Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 134 (Season 3)


__ADS_3

Di tengah keseriuan menikmati makan siang bersama, kedatangan nyonya besar mengejutkan mereka. Kelima maid yang ikut duduk di meja itu langsung beranjak dan gugup seketika.


Melihat hal tersebut Alina tersenyum dan ikut beranjak dari duduk lalu menyambut sang tamu. "Mamah? Mamah datang kenapa tidak memberitahuku dulu?"


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Moana memandangi para asisten rumah tangga.


"Oh, kami sedang makan siang bersama. Kalau tahu Mamah datang aku akan menyiapkan makanan lebih," balas Alina tenang.


"Ka-kamu makan bersama mereka?" tunjuk Moana.


Kelima wanita berpakaian pelayan itu menunduk dalam, takut sudah berbuat lancang dengan makan bersama majikannya.


"Iya, memangnya ada masalah Mah? Oh yah, apa Mamah sudah makan? Biar aku siapkan," kata Alina lagi.


"Ah, tidak. Mamah sudah makan tadi. Mamah datang ke sini ingin bertemu cucu Mamah. Hai, Sayang." Moana heboh sendiri dan mengecup pipi Raihan hangat.


"Nenek? Raihan sedang makan," oceh bocah delapan tahun tersebut.


"Em, apa Raihan tidak merindukan Nenek? Nenek sudah membelikan mainan loh untuk Raihan." Moana memperlihatkan paper bag dikedua tangannya.


"Wah, benarkah? Asyik, terima kasih Nek." Seketika Raihan lupa dengan kegiatannya.


Melihat itu Alina tersenyum senang, ibu mertuanya benar-benar memperlakukan Raihan seperti cucu kandungnya sendiri.


Ia lalu menoleh pada kelima pekerjanya dan berjalan mendekat. "Kalian tidak usah takut. Sudah selesaikan makannya? Ayo bereskan," ajaknya.


Mereka mengangguk dan buru-buru membereskan meja makan. Diam-diam Moana memperhatikan sang menantu dan para pekerjanya tersebut.


"Sungguh pemandangan yang sangat asing," benaknya.


...***...


Malam menjelang, sang kepala keluarga tiba dari segala kepenatan yang melandanya seharian. Selesai memarkirkan mobil di garasi, Zaidan bergegas masuk ke dalam.


Suara tawa di ruang keluarga menarik atensinya untuk mendekat. Ia melihat istri, anak, dan ibunya tengah bermain bersama.

__ADS_1


kehangatan mereka sampai ke relung hati menimbulkan kurva melengkung indah di wajah tampannya.


"Assalamu'alaikum, Ayah pulang," ucapnya menghentikan kegiatan mereka bertiga.


"Wa'alaikumsalam," balas mereka bersamaan.


"Yyyee, Ayah sudah pulang." Dengan riang Raihan berlari menerjang kedua kaki jenjang sang ayah. Alina dan Moana pun mendekat menyambut kepulangan Zaidan.


"Mas." Alina menyalami tangan suaminya singkat.


"Mamah ada di sini?" tanya Zaidan mengalihkan pandangan pada sang ibu lalu mengecup punggung tangannya.


"Mamah dari siang di sini menemani Raihan bermain," jelasnya.


"Ah, kalau begitu aku siapkan makan malam dulu."


Alina pun melenggang pergi dari sana dan Zaidan bergegas membersihkan diri, sedangkan Moana kembali menemani Raihan bermain.


...***...


Tidak lama berselang, Zaidan, Moana, dan Raihan sudah duduk bersama di meja makan menunggu makan malam. Dua orang dewasa itu sangat menikmati mendengar ocehan demi ocehan yang dilayangkan bocah delapan tahun tersebut.


Di saat Raihan asyik bersama dunianya sendiri, Moana mencondongkan tubuh mendekat pada sang anak. Nyonya besar itu berbisik tepat di samping daun telinga Zaidan.


"Kamu tahu ... tadi siang istrimu makan bersama pelayan di meja ini. Bukankah itu pemandangan yang tidak biasa?" katanya.


Zaidan mengerutkan dahi sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang menatap lekat sang ibu. "Benarkah?" tanyanya kemudian.


Moana mengangguk menimpalinya dan seketika senyum mengembang di wajah tampan Zaidan. Ia kemudian menopang dagu di atas meja sambil memerhatikan istrinya yang masih berkutat dengan kompor.


"Mamah tahu ... apa yang membuatku jatuh cinta padanya?"


"Hah? Apa maksudmu?"


"Kesederhanaan. Dia begitu sederhana dan tidak menyombongkan apa yang dimilikinya. Aku kagum atas sikapnya yang begitu rendah hati. Selama ini aku tidak pernah berinteraksi dengan pelayan lain, selain Dimas dan ayahnya saja."

__ADS_1


"Namun, setelah menikah dengan Alina aku sadar jika ... manusia itu sama di mata Allah, yang membedakan hanya ... amal perbuatan kita. Aku tahu ... aku mungkin tidak lebih baik dari mereka."


"Kita memang punya segalanya, Mah. Harta, kekayaan, dan juga apa pun yang diinginkan pasti mudah untuk di dapatkan, tetapi ... iman? Selama ini aku sudah kehilangan itu. Padahal para pelayan di rumah kita waktu itu sangat mementingkan ibadah mereka. Namun, kita sebagai pemiliknya begitu acuh dan melupakan apa yang sudah Allah berikan."


"Rasa syukur itu tidak pernah kita dapatkan, Mah."


Zaidan kembali memandangi Moana yang terdiam mengunci mulutnya rapat. Kurva melengkung indah di bibir menawan sang tuan muda.


Zaidan menggenggam hangat tangan ibunya seraya terus menatapnya. "Mah, aku sangat bersykur bisa bertemu dengan Alina dan bisa mempersuntingnya. Mamah tahu ... selama satu bulan ini Alina selalu mengajarkanku untuk bersedekah. Setiap hari jum'at kami selalu menyempatkan mengunjungi panti asuhan dan memberikan sedikit rezeki pada mereka."


Untuk kesekian kalinya Moana tercengang, kepala bersurai hitamnya perlahan menoleh mendapati wajah berseri putra semata wayangnya.


Baru kali ini ia menyaksikan kebahagiaan yang begitu tulus nan hangat terpancar dari kedua matanya. Ia lalu menatap lurus ke depan di mana Alina masih sibuk dengan tugasnya.


"Bukan dari mana dia berasal, tetapi ... dari mana kebaikan itu berada. Aku sangat bersyukur sekali bisa mendapatkannya," kata Zaidan lagi mengungkapkan perasaan terdalam.


Moana masih betah diam mencerna baik-baik perkataan Zaidan barusan. Ia sadar jika selama ini sudah membesarkan sang anak dengan limpahan harta yang begitu banyak.


Meskipun demikian, ilmu agama yang ia anut jarang diterapkan. Ia maupun sang suami begitu terlena dengan kelimpahan harta yang Allah berikan.


Namun, pada sang pemilik kehidupan ia abai dan hampir melupakan. Seketika air mata mengalir membuat Alina yang baru saja meletakan masakannya di meja terkejut.


"Mamah? Kenapa Mamah menangis? Mas, apa yang sudah Mas lakukan? Ya Allah, Mamah." Alina panik dan buru-buru mendekati mertuanya.


Tanpa ia duga Moana beranjak dari duduk dan memeluknya begitu erat. Ia menangis di balik punggung Alina dengan isak tangis teredam.


"Ma-Mamah?" Panggilnya pelan.


"Terima kasih, Alina. Terima kasih." Hanya kata terima kasih yang terus tercetus di balik bibir semerah cerynya.


Alina yang tidak mengerti pun hanya bisa menautkan dahi tidak mengerti. Ia memandangi sang suami yang masih duduk di kursinya dengan tatapan menuntut penjelasan.


Zaidan menggeleng beberapa kali dan mengambil buah anggur di meja lalu memakannya begitu saja.


"Apa yang sebanarnya terjadi? Kenapa Mamah menangis? Apa yang sudah mereka berdua bicarakan tadi? Mas Zaidan tidak mengatakan apa pun, lagi ... kenapa Mamah mengucapkan terima kasih padaku? Aku tidak melakukan apa-apa untuk mendapatkan kata-kata itu, tapi ... pelukan Mamah sangat hangat," monolog Alina dalam benak lalu membalas pelukan Moana tak kalah erat.

__ADS_1


Ia menutup mata menikmati sentuhan lembut dari seorang ibu. Ia merasa benar-benar tengah bersama ibu kandungnya.


...Bersambung......


__ADS_2