Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 226 (Season 3)


__ADS_3

Tidak ada kisah tanpa ujian di dalamnya. Siapa pun pasti mendapatkan cobaan masing-masing yang tidak bisa di rasakan satu sama lain.


Jadi, jangan pernah menghakimi atau menilai dengan mata sebelah jika tidak merasakan hal yang sama.


Karena Allah sudah menentukan takdir setiap hamba dengan sangat baik.


"Mamah~" Lengkingan suara anak berusia sembilan tahun bergema ke setiap penjuru ruangan.


Alina yang tengah bermain bersama Zenia terkejut dan seketika menggendong sang putri menuju pintu depan.


Ia mengembangkan senyum menyaksikan lengkungan bulan sabit di bibir kemerahan sang putra.


Wajah tampannya mengingatkan ia pada mantan suami.


"Benar-benar fotocopy an ayahnya," benak Alina.


Raihan pun bergegas mendekati sang ibu lalu menyalami tangannya singkat dan memeluk kedua kaki Alina erat.


"Mah, hari ini ada temanku yang datang. Kami mau main bersama di sini, boleh?" Pintanya menengadah.


Alina merunduk, mengusap surainya lembut. "Tentu saja boleh, di mana temanmu?" tanyanya sambil menoleh ke depan tidak melihat siapa pun.


Raihan melepaskan pelukan, berbalik ke depan dan menautkan kedua alis.


"Ke mana dia pergi?" gumamnya, ia berjalan beberapa langkah mencari sosok temannya berada.


Sampai ia pun melihat teman sekelasnya itu ada di pekarangan.


Ia mengulas senyum simpul dan menghela napas pelan.


"Sedang apa kamu di sini? Aku sudah menyuruhmu masuk tadi, ayo aku kenalkan kamu pada Mamah," kata Raihan kemudian.


"Tidak usah, aku di sini saja," balas temannya itu.


"Fadil, aku membawamu main ke sini itu artinya kita main di dalam, bukan di luar seperti ini," timpal Raihan lagi.


Fadil, anak berisi itu menyapukan pandangan ke sekitar. Ia merasa tidak enak jika harus mengusik ketenangan di rumah besar tersebut.


"Ta-pi aku tidak mau mengotori rumah besarmu ini," ucapnya merendah.


Raihan terperangah, mengerti jika Fadil merasa tidak enak jika harus bertandang ke kediamannya.


"Jangan bicara seperti itu. Kamu adalah temanku, ayo masuk ... sebentar lagi Clya juga akan datang, katanya," jelas Raihan membuat perhatian Fadil kembali padanya.


"Si-siapa katamu? Cyla?"


"Iya Cyla, kenapa?" tanya Raihan heran melihat kebingungan di wajah temannya.


"Apa kamu berteman dengannya? Bukankah dia anak yang sangat dipuji-puji di kelas?" tanya balik Fadil kebingungan.

__ADS_1


Raihan tergelak seketika, "begitulah aku berteman dengan siapa saja." Fadil hanya mengangguk-anggukan kepala mengerti.


Tidak lama setelah itu Alina pun keluar menunjukan batang hidungnya.


"Ini temannya Kakak yah?" kata Alina mengejutkan keduanya.


Raihan serta Fadil pun menoleh ke ambang pintu, Alina tersenyum manis seraya menggendong Zenia.


"Iya Mah, ini temanku. Namanya Fadil, dia anak yang menyenangkan," jelas Raihan memperkenalkan teman barunya.


Fadil yang melihat Alina berjalan mendekat pun menunduk malu.


"Assalamu'alaikum, Sayang. Apa kamu temannya Raihan?" ucap Alina basa-basi.


Fadil menoleh sekilas lalu mengangguk singkat.


"Wa-wa'alaikumsalam, iya Tante. A-aku temannya Raihan," balasnya gugup. Ia jadi teringat ucapannya kemarin pagi saat mengatai ibu Raihan murahan.


Bibir ranum Alina melengkung sempurna melihat kepanikan dalam bola matanya.


"Kenapa? Apa kamu tidak suka datang ke rumah Raihan? Apa kamu tidak nyaman? Tenang saja, jangan sungkan di sini yah," kata Alina lembut.


Tidak lama setelah itu Alina dan Raihan dikejutkan kala mendengar isakan meluncur halus darinya.


Buru-buru Raihan mendekati Fadil, cemas takut terjadi sesuatu.


"Fadil, kenapa kemu menangis?" tanyanya khawatir.


"Malu? Kenapa kamu malu?" tanya balik Raihan lagi.


"Aku malu sudah mengatai ibumu tidak baik kemarin," akunya jujur.


Alina yang mendengar itu pun menautkan kedua alis. Ia menyadari jika ada sesuatu yang mereka sembunyikan.


Namun, ia pun tidak bisa mempertanyakan hal tersebut takut menambah permasalahan.


Tangan lentiknya pun terulur mengusap pelan puncak kepala Fadil. Sang empunya terpaku dan terdiam, takut Alina akan memarahinya. Ia berpikir jika Raihan sudah memberitahukan kejadian kemarin.


"Sayang, jangan menangis. Anak laki-laki tidak boleh cengeng. Kamu sudah bertindak baik dengan mengakui kesalahanmu. Tante memang tidak tahu apa yang sudah terjadi pada kalian kemarin, tetapi ... Tante tidak mempermasalahkan hal itu. Karena-"


"Karena aku tidak ingin membuat Mamah ataupun kamu terlibat masalah. Aku ingin berteman denganmu, Fadil. Itu sebabnya aku tidak menceritakan kejadian kemarin," potong Raihan cepat.


Fadil lagi-lagi dibuat terharu akan kebaikan yang diberikan ibu dan anak tersebut. Ia semakin terisak kala ketulusan hati keduanya begitu lapang.


"A-aku benar-benar minta maaf," katanya menyesal.


Raihan seketika memeluk tubuh gempalnya dan mengusap punggungnya pelan.


"Tidak apa-apa, aku mengerti," balas Raihan kembali.

__ADS_1


Alina semakin tersenyum lebar akan aksi yang dilakukan putranya.


Ia bersyukur sang buah hati memberikan pengaruh terbaik untuk teman-teman sebayanya.


"Ya Allah, terima kasih banyak sudah menganugerahi hamba putra yang sangat luar biasa," monolognya membatin.


"Da-da-da." Bayi mungil itu berceloteh mencoba menarik perhatian sang kakak.


Raihan pun melepaskan pelukan dan beralih pada adik kecilnya.


"Kata adikku, Kakak jangan menangis," ungkapnya kembali pada Fadil.


Ia pun mengusap air mata yang mengalir di kedua pipi. Fadil mencoba tersenyum serta mengangkat sudut bibir sempurna.


"Da-da-da." Zenia kembali berceloteh dengan kedua tangan menggapai-gapai ke depan.


"Kata Zenia, kita harus masuk dan menikmati makan siang bersama. Kalian pasti sudah lapar, kan? Ayo masuk, Fadil juga jangan sungkan yah," ucap Alina kemudian.


Raihan dan Fadil pun mengangguk mengiyakan lalu mengikuti Alina ke dalam.


...***...


Beberapa saat kemudian mereka pun duduk bersama di ruang makan tengah menyantap makan siang.


Cyla pun sudah tiba sepuluh menit setelah Alina mengajak serta Raihan dan Fadil ke dalam.


Anak gadis berusia sembilan tahun itu terus berceloteh riang menambah keakraban.


Alina yang tengah menyuapi Zenia pun tergelak akan tingkah laku gadis manis di depannya.


"Tante, tahu? Raihan dan Fadil ternyata sama-sama takut kecoak-" Cyla tertawa keras membayangkan kejadian di sekolah tadi, di mana kedua temannya itu berteriak sangat kencang dan berdiri di atas meja serta berpegangan tangan kala ada seekor kecoak di sekitarnya


"Masa iya anak laki-laki takut kecoak yang berukuran kecil itu." Cyla semakin tergelak senang.


Alina pun ikut tertawa membayangkan bagaimana putra sulungnya yang sangat menjunjung tinggi keberanian itu ketakutan. Ia juga ingat seperti apa Raihan selalu bersikap protektif kepada sang ibu.


"Benarkah? Kalau Tante lihat pasti langsung direkam. Kamu benar-benar yah, Sayang." Alina menoleh pada Raihan sembari tertawa.


Raihan seketika langsung menundukkan pandangan, malu.


"Ya-yah karena kecoak itu menggelikan. Dia bisa terbang, bagaimana kalau mendarat di wajah kami, iya kan Fadil?" Raihan menoleh pada Fadil yang juga tengah menundukkan kepala.


"Iya, kami bukannya takut, tapi geli," timpal Fadil membela diri.


Alina dan Cyla saling pandang lalu kembali tertawa. Mereka senang menggoda kedua bocah tersebut yang kini wajah putihnya memerah.


Alina dalam diam menyaksikan ketiga anak tersebut dengan mengembangkan senyum lembut.


"Mamah senang kamu bisa mendapatkan teman seperti ini," benaknya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2