
Secepat kilat menyambar, seperti itu pula berita mengenai kondisi perusahaan keluarga Zabran merebak ke segala penjuru kota.
Pemberitahuan itu pun sampai pada telinga Alina. Sedari tadi ia terus melihat kabar tersebut di media sosial. Ia tidak menyangka semuanya akan berubah drastis dan mungkin lebih parah.
Ada juga akun-akun yang memberitakan mengenai kondisi mental seorang Azam. Ia terkejut saat media mengatakan mantan suaminya depresi. Hal tersebut mengingatkan ia pada masa lalu, tetapi sekarang dirinya enggan mencari tahu lebih dalam.
"Sudahlah Alina tidak baik melihat berita tidak bermutu sepert ini." Zara langsung merebut ponsel dari genggamannya lalu duduk begitu saja.
Alina yang berada di seberangnya pun hanya mengulas senyum lalu mengangguk sekilas. Ia menopang dagu di atas meja dan menikmati kue kering buatannya.
"Aku tidak menduga semuanya bisa seperti ini. Aku selalu mendo'akan yang terbaik untuknya, terlebih ada Aqeela di sana," ujarnya. Pipi bulat itu semakin berisi kala mengunah makanan manis.
Zara menghela napas dan ikut menikmatinya. "Mau bagaimana lagi karma itu memang ada dan nyata. Aku juga sudah merasakannya dan sangat pahit sekali. Aku tidak ingin merasakannya kedua kali."
"Maka jauhilah perbuatan tidak baik," kata Alina acuh takacuh.
Zara mengangguk pelan dan menghabiskan potongan terakhir kuenya. Ia memandangi Alina yang tengah menikmati pemandangan pantai. Wanita berhijab itu teringat jika waktu berjalan begitu cepat dan sudah satu bulan berlalu.
Banyak kejadian datang silih berganti. Semuanya tidak akan pernah menetap di satu titik yang sama. Akan ada masanya perubahan itu terjadi, baik maupun tidak tergantung apa yang dilakukan.
"Alina," panggil Zara.
"Hm?"
"Bisakah kamu mengajariku berhijab?"
Pertanyaan tersebut seketika membuat Alina mematung dan perlahan memandangi Zara. Kue kering menggantung di bibirnya dan jatuh begitu saja. Ia terkejut bukan main mendengar permintaan wanita itu.
"A-apa? Kamu tadi bilang apa?" tanyanya memastikan.
"Aku bilang, bisakah kamu mengajariku menggunakan hijab? Aku ingin menutup aurat dan menjadi muslimah sesungguhnya. Aku ingin menjadi sepertimu."
__ADS_1
Seulas senyum hangat terpendar di bibir manis Alina dan sektika menggenggam tangan Zara yang berada di atas meja. Sang empunya tersentak sambil memandang ke dalam manik jelaga lawan bicaranya.
"Kamu benar-benar ingin berubah? MasyaAllah, aku sangat senang mendengarnya. Alhamdulillah, Allah memberikan hidayah-Nya dengan sungguh luar biasa. Kamu harus ingat jika berhijab adalah suatu kewajiban yang sudah Allah perintahkan kepada kita sebagai seorang muslimah. Sebagaimana yang sudah disampaikan Allah dalam Al Qur'an surah Al Ahzab ayat 59 yang artinya-"
"Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
"MasyaAllah, aku sangat bahagia mendengarnya."
Zara tersenyum hangat mendengar penuturan Alina dan setelah itu keduanya pun mulai melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
Zara duduk di depan meja rias memandangi dirinya yang sudah terbalut gamis milik Alina. Mereka saling pandang lewat pantulan kaca menatap binar di manik masing-masing.
Alina melebarkan hijab yang dibawanya lalu memasangkan ke kepala Zara. "Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya.
Beberapa saat kemudian Alina selesai menggunakan hijab pada Zara. Seketika perasaan haru menyeruak ke dalam dada. Air mata menitik melihat perubahan yang terjadi pada dirinya.
Zara menangis menahan senang, lega, dan bahagia bercampur menjadi satu. Alina yang melihat itu pun tidak kuasa membendung air matanya juga. Liquid bening mengalir seraya memeluk sang sahabat erat.
"Sama sekali tidak ada, ini adalah hidayah yang sudah Allah berikan. Alhamdulillah, aku bisa menggunakannya juga. Terima kasih, Alina sudah mau membantukku," cicitnya.
Alina menggeleng pelan dan melepaskan pelukan, irisnya kembali menatap ke dalam pupil basah Zara. "Aku tidak membantu apa pun, semuanya karena tekad yang kamu lakukan. Kamu tahu, kita adalah ibu yang harus memberikan contoh dan mendidik anak kita agar lebih baik. Karena seorang ibu merupakan madrasah pertama bagi anaknya. Aku yakin kamu bisa menjadi ibu dan wanita yang jauh lebih baik."
"MasyaAllah, Alina. Aku beruntung bisa bertemu dan menjadi temanmu. Aku minta maaf pernah menyakitimu dan ... aku menyesalinya. Aku menyayangimu sungguh menyayangimu seperti saudaraku sendiri. Terima kasih sudah memperlihatkan kesabaran serta ketangguhan seorang wanita padaku. Terima kasih," kata Zara yang kembali melemparkan dirinya memeluk Alina.
Ia pun membalasnya erat dan mengangguk beberapa kali. Air mata terus mengalir tanpa henti menyaksikan dan merasakan sendiri perubahan yang terjadi pada diri Zara.
Mudah bagi Allah membolak-balikan hati seorang hamba. Semua tergantung hamba-Nya apa bisa menerima hidayah itu atau sebaliknya.
...***...
"Mamah?"
__ADS_1
Teriakan tersebut membuat Zara dan Alina yang tengah membersihkan toko menoleh ke belakang. Dua orang dewasa yang tengah menggandeng Naura dan Raihan berdiri kaku tidak jauh dari keberadaan mereka.
Alina yang mengerti pun tersenyum lebar dan menyadarkannya.
"Dia Zara, apa yang Mas Angga dan Sarah pikirkan? Kalian pasti terkejut bukan melihat kecantikannya?" tanya Alina yang tengah melepaskan tas gendong sang putra.
"A-apa? Teh Zara? MasyaAllah, sekarang Teteh berhijab?" tanya Sarah heboh.
Zara mengangguk pelan dan tersenyum simpul. "Alhamdulillah, Teteh cantik sekali." Sarah pun langsung berlari kemudian menerjang tubuh semampainya.
Zara tersentak ke belakang tidak siap menerima pelukan tersebut. Namun, ia senang mendapatkan perlakuan baik yang menyambut perubahannya.
"Terima kasih, mulai sekarang mohon bantuannya, Sarah," ucapnya. Di balik punggung Zara, Sarah mengangguk semangat.
"Alhamdulillah, kejadian kemarin ternyata memberikan hidayah tidak terduga untukmu. Selamat atas perubahanmu, semoga istiqamah," lanjut Angga.
"Aamiin, terima kasih semuanya," balas Zara yang sudah melepaskan pelukan Sarah dan memandangi mereka bergantian.
"Alhamdulillah, keluargaku bertambah lagi. Ah, kalian pasti lapar, kan? Aku buatkan makan malam dulu, yah," kata Alina lalu melenggang pergi menuju dapur di tokonya.
"Alina, benar-benar wanita hebat. Meskipun ia baru saja berpisah dengan suaminya, tidak ada gurat kesedihan apa pun yang dirasakannya," gumam Angga.
Zara yang menggendong Naura pun mengangguk mengiyakan. "Tidak ada yang perlu disesali setelah meninggalkan pria yang tidak pernah mencintai dan menghargai kita. Berkat Alina juga aku yakin untuk menutup aurat. Auranya benar-benar memberikan dampak positif untukku."
"Dari dulu teteh Alina memang wanita yang sangat baik. Meskipun di hadapkan dengan kemesraan suami beserta istri pertamanya, teteh Alina masih memperlihatkan senyum, seolah semuanya baik-baik saja. Aku baru pertama kali bertemu dengan wanita yang setegar beliau," kata Sarah mengungkapkan masa lalu.
Keduanya pun mengiyakan, "hanya pria bodoh yang sudah menyianyiakannya," lanjut Zara kembali.
"Kamu benar, tapi syukurlah mereka pada akhirnya berpisah. Aku tidak ingin melihatnya terus menyianyiakan tenaga untuk pria tak berhati itu," balas Angga. Zara dan Sarah pun mengangguk setuju.
...Bersambung......
__ADS_1