
Dua bulan berlalu begitu cepat, usia kandungan Alina sudah memasuki minggu ke tujuh belas. Hari-hari berat sudah ia lalui dengan perjuangan yang begitu tidak mudah.
Beruntung di sisinya ada sang suami dan juga ibu mertua yang selalu siap siaga menjaganya. Ia senang dikehamilannya kedua ini begitu banyak orang-orang yang memperhatikannya.
Selama dua bulan itu ia dan Zaidan berjuang bersama untuk mengelola keuangan keluarga. Sang suami sudah mendapatkan pekerjaan menjadi pemimpin perusahaan lagi.
Perusahaan tersebut berada dalam bidang real estate terbesar kedua di negaranya. Juga ibunya Moana, memiliki usaha sendiri yaitu parfum.
Gedung perusahaannya pun tidak kalah besar dari milik keluarga Zulfan. Merek parfumnya sudah terkenal ke antero negara.
Banyak juga negara-negara tetangga yang mengeskpor parfum darinya. Setelah menjadi seorang istri Moana hanya mengontrolnya dari jauh dan sesekali datang ke perusahaan.
Namun, setelah keadaan genting ini terjadi ia memutuskan untuk sang putra mengambil alih. Kini Zaidan menjadi CEO di sana dam menjadi wajah baru perusahaan.
Alina sebagai istri senang dan selalu mendo'akan yang terbaik untuk suaminya. Keduanya mengucapkan syukur atas salah satu permasalahan yang selesai.
Saat ini Alina dan Zaidan tengah berada di rumah sakit. Pasangan suami istri tersebut melakukan pemeriksaan rutin kandungan.
Kehamilan di tujuh belas minggu janin sudah mulai terlihat. Alina dan Zaidan tidak sabar menyaksikan malaikat kecilnya dalam layar.
Dokter Seruni yang menjadi dokter kandungan Alina itu pun tengah menggerakan probe di atas perut. Tidak lama berselang senyum manis terbingkai di wajah cantik sang dokter.
"Lihat ini." Ia pun menujuk ke layar di mana terdapat kehidupan kecil tengah berkembang dalam gelembung.
"Yang terlihat seperti kacang kecil inilah janin kalian. Usianya sudah memasuki empat bulan dan struktur organ tubuh mulai terbentuk," jelasnya.
Zaidan beranjak dari duduk begitu antusias mendekat ke arah layar menyaksikan dengan seksama buah hatinya di sana. Ia membekap mulut menganganya melihat dengan mata telanjang bayinya.
"MasyaAllah, dia kecil sekali," ujarnya mengundang kekehan dari Alina dan juga dokter.
"Apa kalian mau mendengarkan detak jantungnya?" tanya Dokter Seruni memandangi pasangan suami istri tersebut.
Alina dan Zaidan saling pandang lalu mengangguk bersamaan. Seketika Dokter Seruni mulai melakukan tugasnya untuk bisa mendengarkan detak jantung sang bayi.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian suara keras nan lambat bergengung dalam pendengaran. Suaranya bergema di ruangan mengundang bulir air mata tumpah tak tertahankan.
Zaidan kembali memandangi istrinya yang tengah berbaring sambil tersenyum haru. Ia mendekat dan membubuhkan kecupan hangat nan mendalam.
Dokter Seruni ikut tersenyum menyaksikan keharmonisan keluarga mereka.
"Janin dalam keadaan sehat dan berkembang dengan sangat baik. Sebentar lagi kita bisa mengetahui jenis kelaminnya, apa kalian mau mengetahuinya?" tanyanya setelah mereka saling menjauh.
"Saya-"
Baru saja Zaidan membuka mulut, Alina mencekal pergelangan tangannya membuat sang empunya berbalik.
"Bisakah kita tidak usah tahu saja?" tanyanya kemudian.
"Kenapa?"
"Aku ingin menjadi kejutan di waktu mendatang. Bukankah itu lebih menyenangkan?" tutur Alina kembali.
Zaidan mengangguk senang sambil melengkungkan sudut bibirnya sempurna. "Baiklah, kami akan menunggu saja, Dok."
Selesai melakukan pemeriksaan mereka pun menempatkan diri untuk menikmati makan siang bersama. Alina dan Zaidan mengunjungi salah satu restoran terdekat dan mulai memesan makanan.
Tidak lama berselang pesanan mereka tersaji di meja. Dengan penuh perhatian Zaidan melayani istrinya yang tengah mengandung.
Alina yang diperhatikan seperti itu sangat senang dan bahagia. Ia begitu dicintai oleh sang suami membuatnya lupa jika ada permasalahan dalam keluarga mereka.
"Bukankah makanan di sini enak?" tanya Zaidan seraya mengunyah daging steaknya.
Alina mengangguk singkat, "em, sangat enak."
Zaidan mengusap sudut mulut sang istri yang belepotan. Alina hanya tersenyum manis sebagai tanda terima kasih. Keduanya terbuai akan kebersamaan melupakan jika begitu banyak orang yang turut makan di sana.
Di tengah-tengah makan siang pemilik restoran mengundang salah satu pianis terkenal di negaranya. Ruangan yang semula terang benderang perlahan menyisakan cahaya remang guna menarik atensi.
__ADS_1
Di depan mereka ada satu panggung kecil sebagai pertunjukan yang di atasnya terdapat piano. Hentakan sepatu heels bergema kala suasana menjadi hening.
Semua perhatian pengunjung mengarah ke depan menyaksikan satu sosok berjalan ke atas panggung. Gaun panjang berwarna peach menjuntai hingga ke bawah dengan punggung mulusnya terekspos tertutup oleh rambut panjang yang digerai.
Ia menyapa penonton dengan menyapukan pandangan ke depan. Senyum mengembang di wajah cantiknya seraya mengangguk perlahan.
Setelah itu ia duduk di depan piano seraya menyamping ke arah penonton. Jari jemari lentiknya tertahan di udara siap menekan tuts demi tuts alat musik tersebut.
Sedetik kemudian suara lembut mengalun menemani setiap pasang mata yang tengah menikmati kebersamaan. Musik romantis dengan pencahayaan minim membentuk sebuh simfoni yang begitu sempurna.
Banyak pasangan tersenyum manis kala membayangkan pertemuan pertama. Cinta bergelora seiring dentingan piano yang kian melebur menjadi satu.
Alina dan Zaidan saling pandang kala tahu siapa yang tengah menjadi bintang utama siang ini. Mereka melihat ke sekitaran di mana pengunjung lain begitu menghayati musik pengiring tersebut.
"Bukankah itu Zanna?" Alina membuka suara.
Zaidan yang tengah fokus pada makanan mendongak menyaksikan sang istri tengah memandang lurus ke depan. Ia menoleh singkat dan memandang lekat wanita tercintanya.
"Itu benar, Zanna memang seorang pianis. Dia-"
"Dia wanita yang luar biasa, bukan begitu Mas?" Alina berpaling pada sang suami.
"Tidak ada yang lebih luar biasa dari kamu, Sayang." Jawaban Zaidan membuat Alina terperangah.
Kekehan pelan terdengar saat Zaidan menyaksikan kecemburuan di wajah cantiknya. "Apa yang kamu pikirkan, hm?" tanyanya balik sambil menggenggam tangan sang istri yang berada di atas meja.
"Tidak ada," kata Alina menarik kembali tangannya dan melanjutkan makan, sedangkan Zaidan mengulas senyum singkat.
"Aku tidak menyangka ternyata Zanna seorang pianis? Wanita seanggun itu yang seharusnya bersama Mas Zaidan. Aku-" Alina mendongak menatap sang suami sekilas dan kembali pada Zanna. "Aku seharusnya tahu tempat. Wanita sepertiku ... ah ya Allah, apa yang aku pikirkan? Apa karena hormon kehamilan ini aku jadi sensitif? Astaghfirullah sadar Alina," racaunya dalam benak.
Dalam bola mata cokelat terangnya tertangkap bayangan Zanna yang masih bermain piano. Permainannya begitu apik nan manis mengantarkan musik lembut menambah keharmonisan.
Senyum terpendar di wajahnya menambah kecantikan. Kulit putihnya begitu mengkilap saat cahaya lampu menyorot. Rambut panjangnya melambai-lambai seolah menarik perhatian. Cantik, definisi wanita itu saat ini. Alina hanya bisa diam tidak bisa mengatakan apa pun lagi dan hanya terus memandanginya.
__ADS_1
...Bersambung......