Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 120 (Season 2)


__ADS_3

Napas seorang anak yang sedari tadi dipaksa terus berlari terdengar putus-putus. Ia berjalan lunglai menelusuri jalan yang tidak ada habisnya.


Wajah putihnya memucat seiring air mata mengalir tak berkesudahan. Ia terbatuk-batuk beberapa kali kala pasokan oksigen menipis membuat kerongkongannya kering.


Keadaan tersebut tidak menyurutkan Raihan untuk berhenti melangkah. Ia terus memaksakan kakinya bergerak mengikuti naluri.


Lama kelamaan pandangannya mengabur, telinganya seolah tuli tidak mendengarkan apa pun yang ada di sekitarnya. Sampai kejadian tidak diinginkan harus terjadi, semua orang yang berada di sana berteriak histris mendengar benturan keras.


Kesadaran Raihan pun berangsung-angsur hilang dan seketika kegelapan menjemput. Satu kata yang keluar dari bibirnya, adalah "cape."


...***...


Di tempat berbeda, Alina yang masih dirundung kegelisahan tersentak kaget saat ponsel di saku gamis bergetar kencang.


Buru-buru ia merogoh lalu mengambilnya dan tertera nomor tidak di kenal di sana. Dahi lebarnya mengerut dalam dengan jantung berdegup kencang.


Firasatnya tiba-tiba saja berubah menjadi sangat tidak enak kala mendapati nomor tersebut. Dengan tangan gemetar ia menerima panggilan itu dan mendekatkan ponsel ke daun telinganya.


"Assalamu'alaikum," ucapnya pelan.


"Wa'alaikumsalam, kami ingin memberitahukan jika putra Anda mengalami kecelakaan dan saat ini sedang berada di rumah sakit keluarga kencana. Mohon untuk segera datang ke sini agar bisa cepat dilakukan tindakan."


Bak petir menyambar di siang bolong, pemberitahuan tersebut membuat pertahanan Alina goyah. Pegangan di ponselnya melemah dan benda pintar itu pun terjatuh ke aspal.


Buru-buru Zaidan menangkup tubuh sang istri setelah bertanya pada orang sekitar. Ia terkejut saat melihat wajah Alina pucat pasi.


"Sayang, apa yang terjadi?" tanyanya khawatir.


"Ra-Raihan kecelakaan. RAIHAN KECELAKAAN." Alina berteriak histeris mengundang pengguna jalan menatap ke arah mereka.

__ADS_1


"Apa? Kenapa bisa? Kalau begitu kita harus segera ke rumah sakit," ujar Zara yang tiba-tiba saja datang dari arah belakang.


Zaidan pun membopong tubuh lemas sang istri dan bergegas kembali ke hotel untuk membawa kendaraannya. Setelah itu mereka berempat menuju rumah sakit di mana Raihan berada.


Beberapa saat kemudian mereka pun tiba, Alina bergegas keluar dari mobil dan berlari sekuat tenaga masuk ke dalam gedung.


Ia mencari-cari meja pelayanan dengan perasaan tidak karuan. Tidak lama berselang netranya pun berhasil menangkap apa yang dibutuhkan. Ia langsung berlari ke sana dan menanyakan keberadaan sang buah hati.


"Di mana putra saya? Di mana pasien atas nama Raihan?" katanya menggebu.


"Pasien atas nama Raihan korban tabrak lari berada di lantai tiga kamar anak, dan-" Lagi-lagi Alina tidak mendengar ucapan lawan bicarannya sampai selesai. Ia bergegas menuju lantai tiga diikuti suami dan kedua sahabatnya di belakang.


Pintu lift terbuka lebar, Alina menyembul keluar mencari ruangan anak untuk segera menemui buah hatinya. Namun, seketika itu juga langkahnya terhenti saat sepasang mata elang menatapnya nyalang.


Pria berpostur tinggi di hadapannya beranjak dari duduk dan berjalan cepat mendekat. Dengan napas menggebu serya mengepalkan tangan kuat sang mantan suami memandangnya tajam.


"Apa yang sudah kamu lakukan, hah? Kenapa Raihan sampai kecelakaan? Beruntung ada mantan pekerjaku yang lewat daerah itu dan menemukan Raihan. Dia kecelakaan, anak kita ditabrak mobil sampai kepalanya terbentur dan mengeluarkan banyak darah."


Alina tidak bisa berkata apa pun dan hanya menatap kosong ke depan. Air mata kembali mengalir saat mendengar semua penuturan sang mantan suami.


Ia terdiam kaku kala mendapati buah hatinya mengalami kecelakaan sampai kepalanya berdarah. Pikirannya buntu tidak merespon sepatah kata pun untuk membalas perkataan Azam.


Di dalam hati kecilnya membenarkan perkataan yang telontar dari sang mantan jika ia bukan ibu yang baik. Ia sudah mengabaikan Raihan sampai anaknya mengalami kecelakaan.


"Sudah-sudah, Mas jangan menyalahkan Alina. Ini semua terjadi di luar kehendak kita. Kalian sebagai orang tuanya harus mendo'akan yang terbaik. Alina, aku mewakili Mas Azam, meminta maaf jika perkataannya tadi menyinggung perasaanmu," lanjut Jasmin menengahi mereka.


Alina hanya menggeleng singkat tanpa sekalipun menoleh pada Jasmin. Ia terus diam dengan pikiran kacau dan perasaan campur aduk.


"Sayang," panggil Zaidan sambil mencengkram pelan pergelangan tangannya.

__ADS_1


Alina melepaskannya kasar dan berkata, "biarkan aku sendiri." Setelah mengatakan itu ia pergi dari hadapan mereka meninggalkan berjuta kebimbangan dalam diri sang suami. Zaidan melihatnya dalam diam dan memberikan waktu bagi istrinya.


"Jangan khawatir, Alina hanya membutuhkan waktu sendiri," kata Dimas menepuk pundak sang tuan pelan.


Zaidan mengangguk pelan dan mendudukan diri di kursi tunggu. Beberapa langkah dari keberadaannya, Azam menatapnya lekat masih dengan mengepal kuat kedua tangan.


"Apa sebegitu bahagianya menikah dengan mantan istriku sampai ibunya saja tidak memperhatikan anaknya sendiri? Kamu boleh mencintai Alina sepenuh hati dan menyayanginya sepenuh jiwa ... tapi tolong perhatikan juga anakku, Raihan. Dia butuh perhatian kalian," ungkap Azam kembali.


"Saya mohon maaf ikut campur dalam urusan keluarga kalian, tetapi saya pikir Anda juga harus memperhatikannya. Bukankah selama ini Anda membeda-bedakan kedua anak Anda?" tanya Dimas kemudian.


"Iya, saya akui itu, tetapi, seburuk-buruknya saya ... saya tidak pernah mengabaikan anak saya sendiri. Jika kamu-" Azam menunjuk Zaidan dengan pandangan geram, "jika kamu tidak bisa menerima Raihan seperti anakmu sendiri, jangan mengabaikannya seperti itu. Aku akan membawanya pergi dari kalian," tegas Azam.


Seketika Zaidan bangkit dan bersitatap dengan Azam. "Raihan memang bukan anak kandung saya, tetapi saya sudah sangat menyayangi dia seperti anak sendiri. Saya minta maaf dengan kejadian ini, tapi ... saya tidak akan terima jika Anda membawa Raihan tanpa sepengetahuan Alina."


Kedanya menegang dengan sorot mata berkobar. Jasmin pun menepuk-nepuk lengan sang suami untuk menyadarkannya.


"Mas sudahlah ini di rumah sakit, jangan membuat keributan," ucap Jasmin.


"Itu benar, lebih baik kita menunggu dokter sampai selesai menangani Raihan," usul Zara.


Dimas pun menarik Zaidan kembali duduk, begtu pula dengan Jasmin yang membawa suaminya ke arah berlawanan.


Zaidan mengusap wajah gusar kala teringat bepata kacau keadaan istrinya sekarang. Ia juga khwatir dengan keadaan Raihan. Ia tidak menyangka jika kedatangannya ke kamar hotel tadi membawa malapetaka yang begitu kuat.


"Ini semua salahku ... aku sudah membuat Raihan sampai kecelakaan," benaknya menyesal.


"Jangan menyalahkan diri sendiri, semua ini sudah menjadi ketentuan di atas. Bersabarlah, Tuan ujian datang untuk mendatangkan kebaikan. Kita do'akan semoga Raihan baik-baik saja," bisik Dimas seolah tahu apa yang tengah dipikirkan sang tuan muda.


Zaidan hanya mengangguk lemah dan tersenyum simpul. Ia menautkan jari jemarinya kuat melampiaskan perasaan gelisah.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2