
"Yakinlah, ada sesuatu yang menantimu setelah sekian banyak kesabaran yang kau jalani, yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit."_ Ali bin Abi Thalib.
"Orang yang bersabar pasti akan meraih keberuntungan, meskipun itu diperoleh setelah waktu yang lama."_ Ali bin Abi Thalib.
Bahagia merupakan definisi hidup tanpa adanya beban apa pun. Namun, satu kata tersebut bisa mengawali dari semua kesakitan yang pernah terjadi.
Tidak ada yang namanya sebuah perjuangan berakhir sia-sia, walaupun dipenuhi dengan air mata kesedihan dan sakitnya sebuah pengkhianatan, tetapi setelahnya kebahagiaan itu datang.
Jam masih menunjukan pukul tiga dini hari. Pintu kayu jati bercat putih pun terbuka perlahan membuat cahaya dari luar masuk ke dalam.
Kepala bulat bersurai hitam lembut menyembul melihat ke arah tempat tidur. Senyum mengembang menyaksikan raut lega di wajah kedua orang tuanya.
Langkah-langkah kecil itu membawa tubuhnya mendekati ranjang. Sedetik kemudian ia melemparkan diri ke tengah-tengah ayah dan ibunya.
"Selamat pagi Mamah, Ayah."
Suara cempreng mengusik ketenangan, orang tuanya yang masih berada dalam buaian mimpi indah seketika membuka mata. Mereka terkejut kala mendapati sang buah hati tersenyum lebar menatap keduanya bergantian.
"Sayang, apa yang kamu lakukan di dini hari seperti ini?" kata sang ayah serak sambil memeluk putranya dari samping.
"Ayah, harus cepat bangun sebentar lagi azan subuh," balasnya.
"Raihan ... Sayang, ini masih jam tiga, Nak." Alina menginstrupsi membuat Raihan menoleh pada ibunya.
"Mamah, bukankah bagus kita bangun sekarang? Kita bisa salat tahajud dulu dan mengaji bersama," lanjut Raihan.
Alina maupun Zaidan terpaku mendengar perkataan dari seorang anak berusia delapan tahun. Selepas menghabiskan waktu liburan beberapa hari yang lalu mereka pun mendapatkan tempat tinggal baru.
Rumah bergaya modern yang terletak di sudut ibu kota menjadi kediaman keluarga kecil Zabran Zulfan. Ia membawa istri dan anaknya ke sana setelah menghabiskan waktu satu tahun untuk membangunnya.
Ia tidak menyangka jika rencana Allah lebih indah. Zaidan berpikir untuk menghabiskan kesendiriannya di rumah baru itu sebelum mendapatkan pendamping yang benar-benar ia inginkan.
Namun, sebelum istana megahnya selesai di bangun Allah mempertemukan ia dengan Alina. Kini di rumah bertingkat dua dengan nuansa hitam dan putih itu pun dihuni oleh istri beserta anak sambungnya.
__ADS_1
Ada beberapa pelayan yang membantu membersihkannya, tetapi setelah malam menjelang mereka akan menepi ke belakang dan tidak mengganggu kebersamaan sang tuan.
Alina pun tidak menduga jika di hadiahi sebuah rumah bernilai fantastis tersebut. Ia awalnya menolak sebab tidak terbiasa menerima barang mewah, tetapi setelah diyakinkan oleh suami dan kedua mertuanya ia pun mengiyakan.
Tidak hanya itu saja, bahkan sertifikat rumah tersebut atas nama Alina Inayah sebagai hadiah pernikahan. Bahagia tak terkira, kepulangannya dari liburan kemarin mendapatkan kejutan tidak terduga.
Sudah hampir tiga minggu lamanya ia tinggal di sana bersama sang buah hati dan suami barunya. Tugas sebagai istri kembali ia emban, walaupun begitu banyak perbedaan, Alina sangat bersyukur sudah dipersunting oleh Zaidan Zulfan.
Sosok pria sejati yang benar-benar mencintai dan menyayanginya sepenuh jiwa. Kasih sayang yang dicurahkannya tidak hanya untuk ia seorang, melainkan pada buah hatinya juga.
Ia kembali mengucap syukur jika Zaidan benar-benar menganggap Raihan seperti anak kandungnya. Alina tidak melihat sebuah perbedaan ataupun kekurangan dalam diri Zaidan kala memperlakuan Raihan.
"Itu benar sekali, terima kasih sudah membangunkan kami, Sayang." Zaidan sedikit beranjak dan membubuhkan ciuman hangat di pipi kanan Raihan.
Alina yang menyaksikan hal itu mengulas senyum lembut. "Kalau begitu mari kita salat tahajud berjamaah," katanya lagi.
"Raihan setuju." Bocah laki-laki itu bangkit dari berbaringnya dan memandangi punggung kedua orang tuanya dalam diam.
Meskipun hubungan dengan ayah kandungnya sudah membaik, Raihan tetap memilih tinggal bersama sang ibu. Ia juga sudah berjanji pada Azam untuk menginap di rumahnya saat akhir pekan datang. Mereka pun setuju dan membiarkannya begitu saja.
Alina dan Zaidan pun menoleh ke belakang menatap binar di mata bulan sang buah hati. "Bisakah kalian memberikanku adik?" pintanya semangat.
Pertanyaan polos itu terlontar dari kedua celah bibir kemerahan Raihan. Manik jelaga Alina membola seketika dengan mulut sedikit terbuka.
Dari mana datangnya pikiran itu? Pikir Alina gamang. Ia terkejut dan tidak menduka jika putra pertamanya bisa bertanya seperti tadi.
Zaidan pun terperangah dan sedetik kemudian kedua sudut bibirnya melengkung sempurna. "Ka-kamu mau adik?" tanyanya gugup.
Dengan penuh antusias Raihan mengangguk yakin, "em, Raihan ingin punya adik. Raihan ingin menjadi kakak yang hebat dan menjaga adik kecil. Raihan ingin seperti kak Aqeela yang selalu memperlakukan Raihan dengan sangat baik."
Alina mendengus pelan dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Melihat sikap sang ibu Raihan menautkan kedua alis dalam.
"Kenapa Mamah seperti itu? Apa Mamah tidak mau memberi Raihan adik kecil?" Pertanyaan lain pun kembali diucapkan.
__ADS_1
Zaidan terkekeh pelan lalu memandangi ibu dan anak itu bergantian. Ia melihat rona merah tipis menjalar di kedua pipi sang istri.
"Sayang, Mamah bukannya tidak mau memberimu adik, tapi-"
"Tapi apa Ayah?" Potong Raihan cepat.
"Tapi Ayah dan Mamah harus bekerja keras untuk mendapatkannya. Apakah Raihan mau mendukung kami?" Sorot mata penuh harap pun tercetus memandangi putra sambungnya.
Alina langsung menatap sang suami dengan tajam tidak menyangka mendengar pertanyaannya. Tanpa rasa bersalah Zaidan hanya melebarkan senyum dan menganggukan kepala beberapa kali.
"Baiklah, Raihan akan mendukung apa pun yang akan Ayah dan Mamah lakukan. Semoga kalian cepat memberi Raihan adik bayi yang lucu-lucu," balas Raihan semangat.
"RAIHAN!" pekik sang ibu.
Namun, Raihan seolah tidak peduli dan menyengir lebar ke arah Alina. Anak itu pun turun dari ranjang setelah memberikan ciuman kilat di pipi kedua orang tuanya.
"Raihan wudhu dulu, sampai jumpa di mushola." Raihan melambaikan tangan seraya terus berjalan keluar.
Alina menggeleng melihat kelakuan sang anak. "Dasar anak itu," gumamnya pelan.
"Jadi?" Suara baritone di sebelah seketika membangkitkan bulu kuduk.
Alina menoleh pelan dan mendapati senyum masih mengembang di wajah tampan sang suami. "A-apa yang Mas pikirkan?"
"Kita akan bekerja keras untuk memberikan adik pada Raihan."
Seketika kedua pipi Alina merah padam. Ia bangkit dari duduk tanpa memandangi sang suami. "Itu ... itu bisa kita bicarakan nanti." Setelah mengatakan hal tersebut ia pergi begitu saja.
Zaidan terkekeh kembali menatap gemas kelakuan sang istri. "Sayang, kamu lucu sekali." Ia pun menyusul kedua orang tersayangnya dan terus mengakatan hal-hal yang membuat istrinya malu.
Kehidupan rumah tangga Alina dan Zaidan yang baru seumur jagung itu pun ditumbuhi dengan kasih sayang serta kehangatan. Meskipun di awal pernikahan mereka mendapatkan musibah Raihan kecelakaan, tetapi hal tersebut juga memberikan hikmah luar biasa.
Hubungan anak dan ayah kandung itu semakin membaik, begitu pula dengan Alina sendiri. Ia sudah berusaha melupakan kesakitan yang pernah diterimanya.
__ADS_1
...Bersambung......
...Hallo teman-teman jumpa lagi di season 3, semoga gak bosen yah sama cerita ini. Oh yah, buat di season 3 sedikit berbeda yah, di sini memceritakan kehidupan manis dan sedikit konflik untuk keluarga Alina dan Zaidan, jika penasaran ikutin terus yah 🙏🏻😆❤️...