
Hari demi hari terus bergulir, detikan di jam berputar sebagai mana mestinya. Masa-masa indah yang pernah terjadi memudar seiring berjalannya waktu. Kala tidak pernah salah memberikan kejutan bagi pemilik kisahnya masing-masing.
Bunga yang bermekaran harus tumbuh seorang diri di padang tandus.
Itulah yang tengah dirasakan Alina sekarang. Sudah hampir satu bulan berlalu dan selama itu pula sang suami tidak pernah kembali ke rumah. Sejak hari itu Azam hanya menyuruh asistennya untuk membawakan pakaian ganti tanpa sekali pun pulang. Dari rumah sakit ke perusahaan, seperti itulah siklus kehidupannya selama beberapa hari terakhir.
Alina yang tengah hamil muda merasa sangat kesepian setiap saat masa ngidamnya datang. Ia hanya bisa menelan pil kepahitan kala kenyataan menamparnya kuat. Setiap kali keinginan sang jaba bayi hadir Alina berusaha sekuat tenaga memenuhinya sendiri. Jika permintaannya aneh-aneh ia sebisa mungkin menekannya kuat-kuat. Ia tahu dan sangat mengerti jika Yasmin lebih membutuhkan kehadirannya. Meskipun begitu Alina juga merindukan keberadaan sang suami. Ia ingin dimanja, disayangi sepenuhnya oleh Azam disaat-saat seperti sekarang.
Hormon ibu hamil semakin meningkat tajam. Setiap malam tanpa siapa pun orang tahu, air mata akan tumpah ruah membasahi wajah cantiknya.
Kejadian itu terus terulang, dan kini terjadi lagi.
Alina tengah duduk di sofa tunggal di kamar pribadinya. Keheningan kembali menyapa dengan udara dingin memeluknya erat. Tidak ada suara apapun selain isak tangis yang tertahan, menggunakan kedua telapak tangannya Alina membekap mulutnya sendiri. Rasa kehilangan seakan menusuknya berkali-kali.
Sakit yang ia rasakan sekarang berkali-kali lipat lebih perih. Mungkin karena pengaruh kehamilan membuat calon ibu ini menangis tersedu setiap saat.
"A-aww,"
Alina tercekat saat merasakan sesuatu dalam perutnya terus bergejolak. Seketika air mata berhenti mengalir lalu ia menundukan kepala melihat ke arah benjolan dalam tubuhnya. Tangan kanan terangkat mengelus pelan perut membuncit di sana.
"Aw, ini sakit sekali. Akhir-akhir ini aku sering mengalami kram, sayang maafkan Mamah." Ocehnya berusaha berbicara dengan sang buah hati.
Alina terus melakukan hal yang sama berusaha mengusir perih dalam perutnya. Namun, sudah hampir 20 menit lamanya rasa sakit itu tak kunjung reda. Perlahan peluh mulai bermunculan di dahinya dengan tangan kiri mengepal kuat. Alina berusaha menahan kesakitan itu berharap kram dalam perutnya mereda. Namun,
"Ya Allah, aku sudah tidak tahan lagi. Sayang, Mamah minta maaf. Mamah, benar-benar minta maaf," lirihnya.
Jam sudah menunjukan pukul setengah 12 malam. Alina tidak kuat dengan kesakitan yang ditanggungnya dan berusaha beranjak dari duduk. Baru saja kedua kakinya berjalan beberapa langkah, ia merasakan basah diselangkangannya.
__ADS_1
Ia menunduk ke bawah dan seketika kedua matanya melebar sempurna. Mulut ranumnya terbuka lebar kala melihat cairan merah kental mengalir dari gamis panjangnya. Seketika jantungnya berdegup kencang kala pikiran negatif terus berdatangan.
"Ti-tidak, ba-bayiku. Sa-sayang bertahanlan Mamah mohon. Jangan seperti ini, Mamah tidak mau kehilanganmu."
Suaranya tersendat-sendat saat air mata kembali mengalir. Ia menyeret kedua kakinya untuk keluar dari kamar. Sakit yang berada dalam hatinya bercampur dengan kepanikan. Cairan bening itu terus menyeruak membuatnya ketakutan.
Kekosongan menjadi tempat pertama yang menyambut Alina setelah menampakan diri ke ruang keluarga. Tidak ada siapa pun di sana, ia terus berusaha untuk berjalan keluar rumah. Namun, sebelum mencapai pintu depan teriakan Sarah mengejutkan.
"MBAK ALINA?!"
Alina langsung menoleh ke belakang dan dengan gemetaran tangannya terulur ke arah Sarah. "Ba-bawa aku ke rumah sakit. Ba-bayinya, ba-bayi-"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya Alina jatuh pingsan. Sarah panik dan bergegas meminta bantuan dan membawanya ke rumah sakit.
Sarah yang baru saja menimang Aqeela dan ingin menidurkannya di kamar atas terkejut saat melihat Alina keluar dari kamar dengan bercak merah mengikutinya. Ia terkejut sekaligus takut saat mendapatinya jatuh pingsan. Setelah mendapatkan bantuan Alina di larikan ke rumah sakit.
Unit gawat darurat beroperasi 24 jam, lorong rumah sakit terasa sepi tidak ada satu pun yang terlihat. Suara brankar yang di dorong menjadi backsound penghempas kehampaan. Dinginnya udara malam tidak menyurutkan keringat yang terus bermunculan.
Setibanya di sana Alina langsung ditangani. Sarah yang tengah menggendong Aqeela menunggu di luar ruangan dengan harap-harap cemas. Ia masih merasakan bagaimana pegangan Alina kala menggenggam erat jari jemainya. Ia tahu ketakutan seperti apa yang tengah dirasakannya.
Sarah mengeluarkan benda pintar berusaha menghubungi pihak lain. Rumah sakit khusus kanker lumayan jauh dari sana, tapi Sarah berharap tuan besarnya bisa menerima panggilan dan bergegas datang.
Setelah beberapa kali menghubungi Azam, tidak ada satu pun panggilan yang diterimanya. Sarah frustasi dan terus beristighfar menenangkan dirinya sendiri.
"Astaghfirullah hal adzim, Ya Allah selamatkanlah mbak Alina dan bayinya. Semoga tidak terjadi apa-apa," gumamnya.
Sedangkan di tempat berbeda Azam tengah menemani Yasmin tidur. Pasangan suami istri itu berbaring bersama di ranjang rumah sakit. Peralatan medis sudah bukan menjadi hal asing lagi, seolah rumah mereka berpindah ke sana.
__ADS_1
Rangkulan di bahu kecil sang istri membawa Yasmin mendekat padanya. Aroma disifektan seketika menyeruak, berkali-kali Azam membubuhkan kecupan hangat di puncak kepalanya. Yasmin dengan nyaman bertengger di dada bidang sang suami. Tidak ada tempat ternyaman selain berada di samping pasangan halal.
Azam tidak menyadari jika ponsel yang berada di atas nakas terus menyala. Sarah berusaha membangunkan Azam dari kenyataan jika bukan hanya Yasmin yang membutuhkannya, tapi Alina juga.
Benda pintar itu hanya hidup tanpa mengeluarkan suara apapun. Posisi Azam yang memunggunginya acuh tak acuh.
"Aku mohon bertahanlah untuk kami. Aku sangat mencintaimu, Yasmin."
Wanita yang tengah berada dalam pelukannya membuka mata, mendongak menatap langsung ke dalam jelaga kecoklatan prianya. Senyum lemah pun hadir dengan tangan ramping terulur mengusap rahang tegas suaminya.
Siang tadi Angga mengatakan jika kondisi Yasmin berangsur-angsur membaik, hal tersebut menjadi berita membahagiakan bagi mereka. Namun, Yasmin belum diperbolehkan untuk pulang dan keduanya masih menetap di rumah sakit.
Azam lupa jika masih ada seseorang yang menunggu kepulangannya. Ia terlalu disibukan dengan mengurus Yasmin dan perusahaan.
"Jika bisa, aku juga ingin terus bersamamu-" ada jeda sejenak, Yasmin mengatur nada suara supaya tidak bergetar. "Tapi semua Allah yang mengatur. Kita tidak bisa berbuat banyak, rencana, takdir dan jalan cerita ada di tangan Allah."
Sekilas Azam mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya. "Aku tahu. Aku berharap Allah akan terus membuat kita bersama."
Yasmin tidak mengatakan apapun hanya menenggelamkan wajah di dada sang suami dan menghirup wangi yang menguar dari tubuhnya.
Mereka menikmati waktu hanya berdua saja. Tidak memikirkan hari besok, ataupun keadaan. Hanya bersama orang tercinta apapun bisa dihempaskan dengan mudah. Pikiran terkunci pada satu waktu berharap jam berhenti detik itu juga.
Yasmin masih ingin bersama dengan Azam dalam membina rumah tangga dan membesarkan Aqeela. Tangan yang bertengger di punggung mencengkram erat kemejanya. Yasmin berusaha sekuat tenaga untuk sembuh dari penyakit ganas yang terus menggerogoti dirinya.
"Ya Allah, hamba mohon berikanlah kesempatan untuk terus bersama pria ini. Hamba sangat mencintainya. Hamba memang tidak sanggup melihatnya dengan wanita lain, tapi hamba juga ingin yang terbaik untuknya. Hah~ sekali ini saja izinkan aku egois," monolog Yasmin.
Malam gelap menjadi penyambung jalan cerita tentang tiga orang terjebak ruang lingkup yang sama.
__ADS_1