
Harmoni kisah melantunkan simfoni syahdu dalam kehidupan menjadi lebih baik. Derai air mata akan pedihnya luka menyambut suka cita mendera.
Selepas perginya isak tangis kini giliran senyum kebahagiaan datang. Roda kehidupan terus berputar mengikuti masa yang sudah ditetapkan.
Tepat di pertengahan tahun mereka tidak sabar menunggu kehadiran malaikat kecil. Setiap malam ia terus menerima pertanyaan dari Dawas maupun kedua mertuanya mengenai kondisi kehamilan.
Alina selalu mengatakan jika dirinya dan sang jabang bayi dalam keadaan baik-baik saja. Hanya menunggu waktu kapan keluarga barunya lahir.
Di tengah malam, pasangan suami istri itu tengah mendekap satu sama lain dalam tidur. Tidak lama berselang Alina membuka mata saat merasakan perutnya berdenyut nyeri.
Keadaan itu semakin kuat hingga ia pun mengerang kesakitan. Hingga Alina berteriak kencang menyaksikan air ketubannya pecah.
"MAS, tolong aku!" ujarnya panik.
Zaidan yang masih terlelap pun terkejut dan langsung terbangun. Ia mengikuti arah pandang sang istri membuat kedua matanya membola sempurna.
"Sa-Sayang," panggilnya takut.
"Ba-bawa aku ke rumah sakit, sepertinya bayi akan lahir," ujar Alina.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Zaidan langsung menggendong istrinya ke luar kamar. Ia pun membawa serta Raihan dan diperjalanan menghubungi keluarga serta orang-orang terdekatnya.
Rumah sakit pusat ibu kota menjadi tempat singgah mereka. Sesampainya di sana Alina buru-buru masuk ke dalam ruangan menunggu pembukaan.
Alina terus merasa kesakitan saat mendapatkan kontraksi yang begitu kuat. Ia terus menggenggam tangan Zaidan berusaha melampiaskan kesakitan.
Melihat kondisi sang istri seperti itu Zaidan tidak sanggup membayangkan bagaimana rasanya. Ia hanya membiarkan Alina melakukan apa pun yang diinginkannya.
"Kamu pasti bisa, Sayang," ucap Zaidan lembut.
Beberapa saat kemudian ia keluar ruangan menyambut kedatangan keluarga serta para sahabatnya. Dengan wajah pucat pasi ia memandangi mereka satu persatu.
Melihat suami dari mantan istrinya seperti itu, Azam berjalan mendekat dan memberikan tepukan lembut di bahu.
"Tidak usah khawatir, semua akan baik-baik saja. Alina wanita yang kuat, dia bisa melaluinya," ungkap Azam yang sudah berpengalaman.
__ADS_1
Zaidan mengangguk singkat dan membalas tatapannya sayu. "Em, terima kasih."
"Mas, harus kuat agar bisa menyemangati mbak Alina saat persalinan nanti," kata Calvin kemudian.
"Calvin benar, kamu tidak boleh memikirkan apa pun," lanjut Moana berjalan mendekat.
"Kamu akan menjadi seorang ayah lagi, maka kuatlah," timpal Farraz seraya menepuk kepalanya pelan.
Zaidan mengangguk mengiyakan dan mengucapkan terima kasih pada mereka yang sudah datang. Ia mengerutkan kening saat tidak mendapati pengawalnya di manapun.
"Dimas juga sedang menemani Zara yang melahirkan. Sekarang dia berada di ruang persalinan," jelas Angga yang baru saja datang hendak menemui Alina. Pria berjas putih itu memandangi mereka satu persatu.
Zaidan terkejut dan memandanginya cepat. "A-apa? Bagaimana bisa istri kami melahirkan di hari yang sama."
"Itu artinya kalian memang sangat dekat. Dimas bisa dibilang kaki tanganmu, kalian sudah bersama sejak bayi, wajar kejadian ini terjadi," ungkap ayahnya mengundang senyum di wajah mereka.
Zaidan mengangguk dan menghela napas pelan. "Aku harus menemuinya nanti. Sekarang-"
"Tuan Muda." Panggilan itu mengundang atensi mereka.
Orang-orang yang berdiri tepat di depan ruangan Alina pun menoleh kompak. Zaidan terpaku menyaksikan aura suram sang pengawal.
"Dia sudah melahirkan beberapa saat lalu," ucap Dimas nampak kacau.
Rambut acak-acakan, kemeja dikenakannya kusut akibat cengkraman seseorang, serta kacamatanya retak, menjelaskan apa yang terjadi.
"Kamu harus bertahan dengan semua amukan yang terjadi nanti," kata Dimas berdiri tepat di depan Zaidan.
Sang tuan muda itu pun menelan saliva-nya kuat membayangkan bagaimana Zara menyiksa suaminya sampai seperti ini. Dalam diam yang lain pun menahan tawa menyaksikan pemandangan seorang Dimas sekarang yang terkenal dengan sikap dinginnya.
"Em, terima kasih dan ... selamat sudah menjadi seorang ayah," tutur Zaidan. Dimas mengangguk seraya tersenyum lembut.
"Aku juga harus berjuang bersama Alina," lanjutnya lagi mengundang anggukan kepala dari mereka.
...***...
__ADS_1
Dini hari yang dingin Alina tengah berjuang sekuat tenaga untuk melahirkan bayi keduanya. Di sampingnya Zaidan dengan setia menemani proses persalinan.
Ia terus mencengkram, menjambak, serta mencakar sang suami sebagai pelampiasan rasa sakit. Untuk kedua kalinya Alina menaruhkan nyawa guna mengeluarkan buah hatinya ke dunia.
"Kamu bisa, Sayang. Kamu kuat, ayo kita berjuang bersama," kata Zaidan yang terus menerus mengecup dahi berkeringat sang istri.
Dalam sekali tarikan napas Alina pun berhasil melahirkan malaikat kecilnya. Suara tangis bayi merah itu pecah menyadarkan orang tuanya yang tengah kelelahan.
"Bayi yang sangat cantik, dia sehat dan lengkap," ujar Dokter Seruni yang membantu persalinan Alina.
Pasangan suami istri itu pun tersenyum lebar, bahagia dianugerahi seorang bayi perempuan. Zaidan kembali memandangi Alina menatap ke dalam manik kelamnya.
Dokter Seruni menangkupkan sang bayi di dada Alina. Bayi mungil itu melenguh menyamankan posisi dalam dekapan sang ibu.
Alina dan Zaidan tidak kuasa membendung suka cita menyaksikan putri kecil mereka hadir ke dunia.
"MasyaAllah, dia cantik sekali. Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan tiada tara padaku," ungkapnya yang kembali mendaratkan ciuman mendalam di kening lebar Alina.
Ia pun menutup mata menikmati sentuhannya, "Terima kasih juga sudah memilihku sebagai istrimu dan menjadi ibu dari bayi perempuan yang sangat cantik."
Zaidan mengangguk beberapa kali dan berusaha menahan air mata. Namun, sekuat apa pun ia menahan liquid bening itu tetap meluncur.
Mereka pun menatap bayi mungil dalam dada Alina yang masih membiasakan diri setelah keluar dari perut ibunya. Pasangan suami istri tersebut menatap hangat sang bayi merah dengan perasaan suka cita.
Setelah ibu dan bayi dibersihkan lalu dipindahkan ke ruang rawat, semua orang mengerubunginya. Mereka ikut bahagia menyaksikan kehadiran bayi mungil dalam dekapan sang ayah.
Zaidan menyenandungkan azan di telinga sang buah hati. Suaranya bergema memenuhi setiap rongga napas orang-orang yang menyaksikannya.
Mereka merasakan suka cita pasangan suami istri itu atas kehadiran bayi perempuan. Raihan pun sebagai kakak tidak kuasa membendung air mata. Ia menangis sambil mendekati ibunya dan mengucapkan terima kasih atas perjuangan yang diberikan.
Alina membalas pelukan sang putra dan membubuhkan kecupan mendalam di puncak kepalanya. Ia bahagia keluarganya semakin bertambah.
Ia pun bisa tersenyum lega sebab tetua Zulfan mengakui keberadaannya. Tidak hanya ia seorang, tetapi Dawas sudah menerima kehadiran Raihan sebagai cicitnya.
Pria tua itu sudah berubah dan lebih mengendepankan agama dari pada apa pun. Dawas pun turut hadir di ruangan menyaksikan kebahagiaan melimpah ruah dalam kehidupan rumah tangga sang cucu.
__ADS_1
"Hiduplah dalam kebahagiaan, jangan sampai kalian mengikuti jejak Kakek yang mendapatkan penyesalan," ungkapnya dalam benak. Dawas tersenyum haru menyaksikan kehangatan tepat di depan kedua mata kepalanya sendiri.
...Bersambung......