Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 147 (Season 3)


__ADS_3

Satu minggu kemudian, Zaidan memutuskan untuk kembali ke perusahaan. Mau tidak mau ia harus meninggalkan istrinya yang tengah mengandung di rumah.


Raihan sedang menghabiskan masa libur sekolah bersama sang ayah kandung. Hal tersebut membuat Zaidan khawatir dan cemas. Ia takut terjadi sesuatu pada Alina yang sedang hamil muda.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku akan baik-baik saja, Mas tidak usah khawatir," kata Alina sembari memasangkan dasi di kerah kemeja suaminya.


Zaidan mengerucutkan bibir memandang wajah damai sang pujaan. "Aku hanya tidak ingin meninggalkanmu sendirian di rumah. Raihan baru saja pergi ke rumah Azam, apa kamu tidak bisa ikut ke sana juga daripada di sini?"


"Jangan konyol, aku tidak bisa terus menerus mengganggu mereka. Lagipula, mas Azam juga butuh waktu bersama Raihan tanpa kehadiranku. Aku ingin hubungan mereka semakin membaik dan anak itu tidak terus canggung pada mbak Jasmin," jelas Alina mengusap lembut kedua bahu Zaidan.


Helaan napas pun terdengar, Zaidan mengalah membiarkan istrinya sendirian di rumah. Ia lalu mengambil jas kerja yang sudah disiapkan di atas tempat tidur.


"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu," katanya sambil mengenakan stelan.


Alina mengangguk pelan kemudian menyalami tangannya singkat. Zaidan membubuhkan kecupan hangat nan mendalam di dahi lebar sang istri.


Ia kemudian berjongkok tepat di depan perut rata itu sambil mengelusnya pelan. "Assalamu'alaikum, sayang. Ayah berangkat kerja dulu, jangan membuat Mamah kesusahan, yah," ujarnya lembut.


Alina mengembangkan senyum hangat lalu mengusap puncak kepala suaminya sayang. "Wa'alaikumsalam, yang semangat kerjanya Ayah."


Zaidan mendongak dengan lengkungan bulan sabit sempurna terpendar di wajah tampannya. Ia memegang kepala bulat Alina seraya mengamati keindahan di hadapannya.


Ia menghela napas lagi membuat Alina menautkan kedua alis bingung. "Apa lagi, Sayang? Jangan berpikir yang macam-macam, aku pasti baik-baik saja di rumah. Ada para pelayan juga, jadi Mas jangan terlalu cemas."


"Tapi tetap saja, aku tidak bisa meninggalkanmu yang sedang hamil. Apalagi ini anak pertama kita," ujar Zaidan merengut.


"Mas, aku sudah pernah mengandung. Jadi, jangan berlebihan semua akan baik-baik saja." Alina terus menegaskan. "Mas juga sudah lama tidak bekerja, apa jadinya jika seorang pemimpin tidak datang? Sudah jalankan kewajibanmu, Mas. Aku juga ingin dinafkahi," lanjutnya lagi.


"Em, baiklah." Untuk kedua kalinya Zaidan memberikan ciuman singkat di dahi lebar Alina.


Pasangan suami istri itu pun berjalan beriringan menuju pekarangan. Para maid yang ada di sekitar menatap kebersamaan keduanya. Mereka saling melempar senyum menyaksikan keharmonisan serta kemesraan sang tuan.


"Apa kamu sudah tahu, Embun?" tanya temannya bernama Lintang.

__ADS_1


"Apa?" Embun balik bertanya.


"Kata salah seorang maid di kediaman utama, sebenarnya tuan muda akan dijodohkan dengan cucu keluarga Zyva, nona muda Zanna Zvya," bisik Lintang.


Embun terkejut dengan kedua mata membola sempurna. "Benarkah? Bukankah nona Zanna Zyva sempat berhubungan dengan tuan muda waktu itu?"


Lintang mengangguk singkat. "Itu benar, tapi yang aku dengar mereka juga mau dijodohkan kembali."


"Apa jadinya tuan mudakan sudah menikah dengan mbak Alina? Aku tidak habis pikir dengan pemikiran orang kaya itu." Embun menggeleng-gelengkan kepala tidak mengerti, begitu pula dengan Lintang.


"Em, terlebih nona muda seorang pianis terkenal. Apa mungkin wanita elegan seperti itu mau menjadi perusak rumah tangga orang?" kata Lintang lagi.


"Kerja kalian bukan bergosip terus." Tiba-tiba seorang pelayan senior datang menginstrupsi.


Buru-buru Lintang dan Embun berhamburan ke belakang tidak lagi meneruskan pembicaraan. Asma, pelayan senior itu pun memandang lurus ke depan menyaksikan keakraban tuan dan nona mudanya.


"Semoga kebahagiaan mereka tidak sirna begitu saja," benaknya penuh harap.


...***...


"Hati-hati di rumah," balasnya kemudian.


Alina hanya mengangguk dan terus menyaksikan bayangan kendaraan roda empat itu hingga menghilang dalam pandangan.


Senyum yang semula terpendar di bibir ranumnya memudar. Ia merogoh saku gamis mengeluarkan benda pipih di dalamnya.


Pesan masuk dari nomor yang sama sejak semalam kembali menghubungi. Alina mengirimkan balasan tanpa memberitahu Zaidan jika sang tetua meminta bertemu.


"Aku harus menyelesaikannya," gumam Alina.


Saat jam menunjukan pukul setengah dua siang, Alina bersiap pergi ke salah satu restoran di ibu kota. Ia berpamitan pada pelayan mengatakan untuk keluar.


Ia juga menolak di antar supir dan mengatakan pergi sebentar. Ia tidak bisa membiarkan mereka tahu ke mana tujuannya dan melaporkan hal tersebut kepada Zaidan.

__ADS_1


Taksi yang ditumpanginya pun melaju kencang membelah angin siang. Dalam diam Alina terus memikirkan kemungkinan yang terjadi. Ia memeluk perutnya hangat melindungi sang buah hati yang masih berkembang.


Tidak lama berselang ia tiba di tempat yang sudah ditentukan. Setelah membayar ongkos taksi ia masuk ke dalam dan disambut sang pelayan.


Alina menyebutkan meja atas nama Zulfan, pelayan pria itu pun segera membimbingnya ke ruangan VIP. Di sana ia melihat dua orang pria berjas hitam berdiri di masing-masing sisi pintu.


Keduanya menyambut kedatangan Alina lalu membukakan pintu membiarkan wanita itu masuk. Seketika aura menegangkan serta formalitas yang dijunjung tinggi terasa begitu mencekik.


"Assalamu'alaikum, saya datang," kata Alina basa-basi.


Ia pun melepaskan sepatu flatnya lalu duduk berhadapan dengan sang tetua keluarga Zulfan.


"Wa'alaikumsalam," balas Dawas singkat, suaranya teredam memandang pongah lawan bicaranya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Dawas mengeluarkan amplop cokelat sedang dengan isinya yang menyembul. Kedua alis Alina saling berpautan kala melihat pria baya itu menyodorkan ke hadapannya.


"Ini uang sekitar lima ratus juta, bisa kamu tinggalkan cucu saya, Zaidan?" ujarnya kemudian.


Alina tidak menyangka dan mendengus pelan menyaksikan uang terbalut kertas cokelat di hadapannya. Ia menyeringai tidak percaya sebegitu rendahnya ia dalam pandangan Dawas.


"Saya minta maaf, tetapi ... saya tidak bisa menukarkan suami dengan uang," balas Alina tegas.


"Oh, apa uangnya kurang? Saya bisa menambahkannya lebih banyak lagi ... bukankah orang-orang seperti kamu mengincar harta? Terbukti kamu mendekati Zaidan bahkan menikah dengannya, apalagi jika bukan karena-" Dawas menggerakan tangannya memberikan gesture yang berarti uang.


Alina mengulas senyum hangat dan menatap nyalang pria tua di hadapannya. Ia kembali tidak menyangka dan menduga, jika di mata tetua Zulfan dirinya amat sangat rendah.


Dengan meletakan tangan di atas perut, Alina siap memberikan jawaban yang sudah dipendamnya sejak di perjalanan.


Dawas mengamatinya dalam diam, kata-kata yang terlontar dari bibir ranum wanita muda di hadapannya membuat ia tergelak.


Dawas mendengus kasar atas apa yang diucapkan Alina. Begitu munafik dan sangat tidak tahu malu, itulah yang dipikirkan pria tua tersebut.


Dawas geram dan semkain ingin memisahkan sang cucu dengan wanita menggelikan di depannya. Tetua keluarga Zulfan itu pun terkejut dengan pemberitahuan yang diucapkan Alina.

__ADS_1


Seolah dunianya runtuh seketika Dawas membelalakan manik sayunya cepat. Kedua tangan yang berada di atas meja pun mengepal kuat.


...Bersambung......


__ADS_2