
Kepergian sang suami menjadi pengalaman pertama bagi Alina. Setelah Zaidan pergi, ia disibukan dengan berbagai pekerjaan rumah serta mengurus anak.
Ia menolak untuk tinggal sementara bersama ibu mertuanya, Alina beralasan ingin mandiri tanpa harus di bantu Moana.
Nyonya besar itu pun tidak menolak ataupun melarang. Baginya kebaikan menantu, anak, dan juga kedua cucunya paling utama.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Selesai makan, Alina dan kedua buah hatinya tengah menikmati waktu bersama di kamar tidur.
Karpet lembut tergelar di samping ranjang dengan berbagai macam permainan tersebar di sana. Alina yang tengah menyusui Zenia menemani Raihan bermain. Sesekali ia tersenyum melihat kelucuan putra pertamanya.
"Mah, bagaimana apa aku sudah benar menyusun legonya?" tanya sang anak menatapnya penuh harap.
"Em, anak Mamah memang pandai. Itu benar-benar mirip dengan contoh dalam gambar," pujinya senang.
Raihan melebarkan kedua sudut bibirnya antusias. "Benarkah?" Alina mengangguk mengiyakan.
"Syukurlah, aku mau memberikan ini untuk ayah. Sepulangnya nanti aku ingin memberikan kejutan," ungkapnya.
"Oh yah? Ayah pasti senang, kamu anak yang baik Sayang," kata sang ibu membuat Raihan terkekeh senang.
Ia pun kembali sibuk bersama dunianya sendiri. Seraya tengkurap di atas karpet Raihan begitu gembira terus menyusun lego.
Alina menatapnya hangat, lalu beralih pada Zenia yang sudah melepaskan makanannya. Ia lalu meletakan bayi berusia dua bulan itu ke dadanya.
Dengan pelan ia menepuk-nepuk punggung Zenia membuatnya bersendawa. Bunyi keras itu bergema dalam ruangan. Alina dan Raihan saling pandang dan tertawa ringan.
Mendengar suara ibu dan kakaknya, Zenia terkejut sampai merengek. Alina menimang-nimangnya membuat sang buah hati kembali tenang.
"Putri kecil kita luar biasa," kata Raihan menopang dagu menatap ibu serta adiknya.
"Adikmu benar-benar mirip dengan kakaknya," jelas Alina kemudian.
"Apa saat masih bayi aku bersendawa seperti itu?" tanyanya lagi sembari memiringkan kepala.
Alina mengangguk beberapa kali, "Persis seperti Zenia." Raihan tergelak mendengarnya membayangkan diri sendiri.
Di tengah kebersamaan mereka, getaran ponsel di atas nakas mengejutkan. Buru-buru Alina menggapainya dan mendapati nama sang suami dalam layar. Ia pun langsung menerima panggilan video call tersebut.
__ADS_1
Sedetik kemudian wajah tampan suaminya terpampang jelas. Lengkungan bulan sabit itu menyapa mengantarkan kerinduan.
"Assalamu'alaikum, kesayangannya Ayah. Bagaimana kabar kalian di sana?" tanya Zaidan di seberang sana.
Raihan yang mendapati ayah sambungnya menelepon pun bergegas mendekati sang ibu. Ia duduk di sebelah Alina yang tengah mengarahkan ponsel pada mereka.
"Wa'alaikumsalam, kami baik-baik saja di sini. Mas juga baru pergi tadi pagi, jadi tidak usah khawatir," jelas Alina.
Zaidan menghela napas pelan. "Kenapa kamu tidak mau tinggal sementara bersama ayah dan mamah?" tanyanya heran sekaligus terkejut saat mendapat kabar jika Alina tetap tinggal di apartemen megah mereka.
"Aku tidak ingin merepotkan mamah, Mas. Lagi pula aku ingin mandiri tanpa terus menerus menyusahkan mereka. Mas jangan marah, aku dan anak-anak baik-baik saja, mamah juga akan sering berkunjung katanya."
"Ah, dan Zara, Sarah, mbak Jasmin, juga akan datang nanti," ungkapnya kemudian.
Zaidan kembali menghela napas sembari memberikan tatapan nanar. "Baiklah, aku tidak bisa memaksamu. Syukurlah jika mereka mau datang ke tempat kita, baik-baik yah di sana. Tunggu aku pulang ... aku benar-benar merindukanmu, Sayang."
Alina tidak bisa menahan tawa mendengar nada rengekan itu. "Ini belum ada sehari, Mas. Kamu sudah merindukanku?"
"Em, sangat."
Menyadari jika di sana ada kedua buah hatinya, Zaidan pun beralih. "Ah, Sayang. Maafkan Ayah ... tentu saja, Ayah juga merindukan Raihan dan putri kecil kita. Apa kamu sudah menjaga Mamah dan Zenia dengan baik, Sayang?"
Raihan mengangguk semangat dan mengambil alih ponsel yang disodorkan Alina. "Aku menjaga Mamah dan putri dengan baik, Ayah," ujarnya semangat.
"Baguslah, Ayah bangga padamu. Tunggu Ayah pulang, yah jaga terus dua putri kita."
"Em, itu sudah pasti. Ayah jangan khawatir dan fokus saja pada pekerjaan di sana. Di sini ada aku yang akan menjaga Mamah dan putri Zenia," tutur Raihan tegas.
"Baiklah, Ayah serahkan padamu."
Mereka pun terus melakukan video call sampai satu jam lamanya. Kepergian Zaidan melaksanakan tugas di luar kota memberikan keheningan.
Setelah panggilan selesai, mereka pun bergegas tidur. Alina meletakan Zenia di tengah-tengah antara dirinya dan juga Raihan.
Ia memandangi kedua putra dan putrinya dalam diam. Tangan lentiknya terulur mengusap wajah damai mereka. Perasaan hangat menyapa kuat mengalirkan kebahagiaan tiada tara.
"Selamat malam, selamat tidur sayang-sayangnya Mamah," bisiknya lirih lalu memberikan ciuman hangat di kedua dahi mereka.
__ADS_1
Alina membaringkan diri menatap langit-langit ruangan. Sepi, hening, tanpa ada suara apa pun menyapa. Ia jadi teringat saat-saat sang suami masih ada di rumah.
"Biasanya di jam seperti ini kamu akan menggodaku. Kepergianmu memang membuatku sepi, tetapi ... aku tidak bisa mencegahnya. Karena itu sudah menjadi tugas serta kewajibanmu, Mas."
"Ya Allah jagalah suami hamba di manapun dia berada. Selamatkan serta lindungilah ia dalam pekerjaannya sampai kembali," gumamnya penuh harap.
...***...
Di tempat berbeda, Zaidan masih berkutat dengan setumpuk dokumen yang menggunung. Ia menoleh pada pigura sedang menampilkan potret keluarga kecilnya.
Bibir menawan itu melengkung sempurna membayangkan jika di sana sang istri beserta kedua anak mereka tengah menunggu kepulangannya.
Memikirkan hal tersebut memberikan semangat juang bagi Zaidan. Ia akan melakukan tugasnya dengan baik dan secepat mungkin agar pekerjaan bisa selesai. Setelah itu ia akan kembali kepada istri dan dua anak tercintanya.
"Tunggu aku, sayang. Aku akan pulang dan kembali bersama kalian," tuturnya hangat.
"Sayangnya pekerjaanmu bertambah," kata Dimas yang tiba-tiba saja menimpali perkataan tersebut.
Zaidan menatap sang pengawal nyalang tanpa berkedip sedikit pun. Dimas menggendikkan bahu acuh tak acuh setelah meletakan tumpukan dokumen di atas meja.
"Apa? Kenapa kamu memberikan begitu banyak pekerjaan padaku?" kata Zaidan jutek.
"Mau bagaimana lagi? Meskipun Anda sekarang berada dalam perjalanan bisnis, tetapi pekerjaan di kantor pusat masih harus diselesaikan. Nikmatilah makan malammu, Tuan muda," jawab Dimas seraya membetulkan letak kacamatanya.
Tanpa mendengar balasan sang atasan, ia langsung balik badan meninggalkan ruangan. Zaidan seketika sadar dan melihat pintu ruangan cepat-cepat di tutup.
"Dasar maniak kacamata, bantu aku di sini. Makan malam apanya jika seperti ini!" teriakan itu bergema dalam ruangan. Zaidan bangkit dari duduk mengatur napasnya naik turun menahan kekesalan.
"Aku tidak percaya jika perjalanan ini benar-benar menyebalkan," keluhnya memandangi tumpukan kertas-kertas tepat di hadapannya.
Kedua mata itu lalu menatap potret keluarganya lagi dengan tersenyum masam. "Sepertinya aku harus menunda kepulangan ... maafkan aku sayang."
Tanpa ia sadari di luar ruangan Dimas menahan tawa. Namun, kegiatannya seketika diusik oleh getaran ponsel. Ia pun merogoh saku celana, mengeluarkan benda pintar dan mendapati nomor seseorang di sana lalu menjawab panggilan tersebut.
"Iya?" Pandangannya seketika menggelap.
...Bersambung......
__ADS_1