Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 21


__ADS_3

Cinta datang pada siapa yang dikehendakinya. Terkadang mengandung kepedihan, luka dan air mata. Namun, tak jarang memberikan kebahagiaan. Saat luka yang datang hanya air mata sebagai bentuk pelarian. Tidak ada yang salah dengan sebuah perasaan, tapi terkadang ia hadir tanpa persiapan.


Di taman rumah sakit Alina tengah duduk berdampingan dengan salah satu dokter di sana. Awan kelabu menghilang berganti senja yang datang. Semburat orange memancar melebur di atas langit memperlihatkan lukisan Tuhan yang sangat indah.


Diam-diam Alina meremat perutnya pelan lalu mengusapnya perlahan. Kram datang mengejutkannya setelah kejadian tadi. Mungkin karena terkejut bayi dalam kandungannya ikut berdampak.


"Apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya?" tanya Alina langsung kala pria itu belum mengatakan apapun setelah membawanya.


Angga menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Objek perhatiannya tidak lepas dari dedaunan hijau di depan. Bayangan masa lalu berputar cepat membuatnya bernostalgia. Sekilas ia melihat ke arah Alina yang tengah melakukan hal sama. Butuh keberanian lebih baginya untuk mengatakan hal tersebut. Ia tahu jika wanita yang kini duduk di sampingnya adalah istri kedua dari Azam. Pria yang sudah bertahun-tahun menjadi sahabat karibnya.


"Aku Angga, sahabat Azam dan Yasmin. Aku tidak menyalahkanmu dalam keadaan ini. Justru aku ingin berterima kasih, karena sudah membantu mereka. Azam dan Yasmin adalah sahabat baikku. Mereka sudah kuanggap seperti saudara sendiri. Azam sangat mencintai Yasmin, diawal pertemuan pertama mereka aku sudah tahu jika pria itu jatuh hati dalam pandangan pertama. Aku tidak percaya jika perasaan bisa datang begitu cepat. Namun, seiring berjalannya waktu perasaan Azam semakin meningkat setelah tahu keluarga keduanya saling bekerja sama. Dari sana Azam langsung melamar Yasmin tanpa pandang bulu, meskipun mereka masih menempuh pendidikan S1. Aku tahu bagaimana besar rasa cinta Azam terhadap Yasmin. Tetapi-" ada jeda sejenak, Angga mentralkan degup jantungnya yang tiba-tiba saja berdenyut. Kenanagan hari-hari itu membuatnya sadar jika sesuatu tengah terjadi pada sahabatnya.


Ia tidak tahu apa yang dirasakan Azam sebenarnya. "Tanpa ia sadari terkadang memperlakukan Yasmin seperti orang lain. Pergerakannya memang samar dan Yasmin tidak menyadarinya, tapi aku tahu. Sejak berumur 15 tahun aku sudah berteman akrab dengannya. Aku bisa memahami karakter Azam seperti apa. Namun, yang jelas Azam sangat mencintai Yamsin."


Kata cinta yang berkali-kali terlontar membekukan Alina. Kedua tangan ramping terangkat lalu memeluk perutnya yang sedikit membuncit. Ia melindungi sang buah hati dari perasaan sesak dalam dada. Ada sesuatu dalam pikirannya yang mengatakan, "bisa saja kejadian kemarin hanya sebuah kecelakaan. Kehamilan tidak akan membuat Azam berubah."


Hormon kehamilan memberikan efek psikologis yang berubah cepat. Alina menekan jari-jarinya berusaha menghilangkan rasa sakit. Ia menyadari jika bagaimana pun juga sosok Yasmin tidak bisa digantikan. Termasuk oleh dirinya.

__ADS_1


Alina menunduk melihat tonjolan kecil di perut bagian bawahnya. Di sana terdapat kehidupan baru yang tengah berkembang. Sesekali gerakan kecil menggetarkan hati. Sebagai calon seorang ibu Alina sangat bahagia bisa merasakan hal tersebut.


Namun, fakta mengatakan jika kenangan indah hari-hari kemarin hanya terjadi sekejap mata. Kebahagiaan semu yang terjadi memberikan ilusi tak bertepi. Kesenangan sementara mengantarkan muara imajinasi kebohongan.


Kebaikan dan juga perhatian yang diberikan Azam mengundang lara baru. Alina terdiam mencerna baik-baik perkataan Angga. Ada luka tak kasat mata berusaha muncul dalam relung hati terdalam Alina, bagaimana kenyataan menamparnya begitu kuat.


"Aku tahu. Aku sangat tahu, tanpa kamu memberitahu. Hanya dengan sekali lihat mereka sangat mencintai. Bahkan tidak ada ruang sedikit pun untuk orang lain."


Jawaban Alina membuat Angga menoleh. Terdapat jejak ketakutan dan juga luka terlukis jelas dalam sorot jelaganya. Alina berusaha tegar dan memperlihatkan jika dirinya baik-baik saja.


"Aku tidak bermaksud untuk memprovokasimu atau apapun. Aku hanya tidak ingin membuatmu terluka terlalu dalam. Aku tahu Yasmin-" Angga kembali menjeda kalimatnya. "Yang menyuruhmu menikah dengan Azam, kan? Lalu sekarang kamu sedang mengandung anaknya?"


Tanpa terasa air mata menetes dengan cepat mencengangkan pria itu.


"A-aku su-sungguh minta maaf. A-aku tidak bermaksud untuk menyakitimu."


Dengan kasar Alina mengusap jejak cairan bening di kedua pipinya dan berusaha menyunggingkan senyum, meskipun terasa pahit.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, kamu tidak bersalah. Semua yang kamu katakan benar adanya. Terima kasih sudah memberitahuku. Sekarang aku sadar dengan posisiku."


Setelah mengatakan itu Alina bangkit dari duduk tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi. Bersama angin sore yang berhembus menerbangkan hijab lebarnya. Bahu kecil itu berusaha menopang berat lagi. Alina hanya bisa mengubur perasaannya dengan situasi yang terjadi.


"Seharusnya aku tahu jika mas Azam tidak pernah benar-benar mencintaiku. Dia melakukannya sebagai tanggung jawab sebagai seorang suami. Apa yang aku harapkan dari pernikahan ini?" Benak Alina dan kembali menunduk pada perutnya. "Sayang, bisakah kita bertahan? Mamah akan berjuang sekuat tenaga untuk kebahagiaan kita."


Hanya malaikat kecilnya yang mampu menghibur perasaannya saat ini. "Allah tidak pernah salah dalam memberikan ujian. Aku harus percaya jika di balik ini Allah tengah menyiapkan sesuatu yang terbaik. Aku yakin!!" lanjutnya lagi.


Sedangkan di belakang punggungnya, Angga terus memperhatikan Alina lalu mengusap wajahnya gusar. Ia tidak menyangka jika pernikahan sang sahabat yang sudah dibinanya selama hampir 4 tahun dihadiri oleh orang lain.


Ia juga tidak menyangka jika sekarang istri kedua dari Azam tengah mengandung benihnya. Ia yakin jika orang yang paliang dicintai Azam hanyalah Yasmin.


"Kehadiran wanita itu bukan tanpa alasan. Takdir yang Allah skenariokan memang sunguh luar biasa. Entah kenapa firasatku mengatakan jika istri kedua Azam, adalah orang yang selama ini-" Angga menggantung kalimatnya dan bersandar pada bangku taman dan mendongak melihat ke atas.


Langit perlahan berubah warna. Kegelapan mulai datang dan menelan awan kelabu yang setia menemani. Sesekali angin datang menerpa menyapu wajah mulusnya. Angga tidak menyangka akan menjadi bagian dalam perjalanan rumit pernikahan sahabatnya.


"Aku hanya bisa berharap ada kebaikan untuk mereka bertiga," gumamnya penuh harap.

__ADS_1


Takdir akan datang pada pemilik ceritanya masing-masing. Episode demi episode yang terus berjalan pasti akan memberikan akhir. Entah itu menyenangkan atau tidak, semua sudah menjadi ketentuan Allah. Ketetapan-Nya dan juga pilihan-Nya itu yang terbaik. Tidak ada yang salah dengan luka yang datang. Karena setelahnya pasti ada senyum kebahagiaan.


Hanya bisa bersabar dan serahkan semuanya pada Yang Di Atas. Karena Allah tahu apa yang terbaik. Kisah akan terus berlanjut bagaimana pun keadaannya. Suratan takdir akan menghubungkan pada jalan yang sudah ditentukan. Jalani dan ikuti ke mana arus akan membawa. Sampai tiba pada pelabuhan dan titik akhir perjalanan.


__ADS_2