Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 49


__ADS_3

Keheningan menjadi teman setia pertemuan suami istri tersebut. Keristal bening menemani kebersamaan yang tengah meluapkan pengap dalam dada. Tidak ada kata yang terucap hanya sorot mata saling berbicara.


Alina sakit kala melihat penampilan sang suami yang kini jauh dari kesan rapih. Rambut acak-acakan, kemeja kusut, serta janggut dan kumis tipis bermunculan. Ia tidak tahu jika kepergian Yasmin memporakporandakan dunia Azam begitu parah. Namun, ia hanya bisa maklum sebab tidak mudah menerima kepergian orang yang dicintai.


"Alina," panggil Azam begitu saja.


Ia lalu berjalan tertatih-tatih mendekati sang istri, sampai mereka pun berdiri berhadapan dengan jarak tipis di antara keduanya. Alina mendongak memperhatikan wajah sembabnya, tangan kanan pun terulur menangkup hangat pipi sang suami. Azam lalu menggenggam jari jemarinya kuat dan membawanya ke depan memberikan kecupan ringan di sana. Kedua mata menutup menghirup aroma yang menguar di sela-sela tangan Alina.


"Apa Mas baik-baik saja?" tanya Alina kemudian.


Kelopak matanya pun terbuka menampilkan kesepian mendalam. Azam tidak bisa menjawab sepatah kata hanya air mata yang berbicara. Alina mengerti dan menghapusnya pelan lalu menunduk melihat buah hati mereka yang tengah tertidur lelap.


"Anak kita, bukankah dia sangat mirip denganmu, Mas? Apa Mas sudah mengazani dia? Apa Mas sudah memberinya nama?" tanya Alina beruntun.


Azam berusaha menguasai diri untuk mengontol emosi. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan lalu mengusap malaikat kecilnya dengan sayang. "Aku sudah mengazani dia saat kamu tidak sadarkan diri." Mengatakan itu sama seperti membuka luka lama. Tangisannya pun kembali pecah, kedua bahu tegap itu bergetar kuat menahan gejolak dalam dada.


Alina langsung memeluknya dan mengusap punggungnya pelan. "Mas, jangan khawatir. Aku yakin di sana mbak Yasmin sudah tenang. Mas tahu, Allah sangat menyayangi mbak Yasmin, itu sebabnya Allah memanggilnya dengan cepat. Di sana mbak Yasmin sudah tidak merasakan sakit lagi, kita do'akan supaya almarhumah di tempatkan di sisi-Nya yang terbaik," ucapnya dengan cairan bening menitik tak tertahankan, ia menghapusnya cepat dan berusaha kuat.


Azam hanya mengangguk-anggukan kepala dan membalas pelukannya. Ia menangis lagi dan lagi tanpa mengatakan apa pun. "Jangan sedih, ada aku di sini. Mas jangan pernah berpikir jika semua orang meninggalkanmu. Tidak Mas, di sini ada aku, anak kita dan Aqeela. Dia harta terindah yang Allah titipkan pada kalian lewat mbak Yasmin. Dia amanah yang harus kita jaga sebaik-baiknya, apa Mas mau membesarkannya bersamaku?"

__ADS_1


Azam mematung dengan kedua mata kembali melebar. Ia pun melepaskan pelukan mereka dan menangkup kedua bahu Alina. Irisnya memandangi netra sang istri dengan dalam, tidak ada kebohongan ataupun keraguan di sana.


"A-apa kamu yakin dengan ucapanmu itu?"


Alina mengangguk cepat. "Sayang, aku sangat mencintaimu. Apa kamu sekarang sudah baik-baik saja? Alhamdulillah kamu sudah sadar dan bisa ada di sini, aku minta maaf tidak bisa menemanimu lagi. Aku pikir ... aku akan kehilangan kalian berdua."


"Syut, Allah masih memberikan kesempatan kedua, aku akan tetap di sini bersamamu dan putra, putri kita."


Senyum yang terpendar di bibir pucat Alina pun seketika menyejukan perasaan. Azam menangkup pipi sang istri hangat dan melabuhkan kecupan hangat diseluruh wajahnya. "Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih banyak," katanya lagi lalu kembali memeluk Alina.


Pemandangan tersebut mengundang bulan sabit melengkung di wajah tampan Angga. Ia termangu tidak jauh dari pasangan suami istri itu. Ia ikut merasakan keharuan dalam keluarga mereka, sebagai seseorang yang menjadi saksi perjalanan kisah sang sahabat, Angga berharap keduanya bisa mendapatkan kebahagiaan. Setelah mengantarkan Alina dengan aman ia pun pergi dari sana memberikan mereka privasi.


...***...


Tidak ada siapa pun lagi selain mereka bertiga. Alina menoleh melihat sang suami dengan wajah pucatnya tersenyum tulus memandangi buah hati mereka. Perasaan hangat pun seketika menyentak sanubari.


"Mas ... Mas mau menamai anak itu?" tanya Alina kemudian.


Azam menengok ke arah Alina seraya kedua manik terbuka lebar. Ia tidak percaya mendengar pertanyaan itu tercetus dari mulut istrinya. Seketika air mata mengalir tak tertahankan membuat Alina kelimpungan.

__ADS_1


"Ma-mas ada apa? A-apa ada yang sakit? Di mana ... di mana?" Alina mencengkram bahu sang suami kuat sambil memperhatikan tubuh tegapnya.


Azam mengusap cairan bening itu pelan dan menangkup pipi istrinya dengan sebelah tangan. "Aku tidak apa-apa, Sayang. Aku hanya ..."


"Iya?" Alina menatap lekat padanya lagi menunggu apa yang hendak dikatakan selanjutnya.


"Aku hanya ... hanya terharu. Bagaimana bisa kamu bertanya apa aku mau memberi nama anak ini. Aku malu Al ... aku sangat malu. Dulu aku sempat tidak mengakui dia sebagai darah dagingku. Bukankah aku ayah yang buruk?" ungkap Azam menundukan kepalanya dalam.


Lagi dan lagi Alina tersenyum lebar menyaksikan kerapuhan pasangannya. Ia ingat bagaimana hari itu Azam menuduhnya berhubungan dengan pria lain dan tidak mengakui anak yang sedang dikandungnya. Rasa sakit masih membayangi sampai saat ini, tetapi Alina mencoba ikhlas dan memaafkan semua kesalahan Azam. Karena bagaimanapun juga ia ayah biologis dari bayi yang sudah dilahirkannya.


Alina pun menggenggam tangan jari jemari panjangnya kuat. Sorot mata hangat dan lembut kembali menyambut manik kecoklatan Azam. Degup jantung pun bertalu kencang, ia baru menyadari jika sang istri begitu cantik dan menawan.


"Aku terlalu bodoh sudah menyia-nyiakan wanita sebagai kamu, Alina. Aku sangat menyesal dan ingin memperbaiki semuanya. Jika ada kesempatan kedua ak-"


Ucapannya terpotong cepat kala Alina membungkam mulutnya. Azam semakin melebarkan pandangan melihat istrinya begitu dekat. Kedua mata yang menutup pun mengalirkan keristal bening sebagai tanda kebahagiaan. Ia mengusapnya lembut dan perlahan tangan tegapnya terulur hingga ke pangkal belakang kepala Alina.


Ia menekannya sedikit kuat dan kelopak mata miliknya pun menutup. Penyatuan yang tengah terjadi seketika meleburkan perasaan. Cinta yang menggelora dalam dada tersampaikan pada diri masing-masing. Mentari yang tengah pulang ke peraduannya pun ikut tersenyum riang menjadi saksi keromantisan pasangan suami istri tersebut.


Sudah berbulan-bulan mereka tidak merasakan satu sama lain, kini kesempatan itu datang mengalirkan liquid bening yang tak berkesudahan. Bukan kepedihan yang dirasa, melainkan kelegaan. Pertahanan Alina runtuh kala menyaksikan betapa rapuh Azam sepeninggalan Yasmin.

__ADS_1


Ia berharap setelah ini tidak ada lagi kesakitan yang membayang. Ia ingin membangun keluarga utuh bersama Azam dan kedua anak mereka. Ia menginginkan istana hangat di mana di dalamnya terdapat harta paling berhara, yaitu keluarga.


Alina yang sudah lama tinggal di panti dan kehilangan orang tua menginginkan keluarga utuh. Ia bermimpi suatu saat bisa bertemu dengan belahan jiwanya dan membangun kebahagiaan bersama. Allah pun menyuguhkan cerita berbeda yang mana di dalamnya terdapat kejutan luar biasa. 


__ADS_2