
Raksi laut begitu menyebar menyapa indera penciuman. Lukisan Allah kembali datang menemani kehampaan kian menerjang.
Senja hadir bersama riak air laut tersapu angin berhembus dengan tenang. Sesekali ombak kecil datang menyapa batu karang jika badai akan berlalu.
Setelah berbincang-bicang bersama Sarah dan Angga, pasangan suami istri tersebut melanjutkan perjalanan untuk berlibur beberapa hari di sana. Alina kembali menggoda mereka, ikut merasakan kebahagiaannya.
Ia lega jika kedua orang yang sudah dianggap keluarga bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Rumah tangga mereka begitu harmonis dan saling menyayangi satu sama lain.
"Ya Allah jaga pernikahan mereka, hamba ingin melihat Mas Angga dan Sarah selalu bahagia. Karuniakan putra-putri yang sholeh, sholehah ya Allah, aamiin," lirihnya seraya melihat kepergian Sarah dan Angga yang saling bergandengan tangan menelusuri bibir pantai.
Senyum pun mengembang merasakan kebahagiaan keduanya yang berbanding terbalik dengan pernikahannya penuh drama dan konflik.
"Astaghfirullah, aku tidak boleh membanding-bandingkan kehidupan orang lain. Aku percaya Alllah memberikan ujian ini sebab aku mampu menjalaninya. Karena laa yukallifullohu nafsan illa wus'ahaa, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Aku yakin di balik kejadian yang menimpa rumah tanggaku ada kebaikan di dalamnya," gumamnya lagi.
Namun, kepercayaan itu sudah menghilang. Cinta satu-satunya yang ia yakini dan percayai terus mengkhianati. Sekarang Alina memahami jika di hati sang suami tidak ada sedikitpun tempat baginya. Ia datang hanya sebagai pelipur lara di kala Azam bersedih dan menjadi ibu sambung bagi Aqeela.
Meskipun demikian Alina sangat mencintai dan menyayangi mereka berdua. Ketulusannya hanya dibalas oleh dusta, tetapi ia yakin semua akan ada waktunya. Allah tidak pernah tidur dan roda kehidupan akan terus berputar sebagaimana mestinya. Baik dan buruk suatu saat akan ada balasan yang diterima.
"Ah, aku harus menutup toko," ujarnya dan buru-buru masuk ke dalam.
Kurang lebih dua puluh menit kemudian Alina sudah membereskan toko dan siap untuk kembali ke kediamannya yang tidak jauh dari sana. Ia pun menggandeng Raihan keluar dan membalikan tanda close tepat di depan pintu.
"Ayo Sayang," ucapnya hendak berlalu.
"Alina." Pergerakannya pun terhenti saat satu suara memanggil namanya.
Alina menoleh ke samping kanan melihat orang yang dikenalnya lagi datang. Kedua celah bibirnya pun melengkung sempurna seraya berbinar senang.
__ADS_1
"Kamu juga datang? MasyaAllah, kenapa kalian datang secepat ini? Ayo ikut aku," ajaknya diikuti sang tamu. Mereka pun berjalan berdampingan sambil berbasa-basi.
Kediaman Alina tidak jauh dari tokonya berada, hanya berjalan lima belas menit mereka sampai di sebuah bangunan sederhana berlantai satu bernuansa putih bersih.
Untuk menuju ke sana mereka menapaki beberapa anak tangga, seketika angin sore menyambut membuat sang tamu berbalik dan melihat lautan begitu luas membentang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"MasyaAllah, Alina aku tidak percaya kamu bisa menemukan syurga dunia yang sangat indah ini. MasyaAllah ... MasyaAllah, sungguh sangat indah," ucapnya kagum.
"Alhamdulillah, Allah melancarkan semuanya. Ini benar-benar syurga dunia, alam menyuguhkan ketenangan yang tidak pernah ternilai. Allah menciptakan sesuatunya sangat sempurna, begitu pula mengenai ujian dalam hidup. Bukankah ... keputusan untuk pergi adalah pilihan yang terbaik, Zara?" Alina menyunggingkan senyum.
Hijab putih panjangnya berkibar tertiup angin membuat sosoknya begitu menawan. Dengan background senja dalam lantunan burung camar serta kilaunya air laut menjadikan wanita itu layaknya seorang pejuang tangguh.
"Benar-benar wanita pejuang, kamu tangguh dan sabar dalam menghadapi permasalahan yang menimpa rumah tangga kalian. Benar, pergi menjadi keputusan yang amat sangat baik," balas Zara hangat.
Alina mengulas senyum simpul lalu berbalik memunggunginya. "Yah, aku bersyukur bisa mendapatkan kesempatan kedua untuk pergi dari kehidupannya. Lega rasanya ... dan aku bisa mendapatkan pemandangan indah ini. MasyaAllah, Alhamdulillah."
"Aku yakin akan ada kebaikan setelah badai menimpamu," benak Zara.
...***...
"Ini teh nya." Alina meletakan segelas teh hangat ke hadapan sang tamu.
Zara mengucapkan terima kasih dan menegaknya singkat lalu meletakan lagi di atas meja. Mereka duduk berhadapan sama seperti dulu, tetapi dengan keadaan yang jauh berbeda.
"Naura, dia sudah sehat?" tanya Alina memulai pembicaraan.
"Alhamdulillah, kata dokter dia sudah baik-baik saja. Naura mengatakan ingin liburan dan aku kepikiran untuk mengunjungimu, bagaimana keadaanmu dan putra kalian?" tutur Zara.
__ADS_1
"Alhamdulillah aku turut senang mendengarnya. Aku dan Raihan juga baik-baik saja ... jauh lebih baik," tegas Alina membuat sang lawan bicara terkekeh pelan.
Hening melanda hanya ada dentingan jam menemani kebersamaan. Tidak jauh dari keduanya duduk, Raihan dan Naura tengah bermain bersama.
Tidak lama berselang gelak tawa terdengar renyah, Alina dan Zara pun menoleh menyaksikan putra, putri mereka begitu senang dengan dunianya.
Meskipun tanpa kehadiran orang tua lengkap baik Raihan dan Naura terlihat gembira. Kedua ibu itu pun tanpa sadar berkaca-kaca merasa haru dan bangga pada buah hatinya.
"Bagaimana perasaanmu yang sebentar lagi akan menyandang status baru? Apa kamu tidak masalah jika Raihan tumbuh tanpa seorang ayah?" tanya Zara kemudian seraya masih melihat jantung hatinya.
"Aku sangat menantikannya, meskipun perceraian adalah perbuatan yang tidak disukai Allah, tetapi ... jika menjalani pernikahan di atas air mata maka perpisahan adalah jalan yang terbaik. Aku yakin Raihan bisa tumbuh tanpa seorang ayah. Aku juga tidak akan mencegahnya jika ingin bertemu ayahnya, bagaimanapun ikatan ayah dan anak tidak bisa dilepaskan begitu saja."
"Yah, meskipun aku tahu jika Raihan peka terhadap situasi yang terjadi. Bahkan dia juga mengatakan jika ayahnya tidak terlalu menyayanginya. Sebagai seorang ibu hatiku sangat sakit mendengarnya berkata seperti itu. Aku tidak bisa menjaga keutuhan keluarga kami," tutur Alina panjang lebar.
Kenangan yang baru saja ia coba lupakan seketika menerjang membuat air mata mengalir tak tertahankan. Zara kelabakan dan langsung menyodorkan tissue lalu mengusap pundaknya pelan.
Sebagai seorang ibu ia mengerti perasaan Alina, terlebih terlalu dalam luka tercipta di perjalanan rumah tangganya.
"Aku percaya kamu bisa melalui semua ini. Kamu orang baik, ibu yang sangat menyayangi putranya. Raihan akan tumbuh menjadi sosok pahlawan yang selalu menjaga ibunya. Aku mengerti perasaanmu dan ... aku minta maaf untuk masa lalu," ucap Zara.
Alina menoleh singkat sambil mengusap air mata yang berlinang. Bulan sabit terpendar di wajah kemerahannya, "Mari kita lupakan masa itu. Terima kasih sudah mau berteman denganku, Zara."
"Justru aku yang harus berterima kasih padamu. Karena kehadiranmu begitu berarti bagi Naura, kamu memberikan secercah cahaya pada anakku. Naura selalu ingat kata-katamu di rumah sakit, dia mengatakan gapailah mimpi setinggi angkasa, meskipun kamu sendirian di dunia ini jangan pernah menyerah. Tidak ada kata sendirian jika di hatimu ada Allah, yakin dan percaya semua akan baik-baik saja."
"Kata-kata itu memberikan kekuatan pada Naura untuk tidak menyerah pada penyakitnya. Terima kasih, Alina." Zara berusaha menyunggingkan senyum dan menahan tangis dalam dada. Alina hanya menganggukan kepala beberapa kali seraya membalas tatapannya.
Pertemuan mereka kali ini pun memberikan sebuah pembelajaran, jika perbuatan buruk bisa berubah seiring berjalannya waktu sebagaimana menyikapinya.
__ADS_1