Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 53 (Season 2)


__ADS_3

Rutinitas sebagai seorang istri dan ibu sudah Alina lakoni selama hampir delapan tahun lamanya. Tugas mulia itu ia kerjakan dengan senang hati melupakan beban yang sempat hinggap dan kini lepas sudah.


Seperti mendapatkan mendali atas kemenangan yang sudah ia perjuangkan sekuat tenaga, kebahagiaan itu tidak akan pernah lepas dalam dirinya.


Gelenyar rasa sakit yang pernah hinggap lambat laun terkikis berkat kebersamaan. Alina yang dari kecil tidak mengenal siapa ayah dan ibu kandungnya mengharapkan sebuah keluarga dan sekarang ia telah mendapatkannya. Ia akan mendekapnya kuat hingga siapa pun tidak mempunyai kesempatan untuk merebutnya.


"Sayang, Aqeela, Raihan, sarapannya sudah siap. Ayo makan, nanti terlambat," teriak Alina memanggil semua anggota keluarga.


Tidak lama berselang ketiganya pun datang sambil memamerkan deretan gigi putihnya dan langsung duduk di kursi masing-masing.


Dengan cekatan Alina melayani mereka, meletakan sepiring nasi beserta lauknya. Setelah itu ia pun duduk di dekat sang suami dan siap menikmati sarapan.


"Sebelum makan mari kita berdo'a terlebih dahulu," ucap Azam dijawab anggukan oleh ketiganya.


Di pimpin sang kepala keluarga mereka berdo'a dengan khusyu dan setelahnya makan bersama.


Di temani canda, tawa, meja makan itu tidak pernah sepi. Celotehan demi celotehan dari Aqeela dan Raihan menjadi candu setiap pagi.


Gambaran keluarga harmonis begitu terlihat nyata terbentuk di dalam keluarga kecil Zabran. Senyum yang tidak pernah pudar terus terpancar di setiap wajah masing-masing.


Aura harmonis terus menyebar kala kebersamaan tercipta, meskipun terdapat ujian kecil itu sebagai perekat agar hubungan mereka terus berjalan lancar.


"Sayang, malam ini sepertinya aku akan pulang telat," ungkap Azam menatap istri tercintanya.


Mendengar penuturan tersebut Alina menautkan kedua alis seraya membalas tatapannya.


"Oh, memangnya ada apa?" tanya Alina penasaran.


"Kamu ingat sebulan yang lalu perusahaan kita meluncurkan produk baru? Kebetulan desainer yang merancang tempat makan itu datang ke sini, sudah satu bulan dan akhirnya dia mau bertemu dengan kita," balasnya lagi.


Alina mengangguk-anggukan kepala mengerti, "lalu kenapa bisa dia mendesain meja makan itu jika orangnya saja tidak datang ke perusahaan?"

__ADS_1


"Itu dia, sekertarisku yang menawarkannya. Karena hasilnya bagus aku langsung menggunakan jasa dia, dan ... kamu bisa lihat sendiri hasilnya. Banyak konsumen yang membeli meja makan itu, bulan ini kami untung 70%." Azam berbinar senang kala teringat kembali pencapaian yang didapatkan.


Mendengar kata sekertaris bagaikan mengorek luka lama, Alina diam beberapa saat hingga kembali menyahuti ucapan suaminya.


"Benarkah? Alhamdulillah, kita harus banyak bersyukur atas rezeki yang sudah Allah berikan," ucapnya.


Azam hanya mengangguk beberapa kali dan terus menikmati santapan paginya, sedangkan Alina memandanginya seraya mengamati dalam diam.


"Entah kenapa mendengar sekertaris aku jadi teringat masa lalu, Zara ... wanita itu apa dia masih menjadi sekertarisnya Mas Azam? Astaghfirullah, aku tidak boleh over thingking. Sudah tujuh tahun berlalu, rumah tangga kami baik-baik saja. Pasti tidak akan ada yang terjadi, yah, itu sudah pasti!" benaknya.


Tanpa ia sadari sepasang manik bulan terus menatapnya sedari tadi. Seakan mengerti Aqeela membaca gerak-gerik sang ibu sambung. Ada kilatan penasaran dari sorot matanya, kegelisahan yang di rasakan Alina begitu kuat ia lihat.


"Ini pertama kalinya aku melihat Mamah muram, apa yang sebenarnya terjadi?" batinnya.


...***...


"Kalau begitu aku pergi dulu mengantar anak-anak dan langsung ke kantor, kamu baik-baik di rumah," ucap Azam di pekarangan.


"Iya Mas. Sayang, kalian belajar yang rajin, yah," lanjutnya dan memberikan kecupan di dahi kedua buah hatinya.


Aqeela dan Raihan mengangguk lalu menyalami tangan sang ibu.


"Kami pergi dulu, dadah Mamah ..." ucap Aqeela melambaikan tangan pada Alina.


Begitu pula dengan Raihan, "Sampai jumpa lagi Mamah," ucap putra pertamanya tersebut.


"Iya, hati-hati di jalan," balas Alina sedikit kencang.


Mereka pun masuk ke dalam mobil dan menurunkan jendela membuat kepala kedua bocah itu pun menyembul. Mereka melambaikan tangan pada Alina lagi sambil mengembangkan senyum.


Rutinitas tersebut terus terulang setiap paginya di hari kerja. Selepas kepergian suami dan kedua anaknya, ia masuk ke dalam dan mulai membereskan rumah.

__ADS_1


Pintu tertutup, Alina memandangi ruangan yang tertangkap pandangan. Bangunan megah bertingkat dua itu sudah menjadi bagian dalam hidupnya sebagai saksi bisu.


Di sana ia menyimpan berjuta kenangan menyakitkan yang pernah dilewatinya delapan tahun lalu. Peran ganda sebagai istri dan ibu serta madu bukanlah perkara mudah. Sejak menikah ia memang sudah menjadi yang kedua.


Selama setahun ia memendam rasa sakit mencintai suaminya seorang diri, tetapi setelah tujuh tahun berselang perasaan itu tidak bertepuk sebelah tangan lagi.


Waktu itu banyak gunjingan orang-orang yang mampir menggoreskan luka. Namun, semua itu sudah menjadi masa lalu. Sekarang yang ada hanyalah kebahagiaan terus menerus ia rasakan.


Di balik itu Alina merasa cemas dan menyadari jika kehidupan terus berputar. Ia takut, sungguh dirinya khawatir akan ada badai lagi yang menerjang rumah tangganya.


"Ya Allah, jika badai itu nanti tiba kuatkan hamba untuk melaluinya. Aku tidak akan pernah membiarkan nahkoda membiarkan kapal kami berlayar dalam guncangan hebat. Aku sebagai anak buah harus mendampinginya sebaik mungkin. Aku tidak ingin kehilangan keluarga lagi," racaunya seorang diri.


Waktu terus berlalu, Alina membersihkan ruangan satu dan ruangan yang lain dengan semangat. Peluh merembes di hijab hitamnya, ia bahagia bisa menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga.


Keletihan itu sebanding saat melihat senyum manis suami dan kedua anaknya berikan. Ia akan terus berusaha untuk tidak kehilangannya lagi.


Beberapa saat kemudian ia tiba di lantai dua, kamar utama yang berada di pojok lorong menghentikan langkahnya.


Pintu kayu jati bercat putih bersih tertangkap pandangan, kedua kakinya seolah berakar tidak bisa digerakan. Ruangan itu merupakan tempat paling bersejarah bagi sang suami dan istri pertamanya dulu.


Terlalu banyak kenangan yang menghasilkan air mata setiap kali ia menyaksikan adegan intim mereka. Namun, sudah lama sekali kamar itu terbengkalai, Azam mengatakan untuk membiarkannya saja.


Terlebih sang suami selalu mencegahnya agar tidak datang ke sana untuk melupakan kesakitan yang pernah ia torehkan.


Alina hanya bisa mengiyakan dan setuju atas apa yang dikatakan Azam. Ruangan itu biasanya dibersihkan oleh asisten rumah tangga yang setiap seminggu sekali datang.


Namun, sudah lama orang itu tidak disuruh untuk membersihkannya lagi. Rasa penasaran pun timbul, Alina mencoba memberanikan diri mendekatinya.


Hanya tinggal beberapa langkah lagi ia bisa membuka pintu, tetapi perasaan enggan menghinggapi. Ia berjalan mundur lagi kemudian menggelengkan kepala.


"Tidak, aku seharusnya mendengarkan apa kata suamiku. Hidup kita sudah baik-baik saja, jangan sampai aku merusaknya dengan mengingat masa lalu. Baiklah, lupakan saja membersihkan ruangan mendiang mbak Yasmin," tuturnya gamang.

__ADS_1


Setelah berkutat bersama pikirannya, Alina pun kembali ke lantai satu menyiapkan makan siang. Raut kesenangan hadir lagi kala mengingat reaksi anak-anaknya saat pulang nanti.  


__ADS_2