Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 234 (Season 3, Sarah & Angga)


__ADS_3

Usia pernikahan keenam tahun merupakan momen berharga bagi pasangan Sarah dan Angga. Di mana di ulang tahun rumah tangganya yang sekarang mereka dianugerahi sang buah hati.


Penantian selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil. Tepat beberapa bulan lalu Sarah dinyatakan positif hamil.


Ia menangis selama berjam-jam, bahagia atas karunia yang telah Allah berikan. Angga sebagai suami yang setia mendampinginya pun turut terharu.


Mereka bisa membungkam mulut orang-orang yang selalu mempertanyakan kesuburan kedua belah pihak.


"Memang belum waktunya saja, jika sudah datang dikasih juga, kan?" ucap Sarah yang tengah bersama anggota keluarga lain di meja makan.


"Benar apa kata Sarah, jika memang sudah waktunya rezeki itu akan datang," timpal Angga setuju.


Kedua orang yang selalu mempertanyakan kapan mereka punya anak pun terdiam. Adrian dan Bening, adalah paman serta bibi dari Angga yang kerap memberikan pertanyaan pribadi.


Meskipun berupa pertanyaan jika yang ditanyakan adalah hal sensitif maka tidak akan nyaman bagi si penerima.


Angga dan Sarah waktu itu hanya bisa pasrah kala kedua orang tersebut sering memberikan pertanyaan yang sama.


"Aku dan Sarah juga tidak buru-buru untuk punya momongan. Kami hanya memasrahkannya pada Allah saja, iya kan Sayang?" Angga menoleh pada sang istri yang tengah duduk di sebelahnya.


Sarah menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulut lalu membalas tatapan sang suami.


"Itu benar, lagi pula kami masih ingin menikmati waktu pacaran dulu. Pacaran setelah menikah itu kan paling membahagiakan, iya kan Sayang?" timpal Sarah yang masih masuk ke dalam permainan.


"Benar sekali, Sayang. Sampai Allah pun mempercayakan kami berdua untuk menjadi orang tua. Di dalam sini ada anakku ... halo sayang." Angga merunduk mendekati perut Sarah yang sedikit buncit.


Sang empunya pun mengusap pelan puncak kepala pasangan halalnya lembut. Ia mengembangkan senyum dan berkali-kali memandangi Adrian serta Bening yang tengah melihat kemesraan mereka.


"Paman dan Bibi sekarang tidak usah khawatir lagi. Aku sudah hamil dan kami tidak mempunyai masalah apa pun. Allah yang menentukan seseorang itu bisa mengandung atau tidak, jadi ... jangan pernah mempertanyakan hal sensitif kepada orang lain seperti, kapan kamu punya anak? Atau kapan kamu menikah? Stop, itu bisa melukai perasaan. Bibi dan Paman sekarang mengerti, kan? Jika takdir itu ada di tangan Allah," tutur Sarah panjang lebar.


Kedua orang itu menghela napas dan meletakan alat makan di atas piring.


"Bisa-bisanya kamu menasehati kami! Kami ini lebih tua darimu." Bening menunjuk tepat ke wajah Sarah.


"Kami hanya beda tiga tahun saja, Bibi tidak usah berlebihan," timpal Angga memasang tameng di depan sang istri.


"Kalian memang benar-benar." Adrian bangkit dari duduk lalu menarik pelan Bening untuk pergi dari sana.

__ADS_1


Angga dan Sarah saling pandang lalu mengulas senyum. Mereka kembali bercengkrama bersama janin yang masih berkembang di dalam perut.


Keduanya tidak akan membiarkan siapa pun mengusik ketenangan rumah tangga mereka. Meskipun itu adalah keluarganya sendiri.


...***...


Tepat pada hari ini, Sarah dan Angga menggelar syukuran empat bulanan. Keluarga, sahabat, serta kerabat dekat di undang ke kediaman dokter tampan tersebut.


Pasangan calon orang tua itu menyambut hangat kedatangan mereka. Sarah kegirangan kala menyaksikan wanita yang sudah dianggap kakaknya sendiri itu berjalan mendekat.


"Kyaaa! MasyaAllah, Teh Alina." Buru-buru Sarah berlarian kecil membuat orang-orang di sekitar terkejut.


"Astaghfirullah, Sarah apa yang kamu lakukan?" Alina merengkuhnya hangat membuat wanita bergaun putih itu terkekeh pelan.


Sarah melepaskan pelukan dan memandanginya lagi, "Aku senang Teh Alina bisa hadir ke acara syukuran kami."


Alina melebarkan senyum manis dan mengelus perut buncitnya.


"Sudah pasti, aku tidak mungkin melewatkan acara bahagia kalian," balasnya kemudian.


Sarah yang terpengaruh hormone hamil pun mengerucutkan bibir, layaknya anak kecil sedang dimarahi oleh sang ibu.


"Teteh, Mas Angga jahat. Dia memarahiku," katanya sambil merengek.


Alina langsung merangkulnya dan mengusap bahu sebelah kanan Sarah lembut.


"Tidak apa-apa, Mas Angga tidak memarahi mu, tetapi memberikan peringatan untukmu agar berhati-hati. Sekarang kamu sedang hamil, Sarah," ucap Alina mengingatkan.


"Harap maklum yah Mas, ibu hamil biasanya sangat sensitif. Jadi, istrimu bisa cepat marah, sedih, ataupun manja," lanjutnya lagi.


"Plus-" Zaidan yang sedari tadi ada di sana membisikan beberapa patah kata pada dokter tampan tersebut.


Seketika itu juga Angga melebarkan pandangan, menoleh ke samping di mana sang pengusaha tengah tersenyum penuh makna sembari menggerakkan alis ke atas dan ke bawah.


"Benarkah itu?" tanya Angga tertarik.


"Tentu saja ... eh tunggu! Bukannya kamu seorang dokter? Masa iya hal seperti itu tidak tahu?" tanya balik Zaidan, heran.

__ADS_1


"Hei, aku bukan dokter kandungan," balas Angga membela diri.


Mereka pun tertawa bersama mengenyahkan kecanggungan.


Tidak lama berselang sang sahabat pun datang sembari menggandeng lembut tangan istrinya. Mereka kompak melihat ke arah yang sama.


"MasyaAllah, selamat yah buat kalian berdua." Azam menjulurkan tangan ke depan dan langsung disambut Angga hangat.


"Terima kasih, sudah datang," balasnya menatap pasangan itu bergiliran.


Beberapa saat kemudian pengajian pun tengah berlangsung. Mereka ikut merasakan kebahagiaan Sarah dan Angga yang baru dikaruniai buah hati.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Acara empat bulanan berjalan lancar serta mendebarkan.


Kini hanya ada waktu pribadi bagi pasangan halal tersebut. Sarah dan Angga duduk berdampingan di atas tempat tidur.


Tidak henti-hentinya sang suami mengelus perut buncit Sarah dengan berbinar senang. Ia pun mengecupnya berkali-kali membuat sang istri tergelak.


"Sudah Mas hentikan, aku geli," ucap Sarah mencoba mendorong kepala Angga.


"Tidak, Sayang. Aku masih ingin bermain bersama anak kita." Angga pun tidak mau kalah hingga tidur di pangkuan Sarah.


Wanita itu hanya membiarkannya saja seraya mengusap lembut surai pasangan halalnya berulang kali.


"Aku bahagia sekali, Mas. Sekarang kita akan menjadi orang tua, semoga kelak anak ini bisa memberikan kebahagiaan kepada orang-orang di sekitarnya ... seperti teh Alina," tutur Sarah kemudian.


Angga menyamping berhadapan langsung dengan perut sang istri yang sedikit menonjol. Ia pun kembali mengecupnya ringan dan mengelusnya lagi.


"Aamiin, Alina memang membawa pengaruh positif bagi orang-orang di sekitarnya. Perjalanan hidup yang sudah ia alami selama bertahun-tahun membuat sosoknya menjadi panutan. Wanita tangguh itulah yang sudah menjadi perantara agar kita bertemu. Allah memang luar biasa dalam mengatur kisah hidupnya," ungkap Angga teringat saat membantu Alina yang tengah hamil waktu itu.


"Sekarang aku paham bagaimana kesepiannya Alina saat Azam lebih memilih bersama Jasmin. Memang semua itu hanya menjadi masa lalu, tetapi berkatnya Alina bisa seperti sekarang. Hiduplah dengan bahagia bersama Zaidan, Alina," monolog Angga sembari menutup kedua mata berusaha merasakan keberadaan sang buah hati.


"Teh Alina memang wanita yang sangat baik," timpal Sarah lagi yang mendapatkan anggukan dari suaminya.


Mereka adalah dua orang yang menjadi saksi seperti apa kisah cinta seorang Alina. Jatuh bangun untuk kembali membuka hati telah dilewatinya berkat dukungan serta bantuan Sarah dan Angga.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2