
Saat tuts piano terakhir di tekan, saat itu juga permainan selesai. Suara tepuk tangan bergema menggantikan keheningan. Lampu kembali terang benderang memperlihatkan setiap pengunjung tengah tersenyum lebar.
Zanna bangkit dari duduk dan memberikan gerakan implusif sebagai tanda terima kasih. Iris berlensa hitam legamnya menatap para pengunjung satu persatu. Sampai pandangannya pun terhenti di meja yang berada tidak jauh dari panggung.
Senyum melebar menyaksikan sang pria ada di sana. Ia lalu memberikan beberapa patah kata yang semakin memeriahkan acara.
"Terima kasih semuanya sudah mendengarkan permainan saya hari ini. Sangat menyenangkan bisa melihat kalian yang berpasangan bersama-sama menikmati santap makan siang. Lagu tadi merupakan salah satu musik yang sangat berarti bagi saya. Makna dari musik barusan adalah seorang wanita yang merindukan kekasihnya."
"Namun, ia pergi bersama wanita lain menyisakan kenangan menyakitkan. Kebersamaan kami seolah memudar bersama hadirnya orang lain. Kisah cinta tragis ini akankah mendapatkan akhir yang bahagia?"
Pertanyaan sarat jawaban mengundang atensi. Beberapa pengunjung pun memberikan balasan yang semakin melebarkan kedua sudut bibir Zanna.
"Masih banyak kesempatan kejarlah cintamu sampai akhir."
"Perjuangkanlah lagi masa lalu akan mengalahkan orang baru."
"Jangan menyerah teruslah berjuang."
"Kamu bisa mendapatkan cinta yang kamu inginkan."
"Kekasihmu terlalu bodoh meninggalkan wanita secantik dirimu."
"Semangat, jangan pantang mundur kejarlah lagi."
Itulah sederet jawaban yang diberikan pengunjung. Zanna menganggukan kepala menyaksikan satu-satunya pria yang begitu menarik perhatian.
"Terima kasih semuanya, saya harap dia mendengarnya. Sekali lagi terima kasih."
Setelah itu Zanna meletakan kembali mic lalu turun menyisakan tepuk tangan lagi. Sepanjang ia bergerak sepasang mata terus mengawasinya sedari tadi.
Alina, wanita yang tengah berbadan dua itu merasakan firasat tidak mengenakan. Intusinya bekerja kala menyaksikan Zanna mengulas senyum ke arah mereka. Ia lalu memandangi suaminya lagi acuh tak acuh atas apa yang baru saja terjadi.
Selesai menikmati makan siang Alina memutuskan untuk pulang lebih dulu. Ia berpesan pada Zaidan untuk tidak usah mengantarnya.
Namun, tetap saja suami protektif itu bersikukuh agar mengantarnya pulang. Lagi dan lagi Alina meyakinkan Zaidan untuk kembali saja ke perusahaan.
__ADS_1
"Mas, aku tidak apa-apa. Mas kembali saja ke kantor aku bisa naik taksi nanti," kata Alina.
"Tidak Sayang, aku mau mengantarmu pulang dulu," balas Zaidan keras kepala.
Alina menghela napas lalu mengangguk sekali. "Baiklah kalau begitu Mas bisa mengantarkanku pulang."
Zaidan tersenyum lebar dan hendak membuka pintu mobil sebelum ponsel berada di saku jasnya bergetar. Buru-buru ia merogoh lalu melihat siapa pemanggilnya.
Tertera nama mamah di layar, Zaidan pun langsung menggeser tombol hijau ke atas kemudian mendekatkan ponsel ke daun telinga.
Beberapa saat Zaidan menerima panggilan dari sang ibu. Tidak lama setelah itu telepon pun berakhir dengan air muka berubah masam.
Alina yang menyaksikan hal tersebut mengertkan dahi lebarnya. Sekilas ia tadi melihat siapa pemanggil di benda pintar sang suami.
"Apa yang mamah katakan?" tanyanya penasaran.
"Mamah bilang tiga puluh menit lagi aku harus menghadiri rapat penting, ada kunjungan dari luar negeri yang ingin mengeskplor parfum kami," ungkapnya.
"Oh yah sudah, Mas sekarang langsung ke kantor saja. Bukankah letaknya tidak jauh dari sini? Aku bisa pulang naik taksi, akan merepotkan jika harus mengantarkanku dulu. Jarak rumah lumayan jauh nanti Mas bisa terlambat, jangan sampai memberikan kesan buruk," tutur Alina memberi saran.
"Tidak usah khawatir, aku sudah besar. Ada bayi kecil juga di sini." Alina memamerkan perut sedikit buncitnya ke arah suami.
Zaidan mengulas senyum manis lalu memberikan kecupan hangat di dahinya. "Baiklah, kalau begitu kamu hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai rumah telepon aku."
"Pasti, sudah sekarang Mas berangkat."
Zaidan mengangguk lalu memberikan elusan pelan di perut sang istri. Kemudian ia masuk ke dalam mobil dengan lambaian tangan Alina mengiringi kepergiannya.
Setelah keberadaan suaminya sudah tidak terlihat lagi, Alina menoleh ke belakang melihat mobil merah sedari tadi berada di sana.
Ia merasakan jika ada sepasang mata yang mengawasi gerak-geriknya bersama Zaidan. Tanpa menunggu lama Alina berjalan mendekat yang berjarak beberapa langkah dari tempatnya berdiri.
Ia lalu mengetuk jendela mobil hingga sang empunya membukanya.
"Sudah lama tidak bertemu, apa ada yang ingin Anda katakan pada saya?" tanya Alina melihat wanita anggun itu memakai kacamata hitam.
__ADS_1
"Ternyata, pergerakanmu boleh juga. Apa sedari tadi kamu memperhatikanku?" tanyanya balik.
"Seperti itulah, firasat seorang wanita terlebih seorang istri tidak pernah salah. Apa kamu ingin berbicara denganku? Kita bisa bicara di kafe seberang sana," kata Alina menunjuk kafe yang terletak tidak jauh dari keberadaan mereka.
"Baiklah, kamu tunggu saja di sana nanti aku menyusul."
Alina mengangguk lalu berjalan ke kafe yang dimaksudkan. Setibanya di sana ia langsung memesan satu meja dan juga dua minuman dingin. Ia memilih meja yang berada di luar guna mencari angin menambah ketenangan.
Beberapa menit kemudian wanita tadi pun duduk di hadapannya. Iris cokelat Alina menatap lekat senyum terpendar di wajahnya.
"Langsung saja, apa yang kamu inginkan dariku? Apa kamu masih berniat untuk mengambil mas Zaidan dariku, Zanna?"
Zanna, wanita itu melipat tangan di depan dada. Ia mendengus pelan menyaksiakan keberanian di dalam mata lawan bicaranya.
"Seperti yang kamu katakan, iya aku memang bermaksud untuk merebutnya kembali."
"Sampai kapan? Sampai kamu menyerah? Tidak usah repot-repot mengorbankan diri sendiri untuk hal yang tidak pasti. Bagaimana mungkin pria yang sudah menikah akan berpaling pada wanita lain?"
Perkataan tersebut bagaikan anak panah melesat tepat sasaran. Alina teringat kembali masa lalu di mana Azam dengan mudahnya berpaling. Ia ingin tertawa saat itu juga, tetapi di tahan ingin melihat dan mendengar apa yang akan di sampaikan Zanna.
"Kucing kalau diberi ikan asin pasti datang juga. Tabiat pria memang selalu tergoda dengan hal menarik dan memesona. Apa kamu yakin suamimu tetap setia pada satu wanita?"
Alina tidak menyangka kali ini lawannya sedikit keras. Namun, bagaimanapun juga ia sudah mempunyai pengalaman yang jauh lebih eksream dari sekarang.
"Setia atau tidak itu tergantung kepada hati. Jika niatnya menikah sebab ibadah maka sekuat apa pun godaan yang menimpa maka tidak akan goyah, tetapi ... jika imannya lemah maka tidak menutup kemungkinan perselingkuhan itu terjadi."
Zanna melebarkan kedua mata sekilas mendengar jawaban Alina. Ia tidak menyangka bertemu wanita lugas seperti ini.
"Em, kamu memang benar dan lagi ... seseorang tidak akan berubah begitu mudah hanya dalam hitungan jam. Perubahan itu membutuhkan waktu seumur hidup, terlebih jika sikap, sifat, serta kelakuan itu sudah terjadi sangat lama. Maka tidak menutup kemungkinan juga hal tadi masih ada di dalam dirinya," kata Zanna kemudian.
"Apa maksudmu?"
Tidak lama setelah itu Zanna menjulurkan benda pipih ke hadapannya. Sedetik kemudian manik jelaga Alina semakin melebar tidak percaya. Jantungnya berdegup kencang menyaksikan apa yang tertangkap mata kepalanya sendiri.
...Bersambung......
__ADS_1