
Hari-hari damai sudah kembali datang, roda kehidupan telah berputar lagi. Kesedihan kemarin tertinggal sebagai kenangan.
Catatan buku kelam sudah tertutup, kini ia kembali membuka lembaran baru bersama kelurga kecil tercinta.
Tugas sebagai istri dan ibu dilakoni Alina Inayah dengan baik. Peran ganda kali ini benar-benar sebuah anugerah yang sangat ia syukuri.
Kata kehilangan perlahan meredup, kisah masa lalu berganti masa depan cerah. Kegagalan yang pernah ia alami tidak membuat Alina pantang menyerah.
Justru di balik itu ada pembelajaran yang bisa ia dapatkan, jika hargailah keberadaan seseorang sebelum pergi. Karena jika ia sudah menghilang maka hanya akan ada penyesalan. Pikirkanlah sebelum mengambil keputusan, apa itu yang terbaik atau tidak, hanya diri sendiri yang tahu. Serta libatkan Allah di dalamnya maka semua akan berakhir baik-baik saja.
Tepat jam enam pagi semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. Zaidan menggendong Zenia duduk di kursi miliknya, begitu pula Raihan sudah bersidekap di sana.
Alina berbalik melihat mereka tengah mengembangkan senyum. Ia berjalan mendekat dan meletakkan sarapan di atas meja.
Ia lalu memberikan kecupan di dahi lebar Raihan, Zenia, dan terakhir pada suaminya. Namun, sebelum ia bisa mencapai dahi Zaidan, sang empunya malah mendongak hingga Alina pun salah sasaran.
Kedua benda kenyal itu saling bertubrukan membuat Alina dan Raihan terbelalak. Tanpa rasa bersalah Zaidan mengembangkan senyum melihat kelimpungan sang istri.
"Bisa tidak kalian tidak usah bermesraan di depanku?" Raihan meletakan kepala bulatnya di kepalan tangan yang berada di atas meja.
Ia memperhatikan jari jemari sebelah kiri lalu meniupnya sekilas. Ia bersikap layaknya orang dewasa yang bersikap acuh tak acuh pada keadaan sekitar.
Alina serta Zaidan menoleh melihat kelakuan putra pertama mereka. Sang ibu cengo memandangi ayah dan anak itu bergantian.
Zaidan pun terdiam memandangi Raihan yang masih anteng melihat tangannya sendiri. Merasakan hening di sekitarnya, ia pun mengangkat kepala menatap ayah dan ibunya.
"Aku kan sudah beranjak remaja, yah. Jadi, mohon perhatikan tindakan kalian, okay." Raihan membentuk bulatan dengan ibu jari dan jari telunjuknya ke hadapan Alina serta Zaidan. "Hah~ aku jadi ingin berteman akrab dengan Cyla dan bertemu Naura," ucapnya yang kini beralih meletakan dagu di atas meja. Pipi putihnya mengembang mirip bapau yang baru saja dikukus.
Kedua orang dewasa itu pun terperangah, kembali saling pandang lalu menggeleng beberapa kali. Sorot Alina seolah mengatakan "ini semua salahmu, Mas. Bagaimana bisa putraku berpikiran seperti itu?"
Zidan menggerakkan bibir tanpa bersuara mengucapkan, "maaf," berulang kali.
"A-Ayah tidak sengaja, Sayang. Sudah yah jangan bersikap seperti orang dewasa lagi, Raihan masih anak-anak tidak usah berpikiran yang macam-macam." Alina malu. Karena seharusnya ia yang memperingatkan Raihan dan bukan sebaliknya.
__ADS_1
Bocah sembilan tahun itu pun menegakkan tubuhnya lagi, menatap tajam ke arah mereka membuat keduanya kembali terkejut.
"Aku harus cepat dewasa agar bisa melindungi putri kecil kita." Ia tersenyum lebar sembari mencondongkan tubuh ke samping.
Ia mencubit gemas pipi gembul sang adik. Zenia tertawa senang dibuatnya seraya menghentakkan kedua kaki, bayi itu memandangi kakak tampannya.
"Uh~ putri kecil kita sepertinya senang yah, ayo sini gendong sama Kakak." Raihan merentangkan kedua tangan.
Tanpa mengelak Zenia pun melakukan hal yang sama. Seketika itu juga Zaidan menyerahkan putri kandung pertamanya pada Raihan.
Ia tersenyum senang melihat keakraban mereka. Anak-anak Alina dan Zaidan begitu saling mengasihi diusianya yang masih belia.
Raihan sudah membuktikan jika dirinya bisa menjadi kakak terbaik untuk Zenia. Sebagai orang tua, Alina serta Zaidan hanya bisa mengawasi mereka dan memberikan yang terbaik.
...***...
Di tengah sarapan, Raihan kembali membuka percakapan. Ia memandangi orang tuanya lagi dan berakhir pada Zenia yang tengah berbaring di atas stroller samping sang ibu.
"Mah, Yah, lusa di sekolah akan ada acara. Semua orang tua wajib datang," kata Raihan, "Oh iya, bu guru juga memberikan surat undangannya." Ia pun berbalik membuka tas ransel mengambil selembar kertas.
"Kenapa kamu baru memberitahunya sekarang, Sayang? Pasti ibu guru sudah memberikan surat undangan itu jauh-jauh hari, kan?" kata Alina memasukan sesendok nasi ke dalam mulut.
Seraya terkekeh Raihan menggaruk pangkal lehernya. "Raihan lupa, Mah." Alina hanya mendengus pelan dan kembali menikmati sarapan.
"Apa kamu sudah memberitahu ayah Azam? Beliau juga berhak tahu loh, Sayang," timpal Zaidan mengingatkan.
Raihan berpaling padanya lalu mengangguk singkat. "Rencananya aku akan memberitahu ayah sepulang sekolah nanti. Siang ini ayah Azam akan menjemput ku, katanya ... ayah sedang libur dan sudah rindu."
"Baiklah, jadi anak yang baik selama di rumah ayah yah, Sayang," ucap Alina lagi.
"Baik Mah, aku selalu menjadi anak baik." Dengan penuh percaya diri Raihan mengembangkan senyum manis dan setelah itu memakan nasinya.
Zaidan yang dekat dengannya pun tidak kuasa menahan rasa gemas. Ia mencubit pelan pipi putih sang putra.
__ADS_1
"Anak ayah, jagoannya ayah," gemasnya.
Raihan terkekeh senang, sedangkan Alina memperhatikan keduanya dalam diam. Ia bahagia sangat bahagia dan beruntung mendapatkan pengganti Azam jauh lebih baik.
Tidak lama setelah itu, Zaidan pun mengantar Raihan ke sekolah. Alina berada di rumah bersama bayi manisnya menunggu kepulangan mereka.
Seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya, siang ini Raihan tengah menunggu sang ayah kandung di depan gerbang sekolah.
Kepala bulatnya menengok ke kanan dan ke kiri mencari sosok yang sudah sangat dirindukan. Beberapa saat kemudian batang hidung Azam pun terlihat.
"Menunggu Ayah jagoan kecil?" ucapnya mengejutkan.
Raihan membelalakkan mata lebar, begitu antusias melihat keberadaan Azam.
"Ayah," teriaknya dan langsung berlarian menerjang pria dewasa itu.
Azam pun berlari kecil seraya merentangkan kedua tangan sama seperti sang putra. Ia mengangkat Raihan dan memeluknya ke dalam gendongan.
Adegan harmonis ayah dan anak itu pun menjadi tontonan tersendiri bagi pejalan kaki ataupun orang tua yang sama tengah menjemput putra-putri mereka.
Semua orang yang menyaksikan itu tersenyum senang melihat drama singkat keduanya. Tanpa mengindahkan mereka, Raihan melonggarkan pelukan dan memandangi ayahnya lekat.
"Aku sangat merindukan, Ayah," ucapnya riang.
"Ayah juga sangat merindukanmu, Sayang," balas Azam membubuhkan kecupan mendalam di pipi bulat putranya membuat Raihan terkekeh.
"Ayo kita pulang? Ibu Jasmin sudah membuatkan kue donat kesukaanmu, dengan toping cokelat dan juga strawberry."
"Benarkah?" Manik bulat itu kembali terbelalak, Azam mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu cepat kita pulang, Ayah. Aku juga ingin segera bertemu dengan ibu Jasmin dan kak Aqeela," titahnya.
Tanpa berpikir dua kali Azam langsung membawa sang putra ke dalam mobil. Mereka pun harus melanjutkan perjalanan ke sekolah Aqeela untuk menjemputnya yang berbeda dengan Raihan.
__ADS_1
...Bersambung......