Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 6


__ADS_3

Matahari tengah bertengger nyaman di singgasananya. Ia memberikan sinar yang begitu terik untuk setiap umat di dunia. Semilir angin menjadi penyejuk tersendiri, bagaimana nikmat Allah tidak pernah putus diberikan pada hamba-Nya.


Alina, wanita yang menjadi istri kedua itu tengah disibukan dengan tugasnya. Sedari pagi tadi hingga siang ini, ia belum beres membersihkan kediaman sang suami. Dibantu beberapa pelayan lain, ia nampak semangat melaksanakan hal tersebut. Nyatanya, menjadi seorang ibu dan istri tidak semudah yang dibayangkan. Butuh pengorbanan dan kesabaran.


Terlebih ia harus mengemban tugas itu sehari setelah pernikahannya. Dan juga tidak ada cinta yang mengikat hubungan mereka.


Berkali-kali Alina meyakinkan diri sendiri jika selepas ini akan ada kebahagiaan yang tengah menunggunya. Ia percaya Allah tidak pernah salah memberikan setiap kebaikan pada hamba-Nya selepas kepedihan.


Yasmin yang tengah duduk di ruang keluarga seraya menggendong sang buah hati tersenyum melihat Alina. Ia tahu ada sesuatu yang tengah disembunyikannya. Sebagai sesama wanita, Yasmin memahami rasa terpendam dalam diri Alina.


"Alina, sudah dulu biar bibi saja yang melanjutkan. Ini sudah sore Mas Azam sebentar lagi pulang, kamu bisakan menyiapkan makan malam untuknya?" ucap Yasmin saat Alina tengah membereskan barang-barang di ruang sebelah.


"Ahh, baik Mbak." Jawab Alina seraya langsung berjalan menuju dapur.


Yasmin kembali melebarkan senyum lalu menatap malaikat kecilnya. "Mama Alina baikan, Sayang. Semoga papa bisa cepat menerimanya dengan sepenuh hati."


Jam sudah menunjukan pukul setengah delapan malam. Setelah selesai melaksanakan kewajibannya, Alina dan Yasmin duduk di meja makan menunggu kedatangan sang suami. Namun, sampai detik itu batang hidung Azam belum juga terlihat.


Berkali-kali Alina melihat jam dinding dan bergerak gelisah. Hal tersebut mengundang kembali bulan sabit terbit di bibir pucat Yasmin. Ia memahami seperti apa kekhawatiran yang ada dalam benak Alina.


"Tenang saja Na, Mas Azam pasti pulang. Mungkin banyak pekerjaan di kantor. Bagaimana jika kita makan malam duluan saja?" usul Yasmin membuat perhatian Alina teralihkan.


Iris jelaganya seketika menatap lekat ke arah istri pertama dari suaminya ini. "A, maaf Mbak. Mbak, pasti sudah lapar. Biar Alina ambilkan." Dengan cepat ia pun mengambil nasi dan lauk pauk yang sudah dibuatnya.


"Terima kasih." Yasmin menerima makanan itu dan mulai menyantapnya.


Alina menatap heran, saat melihat Yasmin berkali-kali menautkan kedua alis. Tidak lama setelahnya ia menangkap cairan merah kental mengalir di hidung wanita itu. Alina beranjak dari duduknya dengan panik melihat hal tersebut.


Namun, sebelum Alina sempat mendekati Yasmin, Azam datang dengan cepat.

__ADS_1


"Yasmin!!" panggil Azam lalu merangkul bahu istri pertamanya itu posesif.


Tatapan nyalang sarat akan kebencian mencuat dalam sorot matanya. Alina terkejut bukan main kala hal itu ditunjukan untuknya. Degup jantung Alina berdetak kencang. Ia tidak mengerti dengan situasi yang terjadi.


"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Azam menunduk melihat sang istri yang bersandar pada perutnya.


Sebelum menjawab pertanyaan sang suami, Yasmin pun kehilangan kesadaran. Kejadian cepat itu membuat Azam dan Alina bertambah panik. Tanpa mengatakan sepatah kata, Azam langsung membopong Yasmin membawanya ke rumah sakit.


Alina tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat kilatan kemarahan pria itu. Ia hanya bisa mengikuti mereka dari belakang.


"Berhenti!! Kamu tidak usah ikut denganku!" nada suara dingin menyapa indera pendengaran.


Alina termangu di pintu masuk melihat suaminya membawa Yasmin. Air mata menetes tanpa disadari, ia takut sungguh dirinya sangat ketakutan sekarang.


"Ya Allah apa yang terjadi? Semoga Mbak Yasmin baik-baik saja," gumamnya sambil menatap mobil mewah sang suami keluar pekarangan.


"Apa dok? I-istri saya kritis?"


Pria berjas putih itu mengangguk lalu menepuk bahunya pelan. "Anda harus bersabar. Penyakit yang menggerogoti tubuh istri Anda sangat ganas. Kita secepatnya memerlukan sumsum tulang belakang untuk menyelamatkan nyawanya."


Azam gemetaran mendengar hal tersebut. Ia tidak menyangka keadaan sang istri bisa bertambah parah. Ia pun mengepalkan kedua tangan mengenyahkan rasa sakit.


"A-apa dia akan segera bangun?" tanyanya lagi.


"Saya tidak bisa menentukan dan lebih baik untuk sementara waktu istri Anda di rawat di sini. Mungkin penyebabnya, karena istri Anda memakan makanan yang seharusnya dihindari. Saya sudah mengatakan bukan, jika pasien penderita leukimia tidak diperbolehkan makan telur mentah, daging mentah atau setengah matang? Jika itu terjadi maka inilah akibatnya. Kalau begitu saya permisi."


Setelah mengatakan itu dokter pun melangkah kaki meninggalkan Azam yang tengah mematung. Pikirannya berkecambuk dengan luka menganga dalam dada. Giginya saling gemeletuk menahan kekesalan.


Di balik pintu bercat putih itu Azam menatap sang istri lewat jendela kecil di sana. Cairan bening mengalir menggambarkan betapa putus asanya ia. Tidak lama kemudian Azam pun pergi dari sana dengan emosi yang membuncah.

__ADS_1


Jam sudah menunjukan pukul setengah 10 malam. Alina masih terjaga dan menunggu kabar dari suaminya mengenai Yasmin. Beberapa saat berlalu, suara mesin mobil berhenti di depan rumah. Alina yang tengah duduk di ruang tamu beranjak dan bergegas membuka pintu untuk menyambut suaminya.


Pintu terbuka lebar menampilkan sosok Azam dengan aura mematikan. Alina sempat merinding melihatnya. Ini pertama kali ia melihat Azam menatapnya serius dan penuh kemarahan. Tubuh Alina bergetar hebat saat pria itu mencengkram kedua pipinya.


"Apa yang kau berikan pada Yasmin tadi, HAH?!" sang suami berteriak tepat di depan wajah ayunya.


Alina semakin ketakutan. Ia tidak menyangka Azam akan memperlakukannya seperti ini. Air mata tumpah ruah tidak bisa ditahan. Gelengan kepala pun diberikan dan seketika itu juga Azam menghempaskannya dengan kuat.


Alina jatuh tersungkur. Namun, tidak hanya sampai di sana saja Azam melayangkan askinya lagi. Ia mencengkram belakang kepalanya membuat hijab yang Alina kenakan terdorong dan ia pun langsung mendongak.


Tatapan mereka bertemu. Alina tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Tubuhnya bertambah gemetaran tidak karuan. Azam yang ia kenal sangat baik dan berwibawa berubah dalam hitungan detik.


"Apa yang kamu berikan pada istriku? Jawab!! Tuhan menciptakan mulut untuk berbicara bukan sebagai pajangan!!" Azam kembali berteriak.


"A-aku tidak memberikan Mbak Ya-yasmin apa-apa. A-aku hanya membuatkan Mbak Yasmin ma-kan," jawabnya gugup.


"Makanan kamu bilang?! Kamu pasti sengaja memasak makanan itu dengan tidak matang sampai keadaan Yasmin sekarang kritas. YAH ISTRI SAYA KRITIS KARENA PERBUATANMU!!" Azam kembali menghempaskan Alina untuk kedua kalinya.


Wanita itu terdiam mencerna perkataan Azam. Sengaja memasak makanan tidak matang? Perkataan itu terus berputar dalam kepala Alina.


"Dengarkan ini baik-baik. Jika, sampai terjadi sesuatu pada Yasmin aku akan menceraikanmu. Kau dengar, AKU AKAN MENCERAIKANMU!! Dan jangan harap kamu bisa mendapatkan harta gono gini karena aku tidak akan memberikannya sepersen pun. Maka nikmatilah harimu sebagai istri tidak berguna di rumah ini. Sampai kapan pun aku tidak sudi menganggapmu sebagai istri. Menyentuhmu sedikit saja sudah membuatku mual. Dasar wanita menjijikan. Jika bukan karena Yasmin yang menuruhku untuk menikahimu, mana sudi aku melakukan itu."


Alina tidak bisa mengatakan sepatah kata pun. Kata-kata tersebut tercekat dalam tenggorokan enggan untuk dikeluarkan. Rasanya sangat sakit saat dituduh yang tidak-tidak oleh suaminya. Ternyata cinta yang ia meiliki memberikan kepedihan yang begitu nyata. Mengantarkan empedu yang begitu pahit untuk ia rasakan.


Setelah mengatakan itu Azam pergi tanpa sedikit pun menatap ke arah istri keduanya. Dalam diam Alina menangis sejadi-jadinya. Ia tidak menyangka akan mendengar kata-kata menyakitkan itu dari suaminya.


Selama hampir dua bulan ini ia selalu bersabar dengan pernikahannya ini. Namun, sekarang perjalanan rumah tangganya diambang batas. Ia mencengkram kedua tangannya kuat berusaha melepaskan kepedihan. Namun, semakin ia mencengkramnya maka kuku-kuku tangan itu semakin melukainya.


Hingga tanpa ia sadari darah pun mencuat. Alina tidak merasakannya karena luka hati lebih menyakitinya.

__ADS_1


__ADS_2