Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 222 (Season 3)


__ADS_3

Kemelut yang sudah terjadi pada kehidupan mengantarkan kebahagiaan tiada batas. Cinta yang pernah dikhianati kini berganti ketulusan.


Luka yang pernah tertoreh, sekarang berubah kebaikan. Air mata kepedihan yang hampir mengering, digantikan air mata haru.


Sebagaimana roda yang terus berputar, kehidupan pun tidak selamanya berada pada satu titik. Akan ada saatnya merasakan sakit dan akan ada masanya mendapatkan kesenangan.


Butuh waktu yang memang tidak sebentar guna keluar dari situasi menyakitkan. Namun, balasannya pasti bisa melupakan kejadian itu.


Memang tidak sepenuhnya menghilang, tetapi ada perubahan yang bisa dirasakan.


Itulah yang saat ini Alina rasakan. Bagaimana ia pernah terpuruk pada cinta bertepuk sebelah tangan serta tidak terbalaskan.


Peran ganda yang sudah ia tanggung di awal pernikahan pertama terus menerus mengundang sedih. Ia pikir tidak akan pernah berakhir dan selamanya berada di jurang perih, tetapi Allah menghadirkan Zaidan sebagai pelengkap serta penghapus luka lara.


Bersama pria itu ia bisa merasakan bagaimana manisnya kehidupan rumah tangan yang sesungguhnya. Kini Alina bersyukur berkat perjalanan terjal itu ia bisa mendapatkan kebahagiaannya sendiri.


Bersama Zaidan, ia menemukan arti cinta sebenarnya. Jika cinta sejati itu datang dari dua hati yang saling membutuhkan, bukan dari salah satu, yang mana satu pihak hanya mendapatkan penderitaan.


Penyatuan itu pun kembali terjadi. Selang beberapa menit Zaidan mengakhiri dan menatap lekat wajah manis sang idaman.


"Cantik sekali, kamu akan menjadi milikku selamanya, Sayang," ucap Zaidan membelai pelan pipi merona istrinya.


Alina menggenggam tangan itu dan diberikan kecupan mendalam di telapaknya, menyaksikan hal tersebut Zaidan senang bukan main. Ia merasakan jika dirinya benar-benar di terima sepenuhnya.


"Tidak akan ada yang bisa mengambilku darimu, Mas. Siapa yang menginginkanku? Tidak ada-"


"Ada, kata Azam banyak sekali pria yang ingin mendekatimu masa kuliah dulu, tetapi ... kamu hanya terpaku pada satu pria, kan?" serobot Zaidan langsung.


Alina menautkan alisnya tajam, bibir ranum nan bengkak itu merenggut. "Apa maksudmu, Mas?"


"Kamu hanya terpaku pada Azam semata. Karena dari remaja kamu sudah menaruh hati padanya, kan?" tanya Zaidan lagi menggebu.

__ADS_1


Alina kembali menyadari jika suaminya ini benar-benar sedang cemburu yang tidak masuk akal. Namun, ia pun mengikuti ke mana permainan itu berlabuh.


"Dari mana Mas tahu?" goda Alina. "Aku memang sudah menyukai mas Azam sejak em ... usiaku lima belas tahun? Pada saat itu aku pikir hanya rasa kagum layaknya seorang kakak, tetapi seiring berjalannya waktu ... aku mulai sadar jika rasa itu berbeda. Aku ... menyukai mas Azam. Sampai pada saat kami bertemu di kampus yang sama, aku mulai jatuh cinta," kata Alina menceritakan masa lalu saat masih menyimpan rasa pada Azam.


Seketika itu juga Zaidan langsung membaringkan sang istri di tempat tidur dan mengungkungnya dalam. Sorot matanya berubah serius memandangi Alina lekat.


Alina yang melihat itu mengembangkan senyum, berhasil sudah menggoda sang suami. "Aku jatuh cinta sampai menerima peran sebagai istri kedua. Aku-hmp."


Zaidan membungkam mulut manis sang istri dengan penyatuan menggelora. Ia terus menjamah, mengecup setiap inci wajah mulus Alina. Sampai pandangan mereka saling mengunci satu sama lain lagi.


Zaidan menangkup kedua pipi sang pujaan, menyelami keindahan bola mata cokelat susu di bawahnya.


"Aku tidak ingin mendengar kamu mengucapkan cinta pada pria itu lagi. Karena-"


"Karena aku sudah menjadi milikmu. Kata siapa aku mengucapkan cinta pada pria lain, mas Azam hanya masa laluku dia ... adalah ayah dari Raihan. Mana mungkin aku melupakannya begitu saja, tapi yakinlah ... sekarang perasaan ini hanya berlabuh padamu, Sayang." Kedua sudut bibir merahnya melengkung sempurna.


Alina mengalungkan tangan di leher jenjang sang suami, menarik kepalanya untuk mendekat dan wajah mereka pun hanya berjarak sejengkal saja.


"Aku mencintaimu, Mas Zaidan," ungkap Alina.


"Suaranya keras sekali, apa Mas senang sekarang?" kata Alina lagi membuat suaminya merona.


Tanpa mengelak Zaidan mengangguk. "Aku sangat senang. Rasanya aku bisa terbang ke manapun."


Alina terkekeh pelan membuat Zaidan ikut tertawa. "Aku serius, Sayang. Kenapa kamu menertawakannya?"


"Mana bisa Mas terbang. Mas kan tidak punya sayap." Alina tidak henti-hentinya tergelak dan Zaidan pun membiarkannya saja.


Sampai kedua manik itu saling pandang lagi, mengunci satu sama lain seolah hanya sorot mata saja yang berbicara.


Zaidan kembali mendekatkan wajah membuat Alina menutup kelopak mata erat. Sedetik kemudian ia merasakan benda kenyal menyentuh permukaan bibirnya.

__ADS_1


Sentuhan sentuhan ringan terus diberikan sampai pada titik ******* kasar. Dua kepala itu bergerak tak karuan mengikuti keinginan.


Satu persatu kain yang tengah mereka kenakan dilepaskan. Sampai pada puncaknya suara rengekan sang putri mengejutkan pasangan suami istri tersebut.


Alina maupun Zaidan saling melepaskan. Sang suami buru-buru ke arah box bayi dan mendapati Zenia sudah menangis kencang.


"Uh, Sayang. Kenapa kamu terbangun? Pasti mimpi buruk yah? Sini Ayah gendong." Zaidan langsung membawa putri pertamanya dan berjalan kembali ke tempat tidur.


"Sayangnya Mamah kenapa?" Alina mengusap puncak kepala sang putri pelan.


Merasakan kehadiran sang ibu, Zenia langsung merentangkan tangan pada Alina. Ia pun mengambilnya dari Zaidan membuat buah hatinya sedikit tenang.


"Kamu pasti haus yah, Sayang?" Alina pun mendekatkan buah dadanya yang seketika dilahap oleh putri keduanya.


"Wah lihat itu, putri kecil kita mengambil jatah Ayahnya," ucap Zaidan memperhatikan Zenia yang tengah menyusu.


Alina menepuk lengannya pelan membuat sang empunya menoleh. "Tidak boleh berkata seperti itu," katanya malu.


Zaidan hanya terkekeh pelan dan mengusap kepala bulat buah hatinya. Rambut Zenia begitu lebat dan hitam sama seperti ibunya membuat ia terus mengelusnya.


Zaidan mengecup puncak kepala Zenia lembut memberikan sentuhan kasih sayang. Perlahan-lahan bayi kecil itu mulai menutup matanya lagi menyelami mimpi indah.


Zaidan dan Alina saling melempar senyum senang melihat pertumbuhan buah hati mereka. Wajah Zenia perpaduan orang tuanya pun terlihat begitu cantik dan menggemaskan.


Pipi bulatnya yang putih membuat siapa saja ingin menciumnya. Zenia satu-satunya cicit perempuan di keluarga Zulfan, tak heran jika Dawas sering mengirimkan boneka ke kediaman mereka.


Alina maupun Zaidan pun tidak keberatan. Mereka senang kehadiran anaknya bisa diterima dengan baik, begitu pula dengan Raihan.


Dawas juga kadang kala membelikan mainan untuk cicit sambungnya. Tetua Zulfan itu benar-benar sudah menerima kehadiran Alina dan Raihan dengan tangan terbuka.


Kebahagiaan mereka pun semakin bertambah dengan kehadiran Zanna sebagai anggota keluarga baru. Pernikahan keduanya tidak luput dari perhatian Dawas.

__ADS_1


Pria baya yang sudah berteman lama kenal dengan tetua Zyva itu pun semakin akrab kala janji keduanya bisa terlaksana. Meskipun dengan cucu pria Dawas yang berbeda.


...Bersambung......


__ADS_2