
Dua bulan berlalu begitu cepat, sudah banyak kenangan yang tercipta dalam keluarga kecil Alina dan Zaidan. Kehangatan serta kebahagiaan terus tercetus mengalirkan kepelikkan yang sempat merajam.
"APA?" teriak direktur utama perusahaan parfum tersebut.
Zaidan menggebrak meja kuat seraya beranjak dari kursi kebesarannya. "Apa yang kamu katakan? Dimas, kamu tidak sedang bercanda, kan?" tanyanya menatap pengawal sekaligus sahabat sejatinya lekat.
Pria berkacamata itu mengangguk yakin atas pemberitahuan yang diberikannya beberapa saat lalu. Zaidan mengusap wajah gusar dan menghela napas kasar. Ia menjatuhkan diri lagi ke kursi lalu mencubit pangkal hidung pelan.
"Bagaimana bisa seperti ini?" gumamnya lirih.
Dimas pun menghela napas pelan menyaksikan sang tuan besar terpuruk. "Semua sudah menjadi keputusan perusahaan. Anda harus bertemu dengan klien di tempat yang sudah ditetapkan."
"Tapi kenapa harus di luar kota? Apa mereka tidak bisa datang ke sini saja?" tanya Zaidan lagi.
Dimas menggeleng singkat. "Kata Nyonya besar, beliau merupakan investor besar yang bisa membuka peluang perusahaan menjadi lebih baik lagi."
"Bukankah perusahaan mamah sudah sangat maju? Kenapa mamah membutuhkan pengakuan lagi?" Zaidan terus mengeluh dan mengeluh.
Dimas membetulkan letak kacamatanya dan berdehem pelan. "Nyonya hanya ingin membesarkan peluang bisnisnya saja. Saya tahu kenapa Tuan muda terlihat tidak ingin pergi."
Zaidan menoleh padanya lagi seraya menautkan kedua alis tajam. Dimas yang mengerti itu pun kembali berujar.
"Tuan muda tidak ingin meninggalkan keluarga, kan?"
"Itu juga kamu tahu sendiri, kenapa mamah malah menyuruhku pergi dan meninggalkan mereka? Apa-"
"Kenapa? Apa kamu tidak mau menuruti apa kata Mamah?" Suara tegas menyela pembicaraan mereka.
Zaidan dan Dimas menoleh ke arah pintu masuk mendapati CEO perusahaan datang menemuinya. Moana hadir dengan penampilan berbeda, kedua pria muda di hadapannya tercengang tidak percaya.
"Ma-Mamah?" Panggil Zaidan kembali beranjak dari duduk.
Moana tersenyum lebar dalam balutan blazer panjang dengan celana bahan serta hijab senada, mengejutkan anak serta orang kepercayaannya.
"Kenapa? Kalian terkejut melihat Mamah berhijab?" tanyanya menoleh pada mereka.
Zaidan dan Dimas mengangguk kompak, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Moana terkekeh pelan dan memasukan kedua tangan ke saku celana.
__ADS_1
"Mamah waktu itu sudah bilang ingin berhijab, kan?" Ia memandangi Zaidan yang mengiyakan ucapannya tanpa berkata-kata. "Satu minggu yang lalu Mamah bertemu Alina dan ... memintanya untuk membantu Mamah berhijab. Alhamdulillah, setelah mendapatkan bantuan darinya Mamah semakin yakin untuk menutup aurat, iya meskipun belum sempurna," ungkapnya jujur.
"Be-benarkah? MasyaAllah, Alhamdulillah, Mamah cantik sekali dalam balutan hijab," puji sang anak senang.
"Kamu bisa saja," balas Moana malu-malu.
"Itu benar, Nyonya. Keputusan Anda berhijab adalah keputusan yang sangat baik. Semoga Allah meridhoi Anda dan membuat Anda menyempurnakannya. Karena dengan menutup aurat saja sudah menjadi langkah awal yang baik," tutur Dimas membuat Moana mengembangkan senyum.
Sang nyonya besar itu pun kembali tergelak melihat reaksi keduanya. "Em, terima kasih. Ayahmu saja sampai tidak percaya Mamah berhijab. Bahkan yah ... tetua Zulfan sampai tercengang. Kalian kalau melihat mukanya waktu itu pasti tidak bisa menahan tawa." Moana kembali tertawa mengingat wajah sang ayah mertua, "Bahkan Mamah tidak bisa berhenti menertawakannya." Ceritanya mengungkapkan apa yang terjadi satu minggu yang lalu.
"Tapi kenapa aku tidak tahu?" tanya balik Zaidan merasa terasingkan.
"Karena Mamah memang sengaja mengambil hari saat kamu sibuk di kantor. Mamah ingin memberi kejutan untuk kalian, bagaimana ... apa kalian terkejut?" Moana memiringkan kepalanya seraya tersenyum lebar.
"Sangat, semoga Nyonya Besar istiqomah," balas Dimas.
"Iya...iya, kejutan yang laur biasa," lanjut Zaidan.
Kali ini Moana tertawa sedikit kencang melihat keduanya. "Baiklah aamiin terima kasih kalian berdua."
Terkadang hidayah dari Allah bisa datang dari mana saja. Jika hidayah itu sudah hadir cepat ambil dan jangan dilepaskan kembali, sebab karunia tersebut adalah hadiah terindah yang telah Allah berikan.
Beberapa saat kemudian hanya ada keheningan menyambut. Zaidan mendudukkan dirinya lagi, sedangkan Moana dan Dimas berjalan menuju sofa tidak jauh dari sana.
"Mah." Panggil Zaidan.
Moana yang sedang memeriksa tablet dari Dimas pun hanya menjawab "hm," sebagai balasan.
"Kenapa Mamah mengirimku ke luar kota? Mah ... Mamah tahu kan? Aku tidak bisa jauh dari Alina dan anak-anak? Dimas juga tuh, pria dingin itu tidak bisa lepas dari Zara dan anaknya," tutur Zaidan mengeluh.
Moana menghela napas pelan dan menoleh pada putra satu-satunya. "Jika bukan kamu yang pergi siapa lagi? Kamu mau mengecewakan Presdir Kang yang sudah jauh-jauh meluangkan waktunya untuk bertemu orang penting di perusahaan kita?"
"Si-siapa?" gugup Zaidan.
"Presdir Kang, beliau pemilik perusahaan parfum terkenal dengan merek King yang sudah tersebar luas di pasaran. Pengusaha ternama sampai artis terkenal pun memakai parfum darinya," kata Moana menjelaskan.
"A-apa? Ja-jadi orang penting itu yang akan aku datangi?" Zaidan kembali bangkit dari duduk.
__ADS_1
"Em, apa kamu merasa tidak percaya diri?" tanya Moana lalu menyesap teh buatan Dimas.
Zaidan menggelengkan kepala beberapa kali lalu berjalan mendekati sang ibu. "Tidak, hanya saja orang sepenting itu..."
"Kamu tenang, semua akan baik-baik saja. Jangan terlalu memikirkan Alian dan anak-anak mereka akan aman bersama Mamah. Lagipula Alina sudah tahu kamu akan berangkat tiga hari lagi," jelasnya acuh tak acuh.
"APA? Kenapa Mamah memberitahunya secepat itu?" Zaidan mencengkram pergelangan tangan ibunya kuat. "Aku belum sanggup jika harus berpisah jauh darinya."
"Karena Mamah tidak ingin kamu merengek padanya dan meminta Alina untuk membatalkan keberangkatanmu."
Zaidan mengangkat sebelah bibirnya, merajuk. Sudah seperti itu ia tidak bisa berbuat apa-apa, Alina akan tetap mengirimnya pergi bagaimana pun dirinya meminta.
"Ini sudah menjadi kewajibanmu sebagai kepala rumah tangga. Bertanggung jawablah untuk keluargamu," kata Moana lagi.
Zaidan mengangguk singkat. "Baiklah, aku akan mengikuti apa kata Mamah."
"Em, anak pintar."
Zaidan mendengus pelan merasa geli dengan dirinya sendiri yang terkadang seperti anak kecil. Dalam diam Dimas memperhatikan keduanya dan menahan tawa.
Sudah menjadi pemandangan lumrah saat Zaidan bersama ibunya. Keadaan itu tidak asing lagi bagi Dimas, dari dulu sampai sekarang Moana tidak pernah berubah.
Apa pun akan dilakukan seorang ibu untuk kebaikan putra maupun putri mereka. Ia juga bersyukur sudah bertemu dengan nyonya besar tersebut. Setelah kematian ibunya lima belas tahun lalu, Moana menganggap serta memperlakukannya seperti anak sendiri.
Dimas merasa tidak kehilangan kasih sayang. Meskipun kedudukannya hanya sebagai pengawal, orang kepercayaan keluarga Zulfan, tetapi Moana maupun Farraz memberikan kasih sayang yang begitu melimpah.
Kedua orang itu sudah seperti orang tua kedua bagi Dimas. Maka ia tidak akan pernah mengecewakan mereka dan akan setia pada tuan mudanya.
"Berhenti merengek, Tuan muda seperti anak kecil," ungkap Dimas memandangi Zaidan.
"Dengarkan apa kata Dimas, dia sudah bersamamu sejak bayi. Dimas seperti kakakmu saja, Mamah tidak tahu sebenarnya siapa anak Mamah ini? Kamu atau Dimas?" ungkap Moana memandangi keduanya bergantian.
"Iya anak Mamah memang Dimas," kata Zaidan ketus memandangi keduanya bergantian.
Moana dan Dimas tertawa seketika. Mereka bersyukur mempunyai hubungan persaudaraan yang sangat baik.
...Bersambung......
__ADS_1