
Untuk kesekian kali asha membentang membentuk sebuah harapan baru. Kesakitan tertinggal menjadi kisah klasik yang tidak usah diingat kembali.
Ucapkan selamat tinggal pada luka menganga sebagai pembelajaran berharga. Sedikit demi sedikit kepedihan yang membayang hilang berganti kesenangan.
Waktu terus berputar mengantarkan setiap takdir pada pemiliknya. Asam, manis, pahit kehidupan berganti sebagaimana jalan cerita.
Alina menjadi peran utama dalam kisah yang terus berlanjut. Peran ganda ia lakoni guna mendapatkan kebahagiaan, meskipun harus melalui jalan panjang.
Kini ia berhasil meraihnya kala berserah diri hanya kepada Allah semata.
"Em, istriku wangi sekali," bisik pasangan halal merengkuhnya dari belakang.
Alina yang tengah menyiapkan pakaian kerja menundukkan pandangan menyaksikan kedua lengan kekar melilit di perut ratanya.
Sudut bibirnya melengkung membentuk kurva dengan sempurna. Sembari menenteng jas tiga potongan berwarna hitam, Alina pun meremas lengan sang suami kuat.
"Mas bisa saja," balasnya malu-malu kala baru saja selesai mandi.
Zaidan menggeleng singkat dan semakin merengsek ke ceruk leher sang istri. Ia mengendusnya pelan dan memberikan kecupan ringan.
Bagaikan terkena sengatan listrik, Alina merasakan darahnya berdesir hebat ke seluruh tubuh. Kepala bersurai sebahu itu menoleh ke samping hingga pandangan mereka saling mengunci satu sama lain.
Zaidan mendekatkan wajah tampannya pada Alina membuat kelopak mata itu menutup perlahan. Penyatuan pun terjadi melenakan pasangan suami istri tersebut dalam momen memabukkan.
Beberapa saat kemudian, mereka mengakhiri kegiatannya. Senyum merekah lebar menyelami keindahan bola mata masing-masing.
"Tiga tahun kita bersama, rasa cinta ini tidak pernah pudar di hatiku. Setiap hari, setiap waktu, hanya ada namamu di sini." Zaidan meraih tangan Alina, meletakkannya tepat di dada sebelah kiri.
Alina yang sudah sepenuhnya berhadapan dengan sang suami terperangah. Ia mendongak menyaksikan keseriusan serta keyakinan di balik sorot mata hangat serta merasakan degup jantung itu.
"Boleh aku bertanya?" tanya Alina kemudian.
"Tentu, Sayang," balas Zaidan sembari mengusap pelipis istrinya lembut.
"Sejak kapan Mas jatuh cinta padaku?"
Pertanyaan tersebut membekukan diri. Zaidan mengulas senyum hampa kala teringat saat pertama kali merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Alina menautkan kedua alis menyadari air mukanya berubah.
__ADS_1
"Apa aku sudah salah bertanya seperti itu?" tanyanya lagi.
Zaidan menggeleng beberapa kali. "Tentu saja tidak, Sayang. Sebenarnya aku malu mengatakan ini padamu."
"Kenapa?"
"Karena ... aku sudah jatuh cinta pada saat kamu masih berstatus sebagai istri orang," ungkap Zaidan jujur.
Alina terbelalak, bola matanya bergetar mendengar pengakuan sang pria. Ia tidak menyangka jika saat itu ada seseorang yang tengah mengaguminya dalam diam.
Ia yang masih terlalu mencintai Azam tidak pernah membuka mata untuk pria lain. Baginya sang suami adalah pelabuhan terakhir, meskipun di balik itu semua ada luka teramat dalam.
"Ba-bagaimana bisa?" cicit Alina terkejut.
Zaidan kembali menghela napas pelan dan menangkup wajah cantik Alina.
"Aku sungguh terpesona akan kharismatik yang kamu perlihatkan. Aura sebagai wanita pejuang tangguh begitu menyebar membuatku tidak bisa melepaskan pandangan."
"Kamu ingat saat pertama kali kita bertemu di perusahaan Azam? Sejak itulah perhatianku langsung tertuju padamu," aku Zaidan lagi.
Alina semakin tidak percaya. Perjuangannya sebagai seorang istri yang menginginkan keadilan telah membuat seseorang jatuh hati.
"Tetapi, waktu itu aku sadar jika kita tidak mungkin bersama. Karena kamu adalah istri orang lain, terlebih pasangan dari kolegaku sendiri. Aku hanya bisa memendam perasaan ini dan berusaha untuk melupakannya," lanjut Zaidan lagi.
Namun, jauh sebelum ketuk palu dilakukan Zaidan sudah memendam perasaan yang seharusnya tidak ada.
"Bagaimana mungkin?" cicit Alina lagi sembari menundukkan pandangan.
Zaidan pun tidak mengizinkan dan mengangkat kepalanya lagi.
"Itu mungkin saja. Karena inilah yang sebenarnya terjadi padaku. Waktu itu aku berpikir mungkin ini memang takdir yang harus aku jalani."
"Karena selama bertahun-tahun aku tidak pernah merasakan apa itu cinta. Ayah dan ibu selalu saja menjodohkanku dengan seseorang yang tidak ada satupun menarik perhatian. Namun, saat bertemu denganmu aku malah merasakan cinta dalam diam."
"Tidak apa aku hanya bisa memendamnya sendirian dan berharap kamu bisa bahagia bersamanya. Aku hanya orang ketiga yang tidak punya kesempatan untuk meraih mu. Namun, pada saat mengetahui kamu pergi meninggalkan Azam, perasaan ini terus tumbuh dan semakin ingin melindungi mu."
"Mengetahui jika kamu menjadi korban keegoisan seorang pria, aku ingin mengobati luka hatimu ... dan membahagiakanmu, tetapi, saat kamu menolak ku dan trauma akan sebuah hubungan lagi hal itu juga membuat duniaku hancur. Aku-"
Celotehan Zaidan seketika terhenti kala Alina melemparkan diri ke pelukan sang suami. Bibir menawan itu terbuka merasakan basah di dada sebelah kiri.
__ADS_1
Alina menangis dalam diam sembari meremas jas kerja Zaidan di belakang punggungnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata ia terus mengutarakan perasaan lewat liquid bening yang mengalir tiada henti.
Zaidan mengangkat kedua tangan dan membalas pelukan Alina. Ia pun tersenyum haru merasakan tubuh istrinya bergetar.
"Jangan menangis, Sayang. Aku tidak ingin melihatmu mengeluarkan air mata," bisik Zaidan menyembunyikan wajah berserinya di bahu sempit itu.
Alina mengangguk, tetapi masih mengalirkan air mata. Ia tidak bisa menghentikannya setelah tahu bagaimana kisah tersembunyi sang suami dalam mencintainya.
"Sayang." Panggil Zaidan mengelus punggungnya pelan.
"A-aku minta maaf. Aku tidak bisa menghentikannya," kata Alina, suaranya teredam di dada bidang Zaidan.
Sang empunya kembali mengulas senyum hangat. "Tidak apa-apa kalau begitu, menangis saja sampai perasaanmu membaik."
"Aku menangis ... karena aku sangat bahagia. Mas benar-benar licik," katanya lagi.
"Eh? Kenapa?" tanya Zaidan bingung.
"Iya, Mas licik sudah mencintaiku sedalam itu. Aku takut tidak bisa membalas perasaanmu sebanyak ini," ungkapnya.
Zaidan melepaskan pelukan dan kembali menangkup wajah berair di hadapannya. Ia pun menghapus kristal bening itu lembut dan membubuhkan kecupan hangat di kedua mata Alina.
"Kamu sudah membalasnya pada saat menerima lamaranku dan ... sampai sekarang menjadi istriku," kata Zaidan sangat romantis.
Alina lagi-lagi tidak bisa membendung air mata haru. Bulir demi bulir liquid bening itu meluncur tak tertahankan.
Ia menangis lagi dan lagi membuat Zaidan melebarkan senyum. Ia merunduk menyamakan tingginya dengan sang istri.
Tatapan hangat nan lembut tertangkap pandangan, Alina tidak bisa berhenti mengucap syukur atas segala kenikmatan yang diberikan Allah padanya.
Allah menghadirkan Zaidan sebagai imam pelengkap dalam hidup yang selalu membimbingnya kepada jalan kebenaran.
Di balik rasa sakit yang selama delapan tahun dirinya hadapi itu juga, Allah memberikan balasan luar biasa.
Kejutan demi kejutan yang Allah hadirkan mampu melupakan jika rasa sakit itu pernah tumbuh. Skenario-Nya benar-benar indah bagi setiap hamba.
"Jangan menangis lagi, Sayang," kata Zaidan sembari terus mengusap air mata sang pujaan.
Alina semakin terisak seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Ia pun mencengkram pergelangan tangan sang suami menyalurkan kebahagiaan yang tidak bisa dibendung.
__ADS_1
Zaidan terkekeh pelan, merasakan kebahagiaan tiada tara. Kini perasannya sudah terbalas dan wanita yang dicintanya sudah menjadi milik ia sepenuhnya.
...Bersambung......