
Kemelut yang terjadi pada sebuah kisah menandakan jika kehidupan tidak selamanya berjalan mulus. Akan selalu datang dan hadir terjangan ombak badai sebagai pengingat.
Saat meniti tangga untuk sampai ke puncak, perjalanan yang dibutuhkan tidak selalu mudah. Terkadang ada kerikil-kerikil kecil menjadi sebuah peringatan untuk tetap semangat dan tidak gampang menyerah.
"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatatakan, "Kami telah beriman" dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta." (Q.S. Al-'Ankabut: 2-3)
Allah menguji semata-mata karena sayang. Allah ingin setiap hamba terus bergantung pada-Nya dan tetap mengandalkan-Nya. Karena tidak ada yang patut diharapkan dan diandalkan selain Allah semata.
Ia tahu mana yang baik dan buruk bagi hamba-Nya. Ia akan memberikan apa yang hamba-Nya butuhkan untuk kebaikannya.
Di tengah pertemuan dua keluarga tersebut, Moana akan menjadi tameng bagi putra semata wayangnya. Sedari tadi ia terus mengepalkan tangan saat perjanjian konyol itu dibahas kembali.
Setelah mendapatkan persetujuan dari kedua belah pihak, keluarga Zyva pun pamit pulang. Sepeninggalan mereka Dawas berubah menjadi lebih serius lagi.
"Jika kalian tidak mau bekerja sama denganku ... kalian tidak akan pernah mendapatkan apa pun. Aset yang kemarin aku katakan akan benar-benar dibekukan. Karena Zaidan merupakan cucu laki-laki satu-satunya keluarga ini maka dialah yang harus mengelola semuanya, tetapi ... adanya kejadian ini kalian harus memastikan jika dia mau meninggalkan istrinya dan menikah dengan Zanna."
"Kalau sampai kalian tidak bisa mendapatkannya, maka sangat disayangkan aset yang kalian miliki akan aku ambil alih kembali," tutur Dawas mengundang ketegangan.
Mereka tidak percaya jika keberadaan Zaidan begitu penting dalam keluarga. Anggota keluarga yang lain saling berbisik mengatur strategi guna memisahkan Zaidan dan Alina.
Mereka tidak ingin harta yang selama ini sudah menghidupinya musnah begitu saja. Mereka gelap mata dan hanya memikirkan kekayaan tanpa peduli kebahagiaan keluarganya.
Setelah mengatakan itu Dawas pun beranjak dari duduk hendak berjalan ke kamarnya berada. Namun, langkahnya terhenti saat Moana bangkit dan berujar.
"Saya menolak. Saya adalah ibu yang sudah mengandung, melahirkan, menyusui, dan membesarkan Zaidan sepenuh hati. Saya tidak ingin kebahagiaan anak saya diusik begitu saja. Apa pun pilihan yang dilakukan, itu sudah pasti menjadi kebahagiannya," tutur Moana.
Dawas berbalik menyeringai lebar memandangi menantu dari putra pertamanya tersebut.
"Tidak heran, dari mana datangnya pembangkang itu. Ternyata Zaidan mewarisi sikap buruk dari ibunya. Farraz, apa kamu tidak bisa mengajari istrimu untuk bersikap baik dan mengikuti apa yang dikatakan Ayah?" tanyanya menoleh pada sang anak.
Farraz yang tengah berdiri di samping Moana menunduk dalam tidak bisa membantah perkataan sang ayah.
"Aku minta maaf, Ayah. Aku akan mendiskusikan hal ini dengan Moana." Farraz pun menggenggam pergelanagan tangan Moana dan hendak membawa sang istri ke ruangan pribadi mereka.
__ADS_1
Namun, sekuat tenaga Moana menghempaskan tangan suaminya dan kembali memandangi sang ayah mertua.
"Saya minta maaf jika perlakuan saya menyinggung Ayah mertua, tetapi sebagai seorang ibu ... saya akan melindungi Zaidan apa pun yang terjadi. Karena saya tidak ingin melihat darah daging yang sudah saya lahirkan dengan menaruhkan nyawa tidak bahagia dengan perjanjian konyol kalian." Moana pun pergi dari kediaman tersebut menyisakan kekesalan dalam sorot mata Dawas.
"Moana ... wanita itu," geramnya.
Anggota keluarga yang lain hanya bisa terdiam tidak bisa berbuat apa-apa. Sekali saja mengucapkan hal salah apa yang mereka miliki saat ini akan lenyap seketika.
...***...
"Sayang, bisakah kamu mengikuti permintaan ayah?" Farraz menyusul istrinya keluar gerbang mansion keluarga Zulfan.
Moana berbalik dan menghadap suaminya dengan tatapan nyalang. "Apa katamu, Mas? Mengikuti permintaan ayah? Apa Mas tega melihat anak sendiri dijadikan boneka oleh ayahmu? Dia manusia Mas, manusia sama seperti kita."
"Zaidan berhak mendapatkan kebahagiaannya. Dia sudah bahagia bersama Alina ... dia sudah menemukan wanita yang benar-benar ia cintai. Apa Mas selama ini lupa bagaimana kita susah sekali menemukan pendamping yang cocok untuknya?"
"Dan sekarang Zaidan sudah menemukan belahan jiwanya, tidakah ... tidakah kita harusnya turut merasakan kebahagiaan itu bersamanya? Sebagai ibu aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan kebahagiaan mereka, termasuk ... ayahmu," kata Moana menggebu.
"Wajar kalau misalnya Zaidan masih sendiri, tapi sekarang ia sudah berkeluarga. Seharusnya ... kita sebagai orang tua mendukung apa pun keputusan Zaidan. Jika Mas masih keukeuh mengiyakan permintaan ayah, lebih baik ... lebih baik kita tidak usah bertemu dahulu. Aku-"
Belum sempat Moana menyelesaikan ucapan, Farraz menerjangnya kuat. "Aku tahu ... aku minta maaf. Aku hanya ... aku hanya takut sesuatu terjadi pada Zaidan jika ayah sampai melakukan hal nekad."
"Tenang saja, apa kamu lupa dari mana aku berasal?"
Farra melepaskan pelukan memandangi istrinya lekat. Senyum mengembang di wajah cantiknya yang sudah tidak lagi muda itu.
"Arfa ... nama belakangku Arfa. Moana Arfa, kamu tidak tahu apa artinya?" Dengan polos Farraz menggeleng. "Moana artinya samudera atau laut, sedangkan Arfa adalah kejayaan. Jadi, Moana Arfa berarti wanita pemberani yang mengarungi lautan untuk mendapatkan kejayaan."
Farraz tersenyum bangga mendapatkan wanita tangguh ini sebagai istrinya. Ia mengangguk pelan dan menangkup bahu Moana.
"Baiklah, apa pun yang terjadi aku akan bersamamu untuk kebaikan putra kita," ungkapnya.
Moana mengangguk semangat dan menggandeng suaminya pergi dari sana.
__ADS_1
...***...
"Apa tidak besok saja? Ini sudah sore tidak baik wanita hamil keluyuran di waktu tanggung seperti ini," kata Jasmin saat mereka berjalan beriringan menuju pintu depan.
"Tidak apa-apa, Mbak. Ada Allah, aku percaya tidak akan ada apa-apa. Aku sudah merepotkan kalian selama dua hari ini," balas Alina.
"Apa yang kamu katakan? Kamu sama sekali tidak merepotkan kami, aku senang bisa tinggal lebih lama bersama Raihan." Azam menyela pembicaraan mereka.
Alina pun menoleh lalu tersenyum kepada mantan suaminya. "Terima kasih banyak, Mas, tapi aku harus pulang," katanya lagi.
"Baiklah kalau itu keputusanmu, Mas tidak akan melarang," kata Azam.
Mereka pun tiba di pekarangan, di sana Zaidan sudah menunggu bersama Raihan di depan mobil. Alina berjalan mendekat lalu kembali berbalik memandangi Azam beserta Jasmin bergantian.
"Kami pamit Mas, Mbak, terima kasih atas semuanya."
"Em, hati-hati di jalan. Jika ada apa-apa segera hubungi kami, jangan sungkan untuk menginap lagi," ungkap Azam.
Alina dan Zaidan mengangguk bersamaan. "Terima kasih, Azam sudah membiarkan kami menginap."
"Sama-sama tidak usah sungkan, kita sudah menjadi keluarga."
"Baiklah kalau begitu kami permisi pulang dulu." Zaidan menggiring istri dan anaknya masuk mobil.
Sebelum memasuki kendaraan tersebut Raihan melambai pada sang ayah sambil berkata, "sampai jumpa lagi, Ayah."
"Iya hati-hati, Nak. Jaga Mamah dan adik bayi dengan baik."
Raihan mengangguk sambil tersenyum lebar. Azam dan Jasmin pun melambaikan tangan saat mobil mulai berjalan. Mereka saling pandang dan mengembangkan senyum merasa lega luar biasa mengenai keadaannya sata ini.
"Ayo masuk." Azam merangkul pinggang Jasmin seraya membawanya ke dalam. Pintu pun tertutup menyisakan kenangan yang kembali terajut.
...Bersambung......
__ADS_1