
Keheningan menyapu semua pasang mata yang siap mendengarkan jawaban Alina. Di tengah-tengah ruangan toko kue diisi enam orang dewasa dan dua anak kecil. Mereka duduk bersama di atas kayu yang dengan meja membentang sebagai pemisah.
Jam sudah menunjukan pukul setengah delapan malam. Setelah selesai salat berjamaah mereka duduk bersama menunggu keputusan yang hendak Alina buat.
Angin berhembus dan saling bersahutan dengan ombak di pantai. Semua orang terus memandangi Alina yang tengah menatapnya bergantian.
Ia lalu merangkul Raihan menekan pundaknya pelan sebagai pelampiasan. Merasakan kegelisahan sang ibu, buah hatinya pun menggenggam sebelah tangan Alina yang bebas.
"Baiklah, tanpa menunda waktu lagi aku akan memberikan jawaban atas lamaran Mas Zaidan. Sebelumnya, aku ingin mengcuapkan terima kasih banyak kepada semua orang yang sudah menerimaku dan Raihan dengan baik."
"Aku sangat bersyukur Allah mempertemukanku dengan kalian. Ketika aku berpisah dengan mas Azam ... aku tidak pernah berpikir untuk menikah lagi. Karena aku takut kejadian kemarin terulang kembali. Namun, setelah melihat kesungguhan mas Zaidan dan menerima Raihan dengan baik aku memutuskan-"
Moana, Farras, Zara, Dimas dan yang utama Zaidan begitu tegang menunggu jawaban Alina. Wanita itu kembali menjeda ucapannya mengundang rasa penasaran.
Senyum pun terbit kala ia melihat mereka satu persatu. Angin kembali berhembus mengantarkan udara dingin kian merebak.
Hal tersebut semakin membuat denyut jantung Zaidan bertalu kencang. Ia meremat kedua tangan erat melampiaskan kegelisahan dalam dada.
"Ya Allah, apa aku ditolak?" benaknya.
"Bismillahirrahmanirrahim, dengan izin Allah aku memutuskan untuk ... menerima lamaran Mas Zaidan." Finalnya.
Waktu seolah berhenti berputar, keempat orang dewasa itu terkesima dan terdiam bak bongkahan es. Alina menautkan alis saat tidak ada respon apa pun.
Apa aku salah bicara? Pikir Alina gamang.
Ia meremas bahu sang putra sedikit kencang membuang empunya mendongak. Ia menepuk paha sang ibu menenangkannya.
Alina menunduk melihat ke dalam manik hitam kelam sang buah hati. "Mamah sudah memberikan jawaban yang benar."
Seulas senyum terpendar di wajah cantik Alina dan membubuhkan kecupan ringan di dahi lebar Raihan. Sedetik kemudian sorak sorai Zara dan Moana terdengar nyaring.
Keduanya yang tengah duduk berdampingan saling meremat tangan satu sama lain. Mereka heboh berteriak senang mendengar jawaban yang diberikan Alina, sedangkan Zaidan masih terdiam.
Pikirannya buntu membuat ia tidak bergerak sedikit pun. Dimas langsung menyenggol lengannya sedikit kuat dan membuat sang empunya terlonjak.
__ADS_1
"A-ah ... a-apa kamu yakin menerima lamaranku?" tanya Zaidan gugup.
Alina mengangguk tanpa keraguan. Zaidan tidak kuasa membendung kebahagiaan, air mata menitik dengan kedua sudut bibir melengkung sempurna.
Pria bertubuh tinggi tegap itu tidak bisa menahan isak tangis haru. Ia menutup mata menggunakan tangannya dengan punggung lebarnya sedikit bergetar.
Dimas yang berada di sebelah menepuk-nepuk pelan pundak sang tuan mencoba menangkan. Ia tahu seperti apa kebahagiaan yang tengah dirasakan Zaidan.
Alina yang melihat itu terhenyak dan tidak menyangka. Baru pertama kali ia melihat seorang pria menangis karena jawaban yang diberikannya. Ia sadar jika perasaan Zaidan kepadanya benar-benar tulus.
"Alhamdulillah ... terima kasih, Alina. Aku akan berusaha membahagiakanmu."
Kata-kata itu menarik embun di dalam manik jelaga Alina. Ia pun meneteskan air mata haru mendengar penuturannya. Ia hanya bisa mengangguk dan merengkuh Raihan.
Moana bangkit dari duduk dan berjalan ke samping Alina. Nyonya besar itu seketika langsung memeluknya hangat, seraya berbisik, "Terima kasih, Alina. Kamu salah satu kebahagiaan Zaidan."
Alina lagi-lagi mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata. Dari arah depan Zara tersenyum senang melihat sahabatnya bisa menemukan kebahagiaan.
Namun, tanpa ia sadari dari arah berlawanan, Dimas menatapnya lekat. Pria berkacamata tersebut mengepalkan kedua tangan erat menahan perasaan yang menggebu.
...***...
Sesekali angin berhembus menemani kesendirian. Senyum hangat terpendar di wajah tampannya kala kepala itu terus mendongak ke atas.
Tidak lama berselang, seorang pria datang dan berdiri di sampingnya. Ia memunggungi pantai dan bersandar di besi pembatas. Netranya menatap ke dalam kamar mengitari ruangan yang di tempati sang tuan.
"Selamat Tuan Zaidan, Anda beruntung. Alina menerima lamaran Anda," katanya formal.
"Kamu lagi-lagi berkata formal padaku, Dimas. Aku yakin pasti ada sesuatu yang ingin kamu katakan." Zaidan menghela napas dan mengikuti gesture sang pengawal.
"Aku juga tidak menyangka Alina bisa menerima lamaranku. Alhamdulillah, Allah pemberi rencana yang luar biasa," lanjutnya lagi Dimas mengangguk setuju.
"Jadi, apa yang ingin kamu katakan?" tanya Zaidan mengingatkan.
"Tidak ada yang ingin dikatakan," balas Dimas kembali bersikap santai.
__ADS_1
Zaidan memandanginya lekat, manik bulatnya memicing menyaksikan wajah tampan itu merenung dalam. Ia tahu sesuatu tengah di rasakan Dimas yang enggan dirinya keluarkan.
"Apa ini ada hubungannya dengan, Zara?" tanya Zaidan yang seketika membuat kedua mata Dimas melebar.
"Aku tahu itu, kamu ... apa kamu juga sudah menyatakan perasaan?" Tanpa mengelak Dimas mengiyakan.
"Apa? Kapan kamu melakukannya?" Lagi dan lagi Zaidan memberikan pertanyaan.
"Saat Tuan membawa Nyonya dan Tuan besar menemui Alina," ungkapnya jujur.
Kedua obsidian Zaidan melebar sempurna, ia tidak menyangka jika sudah hampir satu bulan lamanya Dimas menyembunyikan hal tersebut.
"Kenapa kamu menyembunyikannya dariku?"
"Aku tidak ingin menambah pikiran pada Tuan muda. Aku hanya ingin melihat Tuan bahagia bersama Alina," ungkapnya.
Zaidan terkesima lalu terkekeh pelan dan memandang lurus ke depan. "Kamu benar-benar pengawal yang setia. Terima kasih sudah membantu Alina mengurus perceraiannya, tetapi ... kamu juga berhak bahagia. Jadi, apa jawaban Zara?"
"Dia ... menolakku."
"APA?" Suara Zaidan menggelegar sampai ke pantai. Ia tidak menduga jika wanita itu menolak pria sebaik Dimas.
Entah apa alasannya, Zaidan ingin bertemu dengan Zara secepat yang dirinya bisa.
"Wanita itu ... dia benar-benar menolakmu?" Dimas mengangguk lemah.
"Aku harus memberitahunya sebaik apa kamu di balik wajah datar itu. Aku tidak percaya dia menolakmu begitu saja, apa dia tidak tahu jika-"
"Tidak usah Tuan, jangan menambah masalah. Aku tidak ingin membebani perasaannya. Aku mengerti tidak mudah membuka hati untuk yang baru." Dimas mencekal kepergian Zaidan yang sudah menggebu-gebu.
Zaidan pun kembali berbalik dan melihat senyum di wajah berkacamatanya. Ia terdiam kaku baru pertama kali melihat bibir sang pengawal melengkung seperti itu.
Ia menghela napas lagi dan kembali pada posisi semula. "Kamu juga baru pertama kali jatuh cinta, kan? Selama ini aku tidak pernah melihatmu seperti sekarang. Zara ... seharusnya wanita itu beruntung bisa mendapatkan hatimu. Dia benar-benar."
"Terima kasih, Tuan. Sebaiknya Anda segera beristirahat masih banyak yang harus dilakukan besok. Kalau begitu saya permisi." Setelah mengatakan itu Dimas melenggang pergi menyisakan keheningan melanda.
__ADS_1
Zaidan memandangi kepergiannya dalam diam, "Aku yakin akan ada kebaikan selepas rasa sakit yang kamu rasakan," bisiknya.
...Bersambung......