Sekali lagi, terima kasih banyak, Mas Zaidan." Bersamaan dengan kata-kata itu terlontar Alina menoleh menatap ke dalam mata cokelat bening Zaidan lalu dipungkas senyum manis di wajah ayunya.
Zaidan tidak bisa memungkiri jika ada magnet tak kasat mata di kedua matanya yang terus fokus pada Alina. Seketika itu juga degup jantung bertalu kencang bagai seseorang tengah bermain musik di sana.
"Ah, seperti inikah rasanya jatuh cinta? Apa aku sudah mencintai istri orang? Tunggu ... bukankah dari awal memang begitu adanya? Ya Tuhan, apa perasaan ini salah? Tapi aku sangat mendambakannya," monolog Zaidan dalam diam.
...***...
Mereka pun makan malam bersama dengan suasana hangat seperti sebuah keluarga. Gelak tawa yang berdengung dari kedua bocah ibarat simfoni membentuk sebuah harmoni.
Alina melupakan kepedihan masa lalu kala menyaksikan tawa renyah dari sang putra. Nuansa tersebut membuat damai dan berharap bisa segera terbebas dari jerat Azam.
Tidak lama berselang mereka pun selesai menikmati hidangan yang Alina suguhkan. Sang pemilik toko dan Zara membersihkan meja dan mencuci piring-piring kotor.
Tatapan wanita berambut gelombang itu mengarah ke depan, di mana di sana putri kecilnya, Raihan, Dimas, juga Zaidan tengah bermain bersama.
"Kamu tahu ... tanpa kehadiran seorang ayah kandung pun mereka bisa tertawa begitu riang. Ini pertama kalinya aku melihat Naura sangat gembira," tutur Zara.
"Kamu benar, bahkan Raihan bisa tertawa bebas," jawabnya lalu kembali mencuci piring.
"Hei, Alina bagaimana ... bagaimana jika, seandainya Mas Zaidan jatuh cinta padamu?"
Suara gelas pecah pun menarik perhatian. Zara kelabakan saat melihat tangan Alina terkena pecahannya membuat permukaan jari telunjuk sebelah kiri robek dan mengeluarkan darah. Mendengar pertanyaan barusan tanpa sadar membuat Alina melepaskan gelas dari genggamannya.
"Astaghfirullah, Ya Allah Alina, kamu berdarah," heboh Zara membuat perhatian keempat orang di depan mengarah padanya.
Buru-buru Zaidan dan Raihan berlari mendekat segera menemui Alina.
"Ya Tuhan, tanganmu berdarah. Biar aku obati," jelas Zaidan lagi seraya hendak mencengkram pergelangannya.
__ADS_1
Alina yang sadar akan hal itu pun buru-buru menarik tangannya dan menyembunyikan luka di dada.
"Tidak apa-apa aku bisa sendiri." Alina bergegas melangkahkan kaki peri dari sana diikuti Raihan.
Tidak lama berselang Alina sudah duduk di kursi depan toko sambil memangku kotak P3K. Ia kemudian membalut luka sayatan kecil itu dengan plester.
Ia memandang jauh ke depan melihat laut yang semakin kelam. Cahaya dari tokonya hanya bisa menyinari sampai beberapa meter menyisakan kegelapan. Ia menyaksikan kekosongan serta kehampaan yang kian datang menerjang.
"Mamah." Panggilan itu membuat ia tersentak dan mendapati sang putra berdiri di hadapannya.
"Tangan Mamah terluka," ujar Raihan seraya menggenggam tangannya erat.
Alina terharu lalu melepaskannya dan berbalik menggenggam tangan sang buah hati hangat. "Mamah tidak apa-apa, Sayang. Luka ini kecil, tidak sakit sama sekali."
"Benarkah? Tapi tadi aku melihat darah keluar dari sana," jelas Raihan berkaca-kaca.
"Berdarah belum tentu sakit, Sayang. Mamah baik-baik saja," ungkap Alina lagi sambil menyunggingkan senyum lebar. "Dibandingkan dengan luka tak kasat mata, ini tidak ada apa-apanya," lanjut batinnya.
Ia lalu meletakan kotak obatan-obatannya di meja sebelah dan membawa Raihan duduk di pangkuannya. Tangan ramping Alina terulur memeluknya erat dan membubuhkan kecupan hangat di puncak kepala sang putra.
"Mamah sangat menyayangimu," aku Alina. Raihan berbalik dan langsung menerjang tubuh sang ibu.
"Raihan juga sangat menyayangi Mamah," jujurnya.
Kebersamaan ibu dan anak itu tidak lepas dari perhatian sepasang mata yang sedari tadi terus memperhatikan. Tanpa sadar bibirnya kembali melengkung serta dadanya bergemuruh merasakan kehangatan.
"Dia ibu yang hebat, Alina sangat menyayangi putranya. Bahkan dia juga menyayangi putri sambungnya dengan ikhlas tanpa membeda-bedakan mereka," tutur Zara yang tengah berdiri di belakangnya.
Zaidan tidak menyahut dan terus menyaksikan interaksi kedua orang di depannya yang terhalang sebilah kaca.
Kedua tangan yang berada di saku celana mengepal memberikan keyakinan pada dirinya. "Entah kenapa aku ingin melindungi mereka. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti ibu dan anak itu, termasuk ayah kandungnya," benak Zaidan.
__ADS_1
Sorot mata serius dengan bibir mengatup rapat menimbulkan sebuah keyakinan. Dimas maupun Zara yang menyaksikan itu pun mengerti dan memahami. Jika pria itu bersungguh-sungguh dengan niat yang belum tersampaikan. Karena sorot mata tidak bisa dibohongi.
...Bersambung......