Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 15


__ADS_3

Dalam setiap langkah pasti akan menemukan batu sandungan atau kerikil tajam yang bisa melukai. Langkah demi langkah harus di tapaki untuk mencapai puncak kejayaan. Namun, di tengah jalan terkadang memberikan kisah berbeda. Ada air mata yang tidak bisa dihindari. Saksi bisu menjadi teman pelengkap dalam sejarah kehidupan.


Itulah yang saat ini tengah Alina alami, menjadi istri kedua membutuhkan kesabaran ekstra keras. Bagaimana suaminya harus lebih dulu memprioritaskan istri pertama yang tengah sakit. Bohong jika ia baik-baik saja, nyatanya ada luka yang harus ditutupi.


Waktunya bersama Azam kembali dipersingkat. Empat hari untuk Yasmin dan tiga hari untuknya. Terlebih waktu itu harus dibagi lagi saat Alina mengurus Aqeela. Bayi yang kini menginjak umur empat bulan tersebut masih harus berada dalam pengawasannya. Meskipun ada Sarah membantu mengurusnya, tapi Alina ingin menjadi ibu yang baik dalam pertumbuhan putri dari suaminya. Ia sudah terlanjut menyayangi Aqeela seperti buah hatinya sendiri.


Hari ini jadwal Azam bersamanya. Sedari siang tadi Alina sudah membersihkan diri untuk menyambut sang suami. Ia pun membereskan kamar dan menyalakan lilin wewangian. Semerbak aroma vanilla yang manis dan lembut membuatnya tersenyum.


Jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Azam sudah pulang beberapa saat lalu, Alina merangkak naik ke tempat tidur menunggu suaminya datang.


Lima menit, dua puluh menit, empat puluh menit sampai satu jam berselang sosok prianya belum juga memperlihatkan batang hidungnya.


Berkali-kali Alina memandangi jam dinding dan entah sudah keberapa kali ia menguap seraya memandangi pintu kamar.


"Kenapa mas Azam lama sekali?" ucapnya.


Karena penasaran ia pun beranjak dan membuka pintu. Hal pertama yang tertangkap netra jelaganya adalah pemandangan yang menyesakan dada. Alina mematung di tempat dengan kedua tangan mengepal erat.


Kamarnya yang terhubung langsung dengan ruang keluarga memperlihatkan aktivitas sang suami dan istri pertamanya, Yasmin. Di sofa panjang itu keduanya melakukan hal sama seperti tempo hari saat Alina tidak sengaja memergokinya di kamar mereka. Dan sekarang kejadian tersebut terulang kembali.


Dengan pelan Alina menutup pintu dan berlari menuju tempat tidur. Ia menelungkupkan wajah berairnya di atas bantal. Hatinya begitu perih menyaksikan drama romantis tepat di depan kedua mata kepalanya sendiri.


Dua jam kemudian, saat Alina hendak masuk ke alam mimpi pintu kamar dibuka seseorang. Tidak lama kemudian lengan kekar memeluknya dari belakang. Alina tersentak dan masih berada di posisinya. Rasa kantuk pun hilang berganti ketegangan.


"Aku minta maaf karena datang terlambat. Apa kamu marah?"


Suara berat nan serak menyapu pendengaran. Alina mematung dan mencengkram selimut yang membungkus dirinya. Ia menetralkan degup jantung dan suaranya. "Tidak," satu kata membuat Azam mengerutkan kening.


"Kamu marah," jawabnya.


Tanpa persetujuan sang empunya, Azam membalikan tubuh Alina dalam sekali hentakan. Pandangan mereka bertemu, iris kecoklatan Alina melebar melihat pria di atasnya. Azam termenung melihat kedua mata sang istri bengkak dengan hidung memerah.

__ADS_1


"Kamu menangis? Kenapa? Apa karena aku datang terlambat? Maaf tadi ada urusan pekerjaan yang tidak bisa aku tunda. Aku mengerjakannya sebentar dan buru-buru datang ke sini."


"Bohong," batin Alina.


"Begitu," hanya itu yang bisa ia katakan.


"Aku benar-benar minta maaf." Azam pun mengecup hangat kedua mata sang istri.


Kelopak mata itu menutup dan menahan diri untuk tidak meledak. "Kenapa harus berbohong mengatasnamakan pekerjaan? Apa Mas tidak mau menyakitiku? Justru ini lebih menyakitkan," Alina hanya bisa membatin. Tubuhnya tidak singkron dengan pikirannya. Ia menikmati setiap sentuhan yang diberikan sang suami.


...***...


Kegiatan yang sama setiap hari terus terulang. Pagi-pagi sekali Alina disibukan dengan pekerjaan rumah dan melayani sang suami. Namun, ada kecanggungan saat ia hendak membantu Azam memasangkan dasi. Ia ragu melihat Yasmin tengah duduk tidak jauh dari keberadaannya.


Baru saja tangannya terangkat menuju kerah suaminya Yasmin mencela. Kedua tangan itu mematung di udara.


"Biar aku yang membantu Mas Azam memasangkan dasi."


"Mba-mbakan masih sakit, ti-tidak apa Mbak ak-"


"Tidak apa-apa Alina biarkan Yasmin yang melakukannya," ptong Azam cepat.


Alina hanya mengangguk dan melangkahkan kaki mundur ke belakang. Yasmin tersenyum kemudian maju ke depan dan memasangkan dasi di kerah kemeja sang suami.


Azam berbinar, entah sadar atau tidak ia merengkuh pinggang raping tersebut untuk lebih mendekat. Alina terkejut dan buru-buru mengalihkan perhatiakn ke arah lain. Kedua tangannya kembali mengepal teringat kejadian tadi malam.


"Astaghfirullah Ya Allah," benaknya sekuat tenaga menahan diri.


Sedetik kemudian ia merasakan seseorang menarik lengannya menjauh dari sana. Alina pun mendongak melihat Sarah di sana.


"Lebih baik Mbak tidak usah melihatnya," ucap Sarah membuatnya mengangguk singkat.

__ADS_1


"Setidaknya dengan cara seperti ini aku bisa membantu Mbak Alina. Beliau sudah sangat baik padaku," benaknya.


Beberapa menit berlalu, setelah Yasmin selesai dengan tugasnya Azam menegakan kepala ke depan. Di sana tidak terlihat siapa pun, dahinya mengerut dalam tidak tahu ke mana perginya sang istri kedua.


"Mas mencari Alina?" tanya Yasmin melihat gelagatnya. Azam mengangguk singkat seraya masih celingukan. "Alina sepertinya pergi ke belakang, Sarah tadi membawanya," jelas Yasmin yang tadi sempat menoleh ke arah mereka.


"Apa Mas sudah jatuh cinta padanya?"


"Ehh?"


Azam terkejut mendengar pertanyaan sang istri dan langsung menunduk membalas tatapan hangatnya.


"Kenapa Mas terkejut? Aku hanya bertanya, jika memang seperti itu, bukankah ini berita baik? Alhamdulillah, Mas sudah menerima keberadaan Alina." Jelasnya seraya tersenyum simpul.


Yasmin pun menyalami tangan suaminya lalu pergi dari sana. Azam mematung melihat sosok wanita itu menjauh. Dadanya bergemuruh saat mendengar pertanyaan yang Yasmin ajukan tadi. Ia tidak bisa menjawab atau pun menolak. Hati dan pikirannya mengatakan dua hal berbeda. Ia tidak tahu mana yang benar. Namun, ia merasa nyaman saat bersama Alina.


Kedua kakinya membawa ia ke belakang rumah. Di tepi kolam itu sang istri termenung memandang lurus ke depan. Azam melangkah lebar dan dengan cepat mendekat ke arahnya. Ia pun kembali memeluk Alina dari belakang lalu menelungkupkan wajahnya di puncak kecil sang istri.


"Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf."


Alina yang belum siap menerima perlakuan tersebut sangat terkejut dan hampir terjengkang ke depan masuk ke kolam. Beruntung cengkraman suaminya begitu erat membuatnya terselamatkan. Ia tidak tahu apa yang terjadi hingga membuat Azam pergi padanya bukan ke kantor.


"Ke-kenapa Mas meminta maaf?"


"Aku minta maaf untuk kejadian semalam dan tadi. Aku tidak sadar sudah memeluk Yasmin di depanmu."


Alina melebarkan matanya sempurna tidak percaya jika Azam akan jujur saat ini. Perlahan kedua tangannya terangkat dan merengkuh lengan kekar di perutnya.


"Aku tidak apa-apa, mbak Yasmin.... bukankah Mas sangat mencintainya? Em, apa Mas juga mencintaiku?"


Azam tidak langsung menjawab hanya diam dalam posisinya. Alina tersenyum sampai beberapa saat, hingga, "tidak usah dijawab jika Mas belum yakin. Aku akan menunggu sampai Mas benar-benar siap. Kata cinta yang Mas ucapkan malam itu membuatku senang. Terima kasih, meskipun aku tahu Mas masih menata perasaan itu."

__ADS_1


Perkataan Alina dengan suaranya yang halus menendang perasaannya. Azam termenung dan semakin memeluk wanita itu erat. Alina lagi-lagi hanya tersenyum diperlakukan seperti istri sesungguhnya. Setidaknya sang suami sudah berubah tidak sedingin dulu lagi.


__ADS_2