Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 96 (Season 2)


__ADS_3

Langit masih menangis menemani kebersamaan dua wanita yang terikat bersama satu pria. Pernikahan yang mereka jalani bagaikan empedu. Rasa pahit itu menyebar, menelusuk ke dalam sukma dan memberikan kepedihan tiada tara.


Bunga pernikahan telah layu dan kering. Angin datang menyapunya tanpa meninggalkan bekas. Rumah tangga Alina sudah berada di ujung tanduk. Ia ingin pergi dan terbang bebas meninggalkan sangkar penuh kebohongan.


Ia ingin menyambut kehidupan baru tanpa ada bayang-bayang masa lalu. Meskipun ia sadar jika kejadian kemarin tidak bisa dihapuskan begitu saja.


"Semua itu sudah menjadi masa lalu, lebih baik kita tidak usah mengingatnya lagi. Aku sudah mengikhlaskan apa yang terjadi. Karena bagiku, kejadian kemarin telah memberikan pelajaran berharga, jika cinta tidak bisa dipaksakan. Aku bersyukur bisa bertemu dengan Mbak Jasmin dan sempat menikah dengan pria yang aku cintai."


"Meskipun di dalamnya terdapat kebohongan, tetapi kami pernah berbagi kehangatan bersama. Aku yang tidak tahu bagaimana rasanya kasih sayang sebuah keluarga telah mendapatkannya dari mas Azam."


"Setelah Mbak Jasmin menghilang selama tujuh tahun mas Azam memang memperlakukanku sangat baik. Sama seperti kepada Mbak Jasmin dulu, aku senang sungguh sangat bahagia bisa diperlakukan layaknya istri yang dicintai." Alina menjeda kalimatnya dan tersenyum simpul. "Tetapi, seiring berjalannya waktu kehangatan yang mas Azam berikan kembali ... hanya sebatas kewajiban."


"Mas Azam tidak pernah sekalipun mencintai ataupun menyayangiku. Bahkan perlakuannya pada Aqeela dan Raihan begitu berbeda," ungkapnya panjang lebar.


Jasmin yang terus mendengarkan pun tersadar dan teringat dengan kejadian tadi. Raihan tidak ingin sang ayah menyentuhnya serta memberikan kata-kata yang membuat ia bertanya-tanya. Rasa penasaran itu kini terjawab sudah, Azam memperlakukan kedua buah hatinya berbeda.


Ia tidak tahu apa yang sudah Alina alami selama ini, tetapi Jasmin menyadari jika sang madu telah berubah. Ia bukan Alina yang dulu dikenalnya, ada ketegasan serta ketegaran dalam dirinya.


Sosok pejuang tangguh untuk membela keadilan bagi diri sendiri serta buah hatinya tercetus dari sorot matanya.


"Kamu benar-benar berubah, Alina. Sekali lagi aku minta maaf," ungkap Jasmin kembali.


"Aku hanya ingin semuanya berakhir," jelas Alina cepat.


Jasmin mengangguk dan terus menatapnya. Rasa penyesalan itu terus tumbuh seiring berjalannya waktu. Karena ia sudah menyeret Alina ke dalam kehidupannya yang penuh lika liku.


Tanpa ia tahu Yasmin pun mempunyai peran penting, sebab sembilan tahun lalu wanita itulah yang lebih dulu bertemu Alina. Rahasia itu hanya Alina dan Yasmin saja yang tahu.


Sepeninggalan Jasmin, kini giliran Zara, Sarah dan Angga masuk ke dalam ruangan. Alina menyambut mereka dengan hangat seraya menatapnya satu persatu.


"Akhirnya giliran kalian datang juga," ucap Alina tersenyum lebar.

__ADS_1


"Menunggu giliran itu tidak enak," keluh Sarah yang duduk di atas ranjang.


"Bagimana keadaanmu?" tanya Angga kemudian.


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja."


"Syukurlah, aku terkejut saat melihatmu pingsan dan bersimbah darah," kata Zara ikut bergabung. Sarah dan Angga pun menggangguk kompak.


"Kamu ini ... bersimbah darah, seperti aku mengalami kecelakaan serius saja," balas Alina menatapnya nyalang.


Mereka pun tergelak bersama. Obrolan demi obrolan ringan bergema di ruang inap. Sesekali canda dan tawa mengiringi kebersamaan.


Sampai Raihan pun terbangun sambil mengucek kedua mata. Ia melihat ketiga orang itu satu persatu dan berakhir di wajah cantik ibunya.


"Mamah," ucapnya seraya memeluk tubuh Alina kuat.


"Ah, Sayang apa kami membangunkanmu? Kamu Mas tertawanya kencang sekali." Sarah menyikut tulang rusuk suaminya.


Pemandangan tersebut membuat Alina dan Zara semakin melebarkan senyum. Keduanya senang melihat kedua insan itu hidup rukun dalam pernikahannya. Meskipun buah hati belum mereka dapatkan, tetapi kasih sayang serta cinta yang Angga dan Sarah miliki begitu tulus.


"Kalian ini bisa tidak bermesraannya di luar saja? Apa kalian tidak menghargai aku?" tunjuk Zara pada dirinya sendiri.


"Eh, memangnya Tetehnya kenapa?" tanya Sarah bingung.


"Aku single mom," ungkap Zara begitu saja lalu mengibaskan rambutnya ke belakang.


"APA?" teriak suami istri tersebut.


Raihan yang semua memeluk ibunya pun kembali menoleh pada mereka. "Om dan Tante berisik sekali, kasihan Mamah."


"Oh, Sayang maafkan Tante yah. Om kamu ini yang berisik dari tadi." Sarah mengusap punggungnya pelan. Angga menatap sang istri sambil menautkan kedua alis dan Alina hanya tersenyum.

__ADS_1


"Jadi kenapa kamu bisa menjadi seorang single mom? Apa kamu sudah menikah dan di mana suamimu? Tunggu, bukankah kamu dulu menyukai Azam?" Angga menghujaninya dengan pertanyaan.


"A-apa? Ja-jadi Teh Zara pernah menyukai tuan Azam?" Sarah terkejut lalu membungkam mulut menganganya.


"Itu semua masa lalu, aku juga menyesal pernah menyukai pria yang tid-" Seketika Zara menghentikan ucapannya dan memandangi Alina sambil tersenyum canggung.


"Apa? Aku tidak peduli apa yang akan kamu katakan tentang dia," balas Alina.


Zara hanya terkikik dan memandang lurus ke depan di mana hujan mulai surut. Ia pun menceritakan semua yang dilaluinya selama ini. Asam, pahit, kehidupan rumah tangga telah ia jalani. Pernikahan akibat perjodohan tidak berjalan mulus.


Kisah Zara mengingatkan Sarah dan Angga kepada sosok Alina. Mereka tidak menyangka kedua wanita itu mengalami pernikahan berujung perpisahan.


Sarah dan Angga juga kembali dibuat terkejut saat Zara mengungkapkan sikap buruknya pada Alina. Pasangan suami istri tersebut tidak menyangka jika wanita itu pernah bekerjasama dengan Yasmin.


"Sekarang aku benar-benar menyesal. Aku bahkan membuat Aqeela membenci Alina," sesalnya.


"Sudahlah ... semua sudah berlalu. Jangan kita ungkit lagi yang hanya akan menimbulkan penyesalan. Kita harus yakin dan percaya jika itu adalah rencana Allah yang terbaik untuk kita. Karena setelah semuanya terjadi kita menjadi sadar dan tidak mengulanginya lagi. Serta membuat kita menjadi pribadi lebih baik. Ambil hikmahnya saja," tutur Alina yang mendapatkan senyum haru dari mereka.


"Jadi, Mamahnya Naura pernah menyukai ayah?"


Pertanyaan yang lolos dari Raihan membuat keempat orang dewasa tersebut terdiam dan memandanginya. Bocah itu pun menautkan kedua alis bingung dan memandangi mereka satu persatu.


"A-ah, itu ... Tante menyukai ayahmu. Karena dia bos di tempat Tante bekerja," gugup Zara.


Raihan hanya ber'oh' ria tanpa membalasnya lagi. Mereka pun lega dan menghela napas pelan dan setelahnya saling pandang lalu tersenyum hangat.


Meskipun tanpa kehadiran seseorang yang mengisi hatinya, Alina merasa bahagia. Ia mempunyai teman-teman rasa keluarga yang begitu mempedulikannya. Walaupun tidak ada ayah dan ibu, ia merasakan hangatnya kebersamaan.


Terkadang cinta dan kasih sayang bisa datang dari siapa saja. Lepaskan yang membuatmu sakit, dan ikhlaskan untuk menerima semua yang terjadi. Karena di balik itu semua terdapat kejutan tak terduga, sebab Allah tahu yang terbaik.


"Terima kasih ya Allah karena sudah membuat hamba kuat menghadapi semua cobaan dari-Mu. Terima kasih sudah menghadirkan mereka yang lebih dari sebuah keluarga," monolog Alina dalam diam. Ia merasa lega dan bahagia dengan kehidupannya sekarang.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2