
Hari ini menjadi perayaan hari ibu yang diselenggarakan di sekolah Raihan. Para anak-anak begitu antusias menyambutnya hingga sebelum hari itu tiba mereka sudah menyiapkan apa yang hendak ditunjukan pada sang ibu.
Sambutan demi sambutan dari kepala sekolah, wali kelas, dan beberapa orang penting yang hadir pun berjalan lancar.
Satu persatu acara demi acara berlangsung meriah. Sampai giliran kelas Raihan pun tiba, semua anak turut bernyanyi bersama.
Hingga beberapa anak pun mulai memperlihatkan pertunjukan yang dibawakan masing-masing untuk sang ibu.
Tidak lama berselang kini giliran Raihan seorang tampil ke atas panggung. Langkahnya begitu percaya diri seraya menenteng selembar kertas.
Para orang tua terutama, kedua ayah dan ibunya menatap hangat sang jagoan. Raihan pun berdiri tepat di tengah-tengah mic dan memandangi keluarga tercinta.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," sambutnya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," balas semua orang yang ada di sana.
"Hari ini aku akan membacakan puisi untuk orang tuaku tercinta. Meskipun hari ini adalah hari ibu, tetapi aku ingin mengucapkan kepada kedua ayah dan kedua ibu atas semua perjuangan yang telah kalian berikan. Baiklah." Raihan membuka lipatan kertas itu dan di hadapkan ke depannya.
Mendengar penuturannya barusan, beberapa anak dan juga orang tua saling berbisik. Mereka meyakini jika orang tua dari Raihan sudah berpisah dan menikah lagi.
"Bismillahirrahmanirrahim," gumamnya pelan.
Hening menyambut, semua orang yang hadir menunggu dengan sabar. Raihan menyapukan pandangan pada setiap orang.
Air mukanya berubah menjadi lebih serius, sorot matanya begitu hangat dan dalam. Sampai atensinya hanya berputar kepada sang ibu.
Ia lalu mengambil napas dan menghembuskannya perlahan. Ia mendekatkan bibir ke arah mic siap melakukan pertunjukan.
"Bagaikan rembulan keberadaan mu mengantarkan kesejukan."
"Mamah..."
"Terima kasih sudah mengajariku banyak hal untuk tetap kuat dan bertahan."
"Mamah, sosokmu bagaikan malaikat tanpa sayap."
"Setiap air matamu menjadi kesakitan untukku."
"Setiap senyummu menjadi kebahagiaanku."
"Mamah, aku sangat menyayangimu."
"Meskipun keluarga kita berbeda, aku bangga memiliki kalian di hidupku."
"Ayah dan Ayah."
__ADS_1
"Mamah dan Ibu."
"Kalian adalah sosok paling hebat yang aku punya."
"Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan tiada akhir."
"Keberadaan kalian bagaikan sebuah embun di dedaunan."
"Kalian memberikan kesejukan dan gersang di waktu bersamaan."
"Terima kasih banyak atas semua pelajaran yang kalian berikan."
"Aku menyayangi, Ayah, Ayah, Mamah, dan Ibu."
"Selamat hari ibu, Mamah dan Ibu. Terima kasih atas perjuangan yang kalian tempuh untukku."
"Ayah dan Ayah adalah kstaria tangguh yang mengajarkanku untuk melindungi kalian."
"Terima kasih banyak untuk seluruh ayah dan ibu di dunia ini yang sudah mengajarkan anak-anaknya menjadi lebih baik."
"I LOVE YOU MOM AND DAD."
"Kasih sayang kalian sepanjang masa."
Sampai sedetik kemudian suara tepuk tangan bergema di aula. Mereka terharu dengan puisi yang dibuat sendiri oleh Raihan.
Beberapa hari lalu sebelum hari ibu datang, para guru di sekolah mengumumkan kepada para murid untuk menyiapkan kejutan bagi orang tuanya.
Raihan begitu semangat ingin membuat sebuah puisi dan berharap bisa membanggakan ayah dan ibunya. Ia tidak percaya jika saat ini antusiasme para tamu undangan yang datang begitu luar biasa.
Mereka tersenyum lebar padanya dan ada beberapa orang tua murid melemparkan bunga ke atas panggung.
Raihan pun ikut mengembangkan senyum haru. Ia mengitari sekitar di mana semua orang masih menatapnya penuh keharuan.
Ia lalu beralih kepada orang tua kandungnya. Ayah serta ibu turut menampilkan senyum bangga dengan air mata menetes di pipi masing-masing.
Raihan terperangah dan tanpa sadar kristal bening meluncur begitu saja. Ia menghapusnya kasar lalu mengembangkan sudut bibirnya lebar.
Tidak lama berselang ia turun dari panggung dan bergegas menghampiri orang tuanya. Melihat itu Alina dan Azam pun mengikuti pergerakan sang putra.
Mereka menyambut kedatangannya dengan merentangkan kedua tangan dan bersimpuh di sebelah panggung.
Raihan pun langsung menerjang kedua orang tua kandungnya serta menghirup dalam-dalam aroma menenangkan dari mereka.
Ia menangis sejadi-jadinya sangking bahagia melihat ayah dan ibu bisa bersama. Meskipun tidak seperti dulu, tetapi itu sudah cukup baginya.
__ADS_1
"Aku sayang Mamah dan Ayah," aku Raihan kemudian.
Alina dan Azam terpaku mendengarnya, mereka semakin mengeratkan pelukan terharu atas tindakan yang diberikan sang putra.
"Mamah juga sangat menyayangimu, Sayang," balas Alina kemudian.
"Begitu juga Ayah. Ayah sangat sangat menyayangimu. Terima kasih jagoan atas puisi indahnya," timpal Azam.
Raihan pun melepaskan pelukan lalu memandangi ayah serta ibu kandungnya. Kedua tangan itu terulur menangkup sebelah pipi orang tuanya.
Ibu jarinya pun mengelus pelan jejak air mata yang tertinggal di sana. Senyum manis muncul menambah ketampanan anak itu.
"Jangan menangis, Mah, Yah. Raihan tidak ingin melihat Mamah dan Ayah menangis," katanya lagi.
Alina dan Azam pun menggeleng pelan. "Ini bukan air mata kesedihan, Sayang, tetapi ... ini sebagai bukti jika Mamah dan Ayah sangat bangga padamu," jawab Alina.
"Benar kata Mamah, ini adalah air mata kebahagiaan," lanjut Azam menegaskan.
Raihan terperangah beberapa detik sampai, ia pun membubuhkan kecupan hangat di dahi ayah serta ibunya.
Alina dan Azam benar-benar terharu sekaligus bangga jika putra mereka benar-benar terlihat dewasa. Anak itu harus menanggung beban berat diusianya yang masih belia, keduanya juga sadar jika sang buah hati didewasakan oleh keadaan.
Raihan pun kembali memeluk keduanya hangat. Ia menyembunyikan wajah berair di bahu orang tuanya.
"Meskipun aku berharap Ayah dan Mamah bisa kembali satu atap, tetapi ... aku harap kita akan selamanya seperti ini. Memang keinginan semua anak bisa melihat orang tua kandungnya bisa bersama, tetapi ... aku tidak ingin melihat air mata kesedihan itu lagi."
"Mah, Yah, terima kasih sudah mengajarkanku banyak hal. Di usiaku yang masih kecil ... aku sudah mengerti apa itu sebuah perjuangan dan kesabaran. Aku, sangat menyayangi Ayah dan Mamah," monolognya dalam diam.
Di tengah keramaian acara yang masih berlangsung, mereka satu-satunya objek menarik perhatian. Sebagian besar orang tua yang hadir menyaksikan kebersamaan ketiganya.
Mereka turut merasakan apa yang terjadi di keluarga itu. Terutama orang tua yang senasib dengan Alina dan Azam.
Perpisahan memang mengandung kesakitan serta membuat anak menjadi korban. Namun, perpisahan bukanlah akhir dari segalanya, justru awal yang baru untuk menyambut kebahagiaan lain.
Meskipun memang terkadang di dalamnya terdapat luka yang lain, tetapi itu sebagai pertanda akan datangnya kebahagiaan.
Zaidan yang tengah menggendong Zenia, serta Jasmin yang menggandeng Aqeela menyaksikan kebersamaan suami serta istrinya bersama sang buah hati.
Mereka ikut terharu atas kebersamaan keluarga kecil tersebut. Tidak ada yang namanya bekas anak, Azam dan Alina berperan sebagai orang tua terbaik bagi Raihan.
Meskipun tidak bersama, tetapi keduanya berusaha memberikan kasih sayang kepadanya. Kejadian kemarin membuat Alina maupun Azam sadar jika anak bukanlah suatu kesalahan. Namun, keberadaan sang buah hati mampu memberikan harapan baru.
Kebahagiaan demi kebahagiaan bisa datang dari seorang anak tanpa keduanya sadari. Anak adalah anugerah yang sudah Allah berikan kepada setiap pasangan yang dikehendaki-Nya.
...Bersambung......
__ADS_1