
Malam menjelang, udara di sekitar pantai sedikit dingin dengan awan gelap berkumpul di atas sana. Sesekali suara guntur saling bersahutan membuat situasi sedikit mencekam.
Setelah menemani Raihan tidur, Alina duduk di ruang makan seorang diri menatap jendela yang memperlihatkan keadaan di luar.
Kepalanya lalu mendongak menyaksikan hujan mulai turun. Kesendirian kian menyapa kuat, keheningan meresap membuat ia merindukan kedua orang tuanya. Ia hanya bisa memberikan do'a semoga Allah menempatkan ayah serta ibu di sisi-Nya yang terbaik.
Rumitnya perjalanan rumah tangga yang ia jalani telah memberikan pembelajaran berharga, jika cinta tidak selamanya indah. Sekarang ia sudah pergi meninggalkan sejuta kenangan bersama suami yang tidak pernah mencintainya.
Namun, itu lebih baik daripada harus berada di rumah besar tanpa keharmonisan. Sudah satu bulan ia pergi meninggalkan ibu kota dan mengganti kartu di ponselnya. Selama itu ia hanya berhubungan dengan Sarah, Angga, dan Zara yang memaksanya untuk tetap saling berkomunikasi.
Ia tidak tahu bagaimana perkembangan perceraiannya dengan sang suami. Sampai detik ini tidak ada kabar mengenai hal tersebut.
"Kamu belum tidur?" Suara halus menyapanya dari belakang.
Alina menoleh dan mendapati Zara tengah berjalan mendekat lalu duduk di hadapannya lagi. "Kenapa? Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?"
Alina mengangguk tanpa mencela. "Sudah satu bulan aku pergi, perceraian kami-"
Helaan napas Zara membuat Alina menghentikan ucapannya. Ia mengerutkan dahi dalam kala melihat mimik wajah cantik itu yang menunjukan jika ada sesuatu terjadi.
"Kenapa kamu berekspersi begitu?" tanya Alina penasaran.
"Aku harus menyampaikan kabar ini padamu. Selama kamu pergi Tuan Azam selalu uring-uringan. Dia tidak-"
"Aku tidak ingin mendengar kabar apa pun mengenai kondisinya saat ini," potog Alina cepat, Zara mengerti dan mengangguk pelan.
"Baiklah, dia belum memberikan tanda tangan di surat perceraian kalian."
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Alina terkejut.
"Beberapa hari yang lalu aku mengajukan cuti untuk bisa pergi bersama Naura, dan di sana aku melihat tuan Azam terus memandangi surat pemberianmu. Aku sempat melihatnya sekilas dan itu surat percerian kalian. Tuan Azam juga mengatakan aku tidak bisa memberikan tanda tangan pada surat ini. Aku ingin melihat Alina dan meminta maaf padanya, begitu katanya," jelas Zara membuat Alina mendengus pelan.
"Aku bisa memaafkannya, tetapi untuk melupakan butuh waktu seumur hidup. Aku tidak bisa bertemu dengannya dalam waktu dekat."
"Kalau begitu bagaimana jika kamu menyewa seorang pengacara untuk mempercepat perceraian kalian?" usul Zara.
"Bagaiaman aku bisa menemukan pengacara?" Alina tertarik dengan penawarannya.
__ADS_1
"Tenang saja aku kenal satu orang, dia pengacara yang baik dan juga bagus."
"Aku serahkan padamu."
Zara mengangguk beberapa kali dengan pandangan mereka saling bertatapan satu sama lain.
...***...
Pagi sudah menyambut lagi bersama aroma pantai begitu menggugah setiap insan guna menikmati matahari terbit.
Alina yang sudah sarapan bersama sang buah hati tengah berjalan menuju tokonya berada. Sesekali Raihan menggoyangkan tangan ibunya yang tengah ia genggam.
Senyum manis pun terpendar di wajah tampannya kala melihat birunya air laut terhampar sepanjang mata memandang.
"Sayang, apa kamu melihat tante Zara dan Naura? Entah ke mana mereka pergi pagi ini, dia datang dan pergi seenaknya saja," keluh Alina tidak mendapati teman barunya setelah melaksanakan kewajiban.
"Em, Raihan juga tidak tahu, tapi Mah ... Raihan ingin tinggal bersama Nuara," tutur putranya tersebut.
Alina menutkan kedua alis tidak mengerti, "maksudmu? Tinggal bersama bagaimana?"
Alina terkekeh pelan dan memandangi Raihan. "Itu artinya Mamah harus besanan dengan tante Zara di masa depan. Aku tidak menyangka jika waktu bisa mengubah sikap seseorang," ucapnya semakin pelan dan menahan tawa. Raihan hanya menuatkan alis tidak mengerti.
Tidak lama berselang mereka pun hampir sampai di toko, netra jelaga Alina menatap ada tiga orang dewasa dan satu anak kecil di sana.
Ia langsung bergegas mendekat saat mengetahui siapa dua orang di antara mereka.
"Zara? Ke mana kamu pergi membawa Naura? Bahkan kalian tidak sempat sarapan apa kamu-"
"Sudah-sudah Alina, mengocehnya nanti saja. Kenalkan dia pengacara yang aku katakan tadi malam," potong Zara cepat lalu mengenalkan dua orang pria di sebelahnya.
Bola kelereng Alina bergulir melihat dua sosok yang sedari tadi terus diam tanpa bersuara. Seketika hazelnutnya melebar sempurna dengan bibir ranum sedikit terbuka.
"Ma-Mas Zaidan? Zara kenapa bisa?" Alina gugup sambil menatap mereka bergantian.
"Iya itu memang benar, beliau Zaidan Zulfan dan-"
"Jadi beliau pengacaranya? Bagaimana bisa?" kini giliran Alina memotong ucapan Zara.
__ADS_1
Zaidan tertawa pelan dan membuat perhatian mengarah padanya. "Senang bertemu denganmu lagi, Alina. Terakhir kali kita bertemu sekitar satu setengah bulan lalu yah? Apa kabar?"
"Alhamdulillah, aku sangat baik," jawab Alina.
"Sebenarnya aku datang ke sini hanya ingin mendampingi pengacara yang Nona Zara hubungi semalam. Kenalkan, Dimas Zulfan, dia orang kepercayaan kami sekaligus pengacara keluarga," jelas Zaidan mengambil alih.
Alina tidak sanggup berkata-kata dan kembali memandangi Zara. Wanita itu hanya menganggukan kepala singat dan memberikan senyum manis.
Alina tidak menyangka jika Zara akan memperkenalkan orang-orang penting tersebut padanya.
"A-apa? Sa-saya tidak sanggup membayar jika begini ceritanya. Saya minta maaf, tetapi sepertinya saya-"
"Tidak usah meminta maaf ataupun menolak. Karena ini juga permintaanku!" tegas Zaidan.
"Eh?" Alina memandanginya kembali tidak percaya.
Zara memandangi keduanya, ingatannya pun berputar ke beberapa minggu yang lalu. Saat itu Zaidan kembali datang ke perusahaan Azam untuk menyambung kerja sama.
Namun, di tengah-tengah perjalanannya menuju ruangan Azam, Zaidan tertarik pada Zara yang mengingatkannya pada seseorang. Ia pun berhenti tepat di depan meja sekertaris tersebut.
"Tu-tuan Zaidan?" ucap Zara terkejut saat mendapati pria bertubuh tinggi tegap itu di sana.
"Aku ingin mendapatkan informasi darimu. Bisa kamu membantuku? Sepertinya kamu juga sudah tidak nyaman bekerja di sini, bukankah begitu?" tutur Zaidan membuat Zara tercengang.
"Apa yang bisa saya bantu, Tuan?" tanyanya balik.
"Aku ingin tahu ke mana Alina pergi, bukankah kamu dekat dengan istri dari bosmu itu? Sejak pesta waktu itu aku sudah menyadari jika hubungan mereka sudah tidak baik-baik saja. Kamu juga tidak usah khawatir, aku bisa membantumu untuk mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik," jelas Zaidan yang seketika memberikan keyakinan pada Zara.
Ia pun memberikan informasi padanya mengenai keberadaan Alina dan juga tentang hubungan mereka. Zaidan tersenyum puas dan memberikan kartu namanya.
"Okay, terima kasih atas informasinya. Kamu bisa datang kapan saja ke perusahaanku," lanjutnya lalu kembali melangkahkan kaki.
Zara hanya bisa diam seraya memandangi kartu nama yang tengah dipegangnya.
"Sejak saat itu aku menyadari Tuan Zaidan bukan ingin menggenggam kelemahan rekan kerjanya, melainkan ada sesuatu yang sudah mengganggu hatinya menganai keberadaan Alina. Lihat saja sekarang ... sorot mata itu ... aku yakin itu pasti sorot mata penuh damba," monolog Zara memperhatikan sepasang mata yang tengah memandangi Alina.
Dua insan yang baru kembali bertemu itu pun saling melempar kata melanjutkan pembicaraan. Alina bersyukur bisa dipertemuan dengan orang hebat seperti mereka.
__ADS_1