
Peran seorang ibu itu sangat penting bagi tumbuh kembang sang buah hati. Sebagaimana pepatah mengatakan jika Al Ummu Madrasatul ulu yang artinya ibu adalah madrasah pertama.
Apa pun yang diajarkan sang ibu sudah pasti terbaik bagi anak-anaknya. Itulah kenapa berbakti kepada ibu paling utama.
Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata; "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sambil berkata; "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "kemudian siapa lagi?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" dia menjawab: "Kemudian ayahmu." (HR. Bukhari)
Alina berusaha untuk menjadi seorang ibu dan madrasah pertama terbaik bagi anak-anaknya. Apa pun akan ia lakukan bagi kedua buah hatinya.
Perkataan sang ibu tadi terus berputar dalam ingatan. Raihan berjalan menuju sekolah sembari memikirkan banyak kal.
Namun, belum sempat ia melangkahkan kaki ke gerbang, pendengarannya menangkap percakapan yang seketika menarik perhatian.
Ia berhenti melangkah lalu menoleh ke samping kanan menyaksikan anak tambun itu tengah berbicara dengan seseorang.
Buru-buru ia bersembunyi di balik tembok kala rasa penasaran tidak bisa dibendung. Kepala berambut hitamnya menyembul melihat keberadaan mereka yang tengah berada di sebuah gang sempit.
"Fadil berbicara dengan siapa?" tanyanya lirih.
"Bisakah Ibu tidak datang ke sekolahku? Aku tidak mau teman-teman melihat ... aku mempunyai ibu yang selalu dikata-katai tidak benar. Aku-"
"Jaga bicaramu Fadil, Ibu sudah berjuang keras selama ini untuk siapa? Itu untuk kamu," kata wanita yang dipanggilnya ibu.
"Ibu bohong, mana ada Ibu berjuang untukku. Ibu mencari ruang hanya untuk laki-laki tidak berguna itu di rumah," balas Fadil sedikit meninggikan suara.
"Hentikan! Kamu membuat Ibu malu, pokoknya hari ini kamu pulang bersama Ibu. Tidak usah tinggal dengan nenekmu lagi," ungkapnya kemudian.
"Tidak mau. Aku tidak mau tinggal bersama Ibu ataupun laki-laki itu." Fadil bersikukuh pada pendiriannya.
"Fadil, jangan berbicara seperti itu. Laki-laki yang ada di rumah kita adalah ayah tirimu. Dia baik pada Ibu dan juga kamu."
"Baik apanya? Dia selalu saja memarahiku. Pokoknya aku tidak mau pulang bersama Ibu."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Fadil keluar dari tempat persembunyian meninggalkan ibunya di sana. Dengan napas memburu ia terus berjalan menuju gerbang sekolah berada.
Seketika itu juga langkahnya terhenti saat kedua mata sipitnya beradu pandang dengan Raihan. Mereka sama-sama terdiam menyadari situasi tersebut tidak menguntungkan.
Tanpa mengatakan sepatah kata, Fadil berjalan melewatinya. Raihan yang mengerti pun langsung menyusul dan mengikuti ke mana teman sekelasnya itu pergi.
...***...
"Fadil tunggu aku," kata Raihan.
Ia menyusul Fadil sampai ke belakang sekolah lagi dan di sana hanya ada mereka berdua saja. Fadil menoleh ke belakang mendapati Raihan berjalan mendekat.
"Mau apa kamu ke sini? Pasti kamu mendengar omonganku tadi, kan?" tanyanya langsung.
Raihan pun mengangguk tidak mengelak sama sekali. "Aku minta maaf sudah mendengar pembicaraanmu dan ibumu. Aku ... boleh bertanya sesuatu?" pintanya kemudian.
Fadil berbalik menghadap teman sebangkunya ini. "Apa?" tanyanya sengit.
Fadil mengepal kedua tangan erat melihat ke dalam manik bulat di depannya. "Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan? Apa kamu akan mengolok-olok ku seperti yang lain? Mengatakan jika ibuku murahan? Tidak tahu malu? Perebut suami orang, dan kasihan padaku yang mempunyai dua orang ayah?" tuturnya beruntun.
Raihan terkejut mendengar kata-kata itu tercetus dari mulut teman sekelasnya. Selama ini ia sudah menganggap Fadil sebagai teman sesungguhnya.
Ia lalu menggeleng, mengenyahkan pemikiran dari Fadil.
"Aku tidak mempunyai sedikit pun niat seperti itu. Aku hanya ... ingin mengatakan jika mempunyai dua orang ayah itu tidak memalukan. Justru kita adalah anak-anak hebat," kata Raihan mengulas senyum simpul.
"Apa maksudmu?" tanya Fadil lagi sembari menautkan kedua alis.
"Yah, kita bisa menghadapi permasalahan orang dewasa tanpa harus berbicara panjang lebar. Kita sebagai anak memang dituntut untuk menerima apa pun yang terjadi pada ayah dan ibu kita."
"Sejak aku berusia lima tahun ... aku sudah menyadari jika ayah kandungku tidak menyukai kehadiranku di keluarga kami. Ayah selalu menganggap ku tidak ada dan lebih menyayangi kakak perempuanku."
__ADS_1
"Awalnya, aku tidak tahu kenapa ayah seperti itu. Juga, waktu itu setiap hari aku melihat ibu menangis dan menangis, hingga ibu pun membawaku pergi dan membuatku mengerti."
"Jika tidak selamanya orang tua kandung membuat kita bahagia, tetapi bagaimanapun juga peran mereka sangat penting. Sampai tahun berganti tahun ayah pun mulai menerima kehadiranku. Kini aku mempunyai dua orang ayah ... yang mana keduanya sangat menyayangiku, walaupun memang membutuhkan banyak waktu," ungkap Raihan sedikit mengulas kisah hidupnya selama ini.
Fadil mematung, tidak percaya jika selama ini Raihan menyimpan kesedihan di balik senyuman. Ia pikir jika anak itu lahir dari keluarga harmonis yang berbeda jauh darinya.
Kepalan tangan itu pun mengendur, tatapan Fadil berubah menjadi hangat tidak se sengit tadi. Ia masih menatap pada lawan bicaranya tanpa mengucapkan sepatah kata.
Fadil masih mencerna apa yang baru saja didengarnya. Raihan Rusdyan Zabran, memiliki dua nama sang ayah tidak menjadikannya penting di kehidupan Azam waktu itu.
Keberadaannya bagaikan sebuah kesalahan yang mana kasih sayang Azam kepada kedua anaknya berbeda jauh.
Namun, setelah waktu berjalan, kejadian demi kejadian menghampiri membuat dirinya sadar jika anak tidak salah apa pun ketika dilahirkan ke dunia.
"Aku bahagia bisa lahir di keluarga ini sekarang. Jika aku ditanya setelah kehidupan ini berakhir dan dilahirkan kembali, kehidupan apa yang kamu inginkan? Maka aku akan menjawab aku ingin lahir lagi di keluarga ini," jelas Raihan membuat Fadil terperangah.
"Kenapa?" Satu kata mengandung berjuta makna.
"Karena di keluarga ini aku bisa merasakan bagaimana perjuangan hidup serta melihat perjuangan orang tuaku hingga ... aku mendapatkan kasih sayang dari kedua ayah dan ibu." Senyum manis bertengger di wajah tampannya.
Fadil semakin terkejut mendapati betapa luas dan lapang nya dada seorang Raihan. Ia tidak menyangka jika kehidupan teman sekelas itu tidak jauh berbeda darinya.
Ia berpikir jika Raihan adalah anak paling beruntung yang pernah dirinya kenal. Saat mendengar puisi yang dibacakannya pun, Fadil merasa Raihan benar-benar seorang anak yang sangat disayangi keluarganya.
Namun, tanpa ia sadari di balik itu semua terdapat luka yang disembunyikan. Selama ini Fadil sudah salah menilai Raihan yang kehidupannya penuh warna.
"Aku ... minta maaf," katanya kemudian.
"Eh?" Raihan terkejut kala mendengar kata maaf itu tiba-tiba saja terlontar dari bibir mungilnya. Namun, sedetik kemudian ia pun tersenyum manis melihat ketulusan Fadil.
...Bersambung......
__ADS_1