Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 72 (Season 2)


__ADS_3

Awan kelabu kini bersembunyi di balik cerahnya sang raja siang. Aroma bunga menyeruak menebarkan kebaikan mencoba meruntuhkan kepedihan.


Alina tengah duduk sendirian di ruang baca mendinginkan pikiran dari segala problema kehidupan rumah tangga. Terlalu banyak air mata keluar, terlalu pedih luka tak kasat mata dalam dada, dan terlalu perih kenyataan menerpa.


Ia tidak menduga jika satu minggu yang lalu memberikan history paling mendengarkan. Ia tidak percaya begitu banyak misteri dalam kehidupan. Meskipun maniknya membaca kata demi kata dalam buku, tetapi pikirannya terus tertuju pada kemungkinan yang terjadi.


Tidak lama berselang pintu ruangan terbuka menampilkan sang suami. Alina menoleh sekilas tanpa mempedulikan keberadaannya.


"Nanti malam ada acara di perusahaan, aku harap kamu bisa datang," jelasnya to the point.


"Aku memang berencana untuk datang," jawab Alina singkat.


Azam menghela napas pelan dan terus memandanginya dalam, "Sayang, bisa kamu tidak seperti ini?"


Alina mendengus, sebelah sudut bibirnya terangkat sempurna. Ia lalu menutup buku dan mendongak melihat sorot mata sendu di depannya.


"Apa yang Mas ingin aku lakukan?" tanyanya tegas.


"Bisakah ... bisakah kita seperti dulu? Aku tidak ingin melihatmu berubah. Aku merindukan kehidupan kita yang damai."


Mendengar perkataan tersebut membuat Alina tergelak dan bangkit dari duduk. "Dari awal siapa yang menciptakan rumah ini begitu berantakan? Jangan menyalahkah orang lain, seharusnya Mas intropeksi diri dulu."


"Aku tahu, aku salah, tapi ... aku juga tidak ingin berada di posisi ini. Semua terasa begitu berat. Bisakah kamu bersikap seperti dulu? Saat Yasmin masih ada di sini? Kita bisa hidup damai bertiga dalam satu atap, aku juga bisa berbuat adil pada kalian. Yah, sama seperti dulu," ungkapnya.


"Kalian? Aku dan wanita itu? Tidak Mas, keadaan kita sudah tidak sama. Aku tidak mau dimadu lagi dan ... aku tidak mau menjadi yang kedua. Dulu aku memang menerima keadaan kita, tapi sekarang tidak bisa. Wanita mana yang bisa membagi suaminya? Terlebih suaminya selalu dibayang-bayangi masa lalu? Aku tidak bisa, Mas!"


Alina pergi dari hadapannya menyisakan kehempaan. Azam lagi-lagi menghela napas kasar seraya menatap ke bawah. Ia tidak menyangka jika rumah tangganya bersama sang istri hancur berantakan.


Ia pun tidak menyalahkan siapa pun, karena itulah yang dirasakannya. Hatinya masih terpaut dan tertuju pada bayang-bayang sang mendiang istri tercinta.


...***...


Malam pun datang, satu persatu kalangan kelas atas berdatangan ke gedung pencakar langit milik keluarga Zabran.


Mereka hadir untuk merayakan pencapaian yang berhasil Rusdyan Azam Zabran capai pada tahun ini. Semua orang begitu menikmati suguhan di pesta tersebut seraya saling bercengkrama.


Peran utama malam ini pun datang seraya menggandeng sang istri. Alina begitu cantik dalam balutan gaun berwarna peach lembut dengan hijabnya senada. Pakaiannya begitu serasi dengan Azam memperlihatkan jika keduanya saling mencintai.

__ADS_1


Tamu yang hadir mengucapkan kata selamat dan memuji keharmonisan mereka. Namun, pada kenyataannya itu hanyalah sebuah kebohongan. Alina memasang topeng baik-baik saja di balik senyum yang kerap kali diberikan.


Tidak jauh dari keberadaan keduanya, Yasmin yang tengah menggenggam gelas berkaki panjang menyaksikan adegan tersebut.


Senyum mengembang di wajah cantiknya, ia pun menegak cairan manis itu pelan dan berjalan mendekat.


"Sudah bertahun-tahun kalian terlihat masih sangat serasi," ujar salah satu rekan kerja Azam di sana.


Azam dan Alina terkekeh ringan sambil mengucapkan terima kasih. Mereka pun berbincang-bincang bersama sebelum kehadiran seseorang mengusik ketenangan.


Alina memandanginya dalam diam tahu tujuan kedatangan wanita itu. Bibir merah cerahnya melengkung sempurna membentuk sebuah kurva.


"Oh, rekan kerja Yasmin, Anda hadir juga?" tanya Alina memulai.


Yasmin yang baru saja ikut bergabung tersentak pelan dan mengangguk singkat. "Tentu aku harus datang, sebab ini pencapaian rekan kerjaku yang luar biasa," balasnya menekan dua kata.


"Ah, tentu rekan kerja Yasmin seharusnya menjadi peran utama malam ini, tapi sayang kerja kerasmu itu-" dengan sengaja Alina menjeda ucapannya, baik Azam maupun Yasmin sama-sama mengerutkan dahi tidak mengerti.


"Ada apa ini? Tunggu bukankah wajahnya mirip sekali mendiang Yasmin istrimu?" tunjuk salah satu dari keempat pria di sana. Azam hanya mengangguk canggung sebagai jawaban.


"Wah, ini sangat menarik. Bukankah kamu sangat mencintai Yasmin? Sudah tujuh tahu dia pergi dan sekarang ada orang yang mirip sekali dengannya, pasti kamu senang, kan?" ujar pria di sebalah Azam seraya menyikut lengannya pelan.


"Hei, apa yang kamu katakan? Kamu tidak lihat di sebelahnya ada Nyonya Muda?" bisik temannya.


Alina menyungingkan senyum memandangi mereka satu persatu. "Tidak apa, aku bersyukur berkat kehadirannya ... aku bisa membuka mata."


"Kamu memang perusak suasana, maafkan aku yah Alina," ucap pria di sebelahnya dan langsung membawa teman yang memprovokasi itu pergi.


Di sana tinggalah mereka bertiga. Alina memandangi keduanya dalam diam seraya melipat tangan di depan dada.


"Sungguh pemandangan yang sangat bagus, bukankah ini kesempatan bagi kalian?" ujarnya menarik perhatian.


"Apa yang kamu inginkan? Apa kamu ingin menjatuhkanku?" gertak Yasmin membuat Alina merenggut.


"Itu memang niatku, tapi tidak seru jika harus jatuh sekarang, bukan? Nikamti waktu kalian, aku yang akan pergi," balas Alina.


Ia pun melangkahkan kaki mendekati Yasmin dan menepuk pundaknya pelan lalu berbisik, "Jasmin ternyata baik-baik saja, yah. Aku tidak sabar melihat reaksinya saat mengetahui misimu sekarang."

__ADS_1


Yasmin menoleh menatap lekat pada wajah yang tengah menyunggingkan senyum.


"Aku pergi, jaga baik-baik suami kita," lanjutnya lagi benar-benar pergi dari hadapan keduanya.


Yasmin mengepal kedua tangan erat, dadanya naik turun memandangi Alina yang begitu ramah menyapa setiap tamu.


Azam yang sedari tadi diam memperhatikan interaksi mereka hanya bisa menatapnya bergantian. Dahinya mengerut dalam tidak mengerti.


"Apa yang dikatakan Alina?" tanyanya penasaran.


"Tidak ada," jawab Yasmin singkat.


"Apa maksud dia berkata seperti itu? Apa jangan-jangan?" benak Yasmin kemudian.


...***...


Di tengah keramaian di aula, Alina memilih menepi di balkon menikmati pemandangan malam. Sesekali angin menyapu wajah putihnya menemani kesendirian.


Sorot mata sendu menyaksikan bintang berkelap-kelip di atas sana. Hiruk pikuk di belakangnya sama sekali tidak mengusir kesepian.


Tidak lama berselang seseorang datang, aroma maskulin menyapa indera penciuman. Alina menoleh ke samping kiri mendapati pria asing.


"Anda siapa?" tanyanya.


Pria itu pun menengok membalas tatapan Alina. "Ah, kita bertemu lagi."


Alina mengerutkan kening tidak mengerti. "Memangnya Anda siapa?" tanyanya lagi.


"Seminggu yang lalu kita bertemu di lobi. Kenalkan aku Zaidan Zulfan, senang bisa berkenalan denganmu, Alina," jawabnya memperkenalkan diri.


Mendengar nama belakangnya seketika manik Alina melebar dengan mulut terbuka. Ia pun membekapnya seraya menggeleng beberapa kali.


"Zu-Zulfan?"


Zaidan Zulfan, pria berumur tiga puluh tujuh tahun berkulit putih bermata sipit nan tajam, berhidung bangir serta bibir kemerahan itu pun mengulas senyum hangat. Ia mengangguk singkat dan mengerti apa yang ada dalam pikiran Alina.


"Ya Allah, benarkah pria ini keturunan keluarga Zulfan? Bu-bukankah keluarga itu merupakan keturunan darah biru? Bahkan kekayaannya tidak mungkin habis sampai tujuh turunan. Keluarga mereka tidak main-main ... me-mereka kalangan atas dari yang teratas," benaknya terkejut.

__ADS_1


__ADS_2