Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 91 (Season 2)


__ADS_3

Awan kelabu datang membawa guntur saling bersahutan, langit berhias kegelapan siap menyambut hujan datang.


Di tengah gemerciknya, Alina sudah duduk di ruang sidang menunggu keputusan mengenai perceraian. Sudah tiga hari berlalu, ia pun kembali ke ibu kota guna menuntaskan permasalahan tersebut.


Tidak lama berselang Azam datang dengan wajah sendu melihat Alina tengah bersama kuasa hukumnya. Beberapa saat kemudian keduanya pun duduk tepat di depan hakim yang siap memandu jalannya sidang perceraian pertama mereka.


"Saudari Alina Inayah, apa Anda yakin ingin berpisah dengan suami Anda, Rusdyan Azam Zabran?" kata Hakim memulai.


"Saya sangat yakin!" tegas Alina.


Azam melongo menatap wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya tersebut. Ia tidak menduga jika Alina benar-benar yakin untuk berpisah dengannya.


"Apa ada alasan kenapa Anda menggugat pisah saudara Azam?" tanya Hakim lagi.


"Alasannya karena saya sudah tidak bisa menjalankan rumah tangga dengan beliau lagi," mantapnya.


"Hakim yang terhormat biar saya tambahkan untuk memperkuat persidangan ini. Klien saya Alina Inayah selama menjalankan pernikahannya sama sekali tidak bahagia. Suaminya yaitu Rusdyan Azam Zabran telah berpoligami tanpa sepengetahuan beliau, itu artinya Tuan Azam sudah berselingkuh dan telah membohongi istrinya selama bertahun-tahun," ungkap Dimas angkat bicara selaku pengacara Alina.


Azam hanya bisa membungkam mulut, karena apa yang dikatakan Dimas benar adanya. Ia kembali memandangi Alina yang terus menatap ke depan tanpa sekalipun melihat padanya.


Sudah banyak luka yang ditorehkan di hatinya, Azam tidak bisa membela diri. Apa pun keputusannya nanti ia akan mencoba menerima.


"Selama pernikahan berlangsung, Tuan Azam juga tidak memperlakukan anak kandungnya yaitu Raihan Zabran seperti putrinya Aqeela Zabran," jelas Dimas lagi.


Azam kembali tidak berkutik atas semua panah yang mengarah padanya. Hakim pun menganggukan kepala dan Dimas duduk lagi melihat sang klien.

__ADS_1


"Seorang anak yang belum genap dua belas tahun maka hak asuh otomatis ada pada ibunya," jelas sang Hakim.


Alina tersenyum lega, yang ditakutkannya untuk berpisah dengan Azam adalah hak asuh anak. Namun, sekarang ia tenang Raihan bisa jatuh ke tangannya. Bagaimanapun ia menyadari kasih sayang yang diberikan Azam kepada kedua buah hatinya terasa berbeda.


"Tunggu Tuan Hakim yang terhormat. Keputusan tersebut tidak bisa dilakukan begitu saja. Anda harus mencari tahu bagaimana kelakuan Alina selama tiga bulan ini." Suara halus mengalun di tengah-tengah persidangan.


Semua mata tertuju pada satu orang yang tidak diketahui identitasnya. "Saya adalah saksi bagaimana saudarai Alina juga berselingkuh di belakang suaminya. Saya mempunyai bukti-bukti konkret untuk menegaskan pernyataan ini."


Seorang wanita berambut sebahu hadir dan berjalan menuju Hakim lalu menyerahkan dokumen yang dimilikinya.


Hakim pun membuka dan melihat jika di dalamnya terdapat beberapa foto serta rekaman video. Kedua benda itu diperlihatkan membuat semua orang yang berada di dalam ruangan terkejut.


"Itu tidak benar, selama ini saya tidak pernah berselingkuh dengan siapa pun. Hakim yang terhormat, wanita itu telah berbohong dan saya juga tidak kenal dengan dia," ucap Alina membela diri.


"Dari mana Anda mendapatkan foto-foto ini?" tanya Hakim pada wanita tersebut.


"Saya sedang berada di desa selatan dan tanpa sengaja melihat saudari Alina tengah bersama Tuan Muda keluarga Zulfan," ungkapnya, "Kalian juga yang hadir di sini bisa menyimpulkan sendiri, jika pengacara saudari Alina dari keluarga Zulfan. Itu artinya mereka sudah berhubungan sebelum perceraian ini berlangsung. Perselingkuhan antara suami dan istri ini sangat memilukan, bagaimana nasib anak kalian nanti?" ujarnya lagi lalu memberikan tatapan cemooh pada Alina.


Mendengar kata-kata terakhirnya Alina naik pitam dan bangkit dari duduk. "Anda jangan coba-coba memfitnah saya yah. Saya sama sekali tidak pernah bermain api di belakang dia apalagi berselingkuh."


Seketika itu juga situasi sidang pun memanas. Hakim mengetuk palu dan menyelesaikannya di tengah jalan membuat Alina geram kala tuduhan tersebut tidak benar adanya. Satu persatu saksi yang hadir pun membubarkan diri dan tersisa hanya beberapa orang saja.


"Jadi, kamu berselingkuh di belakangku? Alina kenapa kamu melakukan semua ini padaku?" tanya Azam menggebu.


Alina yang tengah membelakanginya berbalik dengan sorot mata tajam. "Bahkan sampai sekarang pun kamu masih percaya pada omongan orang lain? Aku hanya korban dari keegoisan kalian. Aku hanya ingin bebas dari kamu kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini? KENAPA?" Ia berteriak mengejutkan orang-orang di sana.

__ADS_1


Sarah yang berada tidak jauh darinya pun buru-buru merangkul dan mengusap punggungnya pelan. "Sudah Teh ayo kita pergi. Kita bicarakan lagi masalah ini dan mencari tahu kebenarannya."


Sebelum Alina melangkahkan kaki Azam lebih dulu mencengkram pergelangan tangannya. "Alina, ini masih belum berakhir. Tidak bisakah kita kembali seperti dulu? Selama tiga bulan aku mencarimu ke mana-mana. Aku ingin meminta maaf padamu dan memperbaiki pernikahan kita. Aku-"


Belum sempat Azam menyelesaikan ucapannya, Alina lebih dulu menampar pipinya keras. Semua orang yang masih tersisa terkejut atas tindakannya. Wajah Azam menoleh ke sebelah kanan dengan pipi merah merona.


"Mudah kamu berkata seperti itu? Apa kamu sedikit saja memikirkan bagaimana perasaanku? Aku sakit, bertahun-tahun bertahan dengan pernikahan penuh kebohongan ini. Tidak ada sekalipun terlintas dalam pikiranku untuk kembali padamu!" tegas Alina lagi.


"Aku mohon Alina, kamu bisa memukulku, kamu boleh menyakitiku, asal ... asal kamu mau kembali padaku." Azam terus keras kepala, Alina lagi dan lagi menitikan air mata tidak sanggup menghadapi pria itu.


Di saat ia hendak menggapai pergelangannya lagi, tangan lain pun langsung mencegahnya dan menggenggam pergelangan Azam kuat. Ia berdiri tepat di depan Alina membuat memberikan tameng untuk wanita itu dan seketika manik wanita berhijab tersebut melebar sempurna.


"Tuan Azam tanpa mengurangi rasa hormat, saya mohon berhentilah," ujarnya.


"Zaidan? Jadi benar selama ini kalian berhubungan?" tanya Azam menatap Zaidan dan Alina bergantian.


Zaidan pun menggelengkan kepala lalu memberikan tatapan serius padanya. "Semua tuduhan itu hanyalah palsu. Saya dan istri Anda, Alina tidak mempunyai hubungan apa pun, tetapi ... saya jatuh cinta padanya. Saya ingin melindunginya dan menjaganya dari seorang pria brengsek sepertimu. Saya minta maaf harus bertindak kasar seperti ini."


Setelah itu Zaidan memberikan pukulan telak di wajah tampan Azam sampai sang empunya tersungkur. Alina yang melihat dan mendengar semua kesaksian Zaidan terkejut bukan main.


Ia tidak menyangka dan menduga jika di hari pertama sidang akan mendapatkan sebuah pengakuan tak langsung dari sosok menawan sepertinya.


Air mata seketika berhenti mengalir, Alina terperangah dan terdiam kaku. Sarah dan Zara yang berdiri di kedua sisi tersenyum senang menyaksikan drama menegangkan tepat di depan mata kepalanya sendiri.


"Apa ini? Kenapa semuanya menjadi runyam?" batin Alina gamang.

__ADS_1


__ADS_2