
Azam masih diam mencerna baik-baik perkataan terlontar dari Jasmin Zakkiyah. Dadanya berdebar kuat merasakan yang dulu pernah hilang kini kembali lagi. Kenyatan saling berbenturan dengan fakta mencengangkan, jika wanita yang ia nikahi bukanlah sosok sebenarnya.
"Jadi, kamu ingin mengatakan jika Yasmin yang sebenarnya adalah Yasmin Fauziah? Wanita yang dulu aku temui pertama kali?" tanya Azam masih menundukan kepala.
Jasmin mengangguk pelan sambil menyunggingkan senyum menoleh pada pria di sebelahnya. "Itu benar, wanita yang dulu Mas temui adalah kakak kembarku, Yasmin Fauziyah."
Seketika itu juga Azam mengangkat kepalanya kembali. Tangan tegapnya bergetar dan terulur mencapai jari jemari Jasmin yang berada dalam pangkuan.
Kehangatan menjalar mengenai dinding perasaan yang terus bergejolak. Bulir demi bulir liquid bening mengalir tak tertahankan. Ia tidak menduga begitu banyak permaianan hinggap ke dalam kehidupan. Bertahun-tahun lamanya Azam menyimpan cinta begitu besar pada sang istri yang tidak diketahui jati dirinya.
"Aku minta maaf, tapi ... aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak peduli kamu Yasmin atau Jasmin ... aku hanya mencintaimu," akunya bersama linangan air mata.
Jasmin terdiam beberapa saat menatap ke dalam iris cokelat kelam sang suami. "Jujur, aku masih sangat mencintaimu, Mas ... tetapi, aku tidak bisa terus menerus menyakiti perasaan kakakku sendiri. Dan ... aku juga tidak ingin melihat Alina terus terluka. Dia ... dia benar-benar mencintaimu dengan tulus."
Mendengar kata-kata tersebut membuat pertahanan Azam roboh seketika. Bahu tegap itu bergetar hebat kala mendengar nama sang istri kedua disebut. Hatinya seperti terkoyak dan dirobek oleh belati berkali-kali.
Rasa sakit itu terus menerus menghajarnya tanpa ampun, ia menyadari jika selama ini Alina menjadi satu-satunya orang yang setia mendampingnya.
Namun, selama pernikahan berlangsung ia terus menerus menyakitinya, dalam dan lebih dalam lagi. Sampai Alina memberikan surat perpisahan dan pergi entah ke mana.
Penyasalan itu datang dan ia tidak bisa mengulur kembali waktu untuk memperbaiki keadaan. Ia hanya akan menanggung semua resiko yang pernah diperbuatnya. Baik dan buruk Azam sudah siap untuk itu semua.
"Alina wanita yang sangat tulus. Dia mencintai dan menyayangimu tanpa pamrih. Aku sangat menyayangkan jika dia ingin berpisah darimu, tetapi Alina berhak bahagia. Dia tidak harus terus-terusan berada di samping orang yang dibayang-bayangi masa lalu," ungkap Jasmin tepat mengenai ulu hati.
Azam tertohok panah tak kasat mata memberikan luka menganga dalam jiwa. Begitu besar dan banyak pengorbanan yang Alina berikan selama ini. Cintanya yang begitu tulus ia balas dengan dusta, kasih sayangnya yang ikhlas ia berikan rasa sakit.
Azam menangis dan mencoba meredam isakannya.
__ADS_1
"Bahkan di hari-hari terakhirnya ia masih memikirkan kebahagiaanmu. Seminggu yang lalu Alina datang menemuiku dan menceritakan semuanya. Aku tahu masih ada cinta yang begitu besar dalam matanya untukmu, Mas, tetapi ... aku juga mengerti jika Alina tidak ingin membebanimu lebih jauh. Dia-"
Belum sempat Jasmin menyelesaikan ucapannya, Azam tiba-tiba langsung berdiri dan pergi begitu saja dari sana.
Jasmin melihat sosoknya menghilang dalam pandangan seraya tersenyum lebar. "Mungkin sangat terlambat, tapi aku tahu ada tempat di hatimu untuk Alina."
...***...
Azam memacu kendaraan roda empatnya dengan kencang. Tidak peduli sumpah serapah yang ia dapatkan dari beberapa pengendara lain, ia tidak memelankan laju mobil mewahnya.
Dadanya terus naik turun hendak kembali ke ibu kota, hanya satu tujuannya saat ini, yaitu Alina. Ia sadar jika sang istri sudah banyak mengorbankan semuanya untuk melihat ia bahagia.
Azam terlalu terlena dengan kehilangan masa lalu dan mengabaikan masa depan. Ia sangat bodoh dan bebal terus dibayang-bayangi cinta pada sosok istri yang tidak pernah diketahui kebenarannya.
Tidak lama berselang ia tiba di rumah dan memarkirkan mobil sembarangan. Buru-buru ia masuk dan berhenti tepat di ruang keluarga dengan napas teregah-engah.
Kosong, tidak ada siapa pun yang tertangkap pandangan. Azam melanjutkan aksinya membuka lemari pakaian dan semuanya sudah menghilang.
Bola matanya bergetar dengan bibir menganga sempurna. Kata pergi yang ditegaskan dalam secarik kertas kembali teringat yang seketika membuatnya melemah.
"Ja-jadi kamu benar-benar pergi meninggalkanku, Alina? Kenapa? Kenapa kamu meninggalkanku? Aku minta maaf, sudah sangat menyakitimi. Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf." Kata maaf terus tercetus dari celah bibir pucatnya.
Tubuh tegapnya perlahan merosot jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin. Kehampan serta kesepian itu menyapa kuat. Kehangatan yang dulu ia rasakan di sana menghilang bak diterpa badai, Azam mengakui kesalahannya dan menyesali semuanya.
Jam sudah menunjukan pukul setengah tiga sore. Azam berjalan lunglai menuju lantai satu dan mendapati sang putri kembali.
Ia menyunggingkan senyum lemah dan mendekati Aqeela yang terus menatapnya dalam diam. Di saat ia hendak merengkuh tubuh kecilnya, sang buah hati langsung menepis kedua tangan ayahnya begitu saja.
__ADS_1
Azam melebarkan mata sekilas terkejut dengan tindakan Aqeela.
"Kenapa? Kenapa Ayah membiarkan mamah pergi? KENAPA?" teriaknya menyadarkan.
Azam seketika berjongkok di depannya dan langsung memeluk Aqeela. Ia kembali menangis membuat sang anak tertegun.
"Ayah minta maaf ... Ayah sudah membuat mamah dan Raihan pergi dari sini. Ayah benar-benar minta maaf," tuturnya lirih.
Aqeela melebarkan pandangan tidak percaya dan berusaha melepaskan rengkuhan sang ayah. Namun, Azam semakin mengeratkannya mencoba melepaskan rasa sesak.
"Kenapa? Kenapa mamah meninggalkan kita?" tanya Aqeela menahan tangis.
Beberapa saat Azam terdiam dan melepaskan pelukan lalu menangkup wajah Aqeela yang begitu mirip dengan ibunya.
"Ayah ... sudah menyakiti mamah. Mamah Alina sangat menyayangimu, Sayang. Mamah benar-benar tulus menyayangimu seperti anaknya sendiri. Bahkan dia tidak pernah membeda-bedakanmu dengan Raihan. Di sini Ayah yang salah ... Ayah memberikan luka di hati mamah sampai membuatnya pergi dari kehidupan kita. Ayah minta maaf, Sayang," ungkap Azam jujur.
Aqeela kembali melebarkan manik jelaganya sempurna, tidak menyangka mendengar kata-kata sang ayah. Ia lalu memutar ingatannya lagi di saat dirinya dihasut oleh Yasmin mengenai Alina.
"Aku benci Ayah," ujarnya lalu mendorong dada Azam hingga sang empunya terjengkang ke belakang.
Aqeela lari sekuat tenaga menuju kamarnya berada dan menangis kencang setelah mengetahui perbuatan yang dilakukan sang ayah.
Azam hanya bisa terdiam dan terus menangis. Kepalanya menoleh ke samping kiri di sana terpampang jelas foto keluarganya.
Alina dan Raihan tersenyum manis ke arah kamera yang membuat ia sakit tak tertahankan.
"Waktu itu kalian sangat antusias untuk mengambil foto keluarga. Aku minta maaf, Alina ... Ayah minta maaf Raihan. Sudah menjadi suami dan ayah yang buruk untuk kalian. Aku menyesal," tuturnya bersama keheningan menyambut, lagi dan lagi.
__ADS_1