Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 76 (Season 2)


__ADS_3

Bak petir menyambar kejutan yang Alina suguhkan di rumah benar-benar membuatnya tercengang. Surat dari pengadilan agama terpamang jelas di depan mata kepalanya sendiri.


Azam tidak menyangka sang istri memberikan surat tersebut setelah kebersamaan mereka selama ini. Ia tidak menduga Alina akan menyuguhkan guncangan begitu mendebarkan.


"A-apa yang dia inginkan? Kenapa surat dari pengadilan agama ada di sini? Tidak mungkin, kan?" Dengan tangan gemetar, Azam membuka amplop cokelat tersebut dan menarik isi di dalamnya.


Sedetik kemudian ketakutan itu pun menjadi kenyataan, kata PERCERAIAN tertulis dan tercetak jelas di atasnya. Bola mata itu bergulir ke bawah melihat tanda tangan sang istri dibubuhkan di atas materai.


Ia lalu membaca secarik kertas yang juga tergeletak di atas meja, di sana tertuang.


"Aku sudah membebaskanmu, pergilah ke tempat di mana Mas bisa bahagia. Aku sudah memberikan tanda tangan disurat perceraian kita. Terima kasih selama delapan tahun yang kita lewati bersama. Aku akan membawa Raihan dan jaga Aqeela baik-baik. Satu lagi, Mas harus pergi ke alamat ini jika ingin tahu kebenarannya."


Di kertas itu terdapat sebuah alamat dan dua kata yang tersampir di bawahnya langsung membuat Azam pergi dari rumah.


Tidak peduli hari semakin larut ia menginjak gas menuju alamat yang tertuang di sana. Dengan degup jantung bertalu kencang ia mencengkram stir mobil seraya menggertakan gigi.


Ia terus berkendara sampai pada jalanan yang begitu sepi dan dikedua sisinya dikelilingi pohon besar. Sudah hampir dua jam lamanya Azam berkendara meninggalkan ibu kota menuju daerah yang sama sekali tidak diketahuinya.


Ia terus mengikuti petunjuk dari gps ke mana menuntunya pergi. Hingga tidak lama berselang ia tiba di sebuah kota asing yang tidak berpenghuni.


Ia pun mendapati satu bangunan bercat abu dengan kabut di sekelilingnya. Ia mengerutkan dahi dalam dan terus mengamati alamat yang tertuang di secarik kertas.


"Apa benar ini?" gumamnya.


Setelah berkutat dengan pikirannya beberapa saat, Azam keluar dari mobil dan berjalan masuk. Tidak ada siapa pun yang terlihat membuatnya berkali-kali menoleh ke belakang dan tetap waspada.


Pintu terbuka tanpa pengaman sedikitpun, ruangan sederhana tertangkap pandangan. Azam kembali menautkan alis tidak mengerti, sebab tidak ada barang satupun di sana.


Perasaan tidak enak menyelimuti kedatangannya, ia sadar tidak mungkin tempat itu tanpa pengawasan mengingat keadaan di sekitar begitu hening.


"Tempat apa ini?" gumamnya lagi dan terus masuk.


Ia pun melihat sebuah lorong di sebelah kanan, di mana itu menyambung ke bawah yang membuatnya enggan melangkah.


Namun, rasa penasaran terus menuntunnya untuk masuk dan mencari di mana ujung lorong tersebut. Tidak ada yang istimewa dari tempat itu, Azam melihat sekililing dan hanya bercat polos tanpa ada satupun penghias.

__ADS_1


Ia pun tiba di ujung dan melihat lorong lain di sebelah kiri. Udara dingin seketika menyambut kedatangannya, lembab dan pengap begitu ia rasakan.


"Seperti labirin saja," gumamnya lagi.


Ia pun melangkahkan kaki ke lorong di sebelah kiri dan melihat ada pintu bercat silver di ujungnya. Merasakan sesuatu yang menarik ia terus berjalan hingga berdiri tepat di depan sebuah ruangan.


Tangannya terulur mencampai gagang pintu dan memutarnya pelan. Bunyi klik terdengar nyaring dan seketika itu juga pintu terbuka perlahan.


Azam mendorongnya pelan dan seketika aroma disinfektan menguar, menyapa indera penciuman. Ia pun terus membukanya lebar hingga memperlihatkan sebuah pemandangan yang menggetarkan jiwa.


Manik jelaganya seketika membulat sempurna dan bibir menganga. Ia tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya sekarang.


"A-apa ini?" lirihnya.


...***...


Alina masih berada dalam perjalanan, ia melewati pegunungan, sungai, bukit, dan berbagai jalan terjal yang sedikit curam.


Pemandangan yang dilewatinya begitu menyejukan mata menghilangkan penat. Bus itu kembali berjalan setelah beberapa menit beristirahat di pusat pemberhentian.


Ia tersenyum melihat banyaknya kabut di sekeliling. Namun, lengkungan itu hanya bertahan sementara kala teringat beberapa hari lalu saat kenyataan membuatnya benar-benar membuka mata.


Takdir pernikahan yang ia jalani ternyata bukanlah miliknya. Setelah menemukan fakta tersebut Alina yakin untuk meminta pisah dari sang suami.


"Kabut ini ... apa dia baik-baik saja?" gumamnya.


Ingatannya pun berputar pada keesokan hari setelah pertemuannya dengan Angga dan Sarah.


Hari itu Alina membawa kendaraan pribadi dan menunggu di depan apartemen Yasmin. Gedung tersebut berhasil ditemukan berkat bantuan Sarah. Tidak sulit untuk anak buahnya mencari keberadaan seseorang, terlebih jika orang tersebut ada kaitannya dengan kalangan atas seperti Azam.


Setelah mendapatkan alamat sang madu, Alina menunggu dan menunggu untuk mencari tahu ke mana wanita itu menyembunyikan fakta yang belum terselesaikan.


Sudah dua jam ia menunggu di sana dan batang hidung Yasmin tidak terlihat. Namun, di saat ia hendak memutar kunci mobilnya memutuskan untuk kembali pulang dan melakukan itu besok hari, tiba-tiba saja ia melihat target keluar.


Alina tersenyum lebar kala wanita itu pun pergi membawa mobilnya sendiri. Dengan jarak beberapa meter ia mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Kerutan demi kerutan kening terus bermunculan kala Alina tidak mengetahui tempat antah berantah yang menjadi tujuannya kali ini.


"Sebenarnya, apa yang dia sembunyikan? Kenapa harus pergi sejuah ini?" ucapnya melihat sekeliling yang dipenuhi pepohonan.


Kurang lebih dua jam lamanya mereka berkendara, Alina pun tiba di tempat asing tidak terjamah siapa pun. Ia menghentikan mobil cukup jauh dan mengamati Yasmin masuk ke sebuah bangunan yang satu-satunya berada di sana.


"Aku yakin jika di dalam ada sesuatu yang disembunyikan. Aku harus kembali lagi nanti." Setelah mengatakan itu Alina pun pergi untuk mencegah kecurigaan.


Pada keesokan harinya, ia pun benar-benar kembali ke tempat persembunyian Yasmin bersama Angga dan Sarah. Ia membutuhkan kedua orang itu untuk menjadi saksi.


"Benar ini tempatnya?" tanya Angga melihat ke sekeliling.


"Iya benar Mas, kemarin aku melihat dia masuk ke sana," jawab Alina seraya menunjuk bangunan di depan.


"Aku sudah mencari tahu dan aman tidak ada siapa pun. Wanita itu kurang waspada dan mungkin berpikir tidak ada seorang pun yang akan ke sini," lanjut Sarah tengah mengutak-atik laptop yang selalu dibawanya.


"Apa ada CCTV?" tanya Alina yang tengah duduk di sebelahnya.


Angga yang duduk di depan pun menoleh ke belakang menatap sang istri. "Bagaimana Sayang?" tanyanya.


"Ada, sekitar enam kamera pengawas. Dua di luar, dua di dalam, dan-" Sarah menjeda kalimatnya dan teurs mengamati titik-titik CCTV di layar laptop. "Astagfirullah hal adzim," lanjutnya mengejutkan Alina dan Angga.


"Ada apa? Apa yang kamu temukan?" tanya Alina bingung melihat wajah serius wanita yang sudah dianggap adiknya itu.


"Apa yang kamu temukan, Sayang?" tanya Angga ikut bingung.


"Ka-kalian pasti tidak akan menyangka ini. Lihat," ucapnya lalu membalikan laptop menghadap Alina dan Angga.


Seketika itu juga Alina membungkam mulut terbukanya dan manik cokelatnya bergetar.


"Ya- Ya Allah, ja-jadi?" gugupnya.


Sarah mengangguk dan menggenggam tangan Alina erat. "Teteh harus kuat,"


"Aku tidak menyangka wanita itu benar-benar licik," lanjut Angga.

__ADS_1


Pagi itu mereka mendapatkan kejutan tak terduga. Di sebuah tempat yang begitu asing dan tidak berpenghuni terdapat satu kehidupan mengejutkan ketiga orang tersebut.


__ADS_2