
Sedari tadi malam Raihan terus diam mengatupkan bibirnya rapat. Moana yang menjaganya begitu khawatir mengenai kondisi sang cucu sambung.
Nyonya besar tersebut takut terjadi sesuatu pada Raihan mengingat semalam ayah biologisnya datang dan membicarakan hal menyedihkan. Perasaannya sebagai seorang ibu mengatakan jika laki-laki kecil itu menyimpan kesedihan begitu mendalam.
"Sayang, ayo sarapan. Mungkin mamah dan ayah barumu sedang menunggu kita," ajak Moana untuk kesekian kali dan sekarang Raihan mengangguk tanpa menolak. Bibir merah Moana terangkat simpul dan menggandengnya keluar kamar.
Matahari bersinar begitu terang, cahayanya menembus sampai ke kantin hotel di mana banyak kaca besar mengelilinginya. Pemandangan luar pun begitu kentara menemani setiap pengunjung yang makan di sana.
Pupil hitam Raihan mengitari ruangan dan mendapati sang ibu tengah tertawa bahagia. Dadanya kembali bergemuruh tidak ingin membuat kesenangan tersebut hilang.
Namun, tidak lama berselang perhatian kelima orang itu beralih padanya. Alina beranjak dari duduk dan berjalan mendekati sang buah hati.
Raihan yang tidak siap pun langsung menundukan kepala dalam menyembunyikan mata bengkak. Merasa ada yang berbeda, Alina menangkup wajah sang putra membuatnya mau tidak mau mendongak.
Seketika kedua matanya terbelalak sempurna dengan bibir ranum terbuka. Alina merasakan nyeri menyaksikan orang tersayangnya menyembunyikan hal tersebut.
"Apa yang terjadi, Sayang? Kenapa matamu bengkak seperti ini? Apa semalaman kamu menangis?" tanyanya menggebu.
Raihan terdiam tidak sanggup mengatakan sepatah kata. Semua yang ingin diucapkan tercekat di tenggorokan.
Moana menepuk pundak sang menantu pelan membuat sang empunya mendongak. Gelengan kepala pun diberikan mengundang kerutan dalam di dahi lebar Alina.
Melihat sorot mata sendu ibu mertuanya, Alina pun mengerti dan langsung menggendong Raihan. Ia lalu membawanya ke meja makan dan membiarkan sang putra memeluknya erat. Wajah tampan itu bersembunyi di dada sang ibu merasakan degup jantung yang membuatnya tenang.
Keadaan Raihan yang seperti itu seketika menarik perhatian semua orang, terutama suaminya. Ia menatap lekat sang istri menuntut penjelasan. Alina hanya menggeleng tidak tahu apa yang sudah terjadi pada jantung hatinya.
"Sayang, apa kamu sudah sarapan?" Zaidan mencoba mengajaknya bicara.
Raihan hanya menggeleng pelan tanpa merubah posisi. Alina menarik napas dan menghembuskannya perlahan.
"Sayang, lihat ada makanan kesukaanmu. Kita makan bersama, yah? Ada Naura juga di sini," bujuk Alina.
"Kak Raihan kenapa? Kenapa Kakak menyembunyikan wajahnya?" tanya Naura polos.
__ADS_1
"Kakak sedang tidak enak badan saja, Sayang," balas Moana membuat gadis kecil itu memandanginya dan mengangguk singkat.
Perasaan Alina semakin tidak enak kala Raihan memeluknya begitu erat. Ia langsung mengusap punggungnya pelan dan terkejut kala merasakan tubuh kecil itu bergetar seolah menahan tangis.
"Semuanya aku ke kamar dulu." Alina pun beranjak dari sana tanpa mendengar jawaban mereka.
Zaidan yang hendak menyusul dicekal cepat oleh sang ibu membuatnya menoleh. "Biarkan mereka berdua dulu, berikan waktu pada Raihan bersama ibunya."
"Apa yang sebenarnya terjadi, Mah?" tanya Zaidan duduk di tempat bekas sang istri.
Zara dan Dimas pun menatap sang nyonya besar menuntut jawaban. Namun, Moana hanya menutup mulut rapat tidak bisa mengatakan apa pun sebelum berbicara dengan menantunya.
...***...
Alina sudah membawa Raihan ke kamarnya di hotel. Ia duduk di sofa tunggal dekat jendela besar yang memperlihatkan pemandangan di luar.
Ia yang berada di lantai lima menyaksikan pegunungan menjulang tinggi jauhnya di sana dengan masih mengusap punggung Raihan pelan.
"Sayang bisa Mamah melihat wajahmu?" pintanya kemudian.
Ia pun membersihkannya lembut, gerakan implusif tersebut semakin mengalirkan cairan bening. Raihan tidak kuasa membendung kesedihan saat perlakuan hangat sang ibu diberikan.
"Mamah tidak akan memaksa Raihan bercerita ... hanya saja, Mamah merasa sakit melihat Raihan seperti ini, Sayang," kata Alina.
Raihan melihat keristal bening mulai merembes di pelupuk mata sang ibu. Ia menggeleng beberapa kali dan terus memperhatikan Alina.
"Semalam-" Jeda sejenak Raihan seolah enggan mengatakan apa yang sudah terjadi padanya semalam.
Ia lagi-lagi tidak ingin menodai kebahagiaan yang sudah dirasakan ibunya saat ini. "Semalam ada apa?" tanya Alina langsung.
"Semalam ... Raihan bertemu dan berbicara dengan ayah."
Perkataan tersebut mengandung petir menyambar ke dalam hati. Alina menegang dengan jantung bertalu kencang.
__ADS_1
Di saat dirinya terlena akan nikmatnya surga dunia, di saat itu pulalah sang buah hati bertemu dengan mantan suaminya. Perasaan bersalah merambat di relung dasar hati paling dalam, ia pun merengkuh hangat tubuh kecil buah hatinya.
Alina menangis dalam diam dan menahan diri agar tidak gemetar. "Mamah ... minta maaf, Sayang. Mamah benar-benar minta maaf."
"Kenapa Mamah harus minta maaf? Mamah tidak salah apa-apa. Aku yang harus minta maaf, karena sudah bertemu ayah diam-diam di belakang Mamah."
Alina menggeleng beberapa kali, "tidak Sayang. Kamu tidak salah apa-apa."
Hening melanda ibu dan anak itu menangis bersama dan mencoba menyembunyikan air mata. Rindu tiba-tiba saja datang menerjang membuat Raihan kembali berkata.
"Mamah," panggilnya.
"Iya, Sayang?"
"Apa ... apa Raihan salah merindukan kita bersama? Raihan tiba-tiba saja teringat saat kita masih bersama di rumah. Mendengar ayah menyayangi Raihan semalam ... membuat Raihan tidak tahu harus apa."
"Mamah, Raihan tidak tahu harus bagaimana. Apa yang Raihan katakan ini salah? Raihan juga kasihan pada ayah," ucap Raihan terus berceloteh.
Alina tidak sanggup menahan kepedihan dalam dada. Ia menangis dan meremat kuat tubuh kecil jagoannya.
"Mamah benar-benar minta maaf, Sayang. Mamah sudah egois tidak memikirkan perasaanmu," kata Alina lagi.
Raihan pun menggeleng kuat. "Mamah tidak usah minta maaf. Raihan hanya bicara omong kosong. Raihan senang saat melihat Mamah bisa tertawa bahagia bersama ayah Zaidan, tetapi di sisi lain ... Raihan merasa ada yang kosong. Tiba-tiba saja Raihan teringat pada ayah," ungkapnya lagi.
Alina sadar jika seburuk apa pun orang tua akan selalu melekat dalam diri seorang anak. Kesenangan yang pernah mereka habiskan bersama nyatanya mengendap dalam ingatan Raihan.
Ia tahu hubungan ayah dan anak tidak bisa diputuskan begitu saja. Meskipun keberadaan sosok baik hati hadir di hidup mereka, tetapi ikatan darah tidak bisa dilupakan.
Entah apa yang terjadi semalam, apa yang mereka bicarakan, Alina tidak tahu. Namun, instingnya sebagai seorang ibu berkata jika Azam sudah mengakui kesalahannya.
Dari arah pintu masuk yang terbuka sedikit Zaidan mendengar semua perkataan mereka. Ia mengepalkan kedua tangan merasa gagal menjadi seorang suami dan ayah.
Melihat dua orang tersayangnya menangis bersama ia ingin ke sana dan merengkuhnya ke dalam pelukan. Namun, ia sadar jika masa lalu itu tidak bisa diputuskan begitu saja. Bayang-bayang Azam akan selalu ada dalam kehidupan mereka.
__ADS_1
...Bersambung......