Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 193 (Season3)


__ADS_3

Kisah akan terus berjalan sebagaimana mestinya. Roda kehidupan kembali berputar mengikuti masa memberikan kebaikan ataupun sebaliknya.


Drama akan selalu ada sebagaimana episode demi episode kehidupan terus bergulir. Air mata senang maupun sedih, sejatinya bergilir di saat waktunya telah datang.


Suara pigura pecah di ruang tamu mengejutkan Alina yang tengah menyiapkan sarapan. Ia berjalan perlahan mendapati foto pernikahannya sudah hancur berantakan.


Ia mematung di tempat dengan mencengkram pergelangan tangan kanan kuat. Ia tidak beranjak maupun bergerak sedikit pun di sana hanya menatap nanar pecahan pigura.


"Astaghfirullah hal adzim, Ya Allah ada apa ini? Kenapa pigura pernikahan kami bisa terjatuh? Apa ada cicak atau hewan lain yang tidak sengaja menyenggolnya?" gumam Alina berkutat dengan pikiran sendiri.


Beberapa detik berselang, Alina memberanikan diri mendekatinya. Kepala berhijab itu mendongak melihat tidak ada apa pun di bekas pigura besar tersebut dipasang.


"Bagaimana ini bisa jatuh? Mas Zaidan sudah memasangnya sekuat mungkin," lanjut Alina lagi.


Ia merunduk menyapukan pandangan ke sekitaran pecahan. Hasilnya sama saja tidak ada apa pun yang mengakibatkannya jatuh.


Tangan kanan yang gemetaran hendak mencapai pecahan tersebut, tetapi gerakan itu seketika terhenti saat getaran ponsel menyadarkan. Ia menoleh mendapati benda pintar di atas meja menyala beberapa kali


Degup jantung bertalu kencang saat menyadari ada pesan masuk beruntun. Perasaan tidak enak tiba-tiba saja menyapa membuat ia enggan mendekat.


Namun, ia harus memastikan siapa yang sudah mengiriminya pesan. Alina beranjak memandang nanar ke arah benda pipih tidak jauh dari keberadaannya. Ia kembali mencekal pergelangan tangan merasakan sebuah firasat tidak mengenakan.


"Astaghfirullah hal adzim, Ya Allah ... Astaghfirullah hal adzim." Ia terus beristighfar menangkan diri mencoba mengenyahkan pikiran negatif dalam benak.


Tiba-tiba saja ia teringat pada sang suami, dari semalam Zaidan belum menghubunginya membuat ia khawatir.


Tidak biasanya Zaidan melewatkan waktu untuk memberi kabar. Hampir dua belas jam sejak terakhir kali ia menghubunginya dan sampai sekarang tidak ada satu notifikasi datang.


Alina semakin bertambah cemas kala mendapatkan pigura pernikahan mereka hancur lebur. Napasnya terasa sesak enggan mendekati ponsel yang terus bergetar.


"Ya Allah lindungilah pernikahan kami. Apa itu mas Zaidan atau bukan yah?" Ia terus bergumam berdoa sebanyak-banyaknya kepada Sang Pemilik Kehidupan dengan pikiran bercabang.

__ADS_1


Entah kenapa insting sebagai seorang wanita dan istri menyebutkan jika ada sesuatu telah terjadi. Pesan yang masuk itu pun menjelaskan semuanya menambah kepanikan.


"Apa mungkin itu dari mas Zaidan? Tapi, dia selalu menelepon dan jarang memberi pesan," katanya lirih.


Sudah empat hari sejak kepergian Zaidan ke luar kota, selama itu pula mereka tidak pernah putus kontak. Namun, dari semalam sang suami masih mendiaminya, pesan yang Alina kirim pun tidak ada balasan.


Alina menarik kedua kaki mendekati meja, sesampainya di sana ia melihat nomor tidak dikenal memberikan sepuluh pesan lewat aplikasi pesan singkat.


Tangan yang masih gemetaran membawa benda pipih itu dan membukanya langsung. Seketika kedua manik melebar sempurna dengan mulut ranum terbuka membuat ia dengan cepat membungkamnya.


Alina tidak percaya atas apa yang dilihatnya saat ini. Pesan tersebut menunjukan beberapa foto sang suami tengah tertidur lelap dan di sebelahnya ada seorang wanita.


Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah orang yang sudah mengganggu rumah tangga mereka. Alina terkejut sekaligus tidak percaya jika selama ini bayang-bayang sang pianis masih menghantui.


Ibu jarinya lalu men-scroll ke bawah mendapati pesan singkat, "Bagaimana? Apa kamu terkejut? Saat ini suamimu sedang menghabiskan waktu bersamaku."


Pegangan di ponsel pun mengerat, Alina menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Tanpa memikirkan apa pun ia menghubungi nomor tersebut. Baru sambungan pertama orang di seberang sana sudah menjawab panggilannya.


"Ada apa? Di sini masih dini hari, aku mengantuk." Suara serak khas bangun tidur membungkam Alina.


Ia tidak bisa berpikir jernih kala mendapatkan foto yang dikirimkan wanita itu. Antara marah, kecewa, sedih, bercampur jadi satu.


"Hallo, apa kamu masih di sana Alina? Apa yang ingin kamu-"


"Apa yang sedang kamu mainkan sekarang, Zanna? Kenapa kamu bisa berada di kota Z? Apa yang kamu lakukan dengan mas Zaidan? Apa-"


"Seperti yang kamu lihat di foto, kami melakukannya. Sekarang aku sudah mendapatkan pria yang kucintai. Terima kasih sudah membiarkannya pergi, Alina." Zanna tersenyum senang di balik ponsel.


Sesak dalam dada membuat napasnya naik turun, Alina tidak percaya atas semua yang didapatinya pagi ini.


"Kamu pasti bercanda ... trik apa lagi yang kamu gunakan?"

__ADS_1


Zanna tertawa kencang di seberang sana lalu beralih ke video call. Alina yang tidak mendapati apa pun menjauhkan ponsel dan melihat panggilan beralih.


Ia ragu untuk menerimanya, tetapi dirinya harus memastikan sesuatu. Ia menelan saliva kuat membasahi tenggorokan yang tiba-tiba saja kering.


Ia pun menggeser ikon berwarna hijau dan seketika senyum wanita di seberang sana terpampang nyata. Wajah lelah nan mengantuk itu pun menandakan jika dirinya baru saja terbangun.


"Hallo, Alina. Apa kamu mau melihat siapa orang di sebelahku? Kamu pasti penasaran, kan ... aku sedang bersama siapa?" Lengkungan bulan sabit di bibir kemerahan itu pun bagaikan belati menyayat perasaan.


Alina menatapnya tajam tanpa menjawab apa pun. Lagi dan lagi Zanna tertawa kencang mengalirkan kepelikan dalam dada.


"Baiklah, sepertinya kamu sangat penasaran, aku sedang-" Zanna mengarahkan ponsel ke samping kanan.


Sedetik kemudian pemandangan menyayat hati sanubari terpampang jelas. Tepat di depan kepala matanya sendiri ia melihat sang suami, imam dalam keluarga, serta ayah dari anaknya pun tengah tertidur pulas.


Selimut putih yang tengah dikenakannya pun tidak menutup semua bagian tubuh. Ia bisa melihat dada bidang suaminya polos tanpa mengenakan sehelai benang.


Air mata tidak bisa dicegah tumpah ruah begitu saja. Ia menutup mulut menganganya cepat dan menekannya kuat menahan isak tangis.


"Kamu percaya kan sekarang? Aku dan suamimu sudah menghabiskan malam bersama, dia ... benar-benar kuat dan perkasa sekali."


Alina melihat tangan ramping dengan cat kuku peach itu mengusap lembut puncak kepala Zaidan. Hatinya benar-benar hancur seperti pecahan pigura di belakangnya. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa selain kristal bening terus mengalir di kedua pipi.


"Aku tidak sedang bermain-main sekarang. Aku serius menginginkan suamimu dari dulu sampai sekarang. Oh iya sebagai informasi tambahan, mas Zaidan memiliki tanda lahir di pinggang sebelah kirinya, kan? Aku sudah melihat semuanya," jelas Zanna menambahkan perasan lemon ke luka menganga.


Kamera ponsel kembali beralih padanya yang tengah tersenyum lebar. Alina pun mematung menyadari jika wanita itu pun hanya terbalut selimut saja.


Ia tidak bisa berpikiran jernih, hati dan perasaannya campur aduk menyaksikan kejadian mengerikan depan mata. Di tambah dengan keadaan Zanna yang seperti itu sudah memperlihatkan jika semalam terjadi sesuatu.


Serta Zanna memberitahukan di mana letak tanda lahir sang suami. Alina hapal jika Zaidan memilikinya di pinggang sebelah kiri. Tentu saja hal tersebut semakin menguatkan jika pria yang saat ini tengah bersama sang pianis adalah suaminya.


"Iya sudah yah, aku mau lanjut tidur. Seluruh tubuhku terasa sakit, sampai jumpa lagi, Alina."

__ADS_1


Panggilan pun terputus, Alina terjatuh dan duduk di atas lantai dingin. Kedua kakinya melemah tidak bisa menopang berat badannya sendiri. Dengan linangan air mata ia memandang kosong ke depan.


...Bersambung......


__ADS_2