
Malam menjelang, angin masih mengantarkan udara dingin. Tanpa adanya bintang maupun bulan di atas langit kehampaan mengandung kesepian. Air mata sudah mengering seiring berjalannya waktu. Kejadian yang terus terulang akan menjadi sebuah kebiasaan, meskipun masih ada rasa sakit setidaknya sudah terbiasa dan semua akan baik-baik saja.
Itulah yang tengah dirasakan Alina. Sikap dan sifat Azam terhadapnya membuat ia sadar kembali. Jika tidak mungkin ada cinta untuk dirinya. Kata-kata tersebut terus berputar dalam benak. Alina yang sedang berbaring menyamping mengelus pelan tonjolan dalam tubuhnya. Sesekali sang buah hati bergerak dan menendang permukaan perut membuat ia tersenyum. Ia lega setidaknya malaikat kecil ini bisa mengikis perasaan pengap dalam dada.
"Hanya kamu kebahagiaan Mamah, sehat-sehat di dalam sana sampai kita bertemu di dunia ini, yah nak," gumamnya.
Tanpa ia sadari beberapa saat kemudian pintu kamarnya terbuka. Cahaya dari luar perlahan masuk memperlihatkan siluet seseorang. Pria bertubuh tegap dengan punggung kekar itu pun berdiri di ambang pintu. Netra kecoklatan beningnya memperhatikan sang istri kedua dalam diam.
Pegangan di gagang pintu mengerat kuat. Azam tidak bisa melangkah masuk, rasanya jika ia menampakan diri pada sosok rapuh di sana maka hanya akan menimbulkan kesakitan lain. Dengan berat ia pun meninggalkan ruangan itu dan kembali menutup pintu.
Azam beranjak ke meja makan. Tidak ada makanan apapun di sana hanya kekosongan yang menyambutnya. Ia jadi teringat akan hari-hari kemarin, di mana Alina dengan senyum cerahnya menawarkan makan malam.
Namun, sekarang semua itu menjadi kenangan meskipun istri keduanya berada di rumah.
Sudah satu bulan berlalu, keadaan di sana masih sama. Azam mendudukan diri di meja makan memandang ke depan lalu memperhatikan sekitarnya. Bayangan demi bayangan saat Alina berkutat dengan pekerjaan rumah tangga berseliweran dalam ingatan. Ada perasaan bersalah yang menghantamnya kuat.
"Bagaimana bisa aku begitu ceroboh membiarkan Alina sendirian? Dia sedang mengandung darah dagingku."
Azam kembali menjambak rambutnya kasar lalu mengusap wajahnya gusar. Ia menghela napas berat memikirkan keadaannya saat ini. Serba salah dalam posisinya sekarang. Di sisi lain ia tidak bisa meninggalkan Yasmin yang sangat membutuhkan kehadirannya dan di sisi lain Alina pun memerlukannya.
Ia tidak bisa berada di salah satu sisi.
Malam itu Azam memikirkan perasaannya yang tengah berkecambuk.
...***...
Kegelapan menyambut saat kelopak mata kembali terbuka. Kedua netra memperlihatkan keindahannya lagi. Langit terlihat enggan memperlihatkan cahaya terang dari sang surya. Raja siang bersembunyi apik di balik awan mendung.
Setelah menyelesaikan kewajibannya, samar-samar Azam bisa mencium aroma penggugah selera masuk melalui celah pintu. Alisnya saling berpautan tidak mengerti dan buru-buru keluar kamar lalu berlari kecil turun menuju lantai satu.
Seketika Azam menghentikan langkah kala punggung kecil seseorang tertangkap pandangan. Jantung berdegup kencang kala wanita itu menoleh membalas tatapannya. Senyum yang mengembang apik di wajah cantiknya membuat ia membeku.
__ADS_1
"A-alina?" panggilnya tidak percaya.
"Mas, sudah bangun? Mau sarapan atau mandi dulu?"
Tawaran yang keluar dari celah bibir ranum itu menggetarkan perasaan Azam. Ia tidak berpikir jika Alina akan bersikap biasa seperti tidak terjadi apapun. Bayangan kejadian kemarin pun menguap seolah tidak pernah ada.
"Mas, Mas Azam!!" panggil Alina sedikit meninggi kala tidak mendapatkan jawaban apapun dari sang suami.
Azam terperanjat dan sadar dari lamunan. "A-aku mau sarapan dulu." Dengan kikuk ia pun duduk di kursinya.
"Kalau begitu aku siapkan makanannya."
Alina kembali melanjutkan kegiatan memasaknya yang sempat tertunda. Dalam diam Azam memperhatikan istri keduanya. Ada kerapuhan disembunyikan di balik senyum. Azam merasakan hal tersebut menjadikannya lebih bersalah.
Tidak lama kemudian makanan pun telah selesai dibuat. Alina menyajikannya ke hadapan sang suami. Setelah itu ia hendak beranjak pergi sebelum suara Azam menghentikan.
"Bisa temani aku makan?"
"Ka-kamu tidak makan?"
"Aku sudah makan tadi."
Percakapan pun terhenti, dengan kecanggungan yang terus menguar Azam berusaha menikmati sarapannya. Detikan jam bergema menemani kebersamaan pasangan suami istri di sana. Sesekali Azam memperhatikan Alina yang kadang mengusap perutnya perlahan.
Pemandangan tersebut menjadi kesakitan tersendiri untuknya.
"Aku minta maaf untuk kejadian kemarin dan semuanya."
Alina menggelengkan kepala beberapa kali. "Tidak apa. Aku sudah menduganya."
"Ehh!!"
__ADS_1
Alina menoleh membalas tatapan sang suami. Lengkungan bulan sabit terbit tanpa menampilkan cahayanya. Sorot mata kekecewaan nampak di sana. Alina berusaha terlihat baik-baik saja untuk sang buah hati.
"Karena aku sadar sekarang, Mas tidak akan pernah bisa mencintaiku. Pertanyaan yang pernah Mas ajukan waktu itu sekarang sudah mendapatkan jawaban pasti. Jika Mas sangat mencintai mbak Yasmin dan tidak denganku."
Azam melebarkan kedua mata dengan mulut sedikit terbuka. Diakhiri dengan senyuman yang terus bertengger di wajah ayu sang istri membuatnya kembali membeku.
"Tidak Alina ak-"
"Lanjutkan sarapannya, Mas. Nanti keburu dingin."
Alina dengan cepat memotong ucapannya. Setiap kata yang diucapkan oleh suaminya tidak bisa ia dengar lagi. Rasanya saat ia mendengar ucapan Azam maka satu luka baru akan tumbuh. Alina tidak mau memikirkan apapun lagi selain keselamatan sang jabang bayi.
Azam tidak percaya melihat betapa tegar dan kuat wanita di sampingnya ini. Rasa bersalah semakin menyeruak membuat ia kembali berkata.
"Kenapa kamu masih melakukan semua ini? Seharusnya kamu membenciku sekarang."
Tanpa melihat ke arah Azam, Alina menjawab ucapannya dengan tenang. "Aku masih istri sahmu. Maka aku harus melakukan kewajibanku. Tenang saja setelah 4 bulan kita akan berpisah dengan baik."
Setelah mengatakan itu Alina beranjak dari sana dan meninggalkan kehampaan pada suaminya. Azam terdiam mencerna perkataan Alina barusan. Sudah dua kali sang istri mengatakan kata akan pisah dengannya. Di dalam lubuk hati, Azam sama sekali tidak menginginkan perpisahan itu terjadi.
Entah kenapa ia tidak bisa dan tidak mau menyetujui permintaan Alina.
"Apa aku sudah menyakitinya terlalu dalam? Apa yang terjadi dalam rumah tanggaku sekarang? Ya Allah kenapa semakin bertambah runyam?"
Racau Azam. Ia tidak menyangka Alina akan mengatakan berpisah darinya. Mungkin tindakan dan kelakuannya sudah menyakiti istri kedua terlalu dalam. Azam tidak menyadari jika Alina juga memiliki hati dan perasaan yang tidak bisa dipermainkan begitu saja.
Terlebih wanita itu tulus mencintainya. Ia bahkan menerima menikah dengannya dan harus menjadi istri kedua lalu menjadi omongan orang-orang. Seolah Alina memafaat situasi Yasmin yang tengah sakit keras.
Namun, Azam hanya memberikan luka.
Alina hanya ingin terbang bebas dan keluar dari sangkar emas lalu memulai kehidupan baru bersama sang buah hati. Ia hanya ingin melepaskan perasaannya yang tidak mungkin terbalas. Cinta, tidak ada yang salah dengannya. Hanya saja Alina terlalu cepat menilai dan berharap Azam akan melihatnya, meskipun hanya sebentar. Tetapi, apa yang ia inginkan tidak bisa didapatkan.
__ADS_1