Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 177 (Season 3)


__ADS_3

Malam menjelang, langit bertabur bintang dengan cahaya bulan menerangi sebagai peneman. Raksi kebahagiaan melebur membentuk sebuah kebaikan yang kian melingkupi.


Di dalam kamar pribadinya, pasangan suami istri itu pun menghabiskan waktu bersama. Di tengah keheningan malam, mereka berbagi kehangatan dan kenyamanan satu sama lain.


Penyatuan yang sudah terjadi sejak lima menit lalu baru saja terlepas. Saliva yang saling menyatu membentuk ikatan panjang membuat keduanya saling melempar senyum.


Zaidan menangkup wajah sang istri hangat mendaratkan kecupan di sana dengan lembut. Alina menutup mata lagi menikmati setiap ciuman yang dilayangkan sang suami.


"Mata ini ... adalah mata yang memandangku dengan cinta." Zaidan memberikan ciuman di sana lembut.


"Kedua pipi ini milikku sebagai pelampiasan kasih sayang." Zaidan beralih pada kedua pipi Alina dan menciumnya lagi.


"Hidung ini menghembuskan napas hanya bersamaku." Ia lagi-lagi membubuhkan kecupan ringan di sana.


"Dan-" Zaidan mengusap lembut bibir merah Alina pelan dengan gerakan sensual.


Ia terus menggerakkan ibu jarinya mengikuti bentuk bibir sang istri. Alina terdiam dengan memandangi manik cokelat bening suaminya.


"Bibir ini selalu mengucapkan kata-kata yang membuatku semakin jatuh dan jatuh cinta padamu terlalu dalam." Zaidan mengecupnya ringan bagaikan tersengat lebah Alina terpaku dan terperangah.


Kedua manik bulannya berkedip beberapa kali mengundang gelak ringan sang suami. "MasyaAllah, Allah sudah memberikan bidadari, secantik, seimut, dan menggemaskan seperti kamu. Ah~ aku sangat bahagia." Zaidan memeluk Alina erat, menggerakkannya ke kanan, ke kiri layaknya anak kecil.


Alina yang tidak bisa menahan keseimbangan pun jatuh ke belakang. Mereka kembali saling tatap, mengunci pandangan satu sama lain.


Tangan kanan Zaidan terangkat mengelus pelan ujung alis Alina. "I Love You."


Kedua sudut bibir Alina melengkung membentuk kurva dengan sempurna. "Em, I Love You too, so much."


Zaidan tidak bisa membendung kebahagiaan, wajah tampannya semakin dekat dan dekat hingga kedua benda kenyal itu menyatu kembali.


Awalnya hanya saling menempel, hingga beberapa detik kemudian berubah menjadi ciuman mendalam yang penuh gairah.


Suara kecipak basah mendominasi kuat menyaingi detikan jam yang mendera. Zaidan menyeimbangkan tubuh agar tidak mengenai perut buncit sang istri.


Setelah beberapa saat Zaidan melepaskan pagutannya memandang pipi memerah sang pujaan. Dengan napas keduanya naik turun, mereka sama-sama menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


"Bisa aku melakukannya?" pinta sang suami, suara serak nan mendalam seolah tengah menahan sesuatu.


Alina yang mengerti pun menangkup sebelah pipi panas Zaidan. "Jika aku berkata tidak, apa Mas bisa menahannya?" Secepat kilat Zaidan menggelengkan kepala.


Senyum kembali bertengger nyaman di bibir bengkak Alina. "Maka aku tidak bisa berkata tidak, bukan?" Layaknya anak kecil yang menginginkan sebuah permen, Zaidan mengangguk mengiyakan.


"Maka lakukanlah."


Lampu hijau sudah di depan mata, Zaidan terbelalak memandang objek di hadapannya begitu menggoda.


"Aku akan melakukannya dengan lembut." Kini giliran Alina mengangguk lalu menarik wajah sang suami hingga hanya berjarak satu jari telunjuk saja.


Ia menggodanya dengan memberikan kecupan ringan di permukaan bibir Zaidan. Sang empunya lagi-lagi terperangah atas perubahan sang pasangan halal.


"Jangan harap malam ini kamu bisa selamat yah, Sayang. Kamu sudah membangunkan serigala lapar, maka kenyangkan lah ia oleh kasih sayangmu." Kata-kata yang suaminya cetuskan membuat Alina tergelak.


"Apa pun yang kamu inginkan, Sayang," balas Alina semakin berani. "Anak kita sedang ingin di tengok ayahnya, katanya." Alina semakin memprovokasi sang suami yang sudah beringas oleh napsu.


"Aku tidak akan membiarkanmu lolos kali ini."


Zaidan langsung menerjang ceruk leher sang istri, menggigitnya, serta meninggalkan jejak merah di sana.


Mereka pun menghabiskan malam dengan penuh kenikmatan.


Jam menunjukkan pukul setengah tiga dini hari, pasangan suami istri itu pun baru selesai dengan kegiatannya. Zaidan memeluk Alina penuh kasih sayang yang tengah bersandar nyaman di dada bidangnya.


Alina menutup mata lelah atas olahraga malam yang mereka lakukan. Kehamilan itu pun memberikan efek pada tubuhnya.


Di balik itu semua ia sangat bahagia bisa kembali merasakan cinta begitu membara dari sang suami. Pada akhirnya ia menyadari jika lebih baik dicintai daripada mencintai.


Namun, ia juga sadar lebih baik lagi dicintai oleh seseorang yang dicintainya. Tidak ada yang tahu bagaimana kisah seseorang bisa tertulis.


Allah sebaik-baik penulis skenario terhebat bagi setiap hamba. Di tengah derai air mata cinta bertepuk sebelah tangan, Allah sudah menyiapkan pengganti yang jauh lebih baik.


Zaidan memberikan cinta sesungguhnya dan bisa menerima ia apa adanya. Alina sangat bersyukur sekarang bisa dianugerahi lagi seorang anak buah dari cinta mereka.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang untuk waktu yang kamu berikan," kata Zaidan lirih.


Alina hanya bergumam "em" sebagai jawaban. Suaminya pun lagi dan lagi membubuhkan ciuman hangat nan mendalam di puncak kepalanya.


...***...


Pagi menjelang, Alina sudah disibukan lagi sebagai seorang ibu dan istri. Ia menyiapkan sarapan sederhana untuk tenaga yang dibutuhkan suami serta anaknya.


Tidak lama berselang kedua jagoannya pun datang. Mereka duduk di kursi masing-masing melihat Alina yang bergegas melayaninya.


"Mamah, jangan cape-cape nanti adik bayinya nakal lagi," oceh Raihan lalu memasukan sesendok nasi berserta lauk ke mulut.


"Mamah tidak cape, Sayang. Adik bayi juga sangat tenang hari ini," balas Alina mengusap wajahnya pelan.


"Itu benar, Mamah sangat kuat Sayang. Bahkan setelah olahraga malam- aw." Zaidan melenguh saat Alina menginjak kakinya kuat yang seketika menghentikan ucapan.


Raihan yang tadi fokus pada makanan pun mendongak menyaksikan sang ayah kesakitan. "Apa yang terjadi? Kenapa Ayah berteriak?" tanyanya cemas.


"Ayah hanya asal bicara, jangan dengarkan Ayah yah, Sayang," kata Alina mengalihkan topik.


"Tapi olahraga apa yang kalian lakukan malam-malam? Apa itu untuk kebaikan dede bayi? Kalau seperti itu, bisakah aku ikut main malam ini?" pinta Raihan berbinar.


"A-ah, Sayang i-itu." Alina gugup seketika langsung memandangi suaminya.


Zaidan berdehem pelan lalu menatap lekat sang putra. "Tentu saja, Sayang. Kita bisa melakukan apa pun nanti malam, ah bagaimana kalau kita menyusun lego? Bukankah kita masih belum membentuknya?"


Raihan mengangguk semangat. "Baiklah, yyyee, aku akan pulang cepat hari ini."


"Ayah juga, kita bisa menghabiskan waktu malam ini. Karena besok kita libur Ayah akan menemanimu sepanjang hari," ungkap Zaidan.


"Benarkah?" tanya Raihan meyakinkan. Zaidan pun mengangguk yakin, "Yyeee, Raihan senang sekali." Zaidan mengusak puncak kepala anak sambungnya sayang.


Alina tersenyum senang menyaksikan keakraban ayah dan anak itu. Meskipun mereka tidak ada ikatan darah, tetapi Zaidan bisa menganggap Raihan seperti anak kandungnya sendiri.


Ia bersyukur bisa mendapatkan pria sebaik dan setulus Zaidan. Dulu, ia berpikir untuk tidak membuka hatinya lagi akibat rasa sakit yang ditanggungnya.

__ADS_1


Namun, Zaidan mematahkan semua itu dan menjadikannya ratu. Ia bahagia, sungguh dirinya sangat senang mendapatkan kelimpahan rahmat yang telah Allah suguhkan. Tidak ada yang lebih nikmat selain bisa mendapatkan seseorang yang menganggapmu sebagai rumah.


...Bersambung......


__ADS_2