Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 4


__ADS_3

Pagi yang baru menyambut dengan kelabu mengitari kedua matanya. Status baru menjadi seorang istri tidak menjadikan seorang Alina bahagia. Nyatanya menjadi yang kedua tidak selalu menyenangkan. Siapa yang ingin berada diposisinya? Alina pun tidak menginginkan hal tersebut. Namun, ia hanya akan terus berharap mencari ridho Allah dalam pernikahannya.


Meskipun menjadi yang kedua, Alina berharap bisa menikah sekali seumur hidup. Maka dari itu ia akan bertahan sampai Allah memberikan yang terbaik. Dalam pernikahannya pun ia sudah menjabat sebagai seorang ibu. Anak dari suaminya yang masih berada dalam buaian ditangguhkan padanya. Sungguh bukan pekerjaan yang mudah, tapi Alina akan tetap bersabar dalam menghadapinya.


Ia percaya Allah pasti akan memberikan yang terbaik terlepas dari rasa sakit.


Sedangkan sang suami, Azam sibuk mengurusi pekerjaan kantor dan Yasmin. Pria itu hanya menganggap Alina sebagai pengasuh dan perawat bagi anak, istrinya. Hati Alina terluka mengetahui niat dalam pernikahannya. Namun, apalah daya ia juga tidak ingin adanya fitnah dalam kebersamaan keluarga mereka. Ia tidak menyangka kehidupan pernikahannya jauh dari bayangan. Dulu, Alina pernah bermimpi akan hidup bersama pria yang ia cintai dan mencintainya.


Namun, ternyata Allah berkehendak lain. Azam dihadirkan untuk mendampingi hidupnya. Meskipun sangat berbanding terbalik dengan keinginannya, tapi Alina yakin Allah memberikan yang terbaik. Dengan keyakinan yang ia miliki, Alina berusaha sabar dan tawakal menjalani kehidupan barunya.


Sudah menjadi kebiasaan selama seminggu ini, seusai shalat subuh berjamaah Alina akan memandikan si kecil, Aqeela. Bayi perempuan yang baru berusia 3 bulan tersebut begitu menggemaskan. Alina jadi tidak kesepian lagi tanpa adanya sang suami.


"Sayang, waktunya mandi." Ujarnya seraya membuka semua pakaian yang melekat pada tubuh Aqeela.


Sang bayi hanya tersenyum manis seolah mengerti. Tidak lama kemudian Alina pun mulai memandikannya. Hanya membutuhkan waktu 20 menit ia sudah selesai mendandani Aqeela. Aroma minyak kayu putih begitu menyengat membuat Alina nyaman berlama-lama dengan anak dari suaminya ini.


"Kamu sudah memandikan Aqeela? Sekarang bantu Yasmin untuk bersih-bersih."


Suara baritone mengintrupsi. Alina terkejut tidak menyadari kedatangan Azam ke kamar.


"Ba-baik, Mas." Balas Alina lalu menyerahkan Aqeela pada sang ayah.


Bergegas, Alina pun langsung berjalan menuju lantai dua di mana istri pertama suaminya tengah berbaring tidak berdaya. Semakin hari keadaan Yasmin tidak ada perkembangan yang signifikan. Ia terlihat semakin kurus dengan penyakit yang terus menggorogotinya.


Tokk!!


Tokk!!


Tokk!!

__ADS_1


"Mbak Yasmin, ini aku Alina. Mbak sudah bangun?" tanya Alina di balik pintu.


"Buka saja tidak dikunci," jawab Yasmin pelan.


Alina pun membukanya perlahan. Ia tersenyum hangat saat pandangannya beradu tatap dengan istri pertama dari suaminya ini. Ia lalu berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur seraya membantu Yasmin beranjak dari berbaringnya.


"Terima kasih, kamu seharusnya menamani Mas Azam sarapan," ujar Yasmin dengan suara serak.


Alina menggeleng singkat. "Tidak, Mbak. Aku di sini untuk membantu Mbak Yasmin. Aku siapkan air hangat dulu."


Ia pun lalu beranjak menuju kamar mandi yang berada di kamar itu. Tidak lama berselang ia kembali dan mulai membantu Yasmin membersihkan dirinya.


Beberapa saat berlalu Alina pun membawa Yasmin turun menuju lantai satu. Di sana Azam tengah menimang Aqeela yang mulai memejamkan mata. Melihat kedatangan mereka, Azam menyerahkan sang anak pada Alina dan mengambil alih Yasmin. Dalam diam Alina hanya bisa tersenyum kecut menerima perlakuan sang suami.


Sudah seminggu ia berstatus sebagai istri kedua dari Azam. Namun, sampai saat ini ia belum pernah disentuh sedikit pun oleh suaminya. Alina hanya bisa bersabar meskipun kadang rasa perih selalu menerpanya. Hanya bisa menghela napas pasrah dengan keadaan yang menimpa, karena Alina percaya jika suatu saat keadaan akan menjadi jauh lebih baik.


Setelah kejadian singkat itu Alina masih berdiam diri di depan tangga. Netranya mengikuti sepasang suami istri di sana. Dengan telaten Azam mengurus sang istri untuk sarapan. Senyum lebar pun tercetak menambah ketampanannya. Alina bak patung tidak tahu harus berbuat apa, sampai suara Yasmin menyadarkannya dari lamunan.


"A-aahh iya Mbak." Alina pun dengan cepat ikut bergabung bersama mereka.


Canggung. Itulah yang dirasakan Alina saat ini. Ia tahu dirinya hanyalah sebagai seorang istri kedua tanpa ada ikatan cinta dalam pernikahannya. Namun, bukan seperti ini drama yang selalu diperlihatkan sang suami padanya. Ia hanya ingin dihargai tanpa imbalan apapun. Namun, yang dilakukan Azam terus memberikan luka padanya.


Seperti saat ini, pria itu dengan telaten menyuapi istri pertamanya tepat di depan mata kepala Alina. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Azam begitu perhatian kala beberapa noda makanan menempel di bibir Yasmin. Dengan lembut ia menyapunya bersih menggunakan ibu jarinya sendiri.


Dengan malu-malu Yasmin hanya bisa menerima perlakuan hangat sang suami. Bagaimana pun juga ia seorang istri yang masih butuh perhatian darinya.


Alina hanya duduk diam menikmati sarapan seraya memangku Aqeela. Kepala berhijab itu menunduk dalam berharap tidak melihat adegan pasangan suami istri harmonis tepat di depannya.


"Ya Allah sakit sekali, hah~ tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa." Benaknya.

__ADS_1


Melihat gestur Alina, Yasmin pun tersadar. Ia menolak suapan Azam dan menunjuk ke depan menggunakan dagunya. Melihat itu Azam pun mengikuti arah pandangan sang istri.


"Alina? Kenapa dengan dia?" ujarnya begitu saja. Alina pun kembali mendongak kala namanya disebut dan melihat mereka bergantian.


"Rasanya tidak enak dilihat, bagaimana pun juga Alina suami Mas juga," ujar Yasmin membuat Alina melabarkan kedua mata tidak percaya.


"Memangnya kenapa? Aku suamimu juga. Sudah menjadi kewajibanku untuk mengurusimu. Apalagi kamu sedang sakit, sayang. Alina sehat jadi dia bisa mengurusi semuanya sendiri," perkataan Azam begitu tepat mengenai ulu hati Alina.


Ia berusaha tegar dengan menggenggam sendok dengan kuat. Ia tidak menyalahkan Yasmin dalam situasi seperti itu. Namun, alangkah lebih baik jika ia diam dan tidak berkata seperti tadi. Mungkin perkataan Azam tidak akan pernah Alina dengar.


"Tidak apa-apa, Mbak. Benar apa yang dikatakan Mas Azam, aku bisa melakukan semuanya." Balas Alina berusaha terlihat baik-baik saja.


"Kamu dengar sendirikan? Dia baik-baik saja, jadi ayo habiskan sarapanmu, Sayang."


Kembali kata sayang diucapkan sang suami untuk wanita lain.


Berkali-kali Alina harus menebar senyum penuh kepalsuan, meskipun ada air mata yang ingin dikeluarkan. Ia tahu diri dengan posisinya sekarang.


"Baiklah kalau begitu. Oh iya, sebelum Mas berangkat mau antar Alina dulu tidak?" Alina menautkan kedua alis tidak mengerti.


"Ke mana?" tanya suaminya singkat.


"Hari ini Aqeela harus imunisasi, jadi alangkah baiknya Mas mengantar Alina. Kamu maukan Al, menemani Aqeela?" kini perhatiannya pun berpusat pada Alina.


Wanita itu hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum simpul. "Baiklah, apapun demi kamu sayang." Ujar Azam seraya mengelus puncak kepala Yasmin. "Kalau begitu aku siap-siap dulu." Lanjutnya lalu membubuhkan kecupan hangat di dahinya.


Melihat itu Alina hanya bisa menatap mereka dengan nanar. Ia benar-benar tidak dianggap sebagai seorang istri. Ia diperlakukan sangat berbeda. Meskipun kedudukannya sama dengan istri pertama.


"Aku tidak berbeda jauh dari pengasuh. Ya Allah kuatkan hati hamba." Benaknya lagi.

__ADS_1


Hanya itu yang bisa Alina lakukan. Ia akan terus bersabar sampai waktu menentukan semuanya baik-baik saja.


__ADS_2